47 || LIKU PENUH LUKA
"Barra mana, Sayang?" Sienna yang tengah menata makanan menanyakan keberadaan Barra yang pagi ini tidak nampak batang hidungnya. Alea menuruni tangga seorang diri. Kondisi putrinya juga terlihat tidak baik-baik saja. Alea kelihatan tak bertenaga.
"Semalem bilang mau ke rumahnya pagi ini. Nggak tau ada urusan apa," sahut Alea tanpa menatap sang mama. Ia menunduk untuk menghindari keluarganya menyadari kondisi matanya yang sembab.
"Oh iya, tadi malam ada yang denger suara ledakan gitu nggak? Kayak suara tembakan gitu."
Semua orang yang ada di meja makan spontan menghentikan aktivitasnya masing-masing, begitupun Alea. Mereka semua terkejut juga tidak percaya dengan apa yang Alvino ucapkan.
"Ledakan?" ulang Sienna dengan raut tak percaya. Saat melihat putranya mengangguk, ia melanjutkan. "Salah dengar kali."
"Nggak Ma, jelas banget kedengarannya di halaman belakang. Orang aku itu baru balik dari rumah Mahesa. Pas aku cek sih nggak ada apa-apa. Tapi suaranya jelas banget."
Mereka semua saling pandang, terkecuali Alea. Ia melahap jeruk yang sudah dikupas, menunduk sembari berpikir keras tentang cerita Alvino barusan.
"Alea, kakak boleh minta tolong nggak? Lucio nggak mau sekolah. Kayaknya lagi ngambek, tapi nggak tau kenapa. Kamu mau bujuk dia? Barangkali kalau sama kamu, dia jadi mau."
Obrolan mereka terpaksa harus berhenti setelah Alvian datang, bergabung di meja makan. Alea yang merasa diajak bicara, dengan terpaksa mendongak.
"Loh mata kamu kenapa? Kok merah-merah gitu?" kejut Alvian begitu Alea bertatapan dengannya.
Alvino yang duduk di seberang Alea otomatis ikut memperhatikan. Wajahnya terlihat mencibir. "Paling juga abis gelud sama suaminya. Kayak gak tau suami Alea aja sih, Kak," ejeknya terang-terangan.
"Kamu nangis Alea?" tanya Sienna dengan raut khawatir.
"Iya. Abis ngedrakor semalem." Alea terpaksa berdusta tentang alasannya menangis. Jika dia mengatakan tidak menangis, mereka akan semakin tidak percaya. Bengkak di matanya sangat khas orang yang habis menangis lalu tidur.
"Oalahh, kebiasaan." Sendy yang duduk di sampingnya, mencibir, percaya dengan alasan adiknya.
"Iya udah aku ke kamar Cio dulu. Aku nggak janji dia mau tapi ya Kak," pesan Alea sebelum akhirnya meninggalkan ruang makan menuju kamar Lucio.
Tok tok tok.
"Cio? Tante Alea boleh masuk?" Alea bersuara cukup keras, namun tak juga mendengar sahutan dari dalam.
Perlahan, tangannya menggenggam gagang pintu, lalu mendorongnya agar pintu terbuka. Pemasangan yang pertama kali ia tangkap adalah kakak iparnya yang terlihat tengah membujuk Lucio yang masih meringkuk di atas kasur.
"Biar aku coba, Kak," ucap Alea pada Yasmine yang langsung berdiri memberinya akses lebih luas untuk mendekati Lucio.
"Kakak sarapan aja dulu. Cio biar aku yang bujuk."
"Makasih ya Alea. Kalau gitu kakak ke meja makan dulu ya. Kamu nanti langsung nyusul kalau udah selesai."
Setelah kepergian sang kakak ipar dari kamar keponakannya, Alea melangkah mendekati Lucio yang berbaring memunggunginya. Dia tahu, anak itu sudah terjaga. Tapi entah apa yang membuatnya tiba-tiba manja seperti itu. Biasanya tidak pernah.
"Cio? Bangun yuk, sekolah. Nanti kamu telat loh."
"Nggak mau!" sahut Lucio ketus.
"Cio kok jadi gini? Kamu kenapa, hm? Ada temen yang nakal di sekolah? Apa gimana?"
Perlahan, Lucio mulai mau berbalik badan saat punggungnya terus diusap dengan lembut oleh Alea. Masih dengan terbaring, ia menatap Alea dengan raut tak tergambarkan.
"Mau apa? Hm?" tanya Alea, membantu Lucio untuk duduk menghadap padanya. Diusapnya dengan penuh sayang pipi halus keponakannya yang pagi ini sedang merajuk.
Bocah itu mengusap-usap hidungnya yang terasa gatal, sebelum akhirnya bercerita pada Alea, apa penyebabnya mogok sekolah pagi ini.
"Tante janji jangan cerita ke siapa-siapa ya?" Bocah itu menyodorkan kelingking kecilnya.
Alea mengangguk mantap, menautkan kelingkingnya dengan kelilingi kecil sang keponakan. "Janji," ucapnya.
Lucio menunduk, terlihat ketakutan. Entah apa yang disembunyikan anak itu.
"Tadi malam, Cio mimpi buruk." Anak itu mulai bercerita. Sejauh ini, yang Alea tangkap, penyebab Lucio bertingkah manja pagi ini adalah karena mimpi buruk yang mungkin menghantuinya.
"Terus Cio bangun karena takut tidur sendiri. Cio mau pindah ke kamarnya Papa sama Mama, tapi ...."
"Tapi?" Alea menanti, bagaimana kelanjutan cerita Lucio. Sepertinya tebakannya salah. Lucio bukan takut karena mimpinya, tapi karena sesuatu yang lain.
"Cio liat Om Barra turun dari tangga, bawa pistol."
Alea mematung mendengar itu. Apa Lucio tidak salah melihat? Bagaimana mungkin Barra membawa pistol ke rumah ini?
Meski tak mau, Alea terpaksa kembali mengingat ucapan Alvino beberapa saat lalu.
Benarkah yang cowok itu ceritakan? Suara ledakan itu, apa benar ada? Apa suara itu berasal dari tembakan pistol Barra? Tapi untuk apa? Untuk apa Barra membawa pistol ke rumahnya?
Seketika Alea menyesalkan kondisi kamarnya yang kedap suara. Alea yakin, selain Alvino dan Lucio, anggota keluarganya juga pasti tak ada yang mendengar. Pantas mereka semua, termasuk dia, semula tak percaya dengan cerita Alvino. Semua kamar di rumah itu kedap suara. Alvino dan Lucio mendengar karena kondisinya ada di dalam rumah, tidak sedang di kamar.
"Terus?"
"Cio sembunyi di bawah meja, soalnya penasaran Om Barra mau apa. Terus Cio lihat, Om Barra ke belakang rumah. Baru Cio mau nyusul, Cio denger suara tembakan, keras banget. Kayak bom Tante!" Lucio bercerita dengan sangat antusias dan menggebu.
Tidak salah lagi. Semua ini nyata. Apa yang Alvino ceritakan tidak salah. Cowok itu tidak salah dengar. Lucio bahkan tak hanya mendengar, melainkan juga melihat.
"Cio ngambek sama Papa Mama. Padahal Cio maunya bobo sama mereka, tapi mereka bilang Cio harus bobo sendiri soalnya udah besar. Cio jadi mimpi buruk, mau pindah ke kamar mereka, malah liat Om Barra yang lagi nyeremin."
"Nyeremin?"
Anak itu mengangguk polos. "Pakai hitam-hitam gitu. Jaketnya hitam, ada tudungnya, pakai topi hitam juga. Bawa pistol lagi. Ih, kayak penjahat di TV yang pernah Cio tonton sama Om Vino. Apa sih namanya, ma ... mamamia? Mia mia gitu pokoknya."
Alea menatap Lucio malas. "Mafia, Cio," koreksinya.
Lucio mengangguk antusias. "Iya! Itu. Kok Tante tau?" heran Lucio memiringkan kepalanya, menatap Alea seraya mengetuk-ngetuk dagunya dengan telunjuk.
"Kamu lain kali jangan kebanyakan gaul sama Om Vino, ya? Sesat dia itu," pesan Alea. Dia heran, bisa-bisanya bocah sekecil Lucio diajak nonton film thriller. Dia saja kadang masih pikir-pikir kalau diajak cowok itu nonton. Selera genre-nya agak membuat merinding.
"Iya udah sekarang kamu mandi, siap-siap ke sekolah. Nggak ada bolos bolos. Kamu itu sebentar lagi mau jadi kakak. Nanti kalau adik Cio niru Cio gimana? Bolos itu kelakuannya anak nakal. Cio mau jadi anak nakal?"
Lucio menggeleng. Alea pikir, Lucio akan segera menuruti perintahnya. Namun, anak itu kembali bersuara. "Itu Om Vino sering bolos pas masih sekolah. Kan Om Vino juga punya adik."
Lagi-lagi Alvino. Alea benar-benar jadi ingin merujak kakaknya yang satu itu. "Makanya, kamu jangan kebanyakan gaul sama dia. Kan tadi Tante udah bilang. Sekarang mandi ya?"
Setelah melihat Lucio mengangguk, barulah Alea bisa bernapas lega. Anak itu tak lagi rewel. Setelah suster Lucio masuk ke dalam kamar, Alea lalu mundur, membiarkan suster muda itu yang mengurus Lucio.
Sejenak, Alea duduk di ranjang Lucio seraya berpikir keras. Apa yang Barra perbuat malam-malam dengan pistolnya?
Maka untuk mengobati rasa penasarannya, ia harus mendatangi langsung tempat yang Lucio bilang semalam didatangi oleh Barra. Melupakan sarapannya, Alea bergegas pergi ke belakang rumahnya.
Sesampainya di halaman belakang, pandangannya menyapu ke sekeliling. Sepintas, tidak ada yang salah. Semuanya seperti biasanya, tidak ada yang istimewa.
Kakinya melangkah pelan-pelan dengan terus fokus mencari sesuatu yang mungkin bisa membantunya mendapatkan informasi.
Namun, sampai di pagar belakang pun, Alea masih tak menemukan sesuatu.
Semula ia hendak kembali ke dalam rumah. Tetapi, saat matanya tak sengaja menangkap sesuatu yang terlihat seperti darah yang lumayan banyak bercecer di jalan dekat pagar rumahnya, Alea mulai berpikir untuk mendatangi tempat tersebut.
Menggeser gerbang pagar tersebut, tanda tanya besar langsung muncul di benak Alea. Ada tetesan darah yang secara teratur meninggalkan jalanan menuju rumahnya. Ia mengikuti tetes darah itu, hingga akhirnya sampai di ujung dinding yang memagari rumahnya. Ada bekas decitan mobil di aspal itu.
"Itu artinya .... " Alea mendongak, menatap gerbang rumahnya yang menjulang tinggi. "Orang yang kena luka tembak itu manjat dinding buat lari, dan mungkin dia kena tembak waktu mau kabur. Darahnya yang netes tiba-tiba hilang. Dia pasti bawa mobil dan diparkir di sini," gumamnya mencoba membuat hipotesis.
"Apa dia ditembak sama Barra?" gumamnya, menatap dengan jeli darah yang masih basah di aspal itu. "Tapi dia siapa?"
"Apa maling?"
Yang Alea herankan, bagaimana bisa penjaga di rumahnya kecolongan? Apa mereka tidak berjaga dengan baik, sampai suara tembakan yang kata Lucio sangat keras pun mereka tak mendengar?
Tak sengaja, Alea menemukan sesuatu yang pasti akan sangat membantunya memecahkan teka-teki ini.
"CCTV!" cetusnya, menemukan ide. Ia baru ingat rumahnya dilengkapi kamera CCTV yang terpasang di beberapa sudut bangunan. Di gerbang yang menjulang tinggi di belakangnya sekarang pun ada satu CCTV yang Alea lihat menyala.
Alea memutuskan meninggalkan tempat itu lalu kembali ke dalam rumah. Tak lupa, ia menutup kembali gerbang yang tadi ia buka. Tujuannya sekarang adalah ruang CCTV. Dia akan mengecek sendiri untuk memastikan, benarkah sosok yang membawa pistol itu Barra?
"Mbak Alea, ngapain di sini? Bukannya sarapan sama yang lain?"
Alea dikejutkan dengan suara seorang pria yang tiba-tiba muncul di depannya, tepat setelah ia menutup gerbang.
"Pak Ali! Bikin kaget aja!" Alea mengusap dadanya yang langsung berdegup kencang lantaran terkejut.
"Ya maaf Mbak. Abisnya nggak biasanya Mbak Alea pagi-pagi di belakang rumah. Biasanya Mas Sendy yang ke sini pagi-pagi, kasih makan si kembar."
Alea mengikuti arah pandang satpam rumahnya yang menunjuk dua kelinci peliharaan Sendy yang terkurung di dalam kandang. Alea tidak mengerti atas dasar apa Sendy menamai mereka si kembar di saat ke-dua kelinci itu sama sekali tidak memiliki kemiripan dalam segi apapun. Warna, jenis kelamin, semuanya berbeda. Kadang Alea heran, kenapa saudara-saudaranya sering random kelakuannya.
"Pak Ali, semalam nemuin sesuatu nggak di sini?" tanya Alea, sengaja tak langsung membahas tentang suara tembakan itu.
Pria berperawakan tinggi tegap itu terlihat berpikir serius. "Nggak ada, emang ada apa Mbak? Ada kejadian di sini? Jam berapa?"
"Nggak sih Pak, cuma tanya."
"Soalnya semalam saya jaga di sini sekitar jam dua belasan sampai jam dua. Aman kayak biasanya. Saya tinggal ke depan, balik ke pos."
Jam dua belas sampai jam dua? Jam segitu dia juga masih terjaga. Ulah Barra lah yang membuatnya terjaga di jam selarut itu. Di jam itu juga Barra masih berkeringat bersamanya di atas ranjang.
"Iya udah, kalau gitu saya masuk ke dalam ya Pak. Mari."
🍉
Alea memperhatikan dengan jeli layar lebar di depannya yang menampilkan seluruh rekaman CCTV yang terpasang di rumahnya. Ia hanya fokus di bagian belakang rumah dan tangga yang Lucio bilang mendapati Barra berjalan di sana.
"Dari perawakannya emang Barra sih. Cio juga pasti nggak salah liat." Alea bergumam mengomentari sosok tinggi dengan pakaian serba hitam yang terpantau kamera sedang menuruni anak tangga.
Ia beralih pada kamera yang mengawasi bagian belakang rumah, memperbesar layarnya hingga terlihat dengan jelas.
Terlihat, sosok yang ia yakini Barra, sempat berbicara sesuatu dengan orang yang ia yakini pemilik tetesan darah di aspal itu. Sayangnya, ia tak bisa menebak apa yang mereka bincangkan. Alea tidak pandai membaca gerak bibir seseorang. Terlebih, posisi mereka tidak mendukung.
Barra membelakangi kamera, dan orang yang diajaknya berbicara juga menunduk tertutup topinya. Dia tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.
"Sebenarnya apa lagi yang kamu sembunyiin sih Bar," gumamnya mengeluh, menyandarkan tubuhnya di kursi yang ia duduki. Matanya terus fokus memperhatikan setiap adegan yang ditampilkan di layar di depannya. Dari Barra yang terlihat mengobrol dengan orang itu, bertengkar dengan tangan kosong, hingga ke-duanya mengeluarkan senjatanya masing-masing. Orang itu dengan pisaunya, dan Barra dengan pistolnya.
🍉
Song List: Angin Kencang - Noh Salleh.
Setelah kemarin Barra memperlakukannya dengan begitu manis bahkan mengungkapkan perasaan yang katanya dari hati terdalamnya dan Alea percaya begitu saja, kini ia dibuat menyesal telah mempercayai itu semua.
Tega sekali laki-laki itu melukai hatinya dengan cara yang ia nilai sangat kejam. Jika Barra tak membohonginya, mungkin ia tak akan sekecewa ini dan bisa lebih mempersiapkan diri untuk menerima semua kejutan gila malam ini. Mengapa Barra baru jujur setelah mereka melakukan hubungan intim yang mulanya sangat Alea takuti? Jika Barra jujur sebelumnya, mungkin Alea akan berpikir dua kali untuk melakukan hal itu.
Mengapa Barra harus meyakinkannya bahwa ia sangat mencintainya, sedangkan hari ini, cowok itu akhirnya bertunangan, dengan perempuan lain. Tak hanya cincin pernikahan mereka, akan ada cincin lain yang tersemat di jemarinya. Membayangkan hal itu, batinnya menjerit tidak rela.
Mengapa kemarin Barra membuatnya merasa sangat bahagia, sampai berpikir menjadi perempuan paling beruntung karena dicintai begitu dalamnya, tapi hari ini, ia ditinggalkan begitu saja. Laki-laki itu bahkan tak berpamitan padanya sama sekali. Semula Alea harap, katakanlah sedikit kalimat penenang sebelum dia datang pada Amara.
Dari balik kaca gelap taksi yang ia naiki, perempuan berkuncir kuda itu menatap penuh kecewa dan kepedihan ke arah gedung hotel yang pelatarannya ramai orang berdatangan dengan setelan khas orang menghadiri pesta.
Billboard yang terpajang di depan hotel menampilkan banyak sekali foto-foto mesra Barra dan Amara dengan kostum sangat cantik dan beragam yang malam ini menjadi raja dan ratunya pesta. Acara digelar sangat mewah bahkan mengundang banyak sekali tamu-tamu penting meski jenjang pesta tersebut masih sampai di pertunangan. Belum sampai di pernikahan. Jauh di dalam lubuk hatinya, tak dapat dipungkiri, dia pun menginginkan itu semua.
Jika boleh jujur, dulu Alea menolak diadakan pesta besar bukan karena murni tidak ingin. Dia pun ingin pesta pernikahan yang mewah layaknya putri disney yang bersanding dengan pangerannya. Namun, dia memaksa mengubur semua keinginan itu demi menjaga nama baik orang tuanya.
Pernikahan dini masih menjadi hal yang tabu di kalangan masyarakat. Alea tidak mau menimbulkan prasangka buruk dari orang-orang yang ditujukan pada orang tuanya yang tidak tahu apa-apa. Sudah cukup ia merusak nama baik ayah dan ibunya, Alea tidak ingin menyimpan rasa bersalah semakin besar.
Hatinya menjadi semakin teriris ketika Billboard yang semula menampilkan kolase foto-foto Barra dan Amara, kini menampilkan serangkaian acara di dalam sana. Dia kira, bibir itu hanya pernah menciumnya. Rupanya, kini bibir itu pun berkhianat. Barra mencium Amara di depan banyak orang.
"Jalan, Pak." Tak ingin semakin menyiksa hatinya dengan melihat semua itu lebih lama, Alea memutuskan pergi dari tempat itu.
Beginikah akhir kisahnya dengan Barra? Sekuat tenaga ia menahan air matanya untuk tidak menetes, nyatanya ia tak cukup kuat menahan itu semua. Dadanya naik turun, sesenggukan.
Sebenarnya ia tak paham, untuk apa Barra menahannya agar tetap di sampingnya sedangkan segala tingkahnya terus membuatnya sakit. Alea bahkan tidak bisa mengira-ngira sejauh mana dia akan bertahan. Barangkali jika setelah ini Barra kembali melakukan sesuatu yang membuatnya terluka lagi, Alea akan langsung menyerah. Dia tidak sekuat itu.
Tangannya bergerak gemetar, menyentuh perut buncitnya yang tertutup gaun rajutnya. Akhirnya, ia sampai di situasi yang paling ditakutkan. Ia sampai di satu titik dimana ia tak lagi bisa menjelaskan emosi apa ya tengah ia rasakan sekarang. Rasanya ia ingin tertawa di tengah-tengah tangis pilunya.
Untuk membenci anak itu pun ia tidak mampu. Namun, apa yang ayahnya perbuat benar-benar membuatnya ingin membenci segala sesuatu yang berhubungan dengan Barra, termasuk keturunannya yang sialnya hidup di dalam rahimnya.
Alea tidak bermaksud membenci dan menyesali kehadiran anaknya. Hanya saja, dia tak tahu lagi harus dengan cara apa mengungkapkan bahwa dia sangat kecewa pada sosok itu. Ah, untuk menyebut namanya saja, lidahnya terasa kelu.
Mobil yang semula melaju dengan tenang, mendadak oleng. Supir terlihat tidak bisa mengendalikan laju mobil yang tidak tenang.
"Kenapa, Pak?"
"Kurang tau saya, Neng." Supir berperawakan sedang itu memilih menepikan mobilnya sejenak, lalu turun untuk mengecek kondisi mobilnya.
Duduk di dalam taksi, Alea dapat melihat supir tersebut terlihat gusar. Ia memilih menyusul turun untuk melihat, ada masalah apa?
"Maaf banget ini mah ya Neng, ban mobilnya tiba-tiba kempes. Kayaknya ini tadi teh gak sengaja kena paku."
Menatap ban mobil yang memang kempes, Alea menghela napas berat. Ia memutuskan turun, setelah sebelumnya sudah membayar taksi tersebut.
Menemukan sebuah bangku panjang, Alea memilih singgah sejenak di kursi itu, seraya menunggu kalau-kalau ada taksi yang berlalu lagi. Matanya memperhatikan aktivitas kendaraan yang melintas di depannya.
Sampai akhirnya, sebuah mobil sport putih yang tiba-tiba berhenti di depannya membuat dahi Alea mengernyit dalam. Sepertinya ia mengenali sosok yang ada di dalam mobil itu.
Benar saja. Sesosok laki-laki yang turun dari mobil itu berjalan menghampirinya dengan raut bingung sekaligus terkejut.
"Mahesa?" tegur Alea saat cowok itu sudah berdiri di depannya.
"Lo ngapain malem-malem di sini?" heran Mahesa, menatap ke sekelilingnya. "Di sini dingin, Alea. Sepi lagi. Kalau ada sesuatu sama lo gimana? Lo perempuan, lagi hamil lagi."
"Gue anter pulang ya?" tawarnya.
Di saat Mahesa memberikan perhatian yang sangat ia butuhkan di waktu ini, kemana perginya degup jantung Alea yang selalu tak beraturan? Bahkan dulu, hanya melihat Mahesa pun, jantungnya langsung bereaksi dengan berdegup kencang. Namun sekarang, cowok itu bahkan sangat memperhatikan dan mengkhawatirkannya. Mengapa rasanya hambar?
"Tadi aku mau ke supermarket beli susu, kebetulan udah habis, eh taksinya tiba-tiba kempes bannya," kata Alea dengan jujur. Semula tujuannya memang ke supermarket untuk membeli susu. Tapi di tengah jalan, dia justru bertemu dengan sesuatu yang sukses merusak moodnya.
"Kenapa nggak bawa supir aja?" heran Mahesa.
Saat melihat Alea diam, Mahesa paham, tidak semuanya harus dia tahu. Dia menghormati privasi Alea.
"Ayo gue anterin pulang. Kebetulan gue juga mau ke rumah lo, udah ditungguin anak-anak di sana. Abang lo juga udah rusuh dari tadi di grup chat."
"Tapi aku mau beli susu dulu," kata Alea tidak enak hati, seraya mengusap-usap perutnya yang kian membesar. Menurut perkiraan dokter, kurang lebih tiga bulan lagi dia bisa melahirkan bayinya.
"Iya gue temenin," sahut Mahesa dengan senyum ramahnya, dibalas anggukan kepala oleh Alea yang lalu berdiri, mengikuti Mahesa menuju mobilnya.
Saat ini, Alea tak tahu, siapa yang harus ia percayai. Alea tidak yakin bisa tetap percaya pada Barra setelah semua kebohongan yang laki-laki itu perbuat padanya. Namun, Alea tidak mengerti, mengapa dia juga tidak bisa lagi sepenuhnya mempercayai Mahesa yang jelas-jelas belum pernah membohonginya.
Mungkinkah dia mati rasa? Kepercayaannya selalu dianggap remeh oleh orang-orang yang ia anggap berharga.
🍉
Saat merasakan ranjang sedikit bergoyang, Alea bisa tahu, ada orang lain yang menaiki ranjangnya di belakang. Tanpa bertanya pun Alea tahu, siapa sosok itu.
Namun, Alea memilih bungkam. Seharusnya sejak kemarin Alea tetap pada keputusannya untuk tidak lagi peduli pada Barra. Tapi yang terjadi, ia justru kembali jatuh pada sosok itu. Alea tidak tahu mengapa dia jadi selemah itu.
Sejenak, ia memilih tidak bernapas untuk menahan nyeri yang bersarang di dada ketika tangan kekar Barra melingkari perutnya.
Ia tak lagi merasa tersanjung atau terbuai. Alea justru merasa dipermainkan.
"Alea," panggilnya terdengar lesu.
Alea tak menyahut. Ia tetap pada posisinya, memunggungi Barra.
"Jangan diemin gue. Gue tau lo belum tidur." Barra berbisik lirih.
Setelahnya, terdengar helaan napas panjang dari cowok yang memeluknya dari belakang. Alea muak dengan itu semua. Barra selalu bersikap seolah tak berdaya di depannya. Padahal di belakangnya, laki-laki itu sudah bertindak cukup jauh. Entah sejauh apa, Alea pun tak mengerti.
"Gue pulang karena gue khawatir sama lo. Gue tau lo pasti mikir yang nggak-nggak."
Saat merasakan tangan Barra mulai bergerilya kemana-mana, Alea terpaksa menangkap tangannya untuk menahannya. Runtuh sudah pertahanannya untuk mendiamkan Barra. Ia terpaksa melakukan ini untuk mencegah laki-laki itu berbuat yang tidak-tidak lagi.
Dengan sangat berat hati, Alea berbalik badan, menghadap Barra yang langsung tersenyum melihatnya.
"Sorry, gue ngelakuin itu karena gue tau, lo nggak akan noleh kalau gue nggak gitu. Gue nggak ada maksud lain kok."
Tangan Barra terulur hendak menyentuh pipi Alea, namun dengan segera perempuan itu mundur. Barra mengangguk, memakluminya.
"Tangan kamu kenapa?" Sama sekali tidak bermaksud perhatian, Alea hanya penasaran dengan jawaban Barra. Meski seratus persen ia yakin Barra tidak akan jujur, Alea hanya ingin memastikan. Barangkali, Barra benar-benar mulai terbuka dengannya.
Ada sebuah goresan luka yang lumayan dalam di tangan Barra. Luka itu masih basah, dan Alea tahu jelas alasannya. Sudah tentu masih basah. Luka itu baru tercipta kemarin malam. Terlebih, penyebab lukanya adalah karena goresan pisau yang tajam.
Sedetikpun Alea tak melepaskan tatapannya dengan mata Barra. Dia akan mencari kejujuran laki-laki itu dari sana.
"Ini, tadi waktu acara, kena goresan pecahan gelas."
Alea hanya mengangguk, pura-pura percaya. Dia tak perlu lagi memaksa Barra jujur padanya. Jika Barra benar-benar menganggapnya penting, tanpa ia suruh pun, cowok itu akan jujur dan melibatkannya dengan masalah yang tengah dihadapi. Ia pikir percuma memaksa Barra mengaku. Jika dia akhirnya mengaku pun itu karena terpojok, bukan karena benar-benar ingin berbagi dengannya.
Sejauh ini, Alea mulai menyadari sesuatu. Di hidup Barra, dia tidak benar-benar sepenting yang ia kira. Barangkali kemarin, laki-laki itu bercerita tentang separuh kisah hidupnya hanya karena takut ia meninggalkannya. Karena jika dia meninggalkan, Barra akan kehilangan anaknya juga. Anak yang Alea dengar akan digadang-gadang menjadi penerus perusahaan keluarga Barra. Pantas waktu itu ayah Barra memintanya untuk mengambil anaknya.
Saat Barra memajukan tubuhnya untuk semakin dekat dengannya, bahkan wajahnya berusaha menjangkaunya, Alea lagi-lagi reflek mundur.
Entah mengapa, setelah melihat Barra berciuman dengan Amara, Alea merasa tak sanggup jika harus berciuman lagi dengan laki-laki itu. Alea tidak bisa berbagi sesuatu dengan Amara, termasuk bibir Barra. Ia justru merasa jijik dengan Barra yang dengan mudah memberikan bibirnya pada lebih dari satu wanita.
Melihat Alea lagi-lagi menghindarinya, Barra terus berusaha menerima di dalam hatinya. Alea masih tidak terima akan pertunangannya dengan Amara.
"Aku nggak biasa pakai bekasan orang lain," kata Alea tiba-tiba, tanpa menatap matanya. Wajahnya berekspresi datar.
Barra tertegun mendengar itu. "Lo liat ...."
"Apa itu kebiasaan keluarga kamu, Bar? Mengumbar aib di depan banyak orang?" Meski terdengar tenang, Barra tahu, ada ledakan emosi yang tak biasa dalam kalimat Alea barusan. Dari tatapannya, Alea terlihat sangat dendam, menyimpan amarah di dalam sana.
"Apa semua tamu terhormat kebanggaan keluarga kamu itu nggak ada yang tau kalau kamu masih jadi suami sah perempuan lain?"
Setelahnya, Alea tertawa kecil. "Nggak ada yang tau, lah. Kan pernikahan kita kamu anggap aib," tuturnya, begitu menusuk hati Barra yang mendengarnya.
Barra tak menjawab karena ia tahu ia salah. Untuk mengelak pun Alea sudah telanjur mengetahui semuanya. Dia akan mendengar semua cercaan Alea, sekalipun ia ingin menyela.
"Maaf Alea. Gue nggak bisa berbuat apa-apa," ucapnya.
"Lalu gimana kamu mau melindungi aku dan anak ini? Gimana kamu bisa menyelesaikan semuanya seperti yang kamu bilang kemarin? Kalau sekarang aja kamu bilang kamu nggak bisa berbuat apa-apa."
"Maaf. Maaf." Alea mulai memejamkan matanya, mengabaikan Barra yang terus membisikkan banyak kata maaf.
Dari ke-dua matanya yang mulai menutup, mengalir tetesan bening yang lalu membasahi pipinya.
Double up? Kapan-kapan WGWGWG
Selamat hari rayaa😃🤗