A Little Thing Called Love

By asih_nicenzy

105K 8.2K 229

Sesuatu yang kecil akan bermakna lebih indah saat hati kita dapat memahaminya... More

Sinopsis
Bab 1 - I Hate You!!!
Bab 2 - Dijodohkan??? Kiamat!!!
Bab 3 - Please, Help Me...
Bab 4 - We've Been Married Now!!!
Bab 5 - Perjanjian Nikah!
Bab 6 - Mati!!! Ketahuan...
Bab 7 - Cemburu... Perhatian...
Bab 8 - GUE atau DIA!!!
Bab 9 - My Husband, My Hero!!!
Bab 10 - Who is She???
Bab 11 - Rahasia Terbongkar!!!
Bab 12 - Honeymoon
Bab 13 - This is for You...
Bab 14 - Trouble Comes!!!
Bab 16 - Thank You, to Stay Alive!!!
Bab 17 - She Should Know!!!
Bab 18 - Finish or End?
Bab 19 - I Must Go...
Bab 20 - I'm Afraid Losing You
Bab 21 - Past Time or Future?
Bab 22 - I Chose Him
Bab 23 - Fade Away
Bab 24 - I Found You
Bab 25 - Trouble Comes!!! Again...
Bab 26 - Pertemuan Keluarga
Bab 27 - Painful Reality
Bab 28 - Hamil!!!
Bab 29 - That's Really Him!!!
Bab 30 - She Loves You
Bab 31 - Help for Kimberly
Bab 32 - You in My Life
Bab 33 - Happy Birthday, Yuki!!!
Bab 34 - Kevin Meet Parents Kimberly
Bab 35 - Tuan Muda
Bab 36 - Who is He???
Bab 37 - Ehmmm... Gue....
Bab 38 - You Don't Know
Bab 39 - Surprise for You, Baby
Bab 40 - Prince from USA
Bab 41 - Calon Suami Yuki
Bab 42 - I See You!!!
Bab 43 - Gue Hamil...
Bab 44 - Romantic!!!
Bab 45 - I'm Married
Bab 46 - Beneran Hamil!!!
Bab 47 - Please, Marry Me, Yuki...
Bab 48 - Maafkan Aku...
Bab 49 - Kehilangan Si Kecil
Bab 50 - Big Problem!!!
Bab 51 - Cerai!!!
Bab 52 - I Let You Go
Bab 53 - Good Bye

Bab 15 - Revenge!!!

1.7K 169 3
By asih_nicenzy

Yuki duduk di bangku taman belakang rumahnya. Ia duduk sambil membaca buku pelajaran IPS di tangannya. Besok pagi ada ulangan IPS dikelasnya. Tiba-tiba Stefan datang sambil membawakan segelas susu cokelat dan roti isi sebagai cemilan. Yuki memandang Stefan sekilas, lalu ia tersenyum kecil. Stefan duduk di sebelah Yuki. Ia menarik napas pelan.

"Pasti lo udah tahu soal Ariel dari Ali dan Kevin," ujar Stefan tiba-tiba. Tidak menjawab, Yuki hanya mengangguk pelan.

"Gue sayang banget sama dia. Dia cewek pertama yang bisa ngertiin gue. Waktu dia pergi tanpa pamit, gue marah banget sama dia. Bahkan gue benci, tapi sekarang..." Stefan menghentikan kalimatnya. Ia memandang Yuki lekat.

"Keadaannya udah berbeda. Udah ada elo di hidup gue. Meskipun sebenarnya..."

"Hanya setahun, Fan. Setelah itu lo maupun gue bebas. Jadi, lo bisa nunggu sampe hari itu datang." sela Yuki memotong ucapan Stefan.

"Tapi, Ki..."

"Lo sayang ‘kan sama dia. Dan lo ngga mau kehilangan dia. Gue tahu itu, iya ‘kan?" tanya Yuki. Stefan terdiam. Lalu mengangguk pelan. Yuki tersenyum kecil.

"Seperti yang lo bilang. Kita jalanin aja, pasti semuanya akan cepat berlalu." ujar Yuki pelan. Stefan menggenggam erat tangan Yuki.

"Makasih ya, lo udah mau ngerti." ujar Stefan sambil tersenyum.

Yuki pun tersenyum, lalu ia mengangguk pelan. Stefan pun beranjak dari duduknya dan meninggalkan Yuki sendiri. Tanpa Yuki sadari ia meremas bukunya keras. Setetes bening mengalir pelan. Yuki mengusapnya pelan.

"Bodoh!!! Kenapa lo nangis, Ki?" rutuk Yuki pada dirinya sendiri.

"Karena lo udah jatuh cinta sama dia," ujar seseorang dari belakang.

Yuki menoleh ke belakang dan mendapati Kimberly tengah berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Yuki menatap Kimberly bingung. Kimberly berjalan ke arah Yuki, kemudian ia duduk di sebelah Yuki.

"Bener ‘kan tebakan gue?" tanya Kimberly. Yuki menggeleng tegas.

"Baby..."

"Gue ngga tahu, Kim. Gue ngga ngerti sama perasaan gue sendiri. Gue rasa bukan jatuh cinta, tapi seperti... ehmm... rasa bersalah karena gue udah ada diantara mereka." jelas Yuki.

"Apa lo cemburu?" tanya Kimberly lagi.

"Ngga, Kim." jawab Yuki sambil menggeleng cepat.

"Terus, kenapa lo nangis?" tanya Kimberly. Yuki menarik napas pelan.

"Gue ngga cemburu. Tapi gue sakit hati waktu Stefan bilang kalo gue itu cuma... pembantunya dia. Gue tahu semua itu karena orang itu. Tapi gue ngerasa dikhianati, Kim." ujar Yuki. Kimberly menghembuskan napasnya.

"Kalo gitu lo bales aja perbuatannya," ujar Kimberly. Yuki mengernyitkan dahinya.

"Bales? Bales gimana maksud lo?" tanya Yuki bingung.

"Yaa... cari cowok lain." jawab Kimberly cepat. Yuki tampak berpikir.

"Tapi cowoknya siapa?" tanya Yuki.

Kimberly terdiam. Matanya melirik ke atas. Otaknya bekerja, membuka memori nama-nama lelaki yang ia kenal. Sedetik kemudian ia tersenyum senang, lalu cekikikan sendiri. Yuki jadi bingung sendiri melihat tingkah Kimberly yang terlihat aneh.

* * *

Pagi-pagi sekali Yuki sudah berangkat ke sekolah. Ia sengaja menghindar dari Stefan. Entah kenapa ia tidak ingin hatinya semakin bingung dengan perasaannya sendiri. Adi yang baru datang, setibanya dikelas langsung kaget melihat Yuki yang sudah duduk manis dikursinya. Tak lama kemudian datang Kimberly dan Nina.

"Wuihh... tumben nih, udah nongol aja pagi-pagi." ujar Nina sambil tertawa kecil. Yuki hanya tersenyum tipis.

"Oh ya, Girls. Gue punya rencana nih, jadi..."

Adi pun berbicara panjang lebar tentang rencananya untuk mengisi libur akhir pekan ini. Yuki, Nina, dan Kimberly mendengarkan rencana Adi dengan baik. Tiba-tiba Kimberly tersenyum senang.

"Kebetulan banget," ujar Kimberly senang. Ketiganya memandang Kimberly bingung. Karena Kimberly terlihat begitu bersemangat sekali.

"Kebetulan? Kebetulan kenapa?" tanya Adi.

"Ehmm... kebetulan waktu gue lagi kosong. Jadi gue boleh ikut ‘kan?" tanya Kimberly.

"Ya iyalah lo ikut. Lo juga ikut kan, Nin?" tanya Adi.

"Itu pasti," jawab Nina.

"Yuki, lo bisa ikut ‘kan?" tanya Nina. Yuki tampak berpikir.

"Pasti Yuki ikut. Iya ‘kan, baby?" ujar Kimberly sambil memainkan kedua alisnya.

Memberi isyarat agar Yuki menyutujui rencana Adi. Yuki pun tersenyum, kemudian ia mengangguk pelan. Adi bersorak girang. Yuki melirik Kimberly sekilas. Kimberly tersenyum. Senyuman itu membuat Yuki sedikit ngeri. Entah kenapa tiba-tiba ia merasa ada sesuatu yang akan terjadi. Yuki tidak bisa menebaknya.

* * *

"NGGA BOLEH!!!" bentak Stefan dari ruang tengah.

"Kenapa ngga boleh?" tanya Yuki dengan suara yang meninggi dari arah dapur.

"SEKALI NGGA BOLEH!!! TETAP NGGA BOLEH!!!" ujar Stefan dengan nada suara yang tak kalah tinggi. Yuki mendelik kesal ke arah Stefan.

"Kenapa?" tanya Yuki dengan suara yang terdengar lembut. Stefan menarik napas pelan.

"Hutan itu berbahaya. Banyak binatang buas. Banyak nyamuk. Lagian ngapain sih camping tiga hari dua malam didalam hutan." ujar Stefan yang terdengar seperti gumaman.

Yuki meletakkan piring-piring yang telah ia cuci ke atas rak. Kemudian ia mengelap tangannya yang basah. Lalu ia mengambil dua gelas susu cokelat. Ia pun berjalan ke arah ruang tengah dimana Stefan berada. Yuki pun duduk disebelah Stefan dan memberikan segelas susu cokelat pada Stefan.

"Gue pernah kesana sebelumnya. Dan gue baik-baik aja," ujar Yuki. Stefan menarik napas panjang. Lalu ia menatap tajam ke arah Yuki.

"Sekarang berbeda," ujar Stefan datar. Yuki menaikkan sebelah alisnya. Ia pun terkekeh geli.

"Beda? Apanya yang berbeda?" tanya Yuki.

"Gue yakin, si jangkung itu pasti punya tujuan lain." ujar Stefan.

"Namanya Adi. Dia sahabat gue. Dan ngga mungkin dia nyakitin gue," jelas Yuki. Stefan meneguk susu cokelatnya sampai habis.

"Sekali gue bilang ngga, tetep ngga. Lo istri gue, jadi lo harus nurut apa kata gue." desis Stefan tajam. Yuki terkekeh sumbang.

"Istri? Bukannya gue 'pembantu' lo?" ujar Yuki dengan penuh penekanan pada kata pembantu.

SKAKMAT. Stefan terdiam. Seketika raut wajahnya berubah. Tiba-tiba ia teringat kejadian dimana ia mengatakan hal demikian pada Yuki dihadapan Ariel tempo hari. Ia tidak sanggup berkata lagi. Yuki memandang Stefan sekilas.

"Tapi, Ki..." lirih Stefan.

"Atas persetujuan lo atau ngga, gue akan tetep pergi." ujar Yuki dingin.

Yuki pun beranjak dari duduknya dan meninggalkan Stefan sendiri. Stefan hanya bisa memandang Yuki yang berjalan meninggalkannya hingga tubuh gadis itu hilang dibalik pintu kamar. Stefan menghempaskan tubuhnya ke sofa. Ia mendesah kesal. Ia merasa kesal pada dirinya karena tidak bisa menghalangi kepergian Yuki.

"Si jangkung itu bener-bener... Arrgghh..." geram Stefan tertahan.

* * *

Yuki dan Kimberly menunggu Adi didepan rumahnya. Dengan membawa ransel masing-masing dipunggung serta satu tas tangan berukuran sedang yang berisi makanan. Yuki melirik jam tangan di pergelangan tangannya. Adi sudah terlambat setengah jam. Tiitt...tiitt...tiitt... Suara klakson dari mobil Adi terdengar. Adi terkekeh dari dalam mobil. Yuki dan Kimberly mendengus kesal.

"Lama banget sih," omel Yuki.

"Nasya? Lo... ikut juga?" tanya Kimberly kaget. Karena Nasya duduk dibangku belakang. Ia tersenyum sembari melambaikan tangan pada Yuki dan Kimberly.

"Hai, Ki, Kim... Adi ngajakin gue, daripada bosen dirumah, yaa... gue ikut aja, hehe..." cerita Nasya sambil tertawa kecil.

"Makin rame, tambah seru dong." ujar Adi.

"Yeeey... itu sih mau lo," ujar Yuki sembari menonyor kepala Adi. Adi hanya terkekeh geli.

"Udah siap kan? Ayooo... berangkaaat..." seru Adi.

Yuki dan Kimberly pun masuk ke dalam mobil. Didalam sudah ada Nina yang menunggu. Mereka pun segera berangkat ke tempat tujuan. Satu jam setengah perjalanan, akhirnya mereka tiba ditempat tujuan. Sebuah gunung yang lumayan tinggi. Enam bulan yang lalu mereka pernah datang kesana untuk merayakan ulang tahun Nina. Dan sekarang mereka datang lagi bersama Kimberly dan Nasya untuk menghabiskan akhir pekan.

"Akhirnya sampe jugaaa..." seru Nasya senang.

"Semua udah siap untuk masuk kedalam?" tanya Adi. Semuanya mengangguk semangat.

Mereka pun bersiap akan masuk hutan untuk mendaki gunung. Namun langkah mereka terhenti saat melihat sebuah mobil berhenti dihadapan mereka. Adi mengernyitkan dahinya. Bingung. Siapa yang akan mendaki juga hari ini? Ia terperangah kaget saat melihat seseorang keluar dari mobil. Yuki tercengang. Matanya membulat sempurna.

"Stefan..."

Flashback...
Stefan uring-uringan di kantin sekolah. Ia melipat beberapa sedotan menjadi bentuk yang tidak jelas. Bakso yang ada didepannya terbengkalai begitu saja. Kevin dan Ali saling berpandangan. Kedua alis mereka bergerak-gerak, berisyarat mempertanyakan keadaan Stefan. Keduanya pun lalu mengangkat bahu pelan. Tidak tahu. Ehemm... Kevin berdehem pelan.

"Lo kenapa, Fan?" tanya Kevin sambil memasukkan mie goreng kedalam mulutnya.

Stefan menoleh sekilas. Kemudian ia mengacak rambutnya frustasi. Kevin dan Ali semakin bingung dengan sikap Stefan.

"Lo kesambet ya?" tanya Ali. Stefan mendelik kesal.

"Si jangkung ngajakin Yuki pergi camping ke hutan. Kenapa harus di hutan coba?" tanya Stefan kesal.

"Yaa... kali, Fan, camping di tengah kota. Elo gimana sih, yang namanya camping itu kalo ngga di hutan yaa... puncak gunung ataupun di pinggir pantai." jelas Ali.

Kevin menggeleng pelan. Sepertinya, sahabatnya satu ini sudah kehilangan akal untuk berpikir yang rasional. Masuk akal. Kenapa tiba-tiba Stefan jadi rada o'on begini? Kevin mendesah pelan. Ia menepuk pelan bahu Stefan. Lelaki itu menoleh sekilas. Lalu kembali bersungut-sungut lagi dengan sedotan. Benar-benar kehilangan akal nih anak, gumam batin Kevin.

"Terus masalahnya apa?" tanya Kevin penasaran. Stefan menarik napas panjang.

"Gue udah ngelarang dia untuk pergi. Tapi dia balik marah sama gue. Malah sekarang dia jutek banget sama gue." jawab Stefan cepat tanpa jeda untuk menarik napas.

"Kok bisa kayak gitu? Kapan dia berangkat?" tanya Ali.

"Jum'at sore... dan mereka pulang Minggu pagi. Yaa... gara-gara gue bilang dia itu istri gue yang harus nurut apa kata gue. Ehh... dia jadi berang, dia malah ngingetin kejadian tempo hari, kalo dia cuma pembantu gue." jelas Stefan panjang lebar.

"Kalo gue jadi Yuki, gue juga akan ngelakuin hal yang sama." ujar Kevin datar. Stefan langsung menatap Kevin tajam.

"Lo ikut aja, gampang kan." ujar Ali. Stefan langsung menggeleng cepat.

"Ngga ah. Males gue. Lagipula si jangkung itu cuma ngajakin Yuki doang," dumel Stefan.

"Gimana kalo gue yang ngajakin," ujar Kimberly yang tiba-tiba muncul dari balik tembok.

"Elo... ngajakin gue pergi camping?" tanya Stefan. Kimberly mengangguk.

"Lo berdua juga boleh ikut," ujar Kimberly kemudian.

Ali dan Kevin saling berpandangan. Lalu mereka memandang Stefan. Memberi isyarat agar Stefan setuju dengan ajakan Kimberly. Sesaat kemudian, ketiganya pun mengangguk serempak.
Flashback end...

Yuki mematung. Ia terperangah kaget melihat kehadiran Stefan, Ali, dan Kevin dihadapannya. Begitu juga dengan Adi, ia juga sama terkejutnya dengan Yuki. Dan mereka lebih terkejut lagi saat melihat seorang lagi yang keluar dari dalam mobil. Ariel. Gadis itu tersenyum ke arah Yuki dan lainnya. Kali ini Kimberly yang terkejut. Kenapa ada gadis itu? Ia hanya mengajak ketiga orang itu kemarin.

"Siapa yang ngundang lo untuk datang kesini?" tanya Adi ketus.

"Gue..." jawab Kimberly. Semua mata memandang ke arah Kimberly.

"Gue yang ngajakin mereka bertiga, tapi gue ngga ngajakin dia..." ujar Kimberly sambil memandang Ariel.

"Kim..." ucap Yuki pelan. Stefan menoleh pada Ariel. Gadis itu hanya tersenyum kecil.

"Gue yang ngajakin dia," ujar Stefan kemudian. Yuki memandang Stefan lekat. Mata keduanya beradu sekarang. Suasana tiba-tiba menjadi hening.

"Ehmm... Adi, gimana kalo kita berangkat sekarang." ujar Nasya memecah kebisuan.

"Oke, kita berangkat sekarang. Yuki, biar gue yang bawa." ujar Adi seraya memegang tas tangan Yuki.

"Ngga usah. Ini ringan kok. Isinya cuma makanan ringan untuk cemilan kita," ujar Yuki.

"Ya udah, lo masih inget tempatnya kan?" tanya Adi. Yuki mengangguk.

"Kalo gitu lo jalan duluan, gue dibelakang." ujar Adi.

Perjalanan dimulai. Yuki pun berjalan paling depan. Dibelakangnya ada Nina, Ali, Nasya, Kevin, Kimberly, Stefan, Ariel, dan Adi. Mereka berjalan mengikuti Yuki. Baru setengah jam perjalanan, Stefan, Ali, dan Kevin sudah kelelahan. Yuki menoleh kebelakang, ia pun tersenyum miring. Muncul ide jahil dalam otaknya. Yuki agak mempercepat langkahnya. Ia pun mendahului Nina dan lainnya.

"Aakkhh..." teriak Yuki dari atas dengan tiba-tiba. Langkah Nina dan lainnya terhenti. Mereka mendongak ke atas.

"Yuki," gumam Stefan. Ia pun bergegas lari ke atas. Kemudian disusul Adi dan Kevin yang ikut berlari.

"Yukiiii..." teriak Stefan. Ia pun akhirnya berhasil sampai di atas.

Dengan napas yang terengah-engah ia menatap tajam ke arah depan. Bagaimana tidak, disana... diatas sebuah batu berukuran sedang, Yuki sedang duduk sambil menikmati minumnya. Ia terkekeh geli melihat ekspresi wajah Stefan yang terlihat sangat panik. Kemudian disusul Adi dan Kevin tiba di atas.

"Yuki, lo ngga..." ucap Kevin tertahan.

Hahaha... Hanya gelak tawa yang terdengar dari Yuki. Entah kenapa ekspresi panik dari ketiga lelaki itu membuat ia tidak bisa menahan tawanya. Stefan yang melihat itu menggeram kesal.

"Elo... bener-bener..." desis Stefan tajam.

Stefan menjitak pelan kepala Yuki. Kemudian ia menggelitiki Yuki hingga gadis itu kewalahan. Adi dan Kevin pun tidak tinggal diam. Mereka membantu Stefan menggelitiki Yuki. Mereka ingin balas dendam karena sudah ditipu mentah-mentah oleh Yuki.

"Ampuuun... haha... ampuun..." ujar Yuki di sela tawanya.

* * *

Continue Reading

You'll Also Like

BLOOMING [END] By ai

Teen Fiction

292K 12.5K 55
"For the ones who still believe in a magic part of growing up, you were made to bloom." Bagi Gea tinggal sendirian di Bandung bukanlah hal sulit, lag...
6.5M 520K 59
[TSDP #1] Siapa sih yang nggak mau jadi pengurus inti OSIS? Satu sekolah bakal kenal, "Oh, dia Shahia Jenaya? Sekretaris OSIS Angkatan 72?" Seenggakn...
22.8K 1.7K 6
Persahabatan bukan soal untung-rugi. "Cerita ini saya dedikasikan untuk menteri yang hilang." Cover by unawrites -hak cipta dilindungi Tuhan yang Mah...
1.5M 56.5K 44
Sejak kecil, Shezaluna Tabita terbiasa hidup berdampingan dengan teman kecilnya--Gaharvian Zevano. Tapi setelah beranjak dewasa, Una sadar ia mulai s...
Wattpad App - Unlock exclusive features