Katanya Mantan [TAMAT]

By Lulathana

5M 358K 8.4K

Setelah 4 bulan pacaran, Jeya baru tahu jika cewek yang Ganesh suka bukan dirinya. Ini tentang Jeya dan Ganes... More

WARNING!
...
1. Hubungan Ini
2. Perasaan
4. Jadi Mantan
5. Pengakraban
6. Good Night
7. Udah Putus?
8. Mau Apa?
9. Makan Malam
10. Akrab
11. Keanehan
12. Menghindar
13. Hari Pertama Misi
14. Rencana Ultah
15. Kejutan
16. Setan
17. Kerja Sama
18. Nyaman
19. Pengganti
20. Rapat
21. Tips Ketiga
22. Pertengkaran
23. Sebuah Keputusan
24. Menghindar
25. Merasa Bersalah
26. Perasaan Aneh
27. Pengakuan
28. Perhatian Kecil
29. Cemburu
30. Sinyal
31. Pengakuan
32. Kejutan Kecil
33. Penyelamat
34. Maaf
35. Kesalahan kah?
36. Tapi Bohong
36. Insiden
37. Dekat
38. Family
39. Isn't a Problem
40. Pengganggu
41. Pensi
42. What's wrong with me?
43. Perasaan
44. Acara Malam
45. Spesial
46. Gagal
47. Salah Tingkah
48. Unplanned (Tamat)
49. Sica : Playdate
50. Rista: Nickname
51. Jola: Story Time!
52. Belajar Bareng
Absen
Ekstra 1. Hari Pertama
[Iklan]
Putus Berbayar
Blue Lies
EKSTRA
Setengah Dewasa

3. Surat Cinta

98.3K 6.6K 134
By Lulathana

Ganesh memutar-mutar gelang di tangannya. Ada dua manik berukir huruf J dan T yang menjadi peran utama di sana. Warna dominan hitam dengan campuran silver membuatnya terlihat  kuat dan manis secara bersaamaan. Harus Ganesh akui jika kemampuan Jeya patut diacungi jempol. Meskipun Ganesh pun tak menaruh ekspektasi karena sama sekali tidak mengerti, Jeya benar-benar memberikan hasil yang maksimal.

Sayangnya benda bagus itu hanya bisa Ganesh simpan sendiri hingga sebulan lebih lamanya. Ganesh juga tak mengerti mengapa dirinya sepengecut ini. Ia selalu tenang berbicara di depan semua warga sekolah, namun jika menghadapi seorang Sica, nyalinya benar-benar menghilang.
Ganesh takut melakukannya. Takut jika Sica tak memiliki rasa yang sama dan kekagumannya yang sudah lama pun menjadi sebuah patah hati.

"Nesh, Nesh!"

Ganesh segera memasukkan gelang itu pada saku ketika Ferdi datang menghampiri dengan tergesa.

"Ada apa? Kenapa buru-buru?"

Ferdi terlihat menunduk, mencoba menarik napas dan menormalkan paru-parunya yang terengah.

"Sica masuk UKS, dia pingsan karena demam."

"Hah? Beneran? Serius lo?" tanya Ganesh beruntun.

Ferdi mengangguk. "Udah cepet sana, sekarang waktu yang tepat buat lo mulai PDKT, jangan jalan di tempat mulu."

"Eu ... Oke." Ganesh pun bangkit dan mulai berjalan. Namun sebelum jauh Ferdi memanggilnya.

"Eh Nesh serius lo mau ke sana pake tangan kosong?"

"Ya terus? Gue harus bawa apa?"

Ferdi berdecak. Ia meraih jaket Ganesh yang tersampir di meja kemudian melemparkannya pada cowok itu.

"Lo beneran cupu ya urusan begini. Pokoknya lo harus belajar sama gue nanti," ucap Ferdi yang terlihat begitu kesal.

Ganesh meringis. "Oke-oke. Tapi ini jaketnya buat apa?" tanyanya yang masih tak mengerti.

"LO PINJEMIN KE DIA, TERUS NANTI DIA BALIKIN, LO ADA KESEMPATAN BUAT DEKET-DEKETAN, SUMPAH ANJIR INI GUE KESEL!"

Ganesh menggerak-gerakkan tangan memberi intruksi Ferdi untuk menarik napas agar emosinya mereda. Untungnya kelas sepi karena sekarang sudah masuk jam pulang dan hanya anak-anak eskul yang masih berdiam di sekolah.

"Sabar ya, Pak. Saya pergi dulu," pamit Ganesh karena menurut firasatnya akan ada emosi susulan jika dirinya tetap di sana.

"Eh bentar." Ferdi menghampiri Ganesh, mengambil jaketnya sebentar, entah melakukan apa, dan mengembalikkannya lagi.

"Udah, sana pergi."

oOo

Jarak kelasnya dan UKS begitu jauh, nyaris berada di sisi yang saling berseberangan. Sebenarnya mudah saja kalau lapangan tidak digunakan anak-anak basket, Ganesh bisa memotong jalan. Namun tak sopan rasanya jika harus melintas di tengah pertandingan.

"Je, sumpah ih ini lucu banget," seru cewek 20 meter di depan Ganesh yang tengah bercengkerama dengan cewek lainnya yang tersenyum tak kalah lebar.

"Gue seneng kalo lo puas."

Jarak yang semakin dekat membuat Ganesh tahu jika itu adalah Jeya. Sepertinya usaha dia tengah lancar.

"Oke, Je. Nanti gue order lagi deh."

"Iya, gue tunggu banget, makasih ya." Jeya melambai, arah yang temannya ambil membuat posisi tubuh Jeya membelakangi arah Ganesh.
Harusnya tak ada masalah, namun Ganesh benar-benar dibuat membelalak ketika melihat bagian belakang rok cewek itu.

Dasar cewek ceroboh, bagaimana bisa dia tidak menyadarinya.
Ganesh melihat sekitar, ia merentangkan jaket di tangannya kemudian menutupi rok Jeya.

"Ampun saya nggak punya duit!" pekik Jeya ketika merasakan seseorang berdiri mepet di belakangnya. Tangannya bahkan secara refleks terangkat.

"Gue bukan penjahat."

Jeya merasa mengenal suaranya, ia hendak berbalik namun Ganesh menahannya.

"Bentar dulu."  Dengan posisi yang seperti memeluk dari belakang, Ganesh mengikatkan lengan jaketnya di depan perut Jeya.
Setelah selesai, Ganesh pun menjauhkan dirinya.

"Eh, lo Nesh," ucap Jeya sebelum termenung pada jaket yang kini terpasang padanya. Beberapa saat dia terlihat berpikir sebelum tiba-tiba meloncat menjauh dengan tangan memebekap mulut membuat Ganesh terkaget.

"Nesh, lo nggak liat 'kan?" ucapnya yang bagi Ganesh tak masuk akal. Kalau Ganesh tak melihatnya, mana mungkin ia menutupinya.

"Bilang sama gue kalo lo nggak liat!"

Ganesh menggaruk kepalanya. Ganesh yakin Jeya sudah menangkap pemikiran yang tepat, tapi kenapa dia malah memilih denial. Memangnya suatu dosa bagi Jeya jika Ganesh melihatnya?

"Aaa ... Nesh jangan diem aja dong, ayo bilang kalo lo nggak liat." Jeya merengek nyaris mau menangis yang membuat  Ganesh semakin kelimpungan. Ini maksudnya bagaimana?

"Oke, oke, gue nggak liat."

Ganesh baru tahu jika ia bisa berucap magis, karena secara kontan Jeya berhenti merengek setelah dia berucap kebohongan yang dipaksa itu.

"Oke, thanks ya. Nanti gue balikin. Gue jamin cuci yang wangi." Cewek itu melengos pergi meninggalkan Ganesh yang benar-benar merasa kecerdasannya tak berfungsi.
Kenapa cewek itu menyuruh Ganesh berbohong jika pada akhirnya dia mengakui faktanya!

"Ah gila." Ganesh menggeleng-geleng. Semoga dia tak pernah berurusan lagi dengan cewek ceroboh, ribet, dan aneh seperti dia.

oOo

"Je itu pake jaket siapa?" tanya Ratih ketika sang putri yang baru saja pulang menyalaminya.

"Punya temen. Jeya nggak sadar dapet jadi bocor," jelas Jeya seraya meringis. Rasa nyeri di perutnya memang bukan sesuatu yang bisa ia hindari setiap bulannya. Ratih pun sudah hafal akan itu.

"Oke, ke kamar dulu. Nanti Mama bawain air hangat."

Jeya mengangguk. Ia berajalan memasuki kamar  dengan nama 'Jeyana Trinity' yang tertera jelas di pintunya.
Jeya melepas tasnya dan menyimpan begitu saja di atas kursi. Roknya yang kotor membuatnya mendengkus karena tak bisa langsung istirahat.

Jeya melepas jaket Ganesh yang sudah menjadi pahlawannya hari ini. Jeya akan mencucinya sendiri sampai bersih sesuai janji, hanya saja bukan sekarang, karena rasa keramnya kian menyiksa.

Sesuatu terjatuh ketika Jeya melempar jaket itu pada kursi. Sebuah kertas yang dilipat rapi. Karena rasa penasarannya yang terlalu tinggi, hingga mengalahkan apa pun, termasuk etiketnya tentang barang orang lain, Jeya pun membukanya.

Jeya secara refleks membekap mulut ketika melihat isinya adalah surat cinta. Nama Ganesh terbubuh di sana, juga JT.

Astaga, cowok itu sama sekali belum nembak ceweknya itu?
Ternyata sosok Ganesh bisa sepayah itu. Padahal dia punya modal yang sangat bagus, kata teman-teman ceweknya di sekolah, cuma cewek gila yang akan menolak seorang Ganesh Mahatma. Lantas apa yang membuat Ganesh sampai harus menunggu. Dia benar-benar tak lagi mengincar cewek gila 'kan?

Ah peduli apa Jeya, itu urusan orang. Sekarang fokus saja pada pemulihan tubuhnya, pesanan-pesanan customer banyak menunggu.

oOo

Langkah-Langkah Menjadi Pacar Idaman

Ganesh melihat tulisan di papan tulis kecil yang ada di kamarnya itu. Di sana sudah berdiri Ferdi yang sepertinya siap berpresentasi. Sementara Ganesh sudah disuruh duduk manis sebagai audiennya.

"Pacar idaman itu adalah dia yang bisa ngertiin semua tentang ceweknya. Jadi pacar idaman nggak harus kasih bunga, cokelat, atau barang mewah tiap waktu--"

"Bentar, kita ngapain ngelakuin ini?" potong Ganesh yang merasa ini terlalu aneh. Untuk apa Ferdi mempresentasikan hal yang rancu seperti itu.

"Sorry, tidak menerima pertanyaan di luar tema kelas kita kali ini," ucap Ferdi yang sudah menunjuk-nunjukkan sebuah tongkat. Entah didapat dari mana. Ganesh hanya pernah tahu jika penghuni kamar ini sebelumnya adalah seorang single parent yang mempunyai anak TK.

"Pacar idaman adalah dia yang selalu ada untuk hal yang seperti sepele namun sebenarnya bermakna. Di Korea, cowok itu ngiketin tali sepatu ceweknya, kadang bawain tasnya, dan itu dianggap perlakuan manis."

Ganesh menggeleng. "Sica bukan cewek kayak gitu. Dia itu mandiri, teliti, nggak mungkin sampe lupa ngiketin tali sepatu." Sangat jauh dari yang Ferdi sebutkan. Jika mereka nantinya pacaran, Ganesh pastikan seratus persen hal seperti itu tak akan pernah terjadi.

"Oke, oke. Sica emang kelihatannya nggak mungkin kayak gitu. Tapi kita pelajari secara global dulu biar lo nggak kaku, baru nanti kita khususin gimana jadi pacar idaman untuk seorang Sica."

"Enggak, nggak perlu. Gue udah tahu seperti apa Sica. Jadi nggak perlu kelas-kelasan kayak gini," tolak Ganesh.

"Ganesh Mahatma Manna, ayo ulangi apa yang yang barusan kamu katakan," ucap Ferdi dengan senyum lebar namum tongkat di tangannya sudah siap untuk melakukan penyiksaan.

"Ayo Ganesh," ulangnya.

"Hehe, Fer." Ferdi terkadang galaknya mengalahkan guru Matematika.

oOo

"Makasih ya, Bu," ucap Jeya begitu ia menerima jaket dari pegawai laundry yang tak jauh dari rumahnya. Kemarin sore ia mengirimnya, kebetulan pemiliknya kenal baik hingga pagi ini jaket Ganesh bisa kembali ke tangannya dalam keadaan baik. Maaf jika Jeya melanggar ucapannya tentang akan mencuci sendiri. Jeya hanya berpikir mengembalikannya lebih cepat, lebih baik. Dan jika mencucinya sendiri, hal itu tak akan terlaksana.

Jeya meninggalkan tempat itu kemudian menyetop angkot untuk pergi ke sekolahnya.
Jalanan tidak macet, Jeya sampai di sekolah dengan lancar, sekitar 5 menit sebelum bel. Jeya memang bukan tipe rajin seperti teman-teman sekelasnya yang lain.

Seperti yang sudah diduga, kelas sudah hampir penuh. Namun ada yang sedikit berbeda, pemandangan Jeya bukan mereka yang sudah buka-buka buku untuk belajar pagi, namun kerumunan-kerumunan yang menggosipkan sesuatu. Iya gosip bukan diskusi tentang pelajaran.

JT, please be mine.

Itu penyebahnya. Entah siapa yang sudah menulis itu di papan tulis. Jeya hanya mengangkat bahu tak peduli. Meski sempat sekelebat merasa jika JT bukanlah hal yang asing baginya.

Oh iya, Jeya teringat sesuatu. Surat Ganesh. Kebetulan cowok itu baru saja terlihat memasuki kelas. Jeya pun merogohnya. Tak lupa membawa serta jaketnya dan menghampiri cowok itu.

"Nesh, makasih," ucap Jeya seraya menyodorkan jaketnya. Namun memang dasar Jeya itu sulit sadar keadaan, dia tetap anteng menyunggingkan senyum ketika semua mata tertuju padanya.

Jeya dikasih pinjam jaket Ganesh? Ganesh meminjamkan jaketnya untuk seorang cewek?
Semuanya sibuk dengan spekulasi-spekulasi atas hal mengejutkan itu.

"Oh iya, gue nggak sengaja nemu ini di sakunya." Jeya menyodorkan suratnya, namun Ganesh malah menatapnya heran.

"Gue nggak bac--"

"JEYA LO GILA!" Tiba-tiba Rista datang dan menyambar kertas itu dari tangan Jeya.

"Gue 'kan udah bilang, bahwa cewek itu dikejar bukan ngejar. Ngapain pake ngasih surat cinta segala," Rista itu kata lain dari Ibu kedua Jeya. Bukan soal setia kawan atau apa, namun omelan dan cara memperlakukan Jeya mirip sekali dengan Ibu-Ibu.

"Itu bukan punya gue," larat Jeya yang sepertinya tak didengar Rista karena dia sudah fokus pada isi surat itu.

"OMG!" Rista membekap mulutnya. "Lo udah baca ini, Je?" Intonasi Rista masih tinggi namun nadanya berubah.

Jeya melirik Ganesh sebentar. "Eu ... belum. Gue cuma nemu itu di saku jaket yang Ganesh pinjemin," jawab Jeya seraya berdoa semoga Tuhan mau memaafkan kebohongannya. Dia tak mau dicap lancang seandainya berkata jujur.

"Guys yang di papan tulis itu dari Ganesh buat Jeya," seru Rista dengan aura membuncah seolah baru saja menemukan emas yang tengah dicari-cari.

"Hah?" ucap Jeya yang serentak dengan anak-anak lainnya.

"Je, ini itu surat cinta. Ganesh sengaja letakin di saku itu, lo malah bego nggak baca." Rista merentang-rentangkan kertas itu di depan wajah Jeya.

"Hah?" Jeya melakukannya untuk yang kedua kali.

"Duh, lo ya. Liat di papan tulis itu ada JT."

Ah iya sekarang Jeya ingat, JT itu inisial cewek yang Ganesh suka. Yang minta Jeya untuk buatkan gelangnya.

"JT itu Jeyana Trinity, masa lo nggak sadar sama nama lo sendiri."

"HAH?" Kali ini Jeya berucap lebih kencang karena yang keluar dari mulut Rista lebih mengejutkan.

"Ganesh nembak lo, Je," rinci Rista yang sadar jika temannya itu memang susah peka.

"Eu sorry ini kayaknya--" ucapan Ganesh terpotong oleh sorakan kompak anak-anak lain lengkap dengan tepukan tangan.

"Terima! Terima! Terima!"

Otak Jeya seketika merasa beku. Ganesh suka padanya? Jadi Si JT itu dirinya?
Gimana ini? Jeya sama sekali tidak naksir pada cowok itu. Apa Jeya tolak saja.

'Cuma cewek gila yang nolak Ganesh.' Tiba-tiba ucapan itu terngiang di kepala Jeya yang membuatnya menelan ludah.

"Ini pertama kalinya gue liat Ganesh naksir cewek. Kayaknya beneran suka." Cewek yang berada tak jauh dari belakang Jeya berucap. Membuat Jeya semakin bingung. Masa iya Ganesh suka padanya? Apa yang dia lihat coba? Jeya cukup tahu diri bahwa dirinya kelas jelata.

"Tapi kok si Jeya kayak nggak suka gitu? Jangan-jangan dia mau nolak. Wah aib banget buat Ganesh, masa sama cewek sekelas Jeya aja ditolak."

Jeya merasa semakin bingung. Kalau Jeya menolaknya, Ganesh pasti akan jadi bahan pembicaraan terpanas. Belum lagi dirinya juga pasti kena imbas. Bakalan dicap upik abu tak tahu diri karena menolak pangeran.

Tapi,

Tapi,

Tapi,

AAA! Mama bantu Jeya....
Ini kenapa Jeya bisa ada di situasi ini;

'Cuma cewek gila yang nolak Ganesh.'

'Ganesh, ganteng-ganteng nasibnya ngenes. Ditolak cewek.'

Jeya menggeleng-gelengkan kepala dengan mata terpejam erat. "Oke, gue terima," ucapnya yang membuat tepuk tangan semakin riuh terdengar.

Jeya memang tidak naksir Ganesh. Tapi ini semua demi nama baiknya, demi nama baik Ganesh juga. Tak apa-apa berkorban sedikit.

"Je...."

Jeya mendongak dan mendapati Ganesh yang menatapnya dengan tatapan yang tak bisa Jeya mengerti.

Ganesh menghela napas sebelum akhirnya merogoh saku. Ia mengeluarkan sebuah gelang sebelum menarik tangan Jeya dan memasangnkannya.

Orang-orang pun berteriak semakin heboh.

oOo

11 April 2021

Continue Reading

You'll Also Like

3.3K 1K 42
Hanya sepenggal kisah hidup ku Cinta monyet Persahabatan Pergamonan "Ay, ay mah gitu, gak sayang lagi sama aku!" *** "Cil, Cil, udah SMP tingginya ma...
709K 49.3K 41
❗GXG STORY❗ "Gak usah biarin, saya juga minta maaf" "Ini eskrim kamu, untuk yang tadi saya minta maaf" "Ara" "Maaf saya gak tau" "Mau bareng? Saya ma...
142K 10.3K 49
𝐒𝐄𝐋𝐄𝐒𝐀𝐈 + 𝐋𝐄𝐍𝐆𝐊𝐀𝐏 [PRIVATE ACAK, FOLLOW BARU BISA BACA] *** Namanya Gentala Marvel Valentino, sikap nya itu jahil, dan play boy cap kak...
3.1M 251K 48
Dibantu temannya, Juwi bertekad move on dan mencari pengganti setelah putus dari pacar sejak SMP-nya. Targetnya sebulan. Mulai dari berkenalan dengan...
Wattpad App - Unlock exclusive features