The Eve
This fic belongs to and written by
MC_ssin
REMAKE by
Me
.
Happy Reading
.
Update Every Saturday Night !
.
"Jungkook.. Oppa.. Kajima..kyaaa!!!"
Huh!
Sepasang mata Sinb segera terbuka saat ponsel yang diletakkan di samping bantalnya itu berdering. Ia mengatur nafasnya terlebih dahulu sebelum mengangkat ponselnya karena nada deringnya terus menjerit meminta untuk diangkat.
["Kenapa lama sekali mengangkatnya? Tsk.."]
"Kapan oppa pulang?"
["Molla.. jika selesai aku akan segera pulang.."]
"Oppa, jangan pulang malam hari. Jangan menyetir sendiri.."
Hening.
Sinb merasa khawatir dan gelisah saat tak mendapati suara dari seberang sana. Ia menatap layar ponselnya yang masih menunjukkan bahwa sambungan telepon mereka belum terputus.
[Apa kau bermimpi buruk? Geurae.. aku tidak akan pulang malam.. baiklah aku harus segera pergi, berangkatlah kesekolah ini sudah siang.."]
"Ini kan baru pukul 7 pagi.. Mwo?? Ah aku juga harus pergi.."
Sebelum Sinb mematikan ponselnya ia bisa sangat jelas mendengar tawa menyebalkan milik pria bernama Jeon Jungkook itu namun bukan hal penting untuk saat ini, dia harus bersiap ke sekolah. Menatap dirinya di cermin membuat mimpinya kembali terulang tapi ia berusaha untuk tidak mengingatnya dan membuat dirinya sendiri ketakutan. Ia hanya bisa berharap bahwa pria itu akan baik-baik saja.
.
.
.
.
"Ah akhirnya selesai juga.." gumam Jungkook sembari memijat lehernya. Sekejap ia teringat oleh wajah polos Sinb membuat jantungnya berdebar, "haish.. baru saja aku menembaknya aku meninggalkannya pergi.."
Jungkook mengambil kunci mobilnya dan membawa beberapa barangnya keluar dari hotel yang disewa seminggu ini. Ia memberikan kuncinya kepada resepsionis hotel tersebut lalu ia pergi menaiki taksi menuju banda Hong Kong.
Selama hampir 4 jam lebih ia menaiki pesawat menuju Incheon, Seoul. Kini sampailah ia disini. Ia sangat ingin bertemu dengan Sinb, pandangannya terpaku pada sopir ya lagi jika bukan Yoon Jin, "ah hyung.. kau datang.."
"Ye tuan.."
Yoon Jin membatu mendorong troli barang untuk membawa barang Jungkook yang cukup banyak itu "Hyung. Tas berwarna itu milikmu.."
"Aigo.. Jinjja gomawo.. kau tidak perlu repot.."
"Anio.. hyung sudah berkerja keras selama uni. Ah aku harus pergi ke suatu tempat, dan aku yang akan menyetir.."
Yoon Jin tak bisa menolak permintaan atasannya itu ia hanya menurutinya. Setelah memasukkan seluruh barang milik Jungkook ia segera berlari kecil menuju ke kursi di samping pengemudi.
Jungkook siap menancapkan gasnya seraya membayangkan ekspresi Sinb yang akan melihatnya nanti. Ia pun memilih untuk menyalakan radio untuk menemani mereka.
{"Tak terasa sudah memasuki pukul 8 malam ya.. cocok untuk menikmati lagu yang sedikit ceria agar tidak mengant-"}
'setengah 8 malam' ulang Jungkook. Ia teringat dengan larangan Sinh dan ia oun berjanji tidak akan melakukannya. Ia pun memilih menghentikan mobilnya disisi jalan. "Hyung, bisa gantikan aku.."
"Tentu saja.."
Setelah berganti tempat duduk, entah kenapa perasannya lebih tenang sekarang. Jungkook tengah duduk menatap jalanan dan berharap semua baik-baik saja.
Brak!
Kini pandangannya terpaku pada sebuah mobil yang tengah memutar di jalanan dan mobil lainnya terbalik. Yoon Jin segera menghentikan mobilnya mencari jarak yang cukup aman.
Entah hanya perasaan atau apa, mungkin hal ini yang dimaksudkan Sinb. Jika saja ia tidak berhenti tadi, mungkin dia juga akan bernasib sama, karena memilih untuk menghentikan mobilnya seseorang di mobil itu lah yang telah menggantikan posisinya.
Jungkook meneguk air liurnya seraya menghembuskan nafasnya berat bahkan ia tak bisa mendengar ucapan Yoon Jin saat ini. pria itu mencoba menelepon polisi setempat untuk menangani kasus ini namun Jungkook tak bisa menunggu lagi, ia harus bertemu dengan Sinb.
"Ah tuan.. anda mau kemana?!"
Jungkook mengambil sebuah boneka rusa berukuran 13 inchi ditambah sebuah kalung yang melingkar di leher rusa itu kalung yang berbentuk kepala rusa dengan hiasan bunga berwarna pink. "Hyung aku pergi dulu"
"Yak!"
Beruntung tempatnya ini tak jauh dair rumah Sinb meski masih harus menguras tenaganya untuk sampai disana. Ia sesekali berlari dan saat lelah ia berjalan malas sembari mengeluh tanpa henti.
Sesampainya ia tak membunyikan bel atau sekedar mengetuk pintunya, ia memilih untuk menyandarkan punggungnya di dinding duduk di atas aspal yang dingin.
Baru saha ia akan membunyikan bel di rumah itu. Ia mendengar suara langkah kaki mendekatinya membuatnya mengurungkan niatnya. Kerutan di dahinya pun muncul saat ia mendongakkan kepalanya dari balik dinding untuk melihat siapa yang tengah berjalan malam-malam begini.
"Ah kamjagya!" Pekik keduanya bersamaan.
Sesaat Jungkook melongokkan kepalanya gadis itu juga berniat melongokkan kepalanya pula dari balik dinding. "Eo, oppa!"
"Sinb? Yak! Kenapa kau keluar malam-malam begini?"
"Aku hanya membeli beberapa snack!" Ucap sinb dengan mengangkat kantong plastik di tangannya.
Gadis itu tersenyum ceria yang membuat Jungkook oun ikut tersenyum. Pria uty mengulurkan salah satu tangannya membuka tutup kepala dari hodie yang dipakai gadis itu lalu turun menggenggam pergelangan tangan Sinb dan menyodorkan boneka yang sedari tadi di bawanya, "untukku?"
Tak memberikan jawaban, Jungkook menarik tubuh Sinb dan memeluknya, "Aku merindukanmu.. hingga aku merasa aku seperti orang bodoh yang kebingungan.."
Sinb tersenyum di dalam dada bidang milik pria itu, "emm.. aku juga merindukanmu.."
Keduanya saling melepas rindu yang sama sekalu tak pernah mereka bayangkan dulu. Berawal dari rasa benci yang berubah menjadi rasa perduli dan berakhir dengan sebuah kisah cinta yang manis. Sinb melepaskan pelukan mereka seraya mendongakkan menatap wajah mengesalkan milik Jungkook, "Kita masuk.. disini dingin." Ajak Sinb seraya menarik telapak tangan Jungkook untuk masuk.
"Tunggu..." Cerah Jungkook sembari mengambil kalung di leher boneka rusa di pelukan Sinb lalu memasangkannya di leher jenjang Sinb, "Omo, ini sangat cantik..." Gumam Sinb seraya mengusap kalung yang tengah melingkar di lehernya. "Gomawo.. oppa"
Jungkook menahan senyum malu dengan mengalihkan pandangannya, Sinb turut tersenyum melihat wajah kekasihnya, ia pun kembali menarik tangan Jungkook untuk masuk kerumahnya.
Mereka tengah duduk di taman belakang rumah Keluarga Hwang yang nampak sepi. Seluruh maid disana tengah pada jadwal istirahat mereka. Sinb memberikan secangkir cokelat hangat untuk Jungkook dan duduk di samping pria itu.
"Apa Oppa kemari sendiri?"
"Sebenarnya tadi aku bersama Yoon Jin hyung tapi terjadi kecelakaan di ujung jalan sana.. "Jungkook mulai menceritakan kejadian yang sempat membuatnya khawatir tadi "mungkin jika aku yang menyetir tadi-.."
Sinb menutup mulut Jungkook agar pria itu tidak melanjutkan kalimatnya, ia tau apa yang akan dikatakan pria itu namun ia visa merasakan sudut bibir pria itu tertarik membuat Sinb melepaskan tangannya.
"Apa Oppa sudah makan?"
"Emm.. aku lupa, memangnya kenapa?"
"Mau ku buatkan makanan?"
Jungkook mengangguk mantap menerima tawaran sang gadis, ia berjalan mengekor di belakang Sinb mendudukkan dirinya di sebuah mini bar yang dekat dengan dapur dimana Sinb tengah memasak sesuatu untuknya.
Semangkuk Bibimbap yang terlihat dengan sayurannya yang lengkap di tambahkan beberapa potongan daging tak lupa juga menambahkan telur ditengahnya. Jungkook dengan senang hati mencoba masakan sederhana terlebih kekasihnya lah yang telah membuatkan untuknya.
Sepasang mata Jungkook berubah sedih melihatnya, "Oppa, apa tidak enak?"
"Anio.. jinjja massiseo.."
Sinb mengulurkan tangannya menggenggam telapak tangan Jungkook seraya mengamati raut wajah pria itu. "Huh.. aku teringat sesuatu.. gwaenchana, aku harus ke kamar mandi sebentar.."
Sinb menangkap punggung Jungkook yang nampak lesu itu menjauh. "Apa dia teringat dengan appa dan eommanya?"
Disaat yang bersamaan dering ponsel yang tertinggal di atas meja itu pun merengek meminta untuk diangkat. Sinb mengerutkan keningnya saat mendapati nama penelpon tersebut. -Jangan diangkat-. Entah kenapa Sinb memikirkan seseorang yang tengah menelponnya. "Yeo-yeoboseyeo?" Ucap Sinb membuka pembicaraan mereka.
[" Eo, bukankah ini ponsel milik Jungkook?"]
"Ye.. Jungkook oppa sedang pergi ke kamar mandi.. apa ini Jungkook eomma?"
Hening sesaat. Membuat Sinb mengerutkan keningnya bingung, takut-takut salah menebak ternyata..
["Ne.. kau ini?"]
"Ah saya Sinb.. Ke-emm"
["Jungkook yeonchin? Ah putraku sudah dewasa.. apa dia keras kepala? Bagaimana kau bisa menyikapi anak itu?"]
Mendengarnya malah membuat Sinb merasa sedih. Mengingat bagaimana hubungan anak dan orangtua ini. Dan lagu Sinb sangat penasaran dengan hal apa yang membuat Jungkook tak suka dengan kedua orangtuanya.
["Ahjumma harus pergi.. Ahjumma harap 2 hari lagi kita bisa bertemu, ah bisakah aku meminta nomor ponselmu?"]
Sinb mulai mengeja nomornya sebelum sambungan telpon itu akhirnya terputus. Ia menghapus panggilan terakhir tadi dan meletakkannya kembali sebelum pria itu kembali.
"Oppa, gwaenchana?" Tanya Sinb sembari berdiri saat ia melihat Jungkook berjalan kembali dari kamar mandi. "Emm mungkin aku hanya lelah saja.."
"Apa oppa mau beristirahat disini?"
Jungkook tersenyum seraya mengusak pucuk kepala Sinb. "Aku akan pulang..."
Sinb hanya bisa menghembuskan napasnya pasrah. Ia tidak bisa memaksakan keinginan pria itu dan membiarkan sopir pribadinya mengantar pria itu kembali kerumahnya.
"Aku harap dia baik-baik saja"
__________
"Haa? Besok? Pesta ulang tahun? Taehyung Sunbae mengundang kami?" Ulang Sinb tak percaya saat Yerin mengatakannya pada kedua sahabatnya yang nampak terkejut itu.
"Eo, hanya pesta kecil.. apa kalian bisa?"
"Tentu saja." Jawab Sinb senang dan hanya mendapat anggukan dari Yuju karena ia tak punya pilihan lain.
"Bagaimana jika malam ini kita menginap di rumah Sinb saja?" Usul Yerin tanpa pikir panjang namun usulannya juga tak mendapat penolakan.
Mereka semua setuju bahwa mereka nanti akan menginap sekaligus berkumpul di rumah Sinb. Setelah berjam-jam disekolah, ia memilih untuk mampir ke mini market membeli beberapa camilan untuk kedua sahabatnya nanti dan segera pulang menunggu kedua temannya datang.
"Sinb-ahh kami datang.."
Sinb berlari membuka pintu besar rumahnya dengan senyuman riangnya. "Masuklah"
Sinb dan Yerin nampak ceria saat bertemu, padahal hampir setiap hari mereka bertemu seperti ini sedangkan Yuju tengah terdiam seperti biasa.
"Ah, bagaimana jika kita pergi membeli hadiah untuk Taehyung sunbae?" Tanya Yerin dengan wajah bersemu milihnya.
"Baiklah, kajja.."
-----
Setelah menghabiskan waktu berbelanja, akhirnya mereka pun kelelahan dan memilih untuk tidur di kamar yang nampak mewah milih Sinb. Yuju tengah memainkan ponselnya sedangkan Yerin bermain sebuah game di laptop yang dibawanya namun entah kenapa sepasang mata Sinb terasa begitu lelap padahal sebelumnya ia tak merasa mengantuk.
Tanpa sadar Sinb jatuh terlelap kedalam mimpinya tapi Sinb mengerutkan keningnya saat ia mendapati sebuah mimpi yang tak biasa. Ia menangkap sebuah jalan yang nampak asing baginya. Tak punya pilihan ia pun mulai melangkahkan kakinya Mencari tau apa yang ada dimimpinya saat ini.
Kini pandangannya teralihkan pada seorang wanita yang berumur sekitar 40an memakai pakaian seorang guru yang begitu rapi tengah berjalan di jalanan yang cukup sepi. Ia mengerutkan keningnya saat wanita itu berhenti didepan sebuah rumah mengambil kotak yang tergeletak di jalanan dengan mengedarkan pandangannya, dari sudutnya ia bisa menangkap wajah wanita itu. "Eo bukankah ia halmoeni?"
"Halmoni.." sapa Sinb sembari mendekati neneknya itu namun sayang tubuhnya tak bisa menyentuh neneknya.
Eun Hye mendongak dan diikuti pula oleh Sinb lalu berjalan hingga sampai ke ujung jalanan yang cukup gelap. Wanita itu terlihat terkejut melihat sesuatu di hadapannya. "Huh.." Sinb menatap seorang gadis yang nampak tak asing baginya. "Ya.. Yerim ssi.. kau tak bisa lari dari kami."
"Aku mohon lepaskan aku.."
"Tidak akan.. aku tidak suka melihatmu apalagi saat kau bersama dengan Jongguk! Sekarang tidak ada Jongguk yang menemanimu jadi aku bisa puas melakukan apapun padamu."
'Yerim? Jongguk? Kenapa nama itu terdengar tidak asing?'
Sinb menangkap sebuah gerakan bibir meminta tolong kearahnya ah bukan lebih tepatnya kearah neneknya yang berdiri di depannya saat ini. Namun bukannya membantu, neneknya melangkah mundur seraya berjalan secepatnya menjauh dari tempat itu. "Halmeoni! Halmoeni!" Sayangnya suara Sinb tak bisa terdengar oleh siapapun karena dia tengah berada di dalam mimpinya.
Sinb memejamkan sepasang matanya karena terlalu takut "halmeoni.."
"Eo, Sinb-ah"
Suara itu membuat Sinb kembali membuka matanya, ia terkejut saat ia telah sampai di sebuah rumah yang sangat ia kenali. Ya dia berada dirumah neneknya.
Nampak neneknya itu tengah duduk dengan sebuah buku di tangannya dan seorang anak perempuan tengah duduk di hadapannya dengan wajah cerianya. Ya anak itu adalah dirinya sendiri. "Hari itu pertemuan terakhirku bersama nenek.."
Sinb mencoba menyentuh wajah neneknya namun sayang ia tak bisa menyentuhnya dan hal itu berhasil membuatnya merasa sedih. "Halmeoni bogoshipo.."
"Halmoeni.. ini buku untuk apa?"
Sinb mengerutkan keningnya menyadari buku apa yang dipegang oleh neneknya itu, sebuah buku tua dengan rantai besi mengikat buku tersebut. Ya, semakin di pikirkan ia ingin tak buku apa itu.
Pandangannya terpaku pada senyuman neneknya yang terlihat begitu lembut dan cantik seperti milik ibunya. Eun Hye melambaikan tangannya ke hadapan wajah Sinb kecil dengan menggumamkan sesuatu, "maafkan halmeoni, yang membuatmu bisa melihatnya." Sepintas Sinb mendengar suara lirih itu. "Buku ini.. dia yang akan membantumu untuk menaklukkan.. han-"
"Eomma keumanhae!" Bentak Minhyun yang berhasil membuat kedua orang disana dan juga Sinb sendiri terkejut.
"Aish..kenapa ayah memotong ucapan nenek.." gerutu Sinb merasa kesal.
Wajah Eun Hye nampak begitu serius kepada Hwang Minhyun. "Minhyun.. Sinb dia cepat atau lambat akan melihat mereka dan dia harus tau ini"
Minhyun menghembuskan nafasnya pasrah. Ia dengan susah payah bangkit berdiri memeluk buku berantai itu. "Yerim ssi, kenapa sampau saat ini kau tetap mengikutiku?" Gumam Eun Hye.
<'jika saja kau menyelamatkanku haru it-'>
"Jika aku menyelamatkanmu.. mungkin aku juga akan mati."
<'kau jahat.. kau memang pantas untu-'>
"Kau tidak bisa membunuhku. 12 tahun lag- kau akan bertemu dengan cucuku dan kau akan mati untuk kedua kalinya.. kau adalah roh jahat, Kim Yerim!"
Sinb terbelalak mendengarkan kalimat neneknya, jadi kenapa dia bisa melihat roh itu karena perbuatan neneknya untuk melenyapkan roh jahat itu. Tapi bagaimana bisa? Bahkan Sinb tak tahu caranya!
"Lihat buku ini. Aku akan memastikan buku ini berada di tangan cucuku!"
<'TIDAK AKAN'>
"Halmoeni.." panggil sinb berulang kali agar neneknya itu bisa mendengarnya namun sia-sia.
"Anak muda"
Kerutan di dahi Sinb muncul saat neneknya menghentikan langkah seorang anak laki-laki yang berumur sekitar 5 tahunan. Anak itu tengah berjalan menikmati es krimnya sendiri. "Mwoga?" Ucap anak itu dengan ragu.
"Siapa namamu anak muda?"
"Eomma Taeyungi tidak memperbolehkan Taeyungi bicara dengan orang asing."
"Halmoeni bukan orang asing.. begini-" Eun Hye mengulurkan tangannya. "Nama halmoeni Eun Hye.. Kim Eun Hye."
Bocah laki-laki itu meraih telapak tangan Eun Hye yang nampak bergetar lalu wajah anak itu berubah menjadi ceria. "ah ye! Namaku Kim Taehyung."
"Ah kau pintar sekali.. Kim Taehyung! Halmoeni akan mengingatnya.. dan kau- kau akan bertemu dengan cucuku nanti! Tolong berikan buku ini padanya."
"Cucu? Halmoeni?"
"Sembunyikan dengan baik. Jangan pernah kau melepas rantainya atau kau akan di kelilingi dengan serangga menyeramkan."
"Kyaaaa!! Andweyo!!!" Taehyung kecil nampak takut dan itu membuat Eun Hye tertawa melihat tingkah menggemaskannya.
"Halmoeni harus pergi."
Taehyung menatap punggung nenek itu dan berganti melihat buku lusuh di tangannya. "Aku akan menjaga janjiku"
Seperginya Taehyung kecil, Sinb yang masih nampak terkejut berlari mencari neneknya. "Tae-Taehyung sunbae..huh"
Sinb menghembuskan nafasnya keras. Berulang kali tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia menangkap neneknya masih berlarian menjauh dari tempatnya menyebrangi jalanan yang cukup ramai. Sinb terkejut saat sebuah mobil berjalan menghampirinya dan "huh!" Sinb terduduk dengan rasa sakit di kepalanya. Ia mengedarkan pandangannya dan mendapati ruangan kamarnya.
"Bi-ah.. Sinb-ah"
"Hmm." Jawab Sinb akhirnya, ia menangkap wajah mengantuk kedua sahabatnya itu. "Aigoo.. kenapa wajahmu pucat sinb-ah?" Tanya Yuju khawatir.
"Yerin-ah.. Yuju-ah. Aku tau mungkin kau akan berpikir aku gila. Tapi aku yakin. Nenekku dia mengirimkan aku sebuah mimpi kejadian yang nampak sekitar 30 tahun yang lalu dan disaat aku berumur 4 tahun"
"Apa maksudmu?"
Yuju mengambilkan sebuah gelas berisikan air minum dan memberikannya kepada Sinb yang segara meneguknya, ia mulai mengatur nafasnya dan menceritakan semuanya hingga tak satupun Terlewatkan.
Yerin dan Yuju memasang wajahnya yang nampak terkejut dan tak percaya namun mereka juga terlihat antusias dengan seluruh cerita Sinb yang menurut mereka seperti sebuah adegan film bahkan di sebuah cerita novel.
"Apa? Taehyung oppa?" Ulang Yerin mendengar nama kekasihnya disebut. "Tu-tunggu.. huh itu benar. Taehyung oppa juga pernah menceritakannya padaku.."
Yerin pun juga menceritakan hari itu, disaat Taehyung menceritakan bagaimana ia bisa mencium aroma roh di dekat mereka. Ya semua bermula disaat ia bertemu dengan seorang nenek.
Sinb tak percaya dengan semua ini. Jadi Kim Taehyung yang di ceritakan mereka adalah Kim Taehyung yang sama! Semua ini nyata!
TBC
Kim Eun Hye
( Nenek Sinb )