Selebgram Fall in Love

By kinashitanamika

2.9K 158 6

Arkana Dwi Alexander, seorang remaja SMA yang aktif dan energik. Selain aktif disekolah sebagai wakil ketua O... More

TOKOH
1 - FIRST
2 - Senior yang menyebalkan
3 - Hari Pertama Sekolah
4 - He is Selebgram
5 - Ekskul
6 - Ketauan
7 - Mengganggu
8 - Aneh
9 - Saudara Sepupu
10 - Macan Ka Arka
11 - Pemilihan Ketos
12 - Sibuk
13 - Ujian Semester Ganjil
15 - Anak Guru
16 - Tak Terduga
17 - Class Meeting Days (1)
18 - Class Meeting Days (2)
19 - LDK
20 - LDK (2)
21 - Liburan
22 - Jadian
23 - First Date with Bocil
24 - Keluarga Arka
25 - Kelas 12
26 - Cemburu
27 - Rana
28 - Ujian Akhir Sekolah
29 - Anak Kuliah
30 - Gelisah
31 - Konflik
32 - Break
33 - Putus atau Terus?
34 - Patah Hati
35 - Youtuber?
36 - Silvia
37 - Sidang
38 - Go to Jogja
39 - Masalah Hotel
40 - Takdir?
41 - Sepakat
42 - Isi hati Naya
43 - Mantan
44 - Belanja Oleh-Oleh
45 - Back To Jakarta
46 - CLBK?
47 - Bertemu Kembali
48 - Pembukaan Toko
49 - Balikan
50 - Adik Kakak
51 - Bandung
52 - Duo Sejoli Usil
53 - beasiswa?
54 - S2 di Luar

14 - Perhatian

59 3 0
By kinashitanamika

Hari ini adalah hari kedua gue duduk dengan Naya. Tidak seperti kemarin, gue harap gue bisa mengajak Naya bicara hari ini. Gue memasuki kelas yang masih belum terlalu ramai. Gue melihat Naya sudah datang, cewek itu memejamkan matanya dan meletakkan kepalanya diatas meja. Ia membuka matanya saat menyadari gue datang dan duduk disebelahnya. Cewek itu pun bangun dengan mata yang masih mengantuk. "Tumben jam segini udah dateng." Kata gue melihat jam masih menunjukkan pukul 6 lewat 10. Ujian dimulai masih 50 menit lagi.

"Tadi pagi bangun jam 4, mau tidur lagi takut kesiangan yaudah deh sekalian aja siap-siap terus ikut Ayah jalan jam 6 kurang ternyata malah kepagian." Kata Naya menahan kantuknya.

"Dasar." Kata gue tersenyum sambil mengacak rambut Naya. "Udah makan?" Tanya gue menatap Naya yang kembali meletakkan kepalanya di meja, kali ini ia menggunakan jaketnya sebagai ganti bantal untuk menyanggah kepalanya. 

Cewek itu berdeham sambil menutup matanya. "Tidur aja lagi, nanti jam 7 kurang gue bangunin." Kata gue tersenyum melihat cewek itu kembali tertidur. Naya tampak memegang kedua lengannya. Nampaknya ia kedinginan dengan AC kelas pagi ini. Gue membuka jaket dan menyelimuti cewek itu. Naya tampak lebih nyaman sekarang. 

Gue memperhatikan Naya yang tertidur pulas disebelah gue. Entah kenapa hanya melihat cewek ini tertidur membuat gue bahagia. Dari luar terdengar suara Bobby dan Andre yang sedang bertengkar. Gue menghela nafas pelan, lalu menutup wajah Naya dengan tudung jaket gue. Rasanya gue gak rela ada orang lain yang melihat wajah Naya yang sedang tertidur. Sebelum kedua anak ini menghampiri gue dan membuat keributan lebih baik gue menghampiri mereka berdua.

Disisi lain Naya membuka matanya menyadari aroma parfum Arka yang tercium dari tudung jaketnya, karena mengantuk cewek itu kembali tertidur dengan membiarkan tudung jaket itu menutupi wajahnya. 

Bobby masih mengomel karena Andre tidak mau mampir dan membeli bubur langganannya karena takut telat. Padahal masih ada banyak waktu sebelum ujian dimulai. Andre hanya cuek dan duduk sambil membuka buku bahasa inggrisnya. Gue pun duduk disebelah Andre, Bobby yang ngambek memilih untuk duduk di tempatnya. Yoga yang baru datang menghampiri gue dan Andre. "Kenapa itu bapak negara, pagi-pagi udah cemberut?" Tanyanya bingung.

"Andre gak mau mampir ke tukang bubur langganan Bobby, padahal mereka kan naik motor sendiri-sendiri kenapa gak berhenti sendiri aja." Kata gue tak mengerti dengan pemikiran ajaib Bobby.

Yoga yang mendengar ucapan gue pun tertawa. "Mana mau dia ngantri sendirian, tau sendiri Bobby anak mommy yang harus ditemenin kemana-mana." Kata Andre sebal. Andre memang sudah sangat hafal dengan sifat Bobby, mungkin sekarang cowok itu ngambek tapi tak sampai 15 menit anak itu akan kembali membaik.

"Betul." Kata yoga mengangguk setuju. Yoga tak sengaja melihat seseorang tertidur dengan wajah tertutup jaket gue. Dia tersenyum sambil menatap gue dengan tatapan yang tak terbaca.

"Bob, kantin yuk sarapan." Kata Yoga dengan suara sedikit lebih kencang membuat gue menatapnya tajam. Gue sempat melirik ke arah Naya nampaknya cewek itu tidak terganggu. Yoga pun tertawa melihat tingkah gue.

"Yoga my bro. Ayo kita cari makan tinggalkan saja si Andre sendirian." Katanya menatap Andre sebal. Nampaknya cowok itu masih marah.

"Kan ada gue disini." Kata gue sebal seperti tak terlihat oleh Bobby.

"Bentar lagi kan lo balik ke tempat lo." Kata Bobby melirik ke arah Naya yang tertidur sambil nyengir. Walaupun kelakuannya suka ajaib, gue lupa kalo Bobby selalu peka soal cewek. "Yuk, kita makan, gue traktir." Kata Bobby merangkul Yoga dan mengajaknya pergi.

Setelah kepergian Bobby kelas kembali menjadi tenang. Gue membuka handphone dan melihat-lihat instagram. Entah kenapa semakin lama semakin banyak orang yang mentag gue foto seseorang. Gue memperhatikan foto itu tampak tak asing. Sepertinya gue pernah melihat cewek ini.

Saat perhatian gue terfokus pada foto cewek itu. Gue mendengar suara Ines membangunkan Naya. "Nay, bangun udah jam setengah 7. Ke toilet yuk cuci muka biar seger terus ke kantin." Kata Ines lembut. Gue menoleh dan melihat Naya sudah bangun dari tidurnya. Dengan wajah masih mengantuk cewek itu terdiam sebentar lalu bangun dan mengikuti Ines.

"Udah ada di sini jangan main api nyari lagi di insta." Kata Andre saat melihat Naya dan Ines berlalu.

Gue menghela nafas pelan lalu menutup aplikasi instagram gue. "Tadi gue cuma penasaran aja kenapa jadi banyak yang tag gue sama selebgram juga." Kata gue malas lalu meletakkan handphone gue.

Andre hanya mengangguk pelan seolah mengerti maksud gue. "Tapi kenapa mukanya familiar ya Ndre." Kata gue bingung.

"Mungkin perasaan lo aja Ka. Udah gak usah dipikirin nanti lo jadi suka beneran lagi." Kata Andre asal.

Naya Pov

"Nay, lo kok bisa tidur pake jaket Ka Arka si?" Tanya Ines penasaran saat kami tiba di toilet.

"Mungkin Ka Arka takut gue masuk angin." Kata gue asal. Gue memperhatikan wajah gue yang basah dicermin lalu mengambil tissue dan mengelapnya.

"Yah gue kira udah jadian." Kata Ines kecewa.

Gue menatap Ines dengan tatapan tak mengerti. Dari dulu Ines selalu mengutarakan apa yang ia pikirkan. "Jangan mikirin gue terus, lo sama Rafa emang udah jadian?" Kata gue asal.

Ines memasang wajah cemberutnya. "Ah gak tau, Rafa gak pernah bilang suka sama gue." Katanya sebal.

Kami berdua keluar toilet dan berjalan menuju kantin. "Meski gak bilang tapi dari sikapnya bukannya jelas?" Kata gue sambil mengambil dua kotak susu coklat dingin dari freezer.

"Iya si, cuma kan gue maunya ditembak Nay." Kata Ines sebal. Ines juga ikut mengambil dua kotak susu coklat dingin.

"Buat Denis?" Tanya gue bingung.

Ines menatap gue dengan tatapan tak mengerti. "Buat Rafa. Itu yang lo beli bukannya buat Denis?" Tanya Ines bingung.

Gue menghela nafas pelan lalu mengambil satu kotak susu coklat lagi. "Ah buat Ka Arka ya." Kata Ines tertawa geli.

Setelah membayar minuman kami pun berjalan menuju kelas. Masih ada 10 menit lagi sebelum bel berbunyi. Rafa dan Denis sedang berbicara didepan kelas membuat kami berdua berhenti sejenak. Ines memberikan sekotak susu coklat pada Rafa, sedangkan gue memberikan sekotak susu coklat untuk Denis. "Satu lagi buat siapa Nay?" Kata Denis melihat masih ada sisa 1 kotak susu coklat.

"Buat gue." Kata gue asal lalu kembali duluan ke kelas. Sebelum kedua anak kembar itu menggoda gue lebih baik gue kembali ke kelas.

Gue memasuki kelas sendirian karena Ines masih berbicara dengan Rafa dan Denis di depan. Ka Arka sedang duduk dikursi gue bersandar di tembok sambil memainkan ponselnya. Ia tersenyum melihat gue datang lalu bangun dan kembali duduk di kursinya.

Setelah duduk gue meletakkan sekotak susu coklat didekatnya lalu dengan santai meminum susu coklat milik gue. "Thanks." Katanya tersenyum lalu meminumnya. "Udah gak ngantuk?" Tanyanya mengajak gue berbicara.

"Lumayan. Kaka gak ngantuk berangkat pagi?" Tanya gue heran. Setau gue Ka Arka itu sering bahkan hampir setiap hari berangkat pagi dan pulang sore. Denis sering bilang sama gue, kalo Ka Arka gak pernah keliatan cape.

Ka Arka berdeham pelan seakan berpikir. "Gak, karena udah biasa. Emang lo biasa berangkat jam berapa Nay?" Kata Ka Arka sambil menoleh ke arah gue.

"Tergantung, paling cepet jam 6. Kalo lagi kesiangan jam setengah 7 baru jalan." Aku gue jujur.

Ka Arka mengangguk kepala pelan. "Besok gue jemput jam 6 ya." Katanya tersenyum membuat gue menatap cowok itu tak mengerti. Belum sempat gue bertanya maksud ucapannya bel pun berbunyi.

Anak-anak yang awalnya berada diluar kelas pun kembali masuk dan duduk ditempatnya masing-masing. Ka Arka tampak santai mengeluarkan pulpen dan kartu ujiannya. Sepertinya cowok itu tidak memikirkan apa yang baru saja ia ucapkan. Mungkin cowok itu hanya asal berbicara saja.

Ujian berlangsung dengan tenang. Saat istirahat pun gue dan Ka Arka berkumpul dengan teman-teman kami masing-masing. Kami berdua pun tidak membahas lagi soal berangkat bersama besok. Hingga tiba jam pulang sekolah. Karena soal ujian terakhir essainya panjang membuat gue dan yang lain membutuhkan waktu lebih lama untuk mengerjakannya. Kelas Ka Arka sudah selesai lebih dulu dibandingkan kelas gue.

Jam 12.00 tepat bel berbunyi. Satu per satu kami pun maju mengumpulkan lembar ujian. Gue memegang bahu kanan gue yang pegal karena menulis. Ines menghampiri gue mengembalikan penggaris yang ia pinjam. "Panjang banget soalnya Pak Yuz tega banget bikin soalnya." Keluhnya sedih.

Pak Yuz guru biologi kami memberikan soal essai yang panjang, dimana kami harus menjelaskan keanekaragaman hayati, klasifikasi makhluk hidup, belum lagi menjelaskan dan menggambarkan soal virus. Membayangkan saja sudah membuat gue pusing karena harus menulis panjang lebar.

Kami berdua keluar kelas dan melihat Rafa sedang berbicara dengan Ka Arka. Ines menghampiri Rafa sambil tersenyum. "Gue duluan ya." Kata gue pamit pada mereka.

Saat gue sedang mengambil handphone seseorang menghampiri dan berjalan disamping gue. Gue menoleh dan melihat Ka Arka disana. "Gak sopan, ditungguin malah ninggalin." Katanya berjalan santai disebelah gue.

"Kenapa ka? Kayanya gue gak minta tungguin." Kata gue bingung.

"Iya si." Kata Ka Arka salting. "Gue cuma mau ngajak pulang bareng aja." Katanya asal.

"Emang Ka Arka gak pulang bareng Ka Manda?" Tanya gue mengingat ada mantan Ka Arka dikelas.

"Gak. Udah yuk pulang." Kata Ka Arka mendorong bahu gue menuju motornya. Untung sekolah sudah tidak terlalu ramai.

"Ya ampun Ka, gue bisa jalan sendiri gak perlu di dorong." Kata gue sebal. Ka Arka hanya tertawa melihat wajah cemberut gue.

Kami berdua pun akhirnya pulang bersama. Diperjalanan gue memperhatikan sosok Ka Arka dari boncengannya. Entah kenapa gue semakin terbiasa dengan kehadiran Ka Arka dihidup gue. Tapi disatu sisi gue mulai takut kalo gue akan berharap lebih pada Ka Arka.

Setibanya dirumah, gue pun turun dan menyerahkan helm Ka Arka. "Thanks ya Ka." Kata gue tersenyum singkat.

"Okay, besok jangan kesiangan." Kata Ka Arka mengacak rambut gue sambil tersenyum.

Gue terdiam sejenak. "Ka, jangan terlalu baik sama gue, nanti gue salah paham." Kata gue melepaskan tangan Ka Arka membuat cowok itu terkejut.

Ka Arka kemudian tersenyum. "Gue berharap lo lebih dari salah paham." Katanya lembut. "Gue balik ya, besok jam 6 gue jemput jangan kesiangan." Kata Ka Arka mencubit pipi gue pelan, lalu melajukan motornya meninggalkan gue yang mematung di depan rumah.

Continue Reading

You'll Also Like

325 91 17
Ini menceritakan dunia teenager dimana mereka bersekolah di SMA yang benar benar elit. Sangat elit. Seorang seleb-gram pindah di high school elit itu...
4.2K 392 19
Gemilang High School "RAINKA!!" bentak revan kepada rainka membuat gadia itu terkejut bukan main "Kak tolongin aku,sakit "revan membantu vira berdiri...
46.8K 2.1K 16
Sebuah undangan reuni membuat Nayaka banyak bernostalgia mengenang masa-masa SMA-nya dan mengingat kembali sosok Damar orang yang pernah mengisi hari...
3.6K 2K 58
Arka,si playboy kelas kakap ternyata mempunyai masa lalu kelam.Hidupnya bisa dibilang berantakan tidak ada tujuan. Mobil mewah,rumah mewah,harta berl...
Wattpad App - Unlock exclusive features