"Vian masih sakit kepalanya? Kita ke rumah sakit saja, ya ...."
"Jangan, Yah ... kejauhan."
"Sini kepalanya biar Ayah yang obatin, takut infeksi--"
"Enggak, Vian bisa sendiri. Mendingan sekarang Ayah samperin si Rizky tuh, dia dimarahi habis-habisan sama Bunda ...."
Ayah menghela napas kemudian memejamkan matanya saat ia mendengar suara Bunda yang sedang memarahi Rizky, tetapi Rizky membalas ucapan Bunda, membuat perdebatan keduanya terkesan keras.
"Nanti Vian minta maaf sama Rizky, ya ...."
Vian mengernyitkan dahi, "minta maaf? Buat apa? Yang salah kan Rizky ... kenapa Vian yang harus minta maaf?"
"Minta maaf gak harus salah ... mungkin Vian juga tadi terlalu ngegas ... jadinya Rizky kebawa emosi ...."
Vian memanyunkan bibirnya, pertanda tidak setuju dengan perkataan Ayahnya barusan.
"Vian ... Ayah dan Bunda memang belum kenal cukup lama. Tetapi, kami berdua sudah berusaha untuk memahami masing-masing. Ayah sudah banyak bercerita tentang kamu ke Bunda, dan Bunda juga sudah bercerita banyak tentang Rizky pada Ayah. Rizky itu sekarang sedang ada dalam proses melupakan Ayah kandungnya ... dia punya kenangan gak enak sama Ayahnya itu. Jadinya, pas Ayah menikah dengan Bunda, Rizky terkesan tidak suka. Rizky begitu karena dia masih belum terima ... dan takut kalau Ayah sakiti Bundanya ...."
Vian mendengkus sebal, "tapi kan Ayah gak mungkin sakiti Bunda!"
"Iya Ayah paham sama apa yang Vian pikirkan. Tapi, pemikiran Rizky itu tidak seperti kita, dia masih menyeleksi semuanya dan mungkin masih belum mau terima Ayah dengan secepat itu."
"Tapi kan Vian mau terima Bundanya Rizky! Kenapa Rizky gak bisa terima Ayah?!"
"Vi ... kamu sama Rizky itu berbeda. Sejak lama Vian memang mau banget punya Ibu, kan? Makanya waktu Ayah bilang Ayah mau nikah, Vian seneng banget. Beda lagi sama Rizky ... Rizky gak bahagia dan bahkan sempat menolak saat dia tahu Bundanya mau nikah lagi. Karena, Rizky memang tidak mau punya Ayah ...."
Vian diam, meskipun ia tidak terima, tetapi ia berusaha untuk mendengarkan perkataan Ayahnya.
"Rizky tuh aneh ... padahal, kalau dia mau menilai, harusnya dia tahu dan lihat karakter Ayah dulu ... bukannya langsung serang. Mana kasar juga ... huhuhu Ayahh, kepala Vian sakit, nyud-nyudan. Kata kepalanya, dia mau ditiupin ...."
Ayah terkekeh kemudian menjitak kepala Vian main-main.
"Katanya preman, baru begini aja udah ngeluh .... Tawuran berapa kali kena pukul? Pas balapan, berapa kali juntay dari motor? Pas tawuran kamu pernah kena bacok golok, kan? Pas balapan pernah dikejar polisi terus motor kamu terbang ke kebun teh. Ayah tahu ... itu pasti sakit banget, sekarang cuman beginian doang pake manja segala ...."
Vian kembali memanyunkan bibirnya, "ini tuh beda tahu Yah ... sekarang kan Vian berantemnya pakai hati ...."
"Ya udah sini, Ayah tiupin ...."
Vian terkekeh senang kemudian mendekat ke arah Ayahnya. Lelaki itu memejamkan mata sambil tersenyum dan menerima tiupan dari Ayahnya yang mulai menenangkan. Sementara itu, kedua tangannya melingkar di pinggang sang Ayah, membuat tubuhnya tenggelam karena ukuran tubuh mereka yang terlalu jauh berbeda.
"Udah ... jadinya kayak ngurusin anak usia delapan tahun ...."
Terkadang, Vian memang selalu kekanak-kanakan bila sedang bersama Ayahnya begini. Ia akan lupa bila usianya kini sudah enambelas tahun, bahkan tanggal 22 Maret nanti sudah tujuhbelas tahun.
Ayah juga sedikit heran, Vian nakal di sekolah dan di tongkrongannya. Tetapi ketika di rumah, anaknya itu akan berubah seolah-olah menjadi anak kucing manis yang selalu menuruti perkataan Ayahnya dan sesekali bersikap manja.
Wajah manisnya, tubuh mungilnya, dan orangnya yang masih agak polos --meskipun sekarang sudah terkontaminasi bokep-- membuat sang Ayah ingin selalu menjaga Vian.
Tetapi ia harus membuka mata, Vian adalah laki-laki yang sejatinya bisa menjaga dirinya sendiri. Ayah juga tahu bila Vian bukanlah lelaki lemah yang manja dan terkadang akan berubah menjadi 'lenjeh' kemudian menangis bila diejek oleh teman-temannya.
Ya ... bila diejek, maka Vian akan memaksa orang yang mengejeknya itu untuk berkelahi. Menyebabkan tidak ada yang berani padanya. Meskipun badannya kecil dengan tampang yang tidak meyakinkan, tetapi dia adalah panglima bila sekolahnya sedang ada tawuran dengan sekolah lain.
Ayah tersenyum kemudian mengusap kepala Vian.
Wajah Vian terlalu mirip dengan mendiang Ibunya. Membuat Ayah sesekali merasa terpana dan memiliki emosi lain saat melihat wajah Vian.
Tetapi, ia tahu ... semirip apapun Vian dengan Ibunya, mereka tetap dua orang yang berbeda.
"Tidur ya ... besok kita mancing ...."
"OKEE!!!"
***
"Minta maaf sama Ayah! Sama Vian juga!"
"Gak!"
Sejak tadi, Rizky dan Bunda terus saja adu mulut, berdebat sesuatu yang berbanding terbalik di dalam pikiran mereka.
Bunda memaksa Rizky untuk meminta maaf pada Vian dan Ayahnya, sementara Rizky menolak mentah-mentah perkataan Bundanya itu.
Sampai kapanpun, ia tidak akan pernah mau untuk meminta maaf.
PLAK!
Tamparan kedua kemudian melayang pada pipi Rizky. Bundanya teramat marah dan tidak bisa menahan semua emosinya lagi. Sikap Rizky yang keras menurun dari Ayah kandungnya.
"Haha, seumur-umur ... Bunda gak pernah tampar Rizky begitu. Cuman gara-gara mereka, Bunda sampai mau?!"
Bunda lebih memilih duduk untuk meredam emosinya. Ia tahu Rizky tidak akan mendengarkan ucapannya bila ia berbicara agak keras seperti itu. Kepala Rizky sudah semacam batu, keras .... Keteguhannya juga sulit sekali untuk ia tembus. Sekalinya begitu, Rizky tidak akan mau berubah.
Kecuali bila dirinya melembut, dan mau untuk berbicara dengan nada rendah pada Rizky. Meskipun tabiatnya menurun dari sang Ayah, tetapi Rizky tetap mencintainya dan di beberapa kesempatan selalu mencoba untuk mendengarkannya.
Ya ... kecuali tentang orang baru di kehidupan mereka.
"Ky ... kamu sendiri tahu, kan? Ayahmu dan Bunda memang dijodohkan ... kami tidak saling mencintai, meskipun satu sama lain sudah berupaya untuk membuka hati--"
Cukup! Ini yang membuat Rizky menjadi muak. Bundanya akan berbicara lembut, membuat ia tidak bisa meluapkan emosinya lagi.
Sebenci apapun Rizky pada Vian dan Ayahnya, tetapi ia tetap menyayangi Bundanya.
"Di saat Bunda sudah mau membuka hati untuk Ayah kamu, dan mau untuk menerimanya, tetapi ... Ayah kamu malah memiliki wanita lain. Sejak lama, harusnya Bunda sadar, bila yang ayah kamu cintai bukanlah Bunda ... tetapi, Bunda terus saja memaksakan diri dan berusaha untuk menjadi yang terbaik bagi ayah kamu ...."
Cerita itu tidak bisa Rizky dengarkan, sudah ratusan kali bundanya bercerita mengenai hal terkelam dalam hidupnya.
Ia sendiri bahkan tahu, bila dirinya lahir karena kecelakaan semata. Ya ... Ayah dan Bundanya memang sudah menikah pada saat itu, tetapi ... yang Ayahnya ingat dan anggap di saat mereka berhubungan badan, adalah kekasih barunya, bukan Bundanya.
Rizky juga tahu di saat ia terlahir, ia sempat hendak dibuang dan tidak dianggap keberadaannya. Perlakuan keras dari sang Ayah akhirnya membuatnya tumbuh menjadi lelaki kuat yang keras pula.
Rasa bencinya pada lelaki yang telah menyakiti Bundanya itu, sudah terlalu membuncah, dan ingin sekali ia luapkan.
Bahkan, di beberapa kesempatan, Rizky mencoba untuk membunuh ayahnya sendiri.
"Ayah kamu memang bukan yang terbaik untuk Bunda, tetapi ... kini bunda menemukan Ayah Farhan .... Kami memang baru mengenal, tetapi kami sudah sangat merasa cocok ...."
Jujur, meskipun acapkali sang bunda mengatakan bila ia merasa cocok dengan ayahnya Vian, tetapi ia tetap tidak bisa mencocokkan diri dengan lelaki itu.
"Ayah Farhan kehilangan istrinya, istrinya meninggal sekitar dua menit setelah ia melahirkan Vian. Vian juga tidak pernah merasakan memiliki seorang Ibu .... Kenapa Rizky harus membenci mereka, di saat mereka tidak memiliki kehendak buruk kepada kita?"
Rizky menghela napas, berusaha untuk mendengarkan semua yang akan Bundanya bicarakan padanya.
"Dulu, Bunda berusaha untuk membuat ayah kamu jatuh cinta. Tetapi, ternyata hal itu tidak pernah terjadi, dia tak hanya melukai Bunda, Ky ... tetapi kamu juga. Kenapa Rizky tidak mau menerima Ayah Farhan dan Vian? Di saat mereka mau menerima Rizky dan Bunda? Ayolah Ky ... Bunda tahu kalau Rizky masih belum bisa lupa semua perlakuan buruk Ayah, tetapi Bunda bisa menjamin kalau Ayah Farhan tidak seperti Ayah kandung kamu, Ky. Ayah Farhan dan Bunda sama-sama membutuhkan satu sama lain dan sama-sama mau menerima satu sama lain .... Kenapa Rizky tidak mau mengerti?"
Rizky tak kuasa, lelaki itu lebih memilih untuk merengkuh Bundanya saat ia mendapati wanita itu menangis.
Bukan ... bukannya Rizky tidak bisa menerima, tetapi ia memang masih takut. Ia tidak peduli bila dirinya sendiri yang akan mendapat celaka, tetapi ia tidak akan pernah rela saat Bundanya yang akan dilukai.
"Bunda dan Ayah Farhan sudah saling mencintai ... kami menikah karena tertarik satu sama lain, bukan karena keterpaksaan seperti pernikahan Bunda yang pertama. Bunda bahagia ... kenapa Rizky malah membenci?"
"Bun-- Rizky minta maaf ...."
Rizky tidak kuat, ia tidak bisa mendengar suara isak tangis dari Bundanya, ia tidak bisa mendengar suara wanita itu bergetar karena tangisnya, terlebih ... penyebabnya adalah ia sendiri.
Bundanya Rizky memilih untuk diam, ia tahu bila anaknya adalah sosok dewasa yang selalu berusaha untuk menjaganya. Perlakuan tak menyenangkan Rizky pada Vian dan Ayahnya semata-mata hanyalah cara ia melindungi Bundanya dari orang lain.
Rizky hanya takut.
"Iya, nanti Iky minta maaf sama Ayah-"
Sepertinya Rizky memang harus mengalah, saat ini ia tidak bisa menerima mereka begitu saja, tetapi ... seiring dengan berjalannya waktu, semoga saja ia bisa.
"Ayo, selesaikan semuanya malam ini".
***
Rizky ragu, ia berdiri di depan kamar Vian, saat ia tahu bila Ayah barunya berada di sana.
Ia ingin membuka pintu, tetapi ia terlalu takut dan malu untuk melakukan itu.
"Loh? Ky ...."
Rizky terkesiap saat ia mendapati Ayah keluar dari kamar Vian.
"Yah--"
Rizky tidak bisa melanjutkan omongannya, semuanya seolah tertahan di kerongkongan. Ya ... sepertinya ia memang terlalu cupu untuk meminta maaf.
Mengapa? Rizky tidak pernah meminta maaf pada siapapun. Alasannya ... ia tidak pernah dan tidak pernah merasa berbuat kesalahan. Ya ... kebanyakan orang menilai ia sebagai sosok yang sempurna.
"Maaf---"
Hening,
Rizky menunduk, ia sudah pasrah bila Ayahnya Vian ini akan memukulnya atau menghajarnya di sana. Ia pantas, karena Vian juga sempat berdarah-darah karena perlakuannya.
Tetapi, yang Rizky dapati hanyalah suara kekehan dari pria dewasa itu.
"Ayah paham, kamu gak usah minta maaf sama Ayah ... minta maaf sama Vian sana. Vian baru mau tidur tuh ...."
Rizky mendongak, menatap ke arah Ayahnya Vian dengan tatapan terkejut.
Ayah mengulas senyum tipis, "kalau mau ... besok kita bisa bicara empat mata, ya ...."
Kemudian ia pergi, meninggalkan Rizky dengan semua rasa bersalahnya.
'Salah ... Bunda yang benar, kayaknya dia bukan orang jahat ....'
Rizky menghela napas, entah mendapatkan keberanian dari mana, ia tiba-tiba membuka pintu kamar Vian dan masuk ke dalam.
"Vi--"
"KELUAR LO ANAK SETAN!!"
***
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
*Mohon maaf lahir dan batin, selamat hari raya idul Fitri untuk yang merayakan. Aku minta maaf bila selama ini memiliki kesalahan yang gak aku sadar🙏 Dan selamat berbahagia untuk kita semua.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kamis
13/05/2021
20.00