PKINGG!
Suara notifikasi whatsapp membuat Metta bangun dari membenamkan kepala di bantal.
Angga sok ganteng💩
Met coba ke balkon. Gue punya sesuatu nih buat lo🤸♀️ |
| Ntar. Tanggung tugas gue belum kelar
Knp gak di balkon aja kerjainnya🦍 |
| Gk mau. Lo suka ganggu
Nugas mulu lo,kagak bosen apa👿 |
| Tukang nyontek enak bnr yee ngomong!!
.
"Mau ngasih apa lo?" tanya Metta yang sudah stand by di balkon. Mata sinis seperti biasa menyertainya saat Angga menggangu waktu berharganya. Awas aja kalo gak penting!
"Taraaaaa ... it's salad buah." Angga menunjukan dua kotak salad buah. Sangat terlihat lezat.
Mata Metta langsung seketika seger.
"Dua?"
"Satu lagi buat Babangs Tampansss."
"Wahh baik banget sih Angga. Kebetulan gue hari ini belum makan salad buah. Gak ada bahannya, abis. Gak ada duit pula," curhat Metta dengan bibir merenggut.
"Kita dinner yah malam ini. Menunya salad buah ala Bi Idah." Angga mengasongkan salah buah itu ke arah balkon Metta.
"Yah Ga, gimana ambil nyah?" Metta melihat kesana kemari untuk berpikir. Bagaimana bisa mengambilnya dari balkon sebelah?
"Emm ... oke pake tongkat." Angga mengasongkan salad buah dengan cara memasukan salad buah dalam kresek dan si lobang di kreseknya dimasukan ke tongkat. Dengan itu Metta dapat menerimanya dengan mudah, ia meraih ujung tongkatnya.
.
"Gimana enak kan?"
"Emm ... enak," jawab Metta yang sudah melahap salad buah hampir setengah kotak itu. Detik berikutnya ia malah menurunkan senyum manisnya itu.
"Kenapa lesu sih?" tanya Angga heran. Sudah dikasih salad buah aja masih manyun. Tumben.
"Gue khawatir sama masa depan gue," lirih Metta, bibirnya masih merenggut membuat Angga gemas!
Angga malah berseru, "Khawatir gue jodohnya sama orang lain? Dan lo pasti gak siap yah ngeikhlasin gue?" tanyanya sok sedih.
"Bancett!! Bukan. Gue takut gak lolos SNMPTN nanti."
"Gue doain, Ya Allah semoga Metta lolos SNMPTN dan juga lolos seleksi nanti di audisi 'mencari calon istri Angga si tampanssss' Aamiin," celoteh Angga mengangkat tangannya seraya berdoa dan menatap langit malam.
"Gak pernah serius lo!" kesal Metta memalingkan wajahnya dari Angga.
"Kita masih SMA Met, kamu mau seserius apa sih hubungan kit--"
BLUGGHK!
Metta menutup pintu kamarnya dengan keras. Tentu saja ia kesal dengan Angga yang tak kunjung dewasa.
Sementara itu, Angga terlonjak kaget. Lalu berteriak. Tidak terima ditinggal begitu saja. "APA SALAH GUE SII?!! SALAD BUAHNYA DIMAKAN DI DALAM LAGI. NIAT GUE NGASIH SALAD BUAH KAN BUAH IMING-IMING BIAR LO MAU JADI TEMEN BICARA GUE, EH .... MALAH MAEN PERGI AJA," teriaknya, " UNTUNG GUE SAYANG," sambungnya seraya melahap salad buah dengan raut manyun.
Teriakan Angga itu terdengar sampai ke kamar Metta. Tentu saja, orang Balkon mereka deket begitu.
Angga memutuskan berteriak lagi,
"MET, PLISS DONGSS KELUAR MAU CURHAT TENTANG MIRA NIH. GUE MAU BERUBAH DEH, BENERAN. GAK BOONG DEH KALI INI, MAKANYA LO SINI DENGERIN GUE." Angga mengangkat bendera putih kecil dengan tongkat panjang yang digunakan untuk mengasongkan salad buah tadi, ia mengetuk-ngetuk jendela kamar Metta dengan tongkat berbendera itu.
TUKKK TRUURKK!
"Ahhh berisikkk!" amuk Metta. Akhirnya ia keluar dari Kamar karena kesal.
"GUE MAU TIDUR!! JANGAN BERISIK!!" seru Metta.
"Baru jam 9 malam lho. Biasanya kan jam 10," ujar Angga berupaya meluluhkan hati Metta.
"Besok aja ya ngomongin kisah cinta lo nyah. Lo aja tiap gue mau curhat serius, lo nya gak bener. Jadi gue juga males dengerin celotehan lo. BYEE!" Metta mulai memasuki pintu kamarnya lagi.
"Lo mau tidur?"
Pertanyaan Angga membuat Metta menghentikan langkah kakinya, ia menoleh.
"Iya, kan tadi gue bilang mau ti--"
"Salad buahnya emang udah dimakan?"
"Ini mau. Makan salad dulu baru tidur," jelas Metta.
BLUGGHK!
"Oh," gumam Angga sembari mengerjap kaget setelah kepergian Metta yang menutup pintunya dengan keras. Lagi.
**
Metta sedang asyik menikmati salad buah dari Angga. Sementara itu Angga yang kesepian mengambil gitar kesayangannya dari kamar dan sengaja memainkannya di balkon, sembari bersandar di lazybug berwarna ungu miliknya.
"Di antara beribu bintang, hanya kaulah yang paling terang, di antara beribu cinta pilihanku hanya kau Metta ...."
Ingat lagi milik band 'Hello' berjudul "di antara beribu bintang?" Itu yang tengah dinyanyikan Angga.
Itu nyanyian merdu Angga, sangat melow. Sebelum akhirnya ia meng-koplonya, berdiri dan mulai jingkrak-jingkrak sendiri.
"Ooooowww ... di antara beribu bintang ... hey! Hanya kaulah yang paling terangggg ... hey! Di antara beribu cintaaaa plihanku hanya kau Metta ... heyy! Takkan ada selain kamu ..."
"Takkan ada selain kamu?" beo Metta mencebik, "lo pikir Mira apaan? emang itu orang terlalu ngangap becanda yah hidupnya!" tandas Metta mendengar nyanyian itu. Ia yang tengah asyik bermain hp dan menyantap makan malamnya dengan salad buah dari lelaki gila yang tengah bernyanyi di malam hari yang harusnya sunyi dan tenang ini.
"He-eeyyy, takkan ada selain kamuuu ... dalam sgala keadaanku ... hey! Cuma kamu dan hanya kamuuu ... slalu ada untukkkuu ayee!"
"Kasian si Mira punya pacar stress." Metta mengeleng-geleng kepala, dia tidak mengerti lagi isi kepala Angga.
JENG JRENG JRENGG!
Angga akhirnya mengakhiri konsernya. Padahal ia harap Metta akan kebisingan dan keluar marah-marah seperti biasa. Ia bisa liat wajah Metta sebelum tidur, walaupun melihat wajah Metta yang ngamuk sebelum tidur, ia tidak peduli, yang penting ia melihatnya. Itu aja.
Angga mengernyit. "Metta masa sih udah tidur? Biasanya suka ngamuk kalo gue konser. Lah? Ini nggak." cicitnya, lalu berusaha berpikir posistif. "Apa lagi anteng makan salad buah dari gue yang enakk sekalihh yah?" tanya Angga pada dirinya sendiri.
Detik berikutnya, ia merasa linglung.
"Lah? gue nanya siapa? Ah ngomong sendiri lagi kan gue. Udah malem aja lagi. Tidur juga ah, besok jam 4 kan harus bangun belum nyontek haha," pungkas manusia absurd ini sembari memanggul gitar yamaha miliknya ke kamar.
Beginilah Angga, dalam hal tugas iya tidak ingin ribet, selalu saja nyontek. Dan beruntungnya ia, selalu saja dapat contekan. Entah dari ia maksa, ngiming-ngiming sesuatu ke orang itu, atau ada yang suka rela memberi jawaban. Tapi Angga bukan typikal orang yang sembarangan dalam mencontek, ia bisa memilih mana jawaban yang bener dan mana yang salah. Kalo orang yang memberi contekan kepadanya jawabannya gak jelas, ngelantur, acak-acakan, Angga tidak akan sudi nyontek ke orang tersebut, ia tidak sebodoh itu kawan. Hanya orang-orang pinter yang jadi sasarannya. Kalaupun sifat Angga suka mencontek, ia tetap suka menelaah jawaban si orang yang ia contek, dengan harapan semoga saja ia mengerti jawabannya. Sehingga setidaknya jika ia ditanya oleh guru mengenai jawabannya ia bisa menjelaskan agar tidak keliatan bahwa itu jawaban hasil mencontek.
**
TRINGGGG TRINGGK!!
Suara jam weaker Angga terus berbunyi jam 4 pagi ini. Jam yang sudah diatur Angga untuk membangunkannya --supaya ia mengerjakan PR.
"Huaappk!" Angga menguap dan membalikan badannya ke arah jam weaker. Kemudian apa yang Angga lakukan?? Ia mematikan alarm nya.
Dan ... ia tidur lagi tentu saja.
**
"ANGAAAAA. BANGUUUUUUNN!" Suara Bu Lita menggema di kamar Angga. OMG!! Bundanya itu membangunkan Angga menggunakan toa! Untung saja telinga Angga tidak loncat karena kebisingan itu.
Angga langsung terlonjak dengan posisi duduknya. "AWWWW!! Sakit nih telinga Angga!!" pekiknya.
Bu Litta berteriak mengunakan toa yang biasa ia gunakan untuk membangunkan Angga, lagi. "UDAH JAM 6! KAMU GAK MAU SEKOLAH?!!"
Setelah meneriakan itu, ia menjatuhkan toanya.
"Bangun!" Bu Litta menggusur Angga dengan menarik kerah piyama belakangnya. Sementara yang digusur hanya pasrah dan masih menunjukan wajah khas orang bangun tidur, lelaki muda itu menunduk lemas dengan posisi berdiri. Kepalanya sangat lemas, seperti mau copot saja.
Sang bunda menarik Angga sampai pintu kamarnya. "Mau dibawa kemana sih Bun? Masih ngantuuk!" cicit Angga lesu dengan mata setengah terbuka. Nampaknya ia masih ingin tidur. Ia kemudian meruntuhkan tubuhnya dan terduduk lemah di atas Lantai. Pondasi Angga runtuh. Ia bisa tidur di mana saja saat ini.
"KE BAWAH!!! GUSUR KAMU SAMPE SAMPE KAMAR MANDI!!" Bu Lita melotot melihat Angga malah lemah tak berdaya di lantai dan tidak menghiraukan amukannya.
"Dasar pelor!!" gumamnya melihat tingkah anak satu-satunya.
Karena geram, Bu Litta menarik kaki panjang Angga yang terentang lurus di lantai. Ia berniat menggusur Angga sampai bawah. Sementara Angga? Dia masih tenang-tenang saat kakinya ditarik tanpa aba-aba oleh ibunya. Ia awalnya terpekik beberapa detik, namun detik selanjutnya ia kembali lemah dan matanya hanya meletet. Ia sangat ngantuk.
Tidak peduli dirinya digusur, Angga malah mengangkat tangannya ke atas. Seolah-olah ia 'menikmati' saat kakinya ditarik. Ia tidak merasa terganggu sama sekali. Dasar!!
"WOYY!! ANGGA! ANGGA! ANGGA!?" Bu Lita menatap Angga dengan tajam. Sejenak ia menghentikan aksi gusur kaki Angga, untuk memastikan Angga masih hidup. Hahah. Karena Angga sama sekali tidak peduli saat badannya digusur seperti ini. Sepelor itukah Angga?!!
"A--pa? Aa--pa? Ap--pa?" jawab Angga 3 kali, persis menjawab panggilan bundanya yang memanggil namanya 3 kali, matanya masih setengah tidur. Oke, berarti Angga masih hidup.
Bu Lita yang berniat menggusur badan panjang Angga sampai bawah, akhirnya berhenti di dekat tangga. Ia menghentikan aksinya. Tidak mungkin juga membuat wajah tampan putranya terantuk-antuk di tangga.
"Oke, kalo kamu gak mau bangun juga, gakpapa. Kamu udah dewasa sekarang, umur kamu udah mau 19 tahun. Jadi seharusnya kamu setidaknya udah bisa bangun sendiri." Bu Litta memperhatikan dengan seksama wajah Angga yang masih sepenuhnya terpejam.
Angga tidak bergeming sama sekali.
"Sekarang terserah kamu deh, kalo masih gak mau bangun, gakpapa. Sekalian aja gak usah sekolah, diem di rumah, dan jadilah benalu di keluarga ini. Jadilah lelaki yang tidak berguna! Dan rasakan nanti kehidupan kamu yang perlahan-lahan menjadi seng.sa.ra!!" Bu Lita membisikan kata 'sengsara' tepat di telinga Angga, membuat mata Angga melotot.
"BYE! Bunda berangkat kerja dulu." Bu Litta pamit tanpa memperdulikan Angga lagi. Ia yakin Angga akan sadar karena Angga sepertinya terpekik karena ucapannya tadi.
Angga yang tengah melotot tidak sengaja melihat jam dinding besar yang terpasang di dekat tangga. Pukul 06:24.
"Maafin Angga bun. Ya Tuhan udah mau jam 6 lebihhhh!! BUNDA KENAPA GAK NGOMONG SIH?!!" gerutunya yang baru sadar hampir kehabisan waktu.
"Kamunya aja yang budegg!" sanggah Bu Litta yang sedang melenggang di tangga dengan elegan. Ia sudah rapi berbalutkan busana bernuansa merah. Celana kulot merah, kemeja putih yang dibalut blezeer merah, dan pentopel hitam.
Jangan tanya busana Angga. Ia sudah pasti memakai piyama gambar tengkorak dan kolor gambar tengkorak juga. Entah kolor itu setelan bawahannya atau bukan, yang jelas ia mempunyai banyak piyama dan kolor gambar tengkorak seperti itu.
Angga langsung bergegas, rasa ngantuk yang tadi singgah kini langsung lenyap ketika jam menunjukan waktunya yang terbatas, ia berlari seperti kilat ke kamar untuk mengambil handuk, tentu saja ia bergegas untuk mandi, bahkan karena terlalu ribut, Angga hampir menyenggol bundanya yang masih melenggang di anak tangga rumahnya yang panjang ini.
**
"Mettt .... ?" teriak Angga memanggil Metta dari balkon. Karena tidak ada jawaban, Angga yakin Metta sudah tidak di sana, Angga dengan rusuh berjalan menuju lantai bawah, sampai akhirnya ia sampai di rumah Metta untuk menjemputnya.
TOK ... TOK ... TOK!
"Tantee? Metta ada gak?"
"Udah berangkat Ga," teriak Bu Wina dari dalam, ia tidak keluar untuk menjawab karena ia sedang mencuci piring.
Angga langsung menaiki motornya dan memaut gas dengan sekencang-kencangnya. Untuk saja dia sendiri, kalo membonceng orang, pasti orang yang ia bonceng akan pingsan karena mual dibawa olehnya. Dibawa oleh Angga seperti naik wahana roller coaster saja. Sungguh pusing.
**
"Metta lo ninggalin gue lagi?" tanya Angga ketus duduk kasar di Bangku Rina --teman sebangku Metta--. Tepat di sebelah Metta.
"Ngapain muka lo asem sih nanya nyah? Orang gue gak salah," tandas Metta melirik tajam Angga. Tangannya kanannya sibuk membolak-balikkan halaman novel.
"Seharusnya lo bilang dong!" Angga naik pitam.
"Bilang gimana Cett? Orang elo molor kan?" tebak Metta. Kini ia menaruh novelnya ke tas.
"Chat lah," saran Angga dengan wajah penuh amarah.
"Iya kan gue udah chat, tapi karena lo masih molor, lo gak bales kan?" sinis Metta bersedekap tangan.
"Tahu darimana gue masih mol--tidur?" tanya Angga meralat kalimatnya.
Metta tidak menjawab. Iya membuka ponselnya dan menunjukan sesuatu kepada Angga.
Apa itu? Itu adalah foto. Yap! Itu foto Angga yang tertidur pulas dengan tangan telentang dan kaki terbuka lebar. Sungguh lucu. Sayangnya saja mukanya Angga masih saja cakep, ia tersenyum lucu, sepertinya saat itu ia sedang memimpikan sesuatu yang membahagiakan.
"Bunda gue yah yang foto yah?" tebak Angga yang sudah yakin siapa pelakunya. "Eh-eh, jangan-jangan ..." Mata Angga mulai menyipit dan menunjuk Metta. "Jangan-jangan elo yah diam-diam ke kamar gue. Terus. .. karena lo gak kuat liat muka gue yang tetap tampans walaupun sedang tidur pulas, akhirnya lo foto gue.
Yee kan?" tudingnya, Angga bertanya dengan kepedeannya. Padahal beberapa menit lalu ia bertanya dengan ketus. Lah, sekarang?? Ia malah ceria lagi.
Random mood nih orang.
"Najiss! Enggak lah. Gue chat Tante Litta, terus malah ngasih foto jelek lo," ungkap Metta dengan nada ketusnya.
"Dasar tukang boong lo. Gue dibilang jelek! Orang gue tampans gini. Bwlee!" Angga menjulurkan lidahnya. Membuat Metta memakai jurus kakinya untuk menendang kaki Angga membuat lelaki itu menggaduh walaupun sebenarnya tidak terlalu sakit.
TRINGG TRINGGG!
Bel berbunyi, Angga pun melangkah kembali ke bangkunya. "Kita pisah dulu ya, bel memisahkan kita," ucap Angga dengan nada penuh kesedihan. Seperti biasa, sok sedih.
Metta malah menatap Angga dengan tatapan 'apaan sih nih anak!'
**
Pelajaran fisika akan segera dimulai, sementara si guru masih belum datang.
Dika gunakan kesempatan waktu itu untuk sekedar killing time.
"Ga? Gimana dong PR fisika gue belum beres." Dika cemas sembari menggoncangkan tangan Angga.
PR?
FISIKA?
ASATAGA! Angga jadi melotot teringat itu.
"Anjirt! Gue juga belum!!" pekik Angga baru sadar jam 4 tadi ia lupa mengerjakannya.
**
TBC :
Babangs Angga dengan ciri khas jacket kulitnya🧡.
Gimana nasib Angga guys?!!!
Jan lupa jejak abis bacanya cintahhh.
Ada yang kangen MeLuQis AngKaSa?