[✓] NEVER ENDING STORY

By ParkCath

95K 17.5K 3.5K

Menggemaskan, cerdas dan selalu bersemangat adalah kata-kata yang sangat menggambarkan seorang Choi Beomgyu... More

Story Preview
The Tragedy Pt.1
The Tragedy Pt.2
The Tragedy Pt.3
01. Something New
02. Death
03. The Prevision
04. Connect Him
05. Behind All
06. Get Away
07. Too Careless
08. May You Saved
09. Got Some Clue
10. The Next Victim
11. The Suspicion
12. Escapade
13. Can't Understand You
14. Force of Us
15. Silent You
16. Strawberry Boy
17. I Trust You
18. Read Later
19. Leave Me Alone
20. I'm Your Lil' Brother
21. Call In Danger
23. Crying Out
Yeonjun's Messages
24. Acknowledgment
25. Reach The Ending
26. Story Of Us
Never Ending Story : The Epilogue
[Notes]

22. Theory Begins

1.6K 369 94
By ParkCath

"Everything seemed suspicious when the theory began."

🐻🐻🐻

Besoknya, Soobin membuat satu keputusan yang dia pikir bisa mengamankan semuanya.

Oleh sebab rumah mereka dan rumah Taehyun sudah sempat terjamah oleh si pembunuh keparat itu, dia berinisiatif untuk menyembunyikan para anak-anak ini—Beomgyu, Taehyun serta Hyuka—menginap di kediaman Hyuka di suatu tempat terpencil Kota Seoul, Kyeong-gul. Tadinya ingin Vanya sekalian ikut saja pindah ke sana, namun agaknya gadis itu sangat keras kepala.

"Mereka 'kan sudah aman di sana. Aku malah tidak tenang kalau kau sendirian di sini," kata Vanya dengan jujur, saat akhirnya diijinkan Soobin untuk tinggal bersamanya guna membereskan sisa keperluan untuk dibawa ke kediaman Lee Hyuka. Bagaikan kediaman Hyuka itu adalah tempat pengungsian saja.

"Ck, bukannya kau sendiri yang bilang harus terus bersama Beomgyu biar menjaga dia? Soal aku sama sekali bukan masalah."

"Kalau aku sih tidak penting. Kematianku tidak akan menguntungkan siapa-siapa."

Vanya yang tadinya sedang melilit perban di lengan Soobin yang terluka jadi relfek mengetatkan perbannya. Mendadak diserang memori momen lampau membuat napas gadis itu tercekat. Kenapa sulit sekali hendak membuka lembaran baru dan bergerak maju?

Yeonjun yang hobi bicara mengawur itu menyebalkan sekali! Sungguh!

"Ahhkk! Pelan-pelan, dong. Bukannya membantu. Kalau begini, namanya menyiksa, tahu!" aduh Soobin, meringis sambil memandang nanar lengannnya.

Vanya terkesiap, baru sadar. "Lagian, kau itu. Ada-ada saja. Mau dia atau pun kau sama saja! Tidak ada pembedaan, siapa pun yang menjadi target atau apapun yang berpotensi dalam bahaya. Kalian semua perlu dijaga! Kau tahu itu!"

"Memangnya apa yang gadis kecil sepertimu bisa lakukan untuk menjagaku?" ledek Soobin, bermaksud bercanda.

"Aku akan memukul lukamu ini kalau kau terus bermain-main, Bin." Vanya ternyata tidak terpengaruh candaan itu. Malah makin naik tensi dibuatnya. Soobin pun memutuskan untuk menyudahi gurauannya.

Bisa-bisa bahaya kalau diteruskan.

Diam-diam Soobin mengomel dalam gumaman sangat pelan. "Ckck, kadang aku heran, aku ini punya adik apa punya Noona."

"Apa katamu?" tanya Vanya, sebab tidak mendengar jelas.

"Tidak ada," balas Soobin cepat. "Terima kasih sudah mengobatiku."

"Apa perlu berterima kasih begitu? Biasanya kau malah suka menyuruh-nyuruh, 'kan?" ketus Vanya sama sekali tidak tersentuh. Lantas mengalihkan pandangan ketika menyudahi kegiatan mengganti perban Soobin semalam. Duduk menyandar dan mulai fokus mengutak-atik ponsel tanpa tujuan jelas. "Kita beres-beres sebentar lagi saja. Kau istirahat dulu. Tanganmu pasti masih sakit sekali," kata Vanya tanpa menoleh.

Soobin mengulum senyum. Senyuman yang mewakilkan betapa dia bersyukur melihat Vanya yang bersamanya sekarang. Ya. Terima kasih Soobin barusan mungkin bukan sebatas tentang mengobati luka. Melainkan, tentang bagaimana Vanya sudah mulai beradaptasi dan kembali ke dirinya yang biasa—pasca meninggalnya Yeonjun yang sempat mengganggu psikis gadis tersebut.

"Tumben sekali pengertian."

Vanya menoleh tak suka. "Jadi, kakakku ini maunya apa, eoh? Dibiarkan salah, diberi perhatian juga salah. Kau membuatku jadi menyesal memutuskan tinggal, tahu."

"Ya, makanya salah sendiri. Tidak mau langsung ikut anak-anak."

"Ck, sudah ya, aku lelah berdebat denganmu. Ayo, tenang sejenak dan gunakan semua waktu yang ada untuk mengatur semua. Kita belum boleh santai-santai dengan perang mulut seperti biasa."

Benar juga. Tujuan Soobin memutuskan tinggal selain untuk mengepak barang bawaan, dia juga harus memikirkan cara agar menghalau bahaya kembali datang; menghubungi untuk pengamanan polisi di kediaman Taehyun, contohnya.

Soobin sebetulnya tak bisa bayangkan bagaimana reaksi orang tua Taehyun. Tetapi, ketika sempat membawa Taehyun mampir ke hadapan dan mengatakan dengan jelas ke mana Taehyun akan dia sembunyikan dan amankan, akhirnya semua dapat berjalan sesuai rencana. Semua pasti akan baik-baik saja jika semua telah dirancang sejelas mungkin.

"Sial sekali," kata Soobin dengan suara dalam sehingga dia terdengar mengerikan. "Keparat itu melarikan diri saat ... saat dia sudah di depan kita. Dan sedikit lagi untuk kita bisa menangkapnya dan mematikannya saat itu juga! Orang yang selama ini meneror Beomgyu dan melenyapkan deretan korban, dia tak bisa dibiarkan!"

Vanya langsung menoleh, menatap lurus. "Sudahlah. Paling tidak, semuanya selamat tadi malam. Terutama Taehyunie yang jelas mejadi target korbannya." Vanya memandang ke lengan Soobin, membuang napas panjang. "Aku yakin ... suatu saat, kita pasti bisa menangkapnya. Menjeratnya dan membunuhnya atas perbuatannya sendiri." Aku akan memastikan itu. Aku tak mungkin diam saja saat salah satu orang yang berarti untukku turut menjadi korban atas semua teror gila ini.

Soobin balas anggukan mantap. "Dia takkan bisa lari lagi di waktu selanjutnya," katanya, melengkapi tekad bulat mereka pagi ini. Sebentar sama-sama terdiam dengan gelut pikiran masing-masing, Soobin kembali angkat suara kala teringat sesuatu. "Van."

"Hmm?" Yang dipanggil menoleh.

"Di kamarku. Di samping meja belajar, ada lemari khusus di sana. Di dalamnya ada begitu banyak tumpukan koran sejak berita penculikan Beomgyu dipublikasikan. Aku mengumpulkannya bermaksud mencari tahu sesuatu." Soobin menutur serius, membasahi bibirnya sekejap. "Bisa kau ambilkan semua itu ke sini?"

Vanya sesaat tercenung. Koran-koran untuk mencari tahu sesuatu? Soobin ternyata melakukan hal yang sama layaknya Yeonjun sebelum ini?

***

"Iya, iya. Taehyun baik di sini. Ada Beomgyu bersama Taehyun." Taehyun memelankan suaranya. Merasa tidak enak dengan Beomgyu dan Hyuka di sekitar yang sudah menatap maklum. Lelaki itu mendekatkan lagi ponselnya ke telinga. "Tadi 'kan Eomma sudah lihat sendiri kalau Taehyun baik. Jadi, tidak perlu cemas, ya? Kami sarapan bersama dan Paman Lee adalah orang yang sangat baik," jelasnya, mencoba meyakinkan sang Ibu yang seolah tak memiliki sekon waktu untuk duduk tenang.

"Oke. Eomma jangan cemas lagi, ya? Soobin Hyung bilang kalau akan melibatkan polisi. Juga, jaga diri Eomma dan Appa tetap aman di sana, oke?" ucap Taehyun mulai menutup konversasi telepon itu. Menjauhkan benda pipih tersebut dari telinga saat sambungannya telah terputus.

Beomgyu memandang lurus padanya, penasaran. "Bagaimana? Ibumu sudah tenang sekarang?"

Taehyun membuang napas. "Entahlah, kurasa belum sepenuhnya." Yang benar saja. Taehyun itu putra semata wayang. Mendapati kabar sejenis teror pembunuhan dan sempat menjadi target pula—Ibu mana yang bisa tenang-tenang saja setelahnya!

"Itu wajar, teman-teman. Semua Ibu akan melakukan hal serupa." Hyuka menimpali, tertawa kecil. "Ini rumah lamaku. Hum, kurasa belum bisa dibilang lama karena kami baru meninggalkannya tahun lalu sebelum memutuskan tinggal di Pusat Kota. Ayah bilang hanya butuh waktu dan suasana baru setelah kepergian Ibuku," jelas Hyuka begitu saja, apa adanya. Kemudian menoleh pada Beomgyu Taehyun lagi seraya mengumpulkan fokus penuh. Menarik senyum. "Semoga kalian nyaman tinggal di sini selama beberapa waktu ini."

"Malahan aku yang berterima kasih padamu yang sebesarnya, Hyuka. Kau dan ayahmu baik sekali. Mudah sekali menerima saran Soobin Hyung." Taehyun merespon, ikut mengulum senyum.

"Tentu. Kami hanya mengusahakan apa yang kami bisa."

Tak lama Lee Seohan, atau ayah Hyuka, keluar dari ruang kerjanya yang hari ini baru kembali dia bereskan dan tata ulang. Eksistensinya yang tersenyum ramah sambil mengibaskan kedua tangan yang berdebu membuat siapa pun akan mendapat kesan baik dari pria itu. Mengusap peluh, dia berucap. "Kalian sudah lapar?" tanyanya, melihat jam yang sudah menunjuk pukul 11 siang. "Aku akan membuat makan siang sebentar lagi. Kalian bisa bersantai saja sambil menunggu." Kemudian dia alihkan menatap Hyuka. "Hyuka?"

"Ya, Appa?"

"Kenapa kau tidak keluarkan susu cream dari belakang? Itu pasti enak kalau diminum sambil bermain, 'kan?"

Hyuka mengerjap kosong. Tiba-tiba otaknya lambat memproses kalimat itu.

"Hyuka-ya?"

"Y-ya?"

"Appa bilang, bawakan susu cream untuk teman-temanmu." Pria itu menggeleng tidak habis pikir karena tingkah anaknya. Memegang tengkuk saat merasa pegal mulai datang menyerang. "Ahh, sudah lama tidak beraktifitas fisik membuat tubuhku lemah sekali. Aku mau duduk dulu sebentar."

Hyuka beranjak dari duduk tak lama kemudian. Memandang sendu sang ayah yang selalu menampakkan gurat lelah itu. Kasihan Appa. Rasa bersalah dalam dadanya kini semakin menjadi-jadi.

***

Srek! Srek!

Di ruang tengah yang hening itu, hanya gema tiap lembar kertas usang yang bisa rungu mana pun tangkap. Koran demi koran ditelaah dengan seksama. Membuka dan membolak-balikkan halamannya hati-hati, tak ingin merusak barang sejengkal pun.

Vanya dan Soobin serius sekali melamati koran-koran sampai lupa waktu. Sampai kini, ketika sudah lewat tengah hari.

Grrrrr. Suara perut Vanya menjadi pemecah keheningan mereka. Gadis itu menghela napas menyadarinya.

"Kau sudah lapar, ya?" tanya Soobin.

Vanya mengangguk jujur. Meregangkan tubuhnya sesaat. "Tapi ini ternyata menarik," ucapnya. "Seru juga mengumpulkan banyak informasi dengan tujuan semu, mau diapakan itu semua." Ahh, lagi dan lagi, jadi ingat obrolan dengan Yeonjun...

"Kau sama sekali tidak takut, Jun?"

"Kenapa harus takut, saat aku sangat tertarik?"

Ternyata begini ya, Jun, rasanya?

"Tapi, aku merasa kalau belum mendapat apa-apa yang membantu," kata Soobin, nadanya sangat menunjukkan betapa dia tidak puas dengan kegiatan yang mereka habiskan berdua sepanjang pagi ini.

Tetapi, melihat apa yang mereka coba ingat. Itu hanya berita kematian deretan murid Smart Art High School sejak awal tahun ajaran. Juga beberapa berita pembunuhan random dengan motif jelas di tahun sebelumnya. Hanya kasus kematian murid-murid ini ... yang masih menjadi misteri dan pelakunya diketahui sangat lihai, sampai jejak petunjuk abstrak yang sempat polisi kumpulkan hanya memberikan stuck pada ujung. Sulit sekali memecahkannya.

"Baiklah, aku akan bantu untuk meneruskan sediki lagi," kata Vanya, memilih pasrah dengan memegang koran lagi.

Soobin menahan senyumnya. "Sebentar lagi, ya. Setelah ini, kau pesan saja menu makanan yang kau suka untuk makan siang kita. Aku akan membayarnya."

Vanya akhirnya tersenyum kecil. Satu kebahagiaan kecil menyusupi hatinya. "Oke!"

Tak sampai sekian menit setelahnya kembali berkutat dengan koran, Vanya akhirnya dapat menemukan satu berita yang jelas akan membuat keduanya salah fokus.

16 Maret 2018

LEE YOORAE DITEMUKAN MENINGGAL DUNIA DI KEDIAMANNYA SENDIRI. MASIH BELUM PASTI APA MOTIF DIBALIK KASUS PEMBUNUHAN YANG SATU INI.

Keterangan dari beberapa pihak membuat polisi berspekulasi bahwa masih ada kemungkinan wanita usia 29 tahun ini melakukan percobaan bunuh diri.

"Soobin...."

"Aku tahu kau berpikiran sama, Van. Ini adalah berita kematian Bibi Lee, Ibunya Hyuka, bukan?"

Vanya mengangguk ragu. "Tanggalnya tidak jauh dari saat Beomgyu ditemukan dikirim ke unit gawat rumah sakit oleh orang misterius. Dan mayat Ibunya ditemukan, tak lama setelah surat yang diselipkan bersama Beomgyu diamankan kepolisian."

Aku kembalikan dia, tapi tidak dengan ibunya. Aku terlanjur membunuhnya tanpa sengaja. Tolong jaga dia setelah ini. Katakan bahwa aku menyayanginya.

***

Masih gila karena trailer konsep, dan nanti malem photo konsep dirilis.
Ok siap-siap mengsinting, yorobun.
(。ŏ﹏ŏ)

Continue Reading

You'll Also Like

20.9K 3.3K 14
「 𝐑𝐨𝐦𝐚𝐧𝐜𝐞, 𝐒𝐚𝐝 - 𝐊𝐚𝐧𝐠 𝐓𝐚𝐞𝐡𝐲𝐮𝐧 」 Penderitaan yang sebenarnya adalah hidup dalam penyesalan. Jika masih ada waktu, maka manfaatkan...
40.9K 4K 27
❝ Sekolah ini aneh banget..❞ HAPPY READING!♥️ Start : 13 Oktober 2022 Finish : 17 April 2024
2K 265 20
Mereka bersaing untuk mendapatkan peringkat satu paralel, ketika sebuah rahasia terungkap, salah satunya memilih untuk mengalah dan membiarkan sainga...
135K 22K 42
[ 𝘿𝙊𝙉'𝙏 𝙋𝙇𝘼𝙂𝙄𝘼𝙏 𝙈𝙔 𝙎𝙏𝙊𝙍𝙔 ] Lima kepribadian yang berbeda dalam satu asrama, bagaimana jadinya? (⚠️) Peringatan : bijaklah dalam mem...
Wattpad App - Unlock exclusive features