UNWORTHY [TAMAT]

Por _hellobia

38.2K 2.4K 979

[Seri 2 | Nuraga / Book2*] "Kita pergi sekarang!" pekik lelaki itu. Aiyla mengangguk tanpa ragu. Ia rasa, be... Más

UNWORTHY
00 - Prolog
01 - Tempat Pulang
02 - Untuk Keluarga
03 - Penyerangan Adnan
04 - Menyenangkan Hati
05 - Malam Tanpa Bintang
06 - Hak Setiap Makhluk
07 - Dikorbankan
08 - Seorang Ibu
09 - Dihancurkan
10 - Harap di Tengah Keputusasaan
11 - Oase di Padang Pasir
12 - Pikiran yang Sempit
13 - Kebetulan
14 - Rumah untuk Aiyla
15 - Haruskah Pergi?
16 - Haruskah Kehilangan?
18 - Menemani Sekali Lagi
19 - Memiliki Nilai
20 - Mempermainkan?
21 - Berbeda
22 - Terulang Lagi
23 - Kabar Buruk atau Baik?
24 - Penguntit
25 - Cemburu
26 - Dipindahkan
27 - Atmosfer di Bandara Soetta
28 - Perasaan
29 - Adik Ipar
30 - Perlakuan Serupa
31 - Rencana Makan Malam
32 - Paham Posisi
33 - Sebuah Ungkapan
34 - Tetangga Aneh
35 - Perempuanku
36 - Terkena Imbas
37 - Keenankah?
38 - Terinterupsi
39 - Selamat Jalan
40 - Kenyataan
41 - Melepas
42 - Bertemu di Bandara
43 - Pilu
44 - Di Ambang Kematian
45 - Kelemahan
46 - Menghadirkan
47 - Hari yang Ditunggu
48 - Direnggut Takdir
49 - Tanggung Jawab
50 - Orang Asing
51 - Memaafkan
52 - Membulatkan Niat?
53 - Perlu Bicara
54 - Belajar
55 - Akhir Kita | Vote Cover
EPILOG
UNWORTHY SEASON 3

17 - Memberi Sepenuh Hati

466 42 4
Por _hellobia

Berulang kali pintu diketuk, akan tetapi orang di dalam ruangan tampaknya tidak membiarkan seorang pun menemuinya.

"Merhaba!"

Ozan menoleh, mendapati seorang wanita keluar dari pintu yang lain. Ia sering melihatnya setiap kali mengantar pulang Aiyla. Namun, tidak begitu mengenalnya. "Merhaba."

Emine, wanita itu melambaikan tangan. Meminta Ozan untuk menghampiri dan masuk ke dalam flatnya.

"Kenapa, Bi?"

"Kau temannya Aiyla?" Emine balik bertanya seraya berbisik setelah mereka berada di dalam flatnya.

"Ah, ya. Sejak kemarin dia tidak masuk, Bibi tahu dia ke mana? Apakah dia sakit?"

Mendadak raut wajah Emine berubah sendu. Masih diingatnya jeritan dan isak tangis Aiyla malam itu, dan saat ini semua itu kembali memenuhi indra pendengarannya. "Sangat disayangkan, dia sudah pergi,"

"Pergi?" beo Ozan tak mengerti. "Apa dia di kafe?"

Emine menggelengkan kepala, dirinya sendiri bahkan tidak tahu di mana Aiyla berakhir. Yang jelas Emine berharap Aiyla baik-baik saja di luar sana. "Pergi membangun kehidupan yang lebih layak. Dia tidak akan lagi kuliah, atau semacamnya. Dia pun tidak akan lagi menemuimu, menemuiku, atau orangtuanya. Ya ... itu akan lebih baik untuknya."

"Apa yang telah terjadi?"

Bagi Ozan, itu merupakan pertanyaan paling omong kosong. Dirinya sendiri tahu bahwa Aiyla diperlakukan begitu buruk di hari terakhir sebelum perempuan itu tidak lagi hadir. Seketika rasa bersalah meruak dalam dadanya. Ozan mengutuki kebodohannya yang justru mengikuti teman-teman kuliah untuk memojokkan Aiyla.

"Ayahnya begitu buruk, dia diperlakukan buruk di sini. Bahkan aku sendiri malu mengakui bahwa pria itu merupakan seorang manusia. Tabiatnya sudah seperti seorang hewan. Ck," Emine menahan geram. "Sebaiknya kau doakan saja dia. Semoga Tuhan melindunginya di mana pun dia berada saat ini."

Ozan mengangguk lemah. Ia pun memilih berpamitan dan pergi dari sana.

Penyesalan selalu saja datang di akhir kisah. Sialnya Ozan merasa bahwa hidupnya selalu saja dipenuhi rasa penyesalan. Lantas sekarang bagaimana memperbaiki segalanya di saat Aiyla sudah memilih untuk enyah dari hal-hal berbau masa lalu. Benar-benar bodoh.

***

Sudah bermenit-menit Daffa menunggu seraya bersandar di dinding dekat pintu kamar mandi, menyilangkan kedua lengan di depan dada seraya menatap lurus. Namun, ia hanya berdiri menunggu. Tak berniat mengganggu kegiatan Aiyla di dalam sana.

Tentu saja Daffa mendengar tangisan di dalam sana, hanya saja menurutnya dengan membiarkan Aiyla menangis akan membuat perempuan itu merasa lebih baik.

Entah apa yang Aiyla tangisi. Karena jika sebab di baliknya adalah ingatan kejadian bersama ayah tirinya, maka Aiyla tidak akan menangis secara sembunyi-sembunyi seperti saat ini.

Keran air di wastafel rupanya baru dinyalakan, setelahnya terdengar gemericik air yang singkat. Pintu mulai dibuka, dan Daffa masih belum beranjak dari posisinya. Bahkan setelah Aiyla berdiri di sampingnya.

"K-kau. Mengapa kau berdiri di sini?"

Suara Aiyla terdengar parau, sesekali terdengar menghilang di akhir kata. Jelas saja itu disebabkan oleh tangisannya. Daffa masih bersedekap, menatap Aiyla melalui ekor matanya. "Hanya ingin."

Aiyla mengubah posisinya, menjadi berhadapan dengan Daffa. "Kau benar-benar akan pergi besok, Daffa?"

Mendapati pertanyaan tersebut membuat otaknya bekerja keras untuk berpikir. Hingga pada akhirnya sebuah dugaan muncul di sana. Apakah Aiyla menangisi kepergiannya?

"Bagaimana pun Turki bukanlah tempat asalku, juga bukan tempat tinggalku. Besok atau hari lainnya, pulang ke Indonesia adalah suatu hal yang pasti bagiku," balas Daffa seraya menatap Aiyla tepat di netranya. Hanya dua detik, karena pandangan Daffa beralih pada hal lain setelahnya.

"Tetapi Turki adalah tempat di mana aku menemukan malaikat penyelamatku." Aiyla mencicit.

"Maaf. Apa kau mengatakan sesuatu?"

Aiyla mendongak, kemudian melakukan gelengan kepala. "Aku akan merindukanmu."

Daffa tersenyum tipis. "Senang bertemu denganmu."

Dengan nanar Aiyla menatap Daffa, mengangguk singkat seolah tak benar-benar rela membiarkan lelaki itu pergi.

"Pertemuan kita berlangsung begitu singkat. Akankah kau tetap mengingatku setelah kau kembali ke Indonesia?" Aiyla kembali bertanya.

"Mungkin?" Daffa terdiam beberapa saat. "Kuharap kau hidup lebih layak setelah ini,"

"Kuharap juga begitu."

Daffa menurunkan kedua lengannya, berdiri lebih tegak. Berjalan menuju nakas, dan mengeluarkan sebuah buku kecil lengkap dengan bolpoinnya. Tangannya mulai mengguratkan beberapa huruf di atas kertas polos tersebut, kemudian memberikannya kepada Aiyla. "Sudah kutuliskan surel, nomor ponsel, media sosial dan yang lainnya. Lengkap. Kau bisa menghubungiku di sana."

Daffa hanya berniat membuat Aiyla merasa lebih tenang. Karena dari caranya berbicara saja, Daffa sudah bisa menyimpulkan bahwa Aiyla tidak ingin melihatnya pergi. Entah apa yang sebenarnya ada di dalam pikiran perempuan tersebut, mungkin saja Aiyla mengartikan sikapnya menjadi sesuatu yang berlebih. Sebenarnya ada banyak kemungkinan yang bisa saja terjadi, akan tetapi itu tidak benar-benar diketahui olehnya. Hanya Aiyla dan Allah saja yang tahu.

Aiyla menerima secarik kertas itu, membaca kata demi kata yang tertulis. Namun, tulisan yang berada paling bawah justru menyita perhatiannya.

"Jika kau mengingatku, maka aku pun akan begitu."

Sebuah senyuman merekah di bibirnya, Aiyla mengangguk ketika merasakan gelenyar hangat di dalam dadanya.

Melihat senyuman itu secara tak sengaja membuat Daffa diam-diam membuang napasnya lega. Ia pun memilih untuk berjalan menuju lemari, menyiapkan koper untuk ia benahi.

***

Pukul 5.16 petang, menggunakan mobil yang biasa Daffa sewa dari hotel ia membawa Aiyla untuk pindah ke rumah baru perempuan itu. Setidaknya malam ini Daffa bisa tidur seorang diri sebelum pergi fajar nanti.

"Astaga!"

Daffa mengernyit ketika tiba-tiba saja Aiyla memekik di belakang sana. "Ada apa?"

Aiyla terus memusatkan pandangan ke luar sana, sementara kini tubuhnya mendadak bergetar tak keruan.

Mengikuti arah pandang perempuan di belakang, Daffa semakin dibuat bingung karena mendapati beberapa pria di tepi jalan. Berbincang tak terlalu serius tetapi tetap terlihat menyeramkan. "Aiyla, kenapa? Kau mengenal mereka?"

"M-mereka teman ... Mereka teman-teman pria itu."

"Jangan dilihat, mereka tidak akan datang."

"T-tapi ...."

"Ada aku. Tenanglah."

Daffa merasa heran pada dirinya sendiri. Mengapa setiap kali Aiyla merasa ketakutan, ataupun sedih, selalu ada kata ada aku, tenanglah. Seolah Daffa bisa dan ingin menjamin keselamatan Aiyla dengan menaruhkan dirinya sendiri. Ini aneh.

Tiba di rumah baru Aiyla, Daffa membawakan tas yang sempat ia belikan ketika membeli pakaian Aiyla beberapa hari lalu. Sebelumnya mereka sempat singgah ke minimarket untuk membeli beberapa keperluan dan juga makanan yang akan cukup untuk beberapa hari ke depan.

"Kemarikan tasnya, Daffa. Biar aku simpan di kamar." Aiyla mengulurkan tangannya. Saat hendak meraih tali tas, Daffa justru menjauhkannya. Dan ketika tangannya kembali di samping tubuh, Daffa justru mengangsurkan tas tersebut. Hal itu terjadi selama tiga kali, membuat Aiyla kesal. "Daffa ...."

Tiba-tiba saja Daffa tergelak. Melihat wajah Aiyla yang kesal justru terlihat menyenangkan. "Ternyata kau mudah kesal juga. Sangat lucu!"

"Hahaha. Lucu kau bilang?" Aiyla mendelik dan masuk ke kamarnya, membawa serta tasnya. Meninggalkan Daffa yang menggelengkan kepala.

"Jadi kangen Kayla," gumam Daffa seraya berjalan menuju dapur. Di sana terdapat meja makan yang tak terlalu besar, terdapat empat kursi yang mengitarinya. Kitchen set yang lengkap, serta satu unit lemari es. Rumah tersebut didominasi oleh warna putih, termasuk bagian dapur.

Tak ingin membuang waktu, Daffa pun mulai mengisi lemari es yang masih kosong dengan beberapa bahan pangan yang dibeli. Menatanya sebaik mungkin.

Entah seberapa banyak uang yang telah Daffa keluarkan untuk seorang Aiyla, yang jelas Daffa telah memikirkan semuanya berulang kali. Ia tidak masalah dengan uang, yang jelas setelah dirinya pergi Aiyla bisa dipastikan hidup dengan aman dan nyaman. Meski nantinya perempuan itu sendirilah yang harus berjuang untuk kelangsungan hidupnya.

"Boleh aku siapkan makan malam?"

Daffa menoleh singkat tepat ketika dirinya nyaris selesai menyusun telur di balik pintu lemari es. "Oh, kau bisa memasak? Boleh, itu akan menjadi masakan perpisahan."

"Oh, ayolah. Jangan katakan itu," desah Aiyla seraya memakaikan apron ke tubuhnya. "Apa pekerjaanmu sudah selesai dengan lemari es itu?"

"Hampir."

"Kau duduk saja, biar aku yang mengerjakan sisanya." Aiyla hendak menarik lengan Daffa, tetapi tahu jika Daffa tidak akan menyukainya, Aiyla pun mengurungkan niatnya.

Memilih menurut, Daffa pun akhirnya mengambil duduk di salah satu kursi yang paling dekat dengan Aiyla. Tanpa sadar tangannya terangkat mengusapi bandul kalungnya. Kalung yang sebenarnya ia beli di tahun pertamanya mengudarakan pesawat hanya karena bandulnya unik dan lucu, tetapi sampai saat ini kalung tersebut masih menjadi benda favorit dan kesayangannya.

"Aiyla," panggil Daffa seraya berdiri di belakang Aiyla, menyisakan jarak satu langkah. Sementara kini tangannya sudah bergerak melepas kalungnya. "Berikan tanganmu."

Dengan dahi berkerut, Aiyla mengulurkan tangan kanan. Tak lama dari itu kalung tersebut mulai Daffa taruh di atas telapak tangan Aiyla. "Apa rusak lagi? Kau memintaku memperbaikinya lagi, ya?"

Daffa tersenyum tipis, mundur beberapa langkah hingga bagian belakang tubuhnya mengenai tepian meja makan. "Itu benda kesayanganku. Terima kasih telah memperbaikinya. Sekarang kuberikan padamu, dengan sepenuh hati."

Jumlah kata: 1373 words

Kalo kamu suka cerita ini, jangan lupa vote, komen dan share ke Instagram, Whatsapp atau media sosial kalian lainnya supaya temen-temen kalian bisa baca cerita ini juga.
Makasih

Posted on: 16 Mei 2021

Seguir leyendo

También te gustarán

266K 19.4K 60
JANGAN LUPA FOLLOW YA 😊😍 Mari kita dukung para penulis yang sudah berusaha keras mempublikasikan dan menyelesaikan setiap tulisannya dengan memberi...
159K 5.8K 34
⛔19++ "Biarlah aku mencintai dia dengan sewajarnya tanpa melebihi rasa cintaku pada-Nya." Misha Alhanan. "Ingin aku menyegerakanmu untuk menjadi pend...
56.2K 3.3K 32
[ |2| Nuraga Series / Book 1*] Bagi Akmal, jatuh hati dan tergila-gila pada seorang wanita benar-benar tak pernah ada dalam kamus hidupnya. Untuk me...
2.8K 1.6K 10
Azalea bertemu dengan Raka sahabat yang berubah menjadi kekasih. Perjalanan cinta mereka ternyata tidak sesederhana itu, memaksa Azalea merasakan luk...
Wattpad App - Desbloquea funciones exclusivas