"Ngapain lo disitu?" tanya seseorang dari arah belakang Kimberly.
Dengan posisi yang setengah membungkuk, perlahan Kimberly menoleh ke belakang. Ia terkekeh pelan saat melihat Kevin berdiri tepat di belakangnya sambil membawa secangkir minuman. Kevin memandang Kimberly lekat. Kimberly pun segera berdiri tegak. Sesaat kemudian ia menunjukkan senyum manis dan wajah tanpa dosa.
"Lo mau ngintip, ya?" tanya Kevin lagi. Kimberly menggeleng tegas.
"Ngga! Gue... gue lagi nyari anting gue yang ilang." jelas Kimberly sedikit gugup.
Kevin menaikkan sebelah alisnya. Ia pun berjalan mendekati Kimberly. Ditatapnya Kimberly dalam jarak yang begitu sangat dekat. Kedua mata mereka saling bertatapan. Kimberly dapat merasakan napas Kevin, begitu pun sebaliknya. Perlahan ia mengangkat tangannya dan ingin menyentuh pipi Kimberly. Gadis itu menahan napasnya.
"Ini apaan? Bukannya ini anting?" tanya Kevin kemudian.
Pfuuhh... Kimberly membuang napasnya lega. Ia pikir Kevin akan melakukan sesuatu padanya. Kimberly memegang telinga kanannya. Kemudian ia tersenyum senang.
"I...ya, ini antingnya udah ketemu. Kalo gitu, gue pergi dulu ya. Bye... Good night," ujar Kimberly seraya berjalan pergi. Namun langkahnya terhenti saat Kevin memegang lengannya.
"Mau nemenin gue minum ngga?" tanya Kevin pelan. Kimberly memandang Kevin lama. Kemudian ia tersenyum dan mengangguk pelan.
Kevin dan Kimberly duduk di kursi taman belakang. Dengan memegang secangkir capuccino hangat ditangan masing-masing. Keduanya menikmati suasana malam dengan hembusan angin. Karena jarak penginapan dengan pantai tidak begitu jauh, sesekali terdengar deruan ombak dari pantai. Kimberly menyeruput minumannya pelan.
"Lo tadi beneran mau ngintip ya?" tanya Kevin sambil tertawa kecil.
Uhuukk... Kimberly tersedak. Kevin menepuk pelan punggung Kimberly. Sesaat kemudian, keduanya saling tertawa geli. Kimberly menarik napas pelan.
"Yuki itu sepupu gue yang paling disayang. Makanya dia jadi manja. Om sama Tante, maksud gue orangtua Yuki, mereka ngga pernah membiarkan Yuki terluka sedikit pun. Dia kayak bayi, ngga ngerti apa-apa. Dia terlalu naif. Waktu gue tahu dia udah menikah. Sumpah!! Gue takut setengah mati. Gimana caranya Yuki ngejalanin rumah tangganya. Nyuci, berkemas, bahkan masak pun dia ngga bisa." cerita Kimberly panjang lebar. Ia pun tertawa kecil yang diikuti oleh Kevin.
"Stefan orang yang baik kok. Jadi lo ngga perlu khawatir." ujar Kevin menenangkan. Ia sepertinya mengerti dengan kekhawatiran Kimberly.
"Iya, sepertinya begitu." ujar Kimberly pelan.
Pluukk... Tiba-tiba ponsel Kimberly jatuh ke tanah. Ia pun menunduk untuk mengambil ponselnya yang jatuh didekat kaki Kevin.
"Sorry ya, Vin." ujar Kimberly seraya berusaha menjangkau ponselnya.
Entah apa yang terjadi, saat Kimberly sudah mendapatkan ponselnya dan ia akan berdiri, tiba-tiba rambutnya menyangkut diresleting celana Kevin. Kimberly mengaduh kesakitan. Ia berusaha melepaskan rambutnya yang menyangkut.
"Aduhhh, gimana nih... rambut gue nyangkut." ujar Kimberly.
Kevin pun membantu melepaskan rambut Kimberly dari resletingnya. Bukannya lepas, justru hal itu membuat Kimberly kesakitan. Kimberly berusaha melepaskannya sendiri. Ia pun menunduk sambil menarik rambutnya pelan. Posisi keduanya sangatlah tidak pantas untuk dilihat oleh orang lain. Mereka berdua menjadi ribut karena berusaha melepaskan rambut Kimberly.
"WOIII!!! KALIAN BERDUA NGAPAAIIIN?!?" pekik Ali kaget melihat Kimberly dan Kevin.
Kimberly dan Kevin tercekat kaget melihat kehadiran Ali dibelakang mereka. Masih dengan posisi Kimberly menunduk diantara kedua kaki Kevin. Ali melongo tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Sahabatnya berduaan dengan seorang gadis... Malam-malam... Ditempat yang sepi dan gelap...
"Kevin... Kimberly... Kalian..." ucap Ali gugup. Kevin menggeleng berulang kali.
"Ini ngga seperti yang ada dipikiran lo, Li." ujar Kevin.
"Iya. Kita ngga ngapa-ngapain kok," ujar Kimberly kemudian.
"Tapi, kalian ngapain kayak gini?" tanya Ali lagi.
"Ada apa sih kok ribut-ribut? ASTAGA!!! KEVIN... KIMBERLY... Kalian ngapain???" pekik Nina yang datang bersama Nasya karena mereka mendengar ada keributan diluar.
"Kalian berdua..." Nasya menggantung kalimatnya. Ia menggeleng tak percaya.
"Kim, lo... lo ngapain kayak gitu?" tanya Adi agak terbata-bata.
"Kalian semua itu salah paham. Gue sama Kevin ngga ngelakuin seperti apa yang kalian pikirin," ujar Kimberly. Kevin mengangguk tegas berulang kali.
"Gue sama Kimberly cuma..."
"Ada apaan sih ribut-ribut? Kalian ganggu orang tidur aja," ujar Stefan yang datang bersama Yuki.
Keduanya terlihat sangat kusut. Sepertinya mereka benar-benar tertidur nyenyak. Yuki menutup mulutnya karena menguap ngantuk. Namun tiba-tiba kedua matanya membulat besar. Melihat pemandangan yang ada didepannya. Begitu juga dengan Stefan yang baru saja membuka matanya lebar-lebar.
"KIMBERLY!!!"
"KEVIN!!!"
Pekik Yuki dan Stefan serempak dengan menyebutkan nama yang berbeda. Yuki dan Stefan berjalan mendekati Kimberly dan Kevin.
"Baby, ini ngga seperti ya lo pikirin. Rambut gue ngga sengaja nyangkut waktu gue mau ngambil handphone gue," jelas Kimberly.
"Iya, Fan. Gue sama Kimberly lagi usaha ngelepasin rambutnya yang kelilit, tapi susah." ujar Kevin.
Yuki dan Stefan mendekati Kimberly dan melihat apa yang terjadi. Benar, rambut Kimberly terlilit diresleting celana Kevin.
"Potong aja," ujar Stefan kemudian. Mata Kimberly membulat sempurna.
"Dipotong??? Rambut gue???" tanya Kimberly pelan. Stefan mengangguk.
"Ngga!!! Rambut gue abis dipotong. Masa mau dipotong lagi," ujar Kimberly.
"Terus, lo berdua mau kayak gini sampe pagi?" tanya Stefan. Kevin dan Kimberly menggeleng bersamaan.
"Ada baby oil ngga?" tanya Yuki kemudian.
"Gue ada. Tunggu sebentar, gue ambilin dulu." ujar Nasya.
Tak berapa lama kemudian, Nasya kembali dengan sebotol baby oil yang berukuran kecil. Yuki pun mengolesi rambut Kimberly yang terlilit dengan baby oil. Perlahan ia melepas satu per satu rambut Kimberly yang terlilit kusut. Beberapa menit kemudian, Yuki telah selesai membebaskan rambut Kimberly.
"Thank you, baby..." ujar Kimberly seraya memeluk Yuki erat.
"By the way, kalian berdua ngapain disini... Berduaan... Malam-malam..." tanya Yuki sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Kita... ehmm..." Kimberly terlihat gugup. Yuki tersenyum kecil. Matanya mengerling jahil.
"Kalian lagi PDKT, ya???" tebak Yuki.
Stefan tampak terkejut. Ia menatap Kevin lekat. Apa mungkin Kevin sedang PDKT dengan Kimberly? Tapi, apa secepat itu Kevin melupakan Yuki? Kevin menatap Stefan balik. Ia sepertinya mengerti dengan apa yang ada dipikiran Stefan.
"Iya, gue lagi PDKT sama Kimberly." ujar Kevin kemudian. Yuki tersenyum senang. Stefan hanya diam saja. Ia menatap Kevin tak percaya.
"Ya udah, kalo gitu kita pergi dulu. Kalian lanjutin aja PDKT-nya, oke?" ujar Yuki seraya berjalan pergi.
Kemudian disusul Nina, Nasya, dan Adi. Tak lama kemudian Ali pun pergi meninggalkan Kevin dan Kimberly. Untuk sesaat Kimberly dan Kevin saling. Lalu keduanya tertawa geli saat mengingat kejadian tadi.
Malam pun semakin larut. Kevin dan Kimberly memutuskan untuk kembali ke dalam. Keduanya berjalan bersama. Namun tiba-tiba langkah keduanya terhenti didepan kamar Stefan dan Yuki. Keduanya saling berpandangan. Lalu mereka memutuskan untuk mendekat. Kimberly menarik napas pelan. Tanpa sengaja, barusan ia mendengar suara erangan kesakitan yang disertai tawa kebahagiaan. Ternyata tidak hanya Kimberly, Kevin pun mendengarkan hal yang sama. Mereka pun jadi penasaran. Dan memutuskan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Aaaarrgghh... Stefaaann... Saakiiiitt..." erang Yuki.
"Hahaha... Itu baru yang pertama kali, sayang... Mmmh... masih ada beberapa ronde lagi," ujar Stefan sambil tertawa senang.
Gleekk... Kimberly dan Kevin menelan ludah pelan. Keduanya saling berpandangan. Mereka terdiam sejenak dan larut dalam pikiran masing-masing. Saat mereka akan melangkah pergi, tiba-tiba...
"Aaarrgghhh..."
Mata Kevin dan Kimberly membulat sempurna.
"Aaarrgghhh..."
Mata Kevin dan Kimberly membulat sempurna. Keduanya saling berpandangan. Lalu keduanya pun memutuskan untuk mendekati kamar itu lagi. Erangan dan teriakan terdengar jelas ditelinga mereka. Kevin dan Kimberly menelan ludahnya susah payah. Sesaat keduanya tersadar kalau perbuatan mereka ini salah. Wajah keduanya terlihat memerah, menahan malu.
"Kalian lagi ngapain?" tanya Ali tiba-tiba yang sudah berdiri dibelakang Kevin dan Kimberly.
Keduanya tampak terkejut. Kimberly berjalan ke arah Ali, menjelaskan kalau mereka tidak melakukan apapun. Bukannya menerima, Ali justru semakin penasaran. Ia pun berjalan mendekati kamar Stefan dan Yuki. Namun langkahnya terhenti saat mendengar teriakan Yuki dan Stefan dari dalam. Ali tercekat. Perlahan ia menoleh ke belakang, menatap Kevin dan Kimberly bergantian.
"Me...re...ka... nga...pa...in???" tanya Ali terbata-bata.
Kevin dan Kimberly menggeleng pelan. Sedetik kemudian seringaian jahil tersungging dibibir Ali. Kemudian ia memainkan kedua alisnya naik-turun. Ketiganya pun berebut berusaha mendengarkan lebih jelas apa yang telah terjadi didalam kamar. Nina yang keluar dari dalam kamar menuju dapur, menghentikan langkahnya saat melihat tiga orang sedang berdiri didepan kamar Stefan dan Yuki. Nina pun berjalan mendekati ketiganya.
"Kalian nga..."
"Sssstt..." desis Ali, Kevin, dan Kimberly bersamaan, memotong ucapan Nina sambil memberikan isyarat dengan meletakkan jari telunjuk ke bibir mereka masing-masing.
Nina terkejut dengan respon mereka. Namun sesaat kemudian ia tercengang karena mendengar erangan dari dalam. Nina menutup mulutnya tidak percaya. Ali, Kevin, dan Kimberly mengangguk mantap membenarkan dugaan yang tersirat jelas diwajah Nina. Ali menarik tangan Nina untuk mendekat dan mendengarkan apa yang terjadi didalam.
"Stefaaan... Sakiiiit tahuuuu..." kesal Yuki tertahan.
"Wooo... kayaknya Stefan main kasar," ujar Nina. Kevin berdehem kecil.
"Hahaha... Finally... sekarang giliran gue," ujar Yuki senang.
"Nah, nah, nah... kayaknya Yuki mau balas dendam," ujar Ali. Kimberly dan Nina terkekeh geli. Kevin mendengus kesal. Banyak komentar lainnya dari mereka saat mendengar erangan ataupun tawa dari Yuki dan Stefan.
Diluar, Nasya duduk dibangku sambil menikmati deruan ombak. Angin malam membuat rambut panjangnya berayun menutupi wajahnya. Nasya menghirup napas pelan. Ia terkejut saat seseorang memakaikannya jaket dari belakang.
"Angin malam ngga baik untuk cewek," ujar Adi pelan. Nasya hanya tersenyum kecil.
"Ngapain lo disini?" tanya Adi. Nasya menoleh Adi sekilas.
"Cuma ingin menikmati angin laut aja. Besok pagi kan kita udah pulang," ujar Nasya. Adi tertawa kecil. Nasya memandang wajah Adi lekat.
"Gue ngga nyangka mereka, Stefan dan Yuki menikah. Kita sendiri tahu mereka seperti Tom dan Jerry," ujar Nasya sambil tertawa kecil.
"Gue ngga abis pikir, kenapa harus dia, cowok angkuh itu." ujar Adi tajam.
"Stefan orang yang baik kok. Dia orang yang penyayang dan perhatian. Jadi lo ngga usah khawatir sama keadaan Yuki." jelas Nasya.
"Lo bisa ngomong kayak gitu karena lo sahabatnya dia," ujar Adi. Nasya tersenyum sambil menggeleng pelan.
"Gue ngomong kayak gini bukan sebagai sahabat, tapi sebagai seorang cewek." ujar Nasya. Adi memandang Nasya dengan lekat.
"Percaya sama gue," ujar Nasya lagi.
Adi hanya tersenyum kecil. Entah perasaan apa yang ia rasakan sekarang. Tapi yang jelas, ia tidak menyukai Stefan. Apapun alasannya. Sedetik kemudian, Nasya pun mengajak Adi masuk kedalam. Saat mereka masuk, mereka terkejut melihat empat orang sedang berdiri didepan kamar Stefan dan Yuki. Nasya dan Adi saling berpandangan. Mereka bingung melihat keempat orang itu. Keduanya pun berjalan mendekati keempat orang itu.
"Nina..." panggil Adi pelan.
"Sssstt..." ucap Nina, Ali, Kevin, dan Kimberly serempak.
Hal itu membuat Adi dan Nasya terkejut. Bukannya jawaban yang mereka dapat, justru desisan tajam dari keempatnya. Namun sedetik kemudian, Adi dan Nasya tercekat. Tercengang mendengar erangan dan tawa dari dalam. Apa yang terjadi didalam? Apa yang mereka lakukan? Kedua tangan Adi mengepal kedua tangannya kuat-kuat. Gerahamnya menggeretak keras. Nasya sempat melongo sebentar namun kemudian ia tertawa kecil.
"Sepertinya mereka benar-benar bulan madu," ujar Nasya. Semua memandang ke arah Nasya. Gadis itu hanya tersenyum yang menunjukkan lesung pipinya. Nasya menggeleng pelan.
"Udah, kita biarin aja mereka. Sampe kapan kalian akan 'menikmati' bulan madu pengantin baru itu," ujar Nasya sambil tertawa geli.
Adi yang tidak tahan mendengar apa yang ada didalam segera menarik tangan Nasya kemudian mereka pergi. Ali dan lainnya saling berpandangan. Lalu cekikikan geli. Benar kata Nasya, sampai kapan mereka akan berdiri didepan pintu kamar pengantin baru itu.
Di dalam kamar...
"Yeeaaayy..." pekik Yuki kegirangan sambil loncat-loncat di lantai.
Stefan mengacak rambutnya frustasi. Bisa-bisanya ia kalah dengan gadis itu. Perlahan Yuki mendekati Stefan. Ia memandang wajah Stefan yang terlihat lucu karena menahan kesal. Yuki memposisikan ibu jari dan jari tengahnya, ia bersiap-siap untuk menjentik dahi Stefan. Pletaaaakk...
"Aaarrgghh..." erang Stefan kesakitan. Yuki tertawa geli.
"Hahaha... akhirnya gue yang menang. Beresin ya, honey..." ujar Yuki sembari mengacak rambut Stefan.
Stefan mendengus kesal sambil membereskan permainan ular tangga yang menyakitkan itu. Bagaimana tidak, peraturan dari permainan itu adalah dijentik dahinya satu kali. Setiap kali Yuki kalah, ia akan mengerang kesakitan. Sedangkan Stefan, akan tertawa bahagia. Begitupun sebaliknya, kalau Yuki menang, Stefan yang akan mengerang kesakitan, sedangkan Yuki akan tertawa bahagia.
Siapa yang mengira permainan mereka ini mengundang rasa penasaran dari sahabat-sahabatnya. Mereka mengintip dan berdiri didepan pintu kamar hanya untuk mendengarkan setiap erangan kesakitan dari Yuki ataupun Stefan. Yuki dan Stefan memulai permainan itu karena mereka tidak bisa tidur akibat kegaduhan Kimberly dan Kevin. Jadi mereka memutuskan untuk memainkan sesuatu. Di atas meja ada seperangkat permainan ular tangga. Jadilah mereka memainkan ular tangga dengan aturan yang menyakitkan itu.
* * *
Yuki keluar dari kamar sambil menenteng tasnya. Di belakang, Stefan berjalan sambil membawa ransel dipunggungnya. Di luar, Ali dan lainnya sudah menunggu. Mereka senyam-senyum memperhatikan pengantin baru itu. Kimberly melirik jahil ke arah Yuki dan Stefan, karena rambut keduanya sama-sama basah. Melihat itu mereka jadi mengambil kesimpulan, kejadian semalam berarti benar-benar... Mereka tertawa kecil sambil menutup mulut agar tidak ketahuan Yuki dan Stefan. Keduanya saling berpandangan, mereka bingung dengan tingkah para sahabatnya itu.
"Ehmm... Fan, semalam siapa yang menang?" tanya Ali sambil menahan tawanya. Stefan melirik Ali sekilas, lalu ia menunjuk dengan mengangkat dagunya ke arah Yuki. Ali dan lainnya tampak syok. Yuki tersenyum lebar sambil memainkan ponsel ditangannya.
"Yaa jelas gue lah yang menang," ujar Yuki bangga.
"Hoo... Yuki is wonderwoman!!" pekik Ali yang diikuti tawa oleh teman-temannya, kecuali Adi. Ia segera berjalan keluar menuju mobil.
Yuki yang melihat Adi berjalan keluar segera berlari menyusul Adi. Ali dan Kevin mendekati Stefan dan merangkul bahu Stefan. Mengajak lelaki itu keluar. Dari belakang, Kimberly, Nina, dan Nasya berjalan mengikuti. Sebelum berangkat, mereka pun berpamitan pada Pak Wayan karena sudah banyak membantu mereka selama berada di Bali. Mereka pun menaiki mobil menuju bandara untuk pulang ke Jakarta.
Sesampainya di pesawat, Adi yang melihat Yuki duduk sendiri langsung mendekati Yuki dan duduk disebelahnya. Yuki hanya tersenyum kecil. Ia pun kembali memandang ke samping. Melihat keadaan luar dari jendela. Dari kejauhan, Stefan melihat itu. Ia pun segera berjalan ke arah Adi dan Yuki. Stefan berdehem kecil.
"Ehemm... Lo bisa pindah ngga? Gue mau duduk sama istri gue," ujar Stefan dingin.
Adi menatap Stefan tajam. Yuki yang melihat keduanya hanya mendesah pelan. Sedetik kemudian Adi beranjak dari duduknya. Ia pun duduk di kursi sebelah Nasya yang kosong. Stefan segera menempati kursi Adi. Yuki memandang Stefan sekilas.
"Lo kenapa sih?" tanya Yuki pelan, namun nadanya terdengar sangat kesal.
Stefan hanya diam saja. Perlahan ia merogoh saku jaketnya. Ia mengeluarkan sepasang gelang yang tidak asing lagi dimata Yuki. Stefan tersenyum seraya menyodorkan gelang itu pada Yuki. Yuki terdiam sesaat. Ia tidak percaya gelang itu... Gelang yang ia inginkan di pasar kemarin. Gelang couple.
Flashback...
Stefan memperhatikan wajah sedih Yuki saat mengetahui kalau gelang itu adalah gelang berpasangan. Ia pun tidak tega melihat Yuki yang kecewa. Sebelum kembali ke penginapan, Stefan kembali ke pasar lagi untuk membeli gelang tersebut. Tidak lupa ia meminta penjualnya untuk mengukirkan sebuah nama pada masing-masing gelang.
Flashback end...
"Nih," ujar Stefan seraya memakaikan gelang itu pada tangan Yuki.
"Bagus," ujar Stefan pendek.
"Kok elo..." Yuki tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Ia tidak henti-hentinya tersenyum.
"Anggap aja sebagai hadiah pernikahan dari gue," ujar Stefan seraya memakai gelangnya sendiri.
"Lo juga punya?" tanya Yuki kaget.
"Iya dong. Namanya juga gelang couple. Coba liat," ujar Stefan sambil menunjuk bagian dalam gelang.
"Suami?" ucap Yuki bingung.
"Istri," ujar Stefan seraya menunjuk gelangnya sendiri.
Yuki tertawa melihat itu. Dari kursi belakang, Kimberly dan Kevin saling berpandangan. Keduanya pun tersenyum. Sepertinya hubungan keduanya semakin baik.
* * *