Cahaya terang dan menyilaukan membuat ia terpaksa membuka matanya di ruangan hampa dan seolah tak berujung itu. Melihat ke sekeliling, ia tidak menemukan siapapun selain dirinya yang sudah berubah.
Semua aksesoris yang ia kenakan sudah tidak terlihat lagi dan pakaiannya kini berganti menjadi gaun putih panjang yang mencapai mata kakinya. Kulitnya bersih, bersinar seperti kulit bayi yang baru lahir.
"Mama Kendall!"
Sontak kepalanya menoleh ke segala arah, mencari sumber suara yang memanggilnya. Hatinya berdebar dan senyumnya sampai menitihkan air mata saat ia mendengar suara anak itu lagi setelah sekian lama. Archie.
"Disini, Mama!"
Kendall memutar tumit saat suara Archie semakin terdengar jelas, menandakan kalau anak itu sudah dekat dengannya.
Namun bukan anak berusia empat tahun yang ia lihat, melainkan seorang anak lelaki yang beranjak remaja. Wajahnya sangat familiar bagi Kendall, diakah Archie? Dia yang memanggilnya 'Mama Kendall'?
Laki-laki itu tidak sendirian. Ia menggandeng tangan seorang anak kecil yang memiliki wajah yang bersinar sampai-sampai Kendall tidak dapat melihat fitur wajahnya. Anak itu memili rambut yang panjang dan indah seperti Kendall, itulah yang membuatnya tau kalau ia berjenis kelamin perempuan.
"Si-siapa kalian?" Tanya Kendall, sedikit terbata-bata.
Laki-laki itu mengulaskan senyumnya, membuat Kendall menarik napas dalam seraya berjalan mendekat, berusaha meraih wajahnya. Tangan Kendall pun menyentuh kulit mulus laki-laki itu.
"Archie? K-kau Archie?"
"Ya, Mama Kendall masih ingat?"
"Tentu! Mama tidak pernah lupa!" Kendall menarik laki-laki itu ke dalam pelukannya, merasakan tubuh Archie yang mulai beranjak remaja. "Kau sudah besar, Archie."
Archie mengangguk kemudian menoleh ke bawah, membuat Kendall mengikuti arah pandangan Archie.
"Mama?" Ujar anak perempuan itu, dengan heran.
Kendall menautkan kedua alisnya, anak itu bukan Ava, kenapa ia memanggil Kendall 'Mama'?
"K-kau.."
Kendall memotong ucapannya sendiri sebelum melihat ke arah perutnya.
Rata.
Kakinya seolah tidak lagi bertulang hingga ia tersungkur di depan kaki Archie dan anak perempuan itu. Anak perempuan yang belum lahir. Anak yang sudah ia kandung selama lima bulan, namun sudah mendahuluinya ke surga.
"Mama menjaga aku sangat baik, terima kasih. Aku senang bertemu Kak Archie di sini, aku tidak kesepian. Aku tidak pernah kesepian. Aku tidak ditakdirkan untuk lahir karena ada yang tidak menginginkanku lahir. Tuhan bilang lebih baik aku pulang sekarang daripada harus tersiksa karena aku lahir. Tapi Mama jangan khawatir, aku akan selalu ada untuk Mama."
Kendall tidak berkata apa-apa lagi selain mendekap anak perempuan yang bahkan belum memiliki nama itu.
"Mama Kendall harus kembali. Kak Ava dan Arel membutuhkan Mama." Archie mengusap wajah Kendall yang terasa begitu lembut.
Kendall menggeleng lemah. "Tidak bisakah mama disini bersama kalian? P-papa Harry..–"
"Apapun alasannya, Mama harus tetap kembali. Hiduplah dengan orang yang membuat Mama bahagia. Jika Papa Harry tidak mampu melakukannya, Mama tau apa yang harus Mama lakukan." Ujar Archie, terdengar seperti perkataan orang dewasa.
Kendall menatap dalam mata biru Archie dengan bertanya-tanya. Namun rasa penasaran itu hilang saat Archie mengulas senyuman lagi.
"Berjanjilah; Mama harus bahagia." Lanjut Archie sebelum napas Kendall berangsur sesak dan tubuhnya tergeletak lemas. Kendall memegangi dadanya sambil terus berusaha mencari pasokan udara.
"Mama sudah siap." Hanya itu yang terakhir kali Kendall dengar dari Archie, seiring senyuman mereka terulas manis seolah mengucapkan kata perpisahan pada Kendall melalui senyuman itu.
***
"Detak jantung kembali normal!"
Seluruh tim medis yang menangani korban kecelakaan itu menghela napas lega sambil terus melakukan proses kejut jantung sampai detak jantungnya benar-benar normal.
Akhirnya monitor itu memperlihatkan garis yang menandakan bahwa pasien sudah kembali. Proses kejut jantung dihentikan.
Sementara di ruangan lain, Harry masih ditangani oleh dua orang perawat karena luka-luka ringan yang ia alami, berbeda dengan Kendall yang harus menjalani masa kritis dan operasi.
Harry hanya terdiam disaat perban membalut luka-lukanya. Pikirannya sedang fokus pada kejadian beberapa saat lalu. Ia masih ingat betul teriakan Kendall yang terdengar bersamaan dengan klakson truk dari arah samping. Ditambah lagi truk itu menghantam sisi Kendall hingga tubuhnya terlepas dari sabuk pengaman dan terhempas ke pangkuan Harry, tak sadarkan diri.
"Mr. Styles? Kau baik-baik saja?" Harry mengerjapkan mata saat mendengar namanya dipanggil. Pasti ia terlalu larut dalam pikirannya sampai ia tak sadar orang-orang sudah memanggilnya berkali-kali.
"Dokter yang menangani istrimu, dia ingin bicara."
Tanpa membalas apa-apa lagi, Harry langsung melompat turun dari atas brankar, menghampiri dokter yang sudah menunggunya di ambang pintu.
***
Harry merapatkan bibirnya seraya melihat pemandangan memilukan dari balik kaca pemisah ruangan operasi dan ruang tunggu. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana janin di kandungan Kendall terangkat.
Tak bernyawa.
Hatinya pedih mengingat nasib malang bayi belum bernama itu sudah harus merenggang nyawa disaat tubuhnya belum terbentuk sempurna. Hatinya juga pedih membayangkan reaksi Kendall setelah bangun dan mendapati sudah tak ada kehidupan lain di dalam tubuhnya.
Harry sadar semua ini salahnya. Tak heran Kendall sampai berniat ingin bercerai darinya. Ia sempat kecewa dengan Kendall karena Harry mengetahuinya dari orang lain, bukan dari mulut Kendall sendiri. Namun sekarang, ia lebih kecewa dengan dirinya sendiri yang selalu gelap mata jika sedang tersulut amarah.
Harry belum memberikan kabar ini kepada siapapun, namun cepat atau lambat, media akan meliput kecelakaan pasangan figur publik yang terkenal itu dan beritanya akan sampai di telinga keluarganya.
Hidup sebagai figur publik papan atas memang menyeramkan. Kau harus menceritakan masalah hidupmu pada orang-orang sebagai konsumsi hiburan mereka. Ya, kadang berita duka adalah hiburan semata untuk beberapa orang. Miris.
Air mata Harry semakin turun deras saat ia melihat bayinya sudah dibalut dengan kain putih dan siap untuk disemayamkan.
"Maafkan Papa, nak." Lirih Harry kemudian ia menyandarkan kepala di dinding seraya duduk di lantai ruang tunggu. Ia tak kuat lagi melihat semuanya.
Cukup lama Harry meratapi nasib sialnya sampai-sampai ia disadarkan dengan pintu ruang operasi yang terbuka dan menampilkan beberapa tim medis mendorong ranjang Kendall untuk dipindahkan ke ruang rawat.
Keadaan Kendall sangat menyayat hati. Ada luka jahitan di kepalanya, perban dan gips karena patah tulang pada kaki kanannya, ditambah lagi memar-memar yang seolah menghias betapa buruknya rupa Kendall sekarang.
Dengan kedua kaki yang lemas seperti tanpa tulang, Harry berusaha berdiri. Tangisannya sudah berhenti seiring ia ikut mengantar Kendall ke kamar rawat.
Sementara janin gugur Kendall sudah terlebih dahulu dibawa ke kamar penyimpanan jenazah. Jadwal penguburan belum diketahui akibat Harry masih terlalu syok untuk melepas kepergian buah cintanya dengan Kendall.
"Mrs. Styles akan sadar beberapa saat lagi. Ia pasti mengalami trauma dari kecelakaan dan kehilangan bayinya, jadi aku harap kau bisa kuat untuknya karena ia membutuhkanmu."
Harry hanya mengangguk tanpa melihat ke arah dokter yang bicara dengannya. Kendall sudah dipindahkan ke kamar rawat VVIP dengan alat bantu bernapas di wajahnya.
Tak ada yang dapat Harry lakukan selain meneliti wajah istrinya ini. Ia harus siap menerima segala reaksi Kendall setelah wanita itu sadar nantinya.
"Apa aku layak mendapat maafmu, Kendall?" Tanya Harry dengan isak tangis yang penuh dengan penyesalan.
TBC
Maap ya gais..
Jangan nyesel baca chapter ini😘
Anyways..
Not a question and no one asks my opinion BUT I AGREE!!
HEMMA SUPREMACY😍😍
Tante Oli, apa kabar? Sehat? Sorry ya tan, tapi aku seneng liat Maz Heri sma Mba Emma
!DOUBLE UPDATE YA KAWAN!
Mau jam brapa chap 60 nya? Komen yuk👉