UNWORTHY [TAMAT]

Oleh _hellobia

38.2K 2.4K 979

[Seri 2 | Nuraga / Book2*] "Kita pergi sekarang!" pekik lelaki itu. Aiyla mengangguk tanpa ragu. Ia rasa, be... Lebih Banyak

UNWORTHY
00 - Prolog
01 - Tempat Pulang
02 - Untuk Keluarga
03 - Penyerangan Adnan
04 - Menyenangkan Hati
05 - Malam Tanpa Bintang
06 - Hak Setiap Makhluk
07 - Dikorbankan
08 - Seorang Ibu
09 - Dihancurkan
10 - Harap di Tengah Keputusasaan
11 - Oase di Padang Pasir
12 - Pikiran yang Sempit
13 - Kebetulan
14 - Rumah untuk Aiyla
15 - Haruskah Pergi?
17 - Memberi Sepenuh Hati
18 - Menemani Sekali Lagi
19 - Memiliki Nilai
20 - Mempermainkan?
21 - Berbeda
22 - Terulang Lagi
23 - Kabar Buruk atau Baik?
24 - Penguntit
25 - Cemburu
26 - Dipindahkan
27 - Atmosfer di Bandara Soetta
28 - Perasaan
29 - Adik Ipar
30 - Perlakuan Serupa
31 - Rencana Makan Malam
32 - Paham Posisi
33 - Sebuah Ungkapan
34 - Tetangga Aneh
35 - Perempuanku
36 - Terkena Imbas
37 - Keenankah?
38 - Terinterupsi
39 - Selamat Jalan
40 - Kenyataan
41 - Melepas
42 - Bertemu di Bandara
43 - Pilu
44 - Di Ambang Kematian
45 - Kelemahan
46 - Menghadirkan
47 - Hari yang Ditunggu
48 - Direnggut Takdir
49 - Tanggung Jawab
50 - Orang Asing
51 - Memaafkan
52 - Membulatkan Niat?
53 - Perlu Bicara
54 - Belajar
55 - Akhir Kita | Vote Cover
EPILOG
UNWORTHY SEASON 3

16 - Haruskah Kehilangan?

463 38 4
Oleh _hellobia

Hi! Gimana lebaran kalian?

Aiyla dibuat bingung karena Daffa membawanya ke rumah yang pernah ia sambangi beberapa malam lalu. Yang lebih membingungkan adalah Daffa tampak begitu leluasa saat masuk ke dalam rumah sederhana berlantai kayu itu. Seolah rumah itu adalah miliknya, padahal setahu Aiyla ini merupakan milik Shahinaz.

Celana jeans berwarna hitam dipadukan dengan atasan tanpa lengan disertai mantel tebal yang selaras itu sudah sejak dua jam yang lalu membalut tubuhnya. Kaki beralaskan ankle boots berwarna hitam miliknya terus melangkah mengikuti Daffa yang berada di hadapannya.

"Mengapa kau mendapat akses masuk kemari?"

Pertanyaan itu yang sejak tadi ingin Aiyla sampaikan, akan tetapi baru kali ini dirinya berani menyampaikannya. Daffa tampak menoleh ke belakang, menghentikan langkahnya sebelum memutar tubuh menghadapnya.

"Di mana Shahinaz?" lanjut Aiyla.

"Dia sedang berada di rumah sakit, Gani pun di kantornya."

Aiyla mengangguk. "Lalu?"

"Tapi kuharap setelah tahu alasan mengapa aku membawamu kemari, kau tidak membantah atau bahkan menolaknya." Daffa mengajukan syaratnya.

"Memangnya—"

"Berjanji padaku."

"Kau ingin berbuat macam-macam—"

"Berjanji padaku." Daffa mengulang kembali ucapannya.

"Baiklah!" Aiyla membuang napasnya menyerah. "Aku berjanji."

Daffa meminta Aiyla untuk duduk di salah satu sofa, kemudian ia sendiri menyusul dengan mengambil duduk di hadapan perempuan itu. "Sejauh yang kau tahu, ini merupakan rumah milik Shahinaz. Benar?"

"Ya."

"Mulai saat ini, rumah ini adalah rumahmu," Daffa menjeda. "Aku telah membelinya."

"Apa?!" Aiyla yang terkejut sekaligus tak terima langsung berdiri. Namun, beberapa saat kemudian ia kembali duduk. Ia tertawa. "Apa kau sudah kehilangan akalmu? Kau baru mengenalku selama dua malam. Dan kau sudah mempercayakan sebuah rumah padaku?"

Daffa sudah menduganya. Lagi pula, manusia mana yang mau memberikan rumah pada orang asing seperti ini? Sepertinya memang benar bahwa dirinya sudah kehilangan akal sehatnya. "Besok fajar aku akan segera pergi. Bertepatan dengan itu, kau pun pastinya harus ikut pergi dari hotel itu. Lantas, ke mana kau akan pergi setelahnya? Menjadi seorang tunawisma? Tidak. Setidaknya kau akan aman di sini. Untuk menghidupi dirimu ke depannya, aku sudah berkompromi dengan Gani untuk mengajakmu bekerja di perusahaannya."

Air muka Aiyla berubah sedih. Bukan karena semua penuturan Daffa. Melainkan karena mengetahui bahwa Daffa akan pergi dan hilang dari hidupnya.

Saat kegelapan nyaris membuatnya tiada, Daffa hadir sebagai penerang dalam hidupnya. Saat keputusasaan menerpa, Daffa hadir membawa sebuah harapan baru dalam dirinya. Kesejukan yang Daffa berikan melalui tindakannya berhasil mengubah keringnya jalan kehidupan yang Aiyla pijaki. Lantas, jika beberapa hari yang singkat ini Daffa telah berperan penting dalam hidupnya, ke mana dan bagaimana cara Aiyla melewati hari selanjutnya?

"Beberapa dokumen rumah ini akan kuurus bersama Gani. Aku tahu bahwa kau akan menolak bekerja di perusahaannya secara cuma-cuma. Jadi, aku meminta Gani untuk memberikan semacam tes saat kau melamar di sana." Seolah tak sadar dengan raut wajah Aiyla, Daffa terus menjelaskan, "Kurasa kau cukup pintar. Aku mengetahuinya hanya dengan mendengar bahwa kau mumpuni dalam berbicara menggunakan bahasa Inggris meski kebanyakan orang di sini tidak bisa. Kau sempat kuliah dan nyaris menyelesaikannya, juga pernah bekerja. Pastinya itu menjadi nilai lebih yang patut diperhitungkan oleh Gani."

"Daffa ...."

Suara serak Aiyla membuat atensi Daffa terpecah. Ia mendongak, menatap perempuan itu. "Iya?"

"Ke mana kau akan pergi?"

Daffa membuang napasnya panjang. Ia tidak suka dengan nada bicara yang Aiyla gunakan ketika bertanya demikian. Terdengar putus asa dan menyedihkan. "Untuk beberapa hari ke depan aku akan berada di Istanbul, setelahnya aku akan kembali ke Indonesia."

Bisakah kau tinggal lebih lama?

Nyatanya kalimat itu hanya tertahan di ujung lidah, tanpa mampu untuk benar-benar Aiyla ungkapkan kepada Daffa. Memiliki hak apa sampai dirinya berani meminta hal tersebut meski di dalam lubuk hatinya ia begitu menginginkan Daffa untuk berada di sampingnya lebih lama lagi.

Bagaikan cermin yang sengaja dibenturkan ke ubin, hatinya serasa dibuat pecah berkeping-keping. Aiyla bahkan tidak memiliki perasaan khusus terhadap Daffa. Tetapi mengapa mendengar bahwa dirinya akan kehilangan lelaki itu sukses membuatnya sesakit ini.

Aiyla bingung harus memberikan ekspresi seperti apa saat ini. Haruskah dirinya tersenyum atau menangis? Haruskah dirinya bahagia atau terpuruk lagi?

"Keluargaku sedang berada di perjalanan menuju Istanbul dari Indonesia," lanjut Daffa.

"K-keluarga?" Entah mengapa Aiyla menangkap hal lain dari kata keluarga tersebut.

Daffa berdeham, sepertinya Aiyla salah menangkap perkataannya. "Ayahku, ibuku dan juga adikku. Adikku perempuan, mungkin seusia denganmu."

Aiyla mengangguk mengerti, sedikit merasa bersalah karena sempat mengira jika Daffa telah berkeluarga. "Adikmu beruntung karena mendapatkan kakak sepertimu."

Hanya seulas senyum yang Daffa berikan untuk merespons ucapan Aiyla.

"Siapa namanya?"

"Kayla."

"Nama yang cantik," puji Aiyla.

Daffa mengangguk. "Aku tidak begitu sering berada di sampingnya."

Aiyla menatap Daffa sekali lagi. "Kenapa? Karena kau bekerja di kota yang berbeda?"

"Aku ... seorang pilot yang bekerja pada maskapai penerbangan komersial. Waktu liburku hanya sepuluh hari dalam satu bulan di hari kerja."

Perkiraan Aiyla mengenai profesi Daffa sangat-sangat salah besar. Alih-alih seorang prajurit, Daffa ternyata seorang pengemudi burung besi. Tetapi baginya itu keren. "Kau mengambil penerbangan domestik atau ....?"

"Awalnya penerbangan jarak jauh, tetapi karena satu dan lain hal aku pun memilih untuk mengambil penerbangan domestik," jelas Daffa seraya berdiri. "Baiklah, mari kita lihat-lihat seluruh bagian dari rumah ini!"

Percayalah, mengalihkan topik pada Kayla adalah cara Aiyla agar berhenti untuk merasa sedih. Namun, mendengar Daffa kembali membahas rumah justru membuat dadanya serasa ditekan. Meski tetap berdiri, dirinya tak sepenuhnya akan mengikuti keinginan Daffa. "Bisa kita pergi? Aku tahu bagaimana keadaan rumah ini."

"Kau menyukainya?"

"Lumayan. Bisa kita pulang?"

"Kenapa?" Daffa kembali bertanya, merasa ada yang aneh dengan Aiyla.

Aiyla menggelengkan kepala. Tak ingin terus ditanyai oleh Daffa, ia pun memilih untuk memutar tubuhnya hendak pergi. Namun, gerakannya berhasil diurungkan. Tak ingin membuat Daffa tersinggung dengan pergi begitu saja. "Ayo, Daffa!"

Daffa mengangguk. Berjalan lebih dulu, keluar dari rumah tersebut dan menguncinya setelah Aiyla pun berada di luar bersamanya. "Kau pegang kuncinya, ya!"

Mau tak mau, Aiyla tetap menerimanya.

Sepanjang perjalanan Aiyla hanya bisa diam, memandangi jalanan tanpa minat. Menyadari bahwa setelah hari ini, semuanya akan kembali berbeda. Mungkin saja kekosongan akan kembali menerpanya.

"Semuanya akan berjalan baik-baik saja meskipun aku tidak ada." Daffa yang duduk di kursi kemudi seolah paham betul apa yang sedang dipikirkan Aiyla.

Namun, Aiyla merasa perkataan itu justru membuatnya semakin takut untuk menghadapi hari esok. Tangan yang berada di samping tubuhnya terkepal, berusaha menahan sebuah benteng yang nyaris pecah di pelupuk matanya.

Lama menahan sesak, nyeri dan juga sesuatu di dalam matanya, Aiyla memilih naik ke kamar hotel lebih dulu. Membiarkan Daffa yang masih berada di parkiran.

Masuk ke dalam kamar mandi dan menguncinya, seketika tangisan tanpa isakan itu pecah. Benteng di pelupuk mata yang dijaga agar tetap kuat pada akhirnya roboh juga. Aiyla tidak bisa meminimalisasi kesedihannya. Aiyla tidak bisa menahan rasa sesak sekaligus nyeri di dalam dadanya.

Benaknya mulai bertanya-tanya.

Haruskah lagi-lagi dirinya mengalami kehilangan untuk ke sekian kalinya?Serasa Tuhan benar-benar selalu mempermainkannya dengan cara mengirim dan mengambil seseorang di dalam hidupnya secara berulang.

Question: Bagi yang udah baca ceritanya Akmal-Tari, kalian pasti tau siapa yang bucin di sana(meski ga terlalu). So, menurut kalian di cerita ini siapa yang bakal bucin antara Daffa dan Aiyla setelah baca bab kemarin dan sekarang?

Jumlah kata: 1126 words

Kalau kamu suka cerita ini, jangan lupa vote, komen, dan share ke Instagram, Whatsapp atau media sosial kalian lainnya supaya temen-temen kalian bisa baca cerita ini juga.
Makasih

Posted on: 14 Mei 2021

Lanjutkan Membaca

Kamu Akan Menyukai Ini

365K 24.8K 28
[ SQUEL ABOUT HEART ] πŸ“Œ BELUM DIREVISI ~β€’~β€’~ Ayesha Hanna Putri, gadis muda yang tak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Perempuan yang se...
14.9K 705 33
Follow sebelum membaca cerita ini.. ~ Sequel 'Cinta Terahir' ~ *** Entah sebuah keberuntungan apa tidak. tetapi ingatan pria itu selalu tertuju pada...
1.2M 58.8K 59
| SUDAH TERBIT | "Manusia saling bertemu bukan karena kebetulan, melainkan karena Allah lah yang mempertemukan." -Rashdan Zayyan Al-Fatih- Bagaimana...
86.5K 3.9K 21
Almaika Nafisa Putri Almortaza, seorang gadis cantik yang bekerja sebagai Human Resource Department atau lebih dikenal HRD di perusahaan ayahnya, ter...
Aplikasi Wattpad - Akses fitur eksklusif