Happy Reading:)
•••
Gadis itu berjalan menyusuri koridor sekolah yang mulai sepi, hanya ada beberapa murid yang masih ada disekolah, wajar sudah jam pulang sedari tadi.
Tamara, gadis itu pulang telat karena mencari sahabatnya Aruna, gadis itu tidak lagi ke kelas semenjak jam istirahat berakhir. Ia pun tak tahu apa yang terjadi dengan gadis itu
Mungkin ada urusan mendadak.
Tapi, memikirkan alasan itu. Pasti Aruna akan memberitahukannya jika ada urusan, paling tidak gadis itu akan memberitahu ketua kelas, atau teman sekelas.
Saat Tamara menanyakan kepada teman sekelasnya, mereka pun tidak ada yang tahu tentang gadis itu.
Entahlah, Aruna menghilang bagai ditelan bumi.
"Hei, ngelamun aja Lo" tepukan dipundaknya membuat Ia terperanjat dan menoleh ke asal suara.
"Lo masih inget syarat dari gue tadi kan?" Tanya cowok yang menepuk pundaknya tadi, dia Alfian.
Belum sempat Tamara menjawab, Alfian sudah lebih dulu menarik tangannya dan membawanya ke arah parkiran.
"Fian, kenapa harus pegangan tangan sih?" Risih Tamara saat melihat ada beberapa pasang mata yang memperhatikannya.
"Sorry" ujar lelaki itu sambil melepaskan tautan tangan mereka berdua.
" Pake dulu helm nya," "bisa gak?"
Tanya Alfian saat melihat Tamara kesusahan memakai helmnya. Alfian pun mendekatkan wajahnya pada gadis itu, membuat wajah Tamara menegang.
"Kenapa Fian?" Gugupnya.
"Gue cuma mau masangin Lo helm" sambil tersenyum tipis lelaki itu mengaitkan pengait helm Tamara.
" Udah, ayo cepet naik nanti keburu sore. Sekalian nih pake" sambil menyodorkan jaketnya, dan langsung diterima oleh Tamara.
•••
Selama perjalanan, mereka berbincang bersama saling bercanda ria. Hingga tak terasa mereka sudah sampai didepan toko bunga bibinya Tamara.
"Makasih Fian, aku jadi ngerepotin" ujar Tamara dengan memberikan helm kepada Fian.
"Gapapa, lagipula kan ini gue yang mau" cowok itu tersenyum manis.
"Oh iya, nanti Lo pulang jam berapa?"
" Sekitaran abis magrib mungkin" Tamara mengangkat bahunya acuh sambil memberikan jaket Fian. Alfian hanya menganggukkan kepalanya pertanda mengerti.
"Oke. Sekali lagi makasih Fian, aku masuk dulu, byee" Tamara pun pergi hingga tertelan daun pintu toko.
"Andai Lo masih kenal gue Ara." Gumam Alfian pelan dengan tatapannya yang tertuju pada Tamara Disana.
•••
" Ara, udah sana kamu pulang aja. Didepan udah ada yang nungguin kamu, mungkin pacar kamu kali" sang bibi berbicara dengan bunga ditangannya.
Membuat Tamara yang sedang menata bunga pun menoleh ke arah Lastri, sang bibi.
"Siapa bi?"
"Gatau, mungkin pacar kamu kali"
"Tapi aku gak punya pacar" gumam Tamara pelan tapi masih terdengar oleh bibinya.
"Yaudah. Samperin aja sana, kasian udah nunggu dari tadi. Mana mau hujan lagi. Kamu pulang aja sana, nanti bibi lagi yang disalahin sama ayah kamu"
"Iya Bi, kalau gitu Ara pamit dulu"
Tamara pun bergegas mengambil tasnya. Dan pergi dari toko bunga yang sebentar lagi tutup itu.
"Akhirnya Dateng juga" suara itu membuat Ia mendongak menatap ke asal suara.
Disana berdiri seorang pemuda yang kini bersandar pada kap mobilnya, dengan setelan kaos putihnya yang di balut dengan jaket navy yang tidak di resleting, ditambah jeans hitamnya yang menambah pesona pemuda itu. Tak lupa pula sepatu Converse putih yang membalut kaki nya.
"Eh, Fian. Aku kira siapa tadi" ujar gadis itu sambil tersenyum.
"Iya, gue mau nagih janji Lo tadi"
"Emang aku janji apa ya?"
" Imbalan buat gue. Karena gue udah ngajarin Lo" ujarnya sambil memutar-mutarkan kunci mobil yang Ia pegang.
" Kamu udah kan nganterin aku tadi"
" Imbalan gue satu lagi belom, udah lah cepet masuk mobil aja, takut hujan ini udah gerimis nih" ujarnya sambil menengadahkan kepalanya ke arah langit malam yang mendung.
"Oke, tapi kok kamu gak biasanya pake mobil."
"Cuacanya lagi kaya gini. Jadi gue pake mobil aja, sekalian mau jemput cewek cantik" ucapnya sambil melirik Tamara yang sedang memperhatikannya jalan.
Mereka sekarang sedang dalam perjalanan pulang. Entahlah menurut Alfian, Ia akan mengajak Tamara makan dulu, kemungkinan besar gadis itu pun belum makan.
"Eh, kok pergi ke cafe Fian?" Tanya gadis itu saat menyadari mereka telah ada diparkiran cafe dekat dengan rumahnya.
"Gapapa. Gue kan mau ngajak Lo makan. Sekalian nagih imbalan gue tadi, mau makan bareng"
"Oh. Oke"
Mereka berdua pun masuk ke dalam cafe yang bernuansa modern itu, lebih tepatnya cafe-cafe yang rata-rata pengunjungnya memang remaja itu.
"Mbak" Alfian melambaikan tangannya saat melihat seorang pelayan menghampirinya.
" Dalgona Coffe satu ya". Sambil membuka buku menu cowok itu berucap.
"Lo mau apa Ara?" Alfian meliriknya.
"Aku samain aja sama kamu deh." Ujar Tamara sambil memperhatikan ke arah luar cafe yang sedang dibasahi oleh air hujan.
Setelahnya, hanya ada keheningan diantara mereka.
"Ini kak, pesanannya." Pelayan tersebut datang dengan dua dalgona Coffe dan satu porsi spaghetti.
"Ni, buat Lo "Alfian menyerahkan satu porsi spaghetti dan satu cup dalgona Coffe dihadapan Tamara.
"Eh, aku kan cuma pesen kopinya aja Fian"
"Gue yang pesenin, Lo pasti belum makan kan?" Tepat sekali. Tamara memang belum makan semenjak dari sekolah, istirahat pun Ia tidak ke kantin.
"Oke, makasih" ujarnya.
Alfian tersenyum puas saat melihat Tamara makan dengan lahap. Ia yakin gadis itu pasti sangat lapar. Terlihat dari cara makannya.
Selang setengah jam, akhirnya mereka pun keluar dari cafe, karena hujan yang masih deras, Alfian pun melebarkan jaketnya untuk melindungi mereka berdua dari air hujan yang mulai semakin deras.
Alfian meraih bahu Tamara untuk Ia lindungi dari air hujan. Hal itu membuat Tamara tersentak dan menoleh kearahnya namun Alfian hanya tersenyum tipis seolah tidak terjadi apa-apa.
Parkiran yang tidak terlalu jauh itu telah mereka tuju dan mereka memasuki mobil Alfian dengan tergesa-gesa karena hujan yang semakin deras.
•••
Tanpa disadari oleh mereka berdua, sedari tadi ada seseorang yang mengepalkan tangannya pertanda kesal.
Dia Altair, dan teman-temannya Disana, mereka sedang mengerjakan tugas bersama.
Tapi Altair tidak memperhatikan tugasnya, Ia hanya memperhatikan dua orang yang tadi makan bersama.
Ia memperhatikan dari pertama mereka datang hingga pergi keluar cafe.
Dan hal itu tak luput dari penglihatan kedua temannya.
Kekesalan yang baru saja Altair hadapi itu bukan hal yang biasa, Ia baru merasakan hal ini selama hidupnya. Membuat Ia ingin sekali menghabisi adik tirinya itu.
"Lo kenapa sih?" Bayu yang dari tadi penasaran pun bertanya.
Altair hanya memejamkan matanya saat bayu bertanya, menarik nafas perlahan dan hembuskan Ia akan meredam emosinya dahulu sebelum berbicara dengan kedua temannya.
"Gapapa"
"Oke, kalo gitu kita lanjut"
Dan mereka kembali fokus pada tujuan mereka.
•••
Makasih yg masih ngikutin cerita aku:)
Vote, komen jangan lupa ya, supaya aku tambah semangat nulisnya ❤️