AngGaTta [ON GOING]

Por MerriAryanti

2.8K 1.5K 1.3K

"Ga? Lo bisa gak sih jangan terlalu deket sama gue?!!" "Lah, kenapa?" "Lo kan udah punya pacar anjir! Pake na... Más

1 - Tentang Angga si pecinta wanita
2 - Tentang Metta Penggemar Salad Buah
3 - Tragedi Pulang Sekolah
4 - Base Camp Berwujud Gazebo
5 - Salah Paham?
6 - Kantin
7 - Pleasure of Bisbol Not Pressure of Bisbol Anymore
9 - Fungsi Jam Weaker?
10 - Perkara Hukuman Pel Lantai
11 - Perkara Tiang Tembok
12 - Perkara Jalan Kaki
13 - Bukit Rindang
14 - Hadiah yang meribetkan
15 - Lo. Gue. END
16 - Nyamuk
17 - Motor Yang Malang
18 - Begal
19 - Beberapa keajaiban

8 - Solitude

94 67 30
Por MerriAryanti

"Liat apa sih?!" Metta melotot karena Angga tak kunjung bicara pada intinya.

"Fotto gue sammmaaaa .... --Mirraaaa--." Angga memamerkan Fotonya di lapang bisbol dengan Mirra. Mereka tampak melompat di lapang bisbol. Mereka berdua tersenyum ceria di udara.

"Lo boong yah? Katanya urusan bisnis. Ini mah pacaran Bancett!" Metta menoyor kepala Angga yang rambutnya kelimis karena keringat.

"Geu gak bohong kalee. Lo tahu gak? ternyata bapaknya Mira juga pengusaha. Jadi kayaknya kita bakal sering main bisbol bareng deh. Dan pasti makin deket nih kita." Angga menaik turunkan alisnya.

"Baguss dong. Lo post dong di ig loh. Nadin aja udah post foto sama pacar barunya masa elo belum." sindir Metta.

"Gue kan bukan Nadin. Ngapain punya pacar dipamer-pamer." Angga mendelik.

"Biar Mira seneng juga! Gimana si lo!"

"Gitu yah? Emang lo ikhlas gue post foto bareng cewek lain selain lo?"Angga lagi, lagi dan lagi menggoda Metta.

"Yee. Gue bukan siapa-siapa lo. Gak peduli gue sumpahh. Btw, muka lo keliatan bahagia banget? Syukur deh. Segera tobat ya pria fakboy." Metta memberi nasehat. Ia mengusap puncak kepala Angga kasar. Dan kemudian menyeret Angga keluar dari rumahnya. Ia mengusirnya supaya Angga mandi. Dia sangat tidak enak dipandang, meskipun Angga ganteng tetep saja kalo kucel, kotor, dan bau keringatan, Metta tidak ingin melihatnya.

"Bye! Mandi dulu yah biar jeleknya berkurang," kata Metta menghempaskan kerah baju putih Angga di luar pintu.

"Jahat banget sih Met. Ganteng gue kan permanen mana mungkin ada jelek-jeleknya gue."

"Lo kucel, gue gak mau liat loo," teriak Metta dari ambang pintunya.

"Orang ganteng kayak gue gak pernah kucel!" bantahnya.

"Yang buat lo kucel itu karena tingkat kepedean lo. Lo kucel sekali akibat itu. Lain kali jangan terlalu pede ya Cett." Metta dengan teriakannya lagi, meneriaki Angga yang berada di luar pagar rumahnya.

**

"Mir? Kamu akrab sama anaknya Derwan?"

Mira menengok ke arah sang papah yang bertanya sambil berjalan memberikan papahnya itu sebotol air mineral. "Angga Pah?" tanyanya.

"Iya." Pak Danto mengangguk lalu membuka botol minum yang kini berada di tangannya, dan meneguknya habis dengan beberapa kali tegukan. Mungkin lelah selepas latihan bisbol setangah hari ini.

"L-lumayan Pah,"

"Jangan pacaran dulu yah, yang bener belajarnya, kamu harus pinter, biar Bunda kamu tahu kalo kamu tuh bisa pinter karena didikan Papah."

Mira tersenyum miris. "Iya Pah." Ia hendak berjalan ke lantai atas, namun...

"Oh iya, nanti sore, guru les bahasa Prancis kamu ke sini, kamu yang ramah yang sama dia, soalnya minggu kemarin dia bilang kamu jutek banget," tutur sang Papah.

"Lagian aku males Pah, Bunda bilang nanti juga ada kelas bahasa dulu kan sebelum kuliah di sana," Mira melengos.

"Kamu mau ketinggalan sama orang-orang di sana?" tanya Pak Danto dengan tatapan serius.

"Y-ya ... enggak sih Pah,"

"Yaudah makanya."

"Yaudah deh Pah, aku ke kamar dulu ya banyak PR." Mira pun melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda. Ada sedikit hal yang menekan batinnya.

**

"Ga? Tumben kamu pulang bisbol gembira banget? Dikasih iming-iming apa nih sama papahmu?" tanya Bu Litta seraya tangannya terus berkutat dengan laptop. Matanya bolak-balik antara benda eletronik itu dan Angga. Aktivitas di laptopnya adalah menghitung laba yang dihasilkan caffe miliknya.

"Enggak ada kok. Lagi bahagia aja," jawab Angga sambil membuka kaos kaki yang membalut kakinya dengan satu tumpuan kaki.

"Cewek nih kayaknya?" Bu Litta mengalihkan perhatian sepenuhnya kepada anaknya.

"Iyyap. Seratus poin buat Bunda." Tebakkan sang bunda benar. Angga mengacungkan 2 jempol sebagai hadiahnya.

"Kamu dekil banget Ga. Cepetan mandi," titah sang bunda setelah memperhatikan wajah tampan anaknya yang dilumuri keringat, bahkan tapak keringat di daerah ketiaknya saja terlihat jelas. Ia tidak suka itu.

"Gak masalah, yang penting tetep guanteng," bangga Angga seperti biasa, alis tebalnya naik turun mengiringi.

"Euhhh! kamu mau diketrok sepatu nih?!"

"Tahu gak bun?" Angga malah melangkah dengan sumringah ke arah sang bunda, lupa bahwa barusan wanita usia berkepala empat itu mengancamnya dengan sepatu hak tinggi yang tadi Bunda angkat tinggi-tinggi, dan kini mulai Bunda turunkan karena lebih menarik mendengarkan ocehan sang putra.
"Tadi banyak temen Papah yang muji Angga ganteng lo."

Bu Litta hanya menggeleng dan memutar bola mata malas.

Angga lalu duduk di sofa dengan nyaman, dengan mengangkat satu kakinya di atas paha. Di samping sang bunda. "Serius Bun, katanya Angga tuh beda jauh sama Papah. Muka Papah katanya b aja, dan muka Angga ini katanya gantengnya di atas rata-rata," jelas Angga berdecak kagum, "wih... emang dulu ngidam apa sih Bun sampe punya anak seganteng ini?" Angga bertanya sembari mengangkat alis pedenya.

"E-eum, nonton drakor," jawab Bu Litta asal.

"Sejak kapan Bunda nonton drakor? Sekarang aja lagi musimnya drakor, Angga gak pernah tuh liat Bunda nonton drakor," seru Angga karena heran.

"Itu kan sekarang. Waktu dulu nih, sebelum drama Chin-, eh Korea rame kayak sekarang, Bunda dulu waktu hamil kamu, hobi Bunda tuh nonton drakor," curhat Bu Litta dengan kekehan kecil di akhir kalimat.

"Judulnya apa Bun di jaman Bunda?"

"Kepo banget sih. Kamu mau nonton drakor juga?!" heran Bu Litta.

"E-enggak, kepo aja," kata Angga, "eh iya tumben Bunda sudah ada di rumah. Pasti mau balik lagi ke kafe ya?" tebak Angga.

"Iya, tapi Bunda harus mastiin kamu mandi dulu nih. Baru bisa tenang balik lagi ke kafe."

"Iya Angga mandi kok bentar lagi," ujar Angga dengan senyum simpul untuk meyakinkan sang bunda.

Bu Litta mengembangkan senyum berusaha percaya. "Kalo gitu, Bunda balik ke kafe ya, dah Ga. See you night."

Bu Litta melenggangkan pergi memasuki mobil mewahnya, Angga tersenyum masam.

"Ah sok inggris lagi nih nyokap." Angga nyeleneh setelah bunda kesayangannya itu lenyap ditelan jarak, sang bunda menyetir sendiri untuk bekerja. Dia emang wanita karir yang mandiri.

Setelah sang bunda tidak terlihat di pekarang rumah, Angga segera bergegas ke kamar untuk merebahkan tubuhnya yang lelah.

Angga segera memburu kasur, dan membantingkan tubuh berkeringatnya di sana, beberapa detik ia berguling menyebarkan keringat di sana, setelah itu ia menatap langit-langit kamar dengan kedua tangan menumpu kepala.

Angga menarik senyum miris. Ia akan bermonolog, "Rumah gede begini isinya 5 pembantu, 1 tukang kebon, 2 supir, 2 satpam. Punya anak cuma satu, gue. Kesepian banget sih gue." Angga mengelilingi pandang kamar berwarna abu-abunya. "Coba aja gue punya adek kayak tetangga-tetangga gue, pasti rame."

"Woyy mamah marah ntar, cepet mandi Ret!"

"Dasar adek nakal lho. Nyusahin!"

"Kejar-kejar, wleee!"

"Gede-gede gak bisa kejar kita yah Ret?"

"Awass ya lo Rettaaaa!"

Suara seruan dan teriakan di luar membuat Angga tidak bisa melanjutkan lamunan dan monolog sendunya, ia melangkah ke luar balkon untuk mengetahui sebab suara rusuh itu.

Angga meraih tiang pagar balkon dan segera melongok ke bawah. Setelah tahu jawabannya, Angga kembali menegakkan tubuhnya, dan menarik senyum sendu.

Itu Metta & Karel yang sedang bermain lari-larian mengejar adeknya yang belum ingin mandi.

Angga jadi tersenyum dengan kekehan kecil. Dua hal mengingatkannya, satu, karena ia ingat bunda yang mengingatkannya juga untuk mandi beberapa menit lalu, karena itu ... ia menatap tubuhnya yang berkilau karena hasil minyak tubuhnya. Kedua, kalimat yang akan keluar dari mulut Angga sebagai jawabannya.

"Gue? Ganteng doang. Tapi ... kesepian," lirih Angga. Jawabannya 'kesepian'. Benar ia serasa sendiri di sini. Di rumah besar yang lebih layak disebut istana.

Lagi, ia memperhatikan Metta dan Karel yang juga belum berhasil membujuk adiknya masing-masing agar segera mandi. Angga jadi teringat dirinya dulu, jadi sepertinya tiga hal yang mengingatkan Angga. Ketiga, ia juga dulu susah disuruh mandi. Ah! Bahkan kalo Angga, emang sampai sekarang masih susah mandi!

Disaat Angga menghayati monolognya, ternyata dari depan ...
"E-eh Den, udah selesai ngomong sendirinya? Eh," celetuk Bi Idah polos, ia sebenarnya tidak enak mengganggu, tapi majikannya --Bu Litta-- tadi sudah memberinya tugas, untuk segera menyuruh Angga mandi, dan jangan lupa ganti seprei kamar perjaka itu juga, sang bunda tahu betul kebiasaan anak tunggalnya yang selalu menularkan keringatnya ke seprai.

Sadar oleh kehadiran sang bibi, Angga menghampiri wanita paruh baya yang berada di kamarnya entah sejak kapan itu. "Belum!" Ia mencebik kesal. "Ah Bibi ganggu banget sih! Dari tadi nguping pembicaraan yah?" Angga curiga sepertinya Bibi sudah menguping monolognya sejak ia masih mendarat di atas kasur.

"Pembicaraan apa orang sendiri? Masa disebut pembicaraan. Cepat ah Den mandi, biar sehat," suruh Bi Idah.

"Maksudnya Bibi, Angga gak sehat?"

"E-eh gak gitu Den, Aden sehat begini kok. Apalagi kalo abis mandi. Seger bener diliatnya." Bi Idah terkekeh.

"Yaudah Angga mandi." Angga malah melangkahkan kakinya ke luar balkon. Lagi.

"Mandi mah ke kamar mandi den. Bukannya di balkon," sergah Bi Idah melotot heran dengan majikannya itu.

"Mo ngambil handuk Bi Idah." Angga berbalik memasang senyum jengkel.

"Ini yang ditangan Bibi apa?" Bi Idah menunjuk handuk navy yang menyampir di lengannya.

"Han-nduk," jawab Angga. Matanya menyipit heran kenapa handuk yang tadi pagi ia jemur di balkon jadi pindah tempat?

Bi Idah tersenyum lebar.

"Bibi gak sopan yah maen masuk kamar orang ganteng," misuh Angga.

"Kan Bibi emang sering ke sini buat beresin kamar den," tukas Bi Idah.

"Eh iya juga sih, yaudah lempar handuknya," suruh Angga menengadahkan tangan.

SEUTT!

Bi Idah melempar handuk dengan cepat, dan Angga menangkapnya dengan tangkas dan sangat keren, mata elangnya menyambar saat handuk sudah ada tepat di depan matanya. Seperti seoarng prajurit yang telah berhasil merebut pedang dari musuhnya.

"Hatur nuhun bi," kata Angga, "eh iya Bi, bikinin salad buah ya dua kotak?"

"D-dua?"

"Iya, buat aja ah jangan banyak tanya."

**

TBC :

Metta kalo di rumah

Salad buahnya buah siapa ayook?

Ada yang mau diangkat jadi saudara Babangs Angga?

Tinggalin jejak don't forget!

Seguir leyendo

También te gustarán

357K 15.2K 79
"Awal yang suka, akhir yang duka." -𝒷𝓎 𝒞𝒽𝒶𝓇𝓂ℯ𝓃 𝒯𝓌ℯ𝓁𝓋𝓎 *** "Nay, lo gak mau tanya ke gue kenapa gue gak ngajak pacaran lo, padahal perasa...
699 229 7
Kisah tentang seorang gadis bernama Argetsha Jyefa Asalendra yang menunggu sahabat kecilnya yang menghilang dari pandangan selama 11 tahun lamanya. T...
5.8K 138 25
"Gue datang karena cinta, berjuang karena yakin. Gue terus bertahan dan balik lagi buat dia, walau kadang rasanya capek sendiri. Tapi ternyata, takdi...
RAVENDRA Por amyamyyy

Novela Juvenil

5.5K 1.7K 19
Kakak, Adik saling suka yang tidak akan pernah bersatu. Gue egois, gue cuma mau kakak gue sendiri jadi milik gue. Hhha gak masuk akal kan? Tapi mau g...
Wattpad App - Desbloquea funciones exclusivas