A Little Thing Called Love

De asih_nicenzy

105K 8.2K 229

Sesuatu yang kecil akan bermakna lebih indah saat hati kita dapat memahaminya... Mais

Sinopsis
Bab 1 - I Hate You!!!
Bab 2 - Dijodohkan??? Kiamat!!!
Bab 3 - Please, Help Me...
Bab 4 - We've Been Married Now!!!
Bab 5 - Perjanjian Nikah!
Bab 6 - Mati!!! Ketahuan...
Bab 7 - Cemburu... Perhatian...
Bab 8 - GUE atau DIA!!!
Bab 9 - My Husband, My Hero!!!
Bab 10 - Who is She???
Bab 11 - Rahasia Terbongkar!!!
Bab 13 - This is for You...
Bab 14 - Trouble Comes!!!
Bab 15 - Revenge!!!
Bab 16 - Thank You, to Stay Alive!!!
Bab 17 - She Should Know!!!
Bab 18 - Finish or End?
Bab 19 - I Must Go...
Bab 20 - I'm Afraid Losing You
Bab 21 - Past Time or Future?
Bab 22 - I Chose Him
Bab 23 - Fade Away
Bab 24 - I Found You
Bab 25 - Trouble Comes!!! Again...
Bab 26 - Pertemuan Keluarga
Bab 27 - Painful Reality
Bab 28 - Hamil!!!
Bab 29 - That's Really Him!!!
Bab 30 - She Loves You
Bab 31 - Help for Kimberly
Bab 32 - You in My Life
Bab 33 - Happy Birthday, Yuki!!!
Bab 34 - Kevin Meet Parents Kimberly
Bab 35 - Tuan Muda
Bab 36 - Who is He???
Bab 37 - Ehmmm... Gue....
Bab 38 - You Don't Know
Bab 39 - Surprise for You, Baby
Bab 40 - Prince from USA
Bab 41 - Calon Suami Yuki
Bab 42 - I See You!!!
Bab 43 - Gue Hamil...
Bab 44 - Romantic!!!
Bab 45 - I'm Married
Bab 46 - Beneran Hamil!!!
Bab 47 - Please, Marry Me, Yuki...
Bab 48 - Maafkan Aku...
Bab 49 - Kehilangan Si Kecil
Bab 50 - Big Problem!!!
Bab 51 - Cerai!!!
Bab 52 - I Let You Go
Bab 53 - Good Bye

Bab 12 - Honeymoon

2.4K 175 3
De asih_nicenzy

Stefan dan Yuki telah tiba dihalaman rumah orangtua Stefan. Keduanya saling berpandangan sejenak, seperti berbicara lewat telepati, keduanya mengangkat bahu dan menggeleng pelan, karena tidak tahu kenapa orangtua mereka ingin bertemu. Keduanya pun melangkah masuk, Stefan dan Yuki agak terkejut saat melihat Mama dan Papanya sudah menunggu di meja makan. Mereka pun makan siang. Setelah makan, mereka berkumpul diruang keluarga.

"Ini..." ujar Indra sembari menyodorkan dua amplop di hadapan Yuki dan Stefan.

Keduanya saling berpandangan. Bingung. Stefan mengambil kedua amplop itu, kemudian memberikan satu pada Yuki. Mata keduanya membulat besar saat melihat tiket pesawat didalam amplop.

"Itu untuk kalian pergi bulan madu," ujar Regina senang.

"APA?!? BULAN MADU???" pekik Yuki dan Stefan bersamaan.

"Lho, kenapa kalian kaget gitu? Dimana-mana yang namanya pengantin baru harus pergi bulan madu," ujar Regina menjelaskan. Stefan menggeleng pelan.

"Ya ngga mungkinlah, Ma. Kita 'kan masih pelajar. Emangnya Mama mau kita dikeluarin dari sekolah gara-gara Yuki hamil." ujar Stefan.

"Iya, Ma. Stefan benar, kita masih muda. Masih banyak waktu untuk memikirkan hal itu," ujar Yuki kemudian. Stefan mengangguk setuju. Regina dan Indra tertawa geli. Stefan dan Yuki saling berpandangan. Bingung.

"Yang minta istri kamu hamil siapa, sayang." ujar Regina sambil tertawa geli. Kontan pipi Stefan dan Yuki memerah, mereka merasa malu dengan perkataan mereka tadi.

"Fan, Papa sama Mama memang memberikan tiket ini untuk bulan madu, tapi bukan bulan madu seperti yang kalian kira. Ini hanya seperti liburan biasa, tapi namanya Papa ganti jadi bulan madu untuk kalian," jelas Indra sambil tertawa geli. Stefan mendengus kesal. Ia dikerjai oleh kedua orangtuanya sendiri. Yuki hanya meringis kecil.

"Eumm... Pa, Ma, yang namanya liburan, berduaan aja ngga asyik dan seru." ujar Yuki sambil tersenyum. Regina dan Indra saling berpandangan. Stefan memandang Yuki lekat.

"Bukankah liburan dengan banyak orang itu akan menyenangkan. Apalagi dengan sahabat-sahabat sendiri," ujar Yuki sambil melirik Stefan. Lelaki itu tersenyum senang. Ia mengerti maksud Yuki.

"Kita mau pergi bulan madu, asalkan kita boleh bawa sahabat-sahabat kita, gimana?" tanya Stefan.

Skakmat. Senyum di wajah Regina dan Indra tiba-tiba memudar. Sepertinya, anak dan memantunya ini mulai kompak membalas mereka. Mereka saling berpandangan lagi. Yuki dan Stefan tersenyum, diam-diam mereka high five dan tertawa kecil. Indra memandang Yuki dan Stefan bergantian. Lalu ia memandang Regina. Ia melihat Regina mengangguk kecil.

"Berapa tiket lagi yang kalian butuhkan?" tanya Indra kemudian. Stefan tampak berpikir.

"Papa siapin delapan tiket lagi untuk kita. Jadi, total tiketnya ada sepuluh." ujar Stefan senang. Indra tercengang. Tapi ia kemudian mengangguk kecil.

"Yeaayy..." ujar Yuki dan Stefan senang sambil high five. Regina merengut kesal. Yuki dan Stefan tidak henti-hentinya tersenyum bahagia hingga keduanya pulang kerumah.

Regina menjadi uring-uringan setelah kepulangan Stefan dan Yuki. Ia berjalan mondar-mandir tidak jelas diruang tengah. Pasalnya, ia merasa menyesal telah menyetujui permintaan Stefan dan Yuki tadi. Indra hanya menggeleng melihat tingkah laku istrinya itu. Sesaat kemudian, Regina mengambil ponselnya lalu mencari nama di contact name. Ia tersenyum saat ditemukannya nama yang ingin ia telepon.

"Halo, Kim. Misi gagal. Mereka ngga pergi berduaan, jadi mereka mengajak teman-temannya untuk pergi." cerita Regina. Terdengar tawa geli Kimberly diseberang sana.

"Tante tenang aja, kita pake Plan B." ujar Kimberly.

"Plan B?" ujar Regina bingung.

"He-eh, Tante ngga perlu khawatir. Semua akan berjalan lancar," ujar Kimberly sambil tersenyum.

"Oke, Tante serahin semuanya sama kamu ya, cantik." ujar Regina senang sembari memutuskan komunikasinya.

Regina tersenyum senang. Wajah cemasnya sudah hilang setelah berbicara pada Kimberly. Entah apa lagi yang akan direncenakan oleh Kimberly kali ini. Tapi Regina yakin, semua akan berjalan sesuai dengan apa yang ia harapkan.

* * *

Sehari setelah rencana bulan madu dibicarakan, Stefan dan Yuki pun menceritakan pada sahabatnya masing-masing. Mereka dengan senang hati untuk ikut bersama Yuki dan Stefan. Sekarang adalah hari keberangkatan mereka. Yuki, Stefan, dan Kimberly sudah menunggu di bandara. Tak lama kemudian, Adi dan Nina datang. Lalu disusul oleh Ali, Kevin, dan Nasya.

"Sya, Rangga ngga jadi ikut?" tanya Stefan yang melihat Nasya berjalan sendirian.

"Iya, dia mendadak ada urusan." jawab Nasya sambil tersenyum kecil.

"Oke, kalo gitu ayo kita berangkat!!!" seru Stefan.

Sebenarnya, detik-detik terakhir sebelum keberangkatan, Stefan telah mengubah arah tujuan mereka sebenarnya. Indra memberikan tiket dengan tujuan Yogyakarta, tapi Stefan mengubahnya dengan tujuan Bali. Sepanjang perjalanan, Stefan tidak hentinya tersenyum. Akhirnya, moment yang ia tunggu selama ini, berlibur bersama teman-temannya ke Bali. Yuki yang duduk di sebelahnya hanya menggeleng pelan melihat tingkah suaminya itu. Ia mengerutkan keningnya karena bingung dan penasaran.

"Lo kenapa sih, dari tadi gue liat senyum-senyum sendiri," ujar Yuki. Stefan menatap Yuki sambil tersenyum.

"Gue udah bikin Papa sama Mama shock therapy," ujar Stefan sambil memainkan kedua alisnya.

"Maksud lo?" tanya Yuki tambah penasaran.

"Sebenarnya Papa ngirim kita ke Yogyakarta, tapi gue ubah tujuannya ke Bali. Hebat 'kan gue, hehe" jelas Stefan sambil tersenyum senang.

Yuki menyipitkan matanya kemudian ia tersenyum geli. Karena ia membayangkan betapa stresnya Papa dan Mama mertuanya dirumah. Benar saja, sekarang giliran Indra yang mondar-mandir, uring-uringan tidak jelas di rumah. Pasalnya, beberapa menit yang lalu ia mendapat tagihan pembayaran tiket yang masih belum lunas. Indra terkejut, padahal semua pembayaran sudah lunas. Dan yang paling membuat Indra sangat terkejut adalah tempat tujuan bulan madu mereka yaitu, Bali.

* * *

"Welcome to Bali..." pekik Ali, Stefan, dan Kevin bersamaan. Mereka tertawa bersama sambil loncat-loncat kegirangan. Liburan bersama merupakan impian mereka selama ini. Dan sekarang baru ada kesempatan.

"Norak!!!" desis Adi tajam yang berjalan melewati mereka. Stefan langsung terdiam. Lalu menatap Adi tajam. Ia pun berjalan mendekati Adi.

"Kalo ngga karena si norak ini, lo ngga bakalan ada di sini," ketus Stefan.

Adi membalas tatapan Stefan yang tajam. Keduanya saling beradu pandang. Seperti ada kilatan diantara mata keduanya. Yuki yang merasakan ada aroma pertengkaran segera berjalan mendekati keduanya. Yuki berdiri disebelah Adi.

"Adi, udah..." ujar Yuki pelan. Adi memandang Yuki lekat, lalu ia mengangguk pelan. Stefan yang melihat itu langsung berjalan mendekati Yuki dan menggenggam tangan gadis itu.

"ISTRI GUE!!!" ucap Stefan penuh penekanan sembari menarik tangan Yuki dan membawanya pergi. Adi mengepalkan kedua tangannya menahan kesal.

Setelah menaiki mobil dari bandara, akhirnya mereka berjalan menuju penginapan keluarga Stefan. Setibanya disana, mereka disambut begitu meriah. Ada tiga orang gadis yang menari untuk penyambutan tersebut. Mereka semua takjub melihat penyambutan itu, kecuali Stefan. Ia berpikir, kalau ada penyambutan untuknya dan teman-temannya, itu berarti... Dari kejauhan terlihat seorang lelaki paruh baya yang berjalan ke arah Stefan. Lelaki itu tersenyum melihat Stefan.

"Den Stefan, apa kabar?" tanya lelaki itu dengan logat khas orang Bali. Stefan tersenyum.

"Baik. Pak Wayan sendiri apa kabar?" tanya Stefan balik.

"Saya baik, Den." jawab Pak Wayan. Kemudian matanya tertuju pada Yuki yang sedang tersenyum padanya.

"Ini pasti Non Yuki, istri Den Stefan." ujar Pak Wayan. Yuki tampak terkejut. Kemudian ia tersenyum dan mengangguk kecil.

"Kok Bapak tahu sih? Kan banyak nih cewek disini," tanya Kimberly sambil tersenyum.

"Kelihatan mirip. Itu jodoh namanya, Non." ujar Pak Wayan yang membuat Kimberly tertawa senang. Yuki menyenggol siku Kimberly.

"Ya sudah, mari saya antar semuanya kedalam." ujar Pak Wayan.

Mereka pun mengikuti Pak Wayan dari belakang. Tersedia tiga kamar. Satu kamar untuk para gadis dan yang satunya untuk para anak lelaki. Sedangkan satu kamar lagi khusus untuk Stefan dan Yuki. Begitu perintah Indra pada Pak Wayan. Stefan dan Yuki tidak bisa menolak, karena kalau tidak mereka pasti akan dihukum. Setelah berberes, mereka pun memutuskan untuk bermain dipantai. Namun tanpa sepengetahuan Stefan dan Yuki, Kimberly mengajak yang lainnya untuk berkumpul dan berbicara.

"Kita semua tahu Stefan dan Yuki sudah menikah. Dimana-mana yang namanya pernikahan pasti ada pestanya. Kita tahu kalo pernikahan mereka tanpa pesta. Rencananya, gue pengen ngajakin kalian untuk bikin surprise parti buat mereka. Ada yang setuju?" tanya Kimberly setelah menjelaskan maksud dan tujuannya mengajak mereka berkumpul. Nina memandang Adi sekilas.

"Meskipun gue agak kaget waktu tahu mereka udah nikah, tapi mau gimana pun juga Yuki tetap sahabat gue. Jadi gue setuju." ujar Nina.

"Karena Stefan sahabat gue, otomatis gue setuju dong." ujar Nasya. Kimberly melihat Kevin menarik napas pelan.

"Gue setuju," ujar Kevin pelan. Ali menoleh takjub.

"Karena Kevin setuju, gue juga setuju." ujar Ali. Kimberly memandang Adi lekat. Adi yang dipandang terus menerus oleh Kimberly akhirnya menyerah.

"Iya, gue juga setuju." ujar Adi pelan.

"Oke... Bagus kalo gitu. Begini rencananya..."

* * *

Yuki dan Stefan tidak menyadari kalau mereka sudah ditinggal sahabat-sahabatnya. Keduanya malah asyik bermain di tepi pantai. Berlarian dan saling menyiram air ke wajah satu sama lain. Stefan celingukan, ia tidak melihat Ali maupun Kevin. Yuki juga tidak melihat Kimberly dan kedua sahabatnya.

"Mereka ninggalin kita, ya?" tanya Yuki.

"Kayaknya sih gitu. Atau mungkin mereka jalan-jalan ke suatu tempat." ujar Stefan. Yuki mengangguk pelan menyetujui perkataan Stefan.

"Gimana kalo kita jalan-jalan ke pasar, sekalian cari oleh-oleh buat Mama sama Papa." ujar Yuki. Stefan tampak berpikir, kemudian ia mengangguk setuju.

Keduanya pun pergi menuju pasar. Mereka berjalan kaki sambil menikmati pemandangan laut. Di penginapan, Kimberly dan lainnya tengah sibuk mempersiapkan pesta untuk Yuki dan Stefan.

Nina dan Nasya mengurusi dekorasi bersama Ali dan Kevin. Sedangkan Kimberly sibuk dengan menyiapkan makanannya. Dan Adi, ia sibuk menyusun barang-barang, seperti kursi dan meja. Rencananya mereka akan mengadakan garden party untuk pesta pernikahan Yuki dan Stefan.

Kembali ke Stefan dan Yuki, keduanya asyik melihat barang kerajinan tangan yang cantik. Ada sepasang gelang berwarna kayu. Bentuknya sederhana tapi unik. Yuki ingin membelinya, tapi sayang gelang itu harus dibeli berpasangan. Karena gelang itu adalah gelang couple. Jadi Yuki mengurungkan niatnya untuk membeli gelang tersebut.

Hampir 3 jam mereka berkeliling pasar. Yuki dan Stefan sudah mendapatkan oleh-oleh untuk orangtua dan sahabat-sahabatnya. Mereka pun memutuskan untuk segera kembali ke penginapan. Tapi saat mereka tiba dipenginapan, mereka dikejutkan oleh dua orang suruhan Pak Wayan. Mereka diperintahkan untuk membawa Yuki dan Stefan ke suatu tempat. Mereka masing-masing dibawa ke sebuah kamar. Didalam kamar tersebut sudah ada dua orang yang menunggu.

Yuki diperintah untuk duduk di depan cermin. Wajahnya dibersihkan. Sesaat kemudian, seorang penata rias telah memolesi wajah Yuki dengan berbagai macam make up. Kemudian rambut Yuki digulung ke atas, lalu dihiasi dengan bunga-bunga kecil diatasnya. Tak lama kemudian, satu orangnya lagi membawa sebuah gaun putih. Gaun yang panjangnya hanya selutut. Yuki memperhatikan gaun itu lekat. Gaun itu terlihat seperti gaun pengantin yang sangat sederhana. Orang itu membantu Yuki mengenakan gaunnya. And finish... Yuki terlihat sangat cantik dengan gaun itu.

Di kamar lain, tidak ada bedanya dengan kamar Yuki. Wajah Stefan dibersihkan. Rambutnya ditata rapi. Kemudian seseorang membawakannya sebuah tuxedo hitam. Stefan pun mengenakannya, meskipun ia sedikit bingung untuk apa ia memakai tuxedo. Tapi ia tidak ingin banyak bertanya. Ia takut ini adalah salah satu perintah orangtuanya. Ia hanya tidak ingin kena hukuman setelah pulang dari Bali. Finally, Stefan terlihat sangat tampan dengan tuxedo hitam yang pas ditubuhnya.

Yuki dan Stefan keluar dari kamar masing-masing. Keduanya pun saling terpaku saat melihat penampilan masing-masing. Stefan tidak berkedip saat melihat Yuki yang berdiri di depannya. Gaun putih itu sangat cocok dan pas di tubuhnya. Dihiasi bunga-bunga di rambutnya menambah manis wajah Yuki yang cantik. Yuki tersenyum sambil melambaikan tangannya pada Stefan.

"Gue rasa ini rencananya..."

"Kimberly..." potong Stefan cepat. Yuki tertawa kecil dan mengangguk.

"Kita ikuti rencana cewek gila itu," ujar Stefan seraya mengulurkan lengannya ke arah Yuki.

"Ayo, istriku..." ujar Stefan yang membuat Yuki tertawa kecil. Memperlihatkan wajah manisnya. Yuki pun mengamit lengan Stefan.

"Target keluar. Posisi stand by," bisik Kimberly melalui earphone-nya.

Stefan dan Yuki berjalan ke arah tempat yang ditunjukkan oleh orang suruhan Pak Wayan. Mereka terdiam sejenak saat memasuki area belakang penginapan. Gelap. Namun saat mereka melangkah turun, satu per satu lampu taman mulai hidup. Dentingan piano pun mulai terdengar. Keduanya berjalan hingga ke tapak batu yang terakhir. Mereka saling berpandangan. Mereka terlihat sangat takjub. Taman belakang penginapan ditata begitu indah. Ada meja dan kursi serta bunga-bunga yang cantik. Di sudut, ada Adi yang memainkan piano. Di sebelah kiri jalan, ada Ali yang menghidupkan lampunya satu per satu. Di sebelah kanan, ada Nasya, Kevin, Kimberly, dan Nina.

"Surpriseeee...." teriak Kimberly dan lainnya bersamaan. Yuki dan Stefan tersenyum senang.

"Kita bikin pesta pernikahan sederhana buat kalian," ujar Nina senang.

"Makasih ya, semuanya. Gue sama Yuki benar-benar kaget ngeliatnya. Ini pasti ide gila lo kan, Kim." ujar Stefan. Kimberly tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya.

"Gue ngga akan ngelewatin pesta pernikahan lo, baby." ujar Kimberly seraya memeluk Yuki.

"Makasih ya, Kim." ujar Yuki pelan. Kimberly mengusap punggung Yuki lembut.

Mereka pun saling berpelukan dan mengucapkan selamat atas pernikahan Stefan dan Yuki. Hal yang tidak bisa dilewati, berfoto ria. Stefan dan Yuki berpose layaknya pengantin baru. Mereka semua terlihat sangat senang dan menikmati pestanya. Stefan, Ali, dan Kevin duduk dimeja yang sama. Dimeja yang satunya lagi, ada Yuki, Kimberly, dan Nina. Dan di meja sebelahnya ada Adi dan Nasya. Mereka menikmati makanan yang telah disiapkan oleh Kimberly.

"Vin, thanks ya. Lo udah..."

"Lo kan sahabat gue, Fan. Gue cuma minta satu hal sama lo, jangan sakiti Yuki." ujar Kevin. Stefan tersenyum dan mengangguk kecil.

"Gue ngga nyangka satu sahabat kita udah melepas masa lajangnya, haha..." ujar Ali sambil tertawa. Mereka pun jadi tertawa bersama.

Pesta berakhir dengan sukses. Mereka pun kembali ke kamar masing-masing. Yuki hendak naik ke tempat tidur, namun langkahnya terhenti saat melihat Stefan sudah ada diatas tempat tidur. Ia menatap Stefan sinis. Stefan hanya tersenyum miring. Matanya melirik ke arah sebelahnya. Ia menepuk-nepuk pelan spring bed disebelahnya.

"Kita ke sini kan mau bulan madu. Ayo, sayang... mendekat sini," ujar Stefan sambil terkekeh geli.

"Lo mau mati ya!!!" ketus Yuki yang membuat Stefan tertawa geli.

Yuki mengambil guling dan meletakkannya ditengah-tengah. Kemudian ia pun naik ke tempat tidur. Diluar, Kimberly berdiri didepan pintu kamar Stefan dan Yuki. Ia menempelkan telinganya ke pintu. Berusaha mendengarkan suara yang ada didalam. Hening. Tidak terdengar apapun. Ia pun berusaha mengintip dari lubang kunci.

"Ngapain lo disitu?" tanya seseorang dari arah belakang Kimberly.

Continue lendo

Você também vai gostar

s*x story De nyx

Ficção Adolescente

125K 267 4
❗18+ alert❗
Ketos Galak De Citra Novy

Ficção Adolescente

6.5M 520K 59
[TSDP #1] Siapa sih yang nggak mau jadi pengurus inti OSIS? Satu sekolah bakal kenal, "Oh, dia Shahia Jenaya? Sekretaris OSIS Angkatan 72?" Seenggakn...
36.3K 5.3K 20
Siapa sangka nasib Kim Bobby begitu mujur? Selain ditunjuk sebagai asisten dosen hitung-hitung menambah uang jajan, ujungnya malah bermitra dengan sa...
132K 29.7K 25
tanpa sepengetahuan arin, 3 tahun yang lalu, alumninya juga pernah memainkan permainan werewolf. ps: read 'card' first [hr: #467 in ff 180309] +lower...
Wattpad App - Desbloqueie funcionalidades exclusivas