[BUKAN] Couple Goals 2

Por Srikurnia6166

245K 38.4K 6.7K

Sequel [Bukan] Couple Goals "Lo kenapa sih marah-marah mulu?" "Hormon" "Hello, lo tiap hari marah-marah, itu... Más

Prolog
1- peramal
2- Supermarket
3- Gema Gepa
4- Rutinitas
5- Reuni
6- Tanah abang
7- Chef Rian Marcello
8- Pak dokter🐈
9- Bertemu Kembali
10- Dilarang menginjak rumput
11- Zidni dan jeruk
12- Musim Kawin
13- Selangkah lebih maju
14- Girls Time
15- Gea Amanda-nya Geri
16. Bodoh
17- Bulan dan pintu
18- All for Amanda
19- Gea itu...
20- Hasil Observasi Geri
21- Pion
22- Harapan dan Mimpi
23- Abizar Keanu Mahendra
24- Mickey-Minnie Mouse
25- Kencan gelap
26- Kaktus dan si cantik Gea
27- Filosofi
28- Sinar Bulan
29- Safaringe Gusti Allah
30- Nadine
31- Lord Valdemort
33- Gamophobia
34- Seminar
35- You Strong Bambang
36- Syal Merah Maroon
37- Keluarga Kecil Geri
38- Sandwith, Abizar dan Nadine
39- Yang Tak Seharusnya Terungkap
40- Saling menguatkan
41- Nina bobo ala Geri
42- Pernikahan Seva
43- Dijodohkan?
44- "Gue selesai"
45- Batu Giok
46- Bukan Ending
47- Sunflower
48- Mencari Bukti
49- Es krim dan Geri
50- Rip joshua
51- Fakta dan titik terang
52- Tertangkap
53- [Bukan] Neraka
54- [Bukan] Ending
55- Chapter terakhir
Epilog
Ekstra Part
Extra Part II
Oedipus Complex
Vote Cover!!

32- Roro jingkrak

3.1K 610 133
Por Srikurnia6166

Makan malam yang Nadine bicarakan benar terjadi. Saat ini kedua keluarga dipertemukan dan makan bersama dengan perasaan hangat dan suasana yang penuh kekeluargaan. Lain halnya dengan dua anak manusia yang duduk saling berhadapan.

Abizar makan dengan wajah masam tanpa ekspresi. Begitu juga dengan Nadine yang menatap enggan makanan dihadapannya. Nadine tiba-tiba menginginkan makanan dari piring Abizar yang sedang lelaki itu acak-acak dengan sendok yang dipegangnya

"Zar, makanan kamu buat aku yah?" Pintanya dengan terpaksa

Abizar menoleh dan mendorong piringnya kehadapan Nadine tanpa mendebat, lalu menarik kembali piring dihadapan Nadine

"Enak makanannya?" Tanya Sanya, orang tua Nadine

Nadine mengangguk "Abizar pinter pilih makanan kan Ma?"

"Tapi kayaknya Abizar gak terlalu menikmati makanannya" ujarnya lagi "Kenapa nak? Padahal kamu makan ditemenin sama cewek cantik"

"Kayaknya kecantikan Nadine gak berpengaruh buat Abizar" celetuk Banu

Rayi, papa Abizar membela putranya. Menyangkal dengan mengatakan "Abizar cuma gak bisa ekspresiin perasaannya. Tapi dia anak yang cukup baik perlakuin tunangannya."

"Terus, siapa Gea?" Tanya Sanya membuat kepala Abizar terarah pada calon ibu mertuanya itu "Nadine pernah cerita beberapa kali tentang nama itu."

"Dekat?" Beo Rayi "Itu pasti cuma kesalahpahaman doang. Biasalah, masalah kayak gitu kan sering terjadi dikehidupan pasangan muda."

"Mungkin mama salah denger" Banu ikut membela "Abizar kan cowok idaman semua cewek. Jadi Nadine harus bener-bener jagain calon suaminya dengan baik."

Sanya melayangkan protesnya pada sang suami membuat lelaki itu menunduk kembali makan.

"Papa bener Ma." Nadine tersenyum dan menatap sang papa mertua di samping Abizar "Nadine minta maaf karena lancang. Tapi Nadine mau putusin Pertunangan Nadine sama Bizar, gimana caranya?"

Kedua keluarga yang medengar itu semua kaget bukan main, tidak terkecuali Abizar yang merasa aneh dengan keputusan Nadine yang tiba-tiba

"Kalian ada masalah?" Tanya Banu "Bicarsin dulu jangan kayak gini. Nadine"

"Apa cukup cuma dengan bilang kayak gini didepan kedua orang tua?" Nadine tak mengindahkan peringatan sang papa "Atau aku harus balikin cincin tunangan juga?"

"Kamu bahkan gak pake cincinnya" tunjuk Abizar pada tangan Nadine yang kosong

"Kekecilan, jari aku memar jadinya. Tapi ada kok, kalo butuh aku bisa nyuruh seseorang buat ambil." Jawab Nadine tenang

"Kok bisa kekecilan? Kan baru bulan lalu diganti" heran Sanya

Nadine tidak bisa mengatakan jika dirinya hamil kan pada sang mama?

"Tuhkan, udah gak jodoh. Buktinya cincin aku gak muat. Jadi batalin aja pernikahan aku dan semua acara yang melibatkan pernikahan" putus Nadine mantap

"Bizar ajak Nadine pulang. Ada yang mau kedua orang dua ini bahas" sindir Banu yang langsung Abizar turuti dengan berdiri dari duduknya dan mengajak Nadine serta

***

"Aku udah bilang hal yang sempat  kamu minta dihari tunangan kita, dan hsl yang gak bisa kamu omongin. Jadi sisanya terserah kamu" ujar Nadine saat mereka sudah diluar

"Pasti ada alasannya kan?"

"Aku cuma pengen liat kamu terluka. Itu aja"

"Lo lebih buruk dari yang gue kira" desis Abizar tak menyangka

"Aku jadi penasaran gimana reaksi papa kamu setelah ini."

"Apa lo ngerasa suci?" Tanya Abizar "Gue juga pengen tau gimana reaksi orang tua lo kalo tau anaknya yang dibangga-banggain ini ternyata sering keluar masuk club dan tidur sama sembarangan cowok"

Nadine tersenyum smirk "Kamu juga termasuk kedalam kategori 'Sembarangan cowok' itu gak?"

"Gue bukan yang pertama kan?"

"Aku gatau kenapa kamu sampe nolak aku habis-habisan kayak gini Zar. Aku baik lho, buat ukuran tunangan yang disia-diakan aku terbilang baik perlakuin kamu. Tapi sebaik apapun aku perlakuin kamu, sebaik itu pula kamu jatuhin aku dan terang-terangan bilang suka sama cewek lain, sampe lupa anak siapa yang aku bawa-bawa sekarang" ujar Nadine tak habis fikir

"Sebejad apapun gue, gue tetep pengen cewek baik-baik yang bakal jadi istri gue"

"Cewek baik-baiknya mau gak sama cowok yang gak baik kayak kamu?" Tanya Nadine balik "Kamu fikir cewek gak baik diluaran sana gak sepemikiran sama kamu? Mereka sama, pengen yang terbaik buat masa depannya, bukan cuma kamu"

"Mau lo sebenernya apa sih!" Teriak Abizar dibatas sabarnya "Mau lo apa?"

"Gak ada" Nadine menggeleng "Kamu mau aku kayak gimana? Kalo kamu gak mau batalin pernikahan kita aku bisa lakuin"

"Dengan bilang lo hamil anak gue?"

Nadine mengangguk sekali "Toh lambat laun bakal ketauan juga kan?"

"Gak." Abizar menggeleng tegas "Gue gak sudi nikah sama lo. Minggir" Abizar mendorong Nadine yang berdiri dihadapannya kesamping. Namun karena tidak cukup kuat untuk mrnahan serangan tiba-tiba itu perut Nadine membentur pegangan tangga yang berada disisi tubuhnya

Nadine kesakitan tentu saja. Gadis itu mencengkram kuat perut bagian bawahnya dengan air mata yang secara otomatis keluar dengan sendirinya

Abizar yang sebenarnya tak tahu berbalik saat mendengar ringisan "Nadine?" Tanyanya ditempat

Pegangan Nadine pada pegangan tangga menguat saat rasa sakit itu semakin kuat. Abizar baru berlari saat melihat sesuatu yang mengkilap dikaki Nadine. Saat tahu itu darah Abizar langsung membopong gadis itu dan ia masukkan kedalam mobil menuju rumah sakit.

***

Beberapa perawat dan dokter yang bertugas malam cukup heran melihat Geri yang tidak ada jadwal tapi berlarian dikoridor dengan wajah memerah karena panik. Lelaki itu bahkan menghalangi mobil masuk maupun keluar karena posisi mobilnya yang sembarangan

Geri membuka pintu ruangan didepannya dengan tergesa membuat beberapa orang didalam sana menoleh padanya, termasuk Anna.

"Gepa!" Gadis itu meloncat dari pangkuan Rian untuk berlari kearah Geri

Geri mengelus kepala Anna sebentar sebelum memeriksa keadaan kekasihnya

"Dimas udah cek" Beritahu Andine "Dia minta kamu ke ruangannya tadi kalo kamu kesini."

Geri yang tidak fokus dengan apa yang Andine katakan karena sibuk mengamati wajah Gea sedikit kaget saat Andine sentuh, dan menoleh "Kenapa Ma?"

"Dimas nyuruh kamu ke ruangannya"

"Nanti"

"Penting katanya. Tentang Gea."

Geri menoleh "Apa?"

Andine menggeleng "Mama gatau, tapi semoga bukan kabar buruk."

***

"Gege cuma kram perut sama sembelit, jangan khawatir" ujar Dimas saat Geri duduk dihadapannya

"Ayah yakin cuma itu?" Heran Geri "Kalo cuma itu gak mungkin dia pingsan"

"Karena penyebab kram perut itu yang bikin khawatir" Dimas menyodorkan botol obat juga ponsel Gea kehadapan sang putra "Rion nemuin obat ini dikamar Gege tadi dan dia kasih ke Ayah"

Geri memeriksa kotak obat tersebut dengan detail

"Tubuh Gege lemah. Dan kayaknya dia minum ini udah dua tahun, atau bahkan lebih. Karena dosis obat ini cukup tinggi, Gege harus badress selama seminggu, karena bisa jadi sembelit Gege itu karena obat ini. dan lagi—" Dimas menggantungkan ucapannya. Saat Geri mendongak mentap Dimas dengan wajah kaget barulah Dimas melanjutkan "Apa yang kamu lakuin sampe Gege minum obat anti depresi kayak gini?"

"Kenapa abang?"

"Ada satu nomor yang sering Gege hubungi, melebihi kamu" Dimas menunjukkan kontak yang ia maksud "Dan itu psikeater."

Geri meraih ponsel itu dengan tangan gemetar dan membuka pesan Gea dengan dokter tersebut yang berada diurutan teratas. Dimas benar tentang kontak ini yang sering Gea hubungi melebihinya

Gea : Besok ada jadwal?

Sedot WC : Gaada. Kenapa?

Gea : Gue mau ketemu sama lo. Gue kesana kalo gak ada halangan

Geri mengirim kontak tersebut pada ponselnya, dan langsung menghubunginya. Beruntung panggilan tersebut langsung diterima apada dering ketiga.

"Gue Geri, cowoknya Gea. Bisa gue temuin lo dulu sebelum lo ketemu cewek gue besok?"

***

"Lo yang kasih obat ini ke cewek gue?" Geri menyodorkan botol obat kehadapan wanita berbadge name Akina dihadapannya.

Akina mengangguk tanpa perlu memeriksa "Dia pasien gue dari dua tahun lalu."

"Apa aja yang dia bilang?"

"Banyak"

"Diantaranya?"

"Lo dan hubungannya"

"Gue?"

"Lo mengenalkan diri lo sebagai pacar Gea. Mangkanya gue bilang lo." Jawab Akina

"Lo taukan bahayanya konsumsi obat ini dalam jangka panjang?" Tanya Geri

"Gue udah berusaha berentiin pengobatan dia dari dua tahun lalu. Tapi kemaren dia ngerengek ke gue dan katanya dia butuh itu. Gue bisa apa selain ngasih resepnya?"

"Gea sakit sekarang" beritahu Geri "Itu karena efek samping dari obat ini."

"Tunggu" Alina menatap Geri "Kenapa lo berusaha banget buat bikin gue bersalah?"

"Gue nggak"

"Apa kedatangan lo kesini buat mojokin gue?" Tanya Akina "Gue sedikit kecewa karena gue fikir lo bakal tanya apa aja yang gak lo tau dua tahun terakhir ini."

Geri menghela napas pelan "Sebenernya gue takut." Lelaki itu membuka suaranya "Gue cuma gatau harus gimana, gue bingung. Gue takut kalo alesan Gea sakit itu bener-bener karna gue. Gue gak tau harus gimana sekarang. Gue buntu"

"Apa yang buat lo takut?"

"Gue takut dia tinggalin gue dan bener-bener pergi dari gue."

"Kayaknya lo sayang banget sama dia"

"Kayaknya?" Ulang Geri "Gue bener-bener sayang sama dia sampe gue gak berani bilang kayak gitu. Gue—"

"Geri" Akina memotongnya dengan cermat "Gea larang gue denger cerita apapun yang lo bagiin."

"Kenapa?"

"Gue sebenernya gak setuju sama alesan dia" jawab Akina "Dia bilang katanya ada yang lebih baik daripada gue. Gue gak setuju karena yang lebih baik lebih dari gue itu gue sendiri."

"Maksud lo gak ada yang lebih baik dari lo?"

"Lo pinter nangkep omongan orang juga ternyata" Akina terkekeh

"Kin." Geri memanggilnya "Apa yang lebih baik dari lo itu, Rian? Gea pernah singgung nama itu?"

"Gue gak nanya terlalu jauh karena kesel sama alasan dia."

"Lo berlebihan." Komentar Geri

Akina menatap jam dipergelangan tangannya "Gue ada janji ketemu sama Gea. Lo bisa pergi sekarang?"

"Boleh gue ikut?"

"Gea gak bakal leluasa kalo ada lo disana."

"Tapi gue pengen ikut."

"Gak usah. Runyam nanti urusannya. Gue males ikut campur urusan pribadi orang lain sekalipun itu klien gue."

***

Gea yang sudah sadar dari siumannya duduk bersandarkan bantal yang disusun agar punggungnya nyaman, dan menatap Akina yang duduk disisi kasurnya.

"Kemaren gue ketemu satu keluarga. Ayah, ibu, sama anak umur 3 tahun." Gea yang sejak tadi diam akhirnya membuka suaranya

"Dari yang gue liat mereka itu keluarga yang bahagia. Mereka saling melengkapi, gue sempet kepikiran sama Papa karena udah gak bisa becanda sama gue lagi. Gue terus perhatiin mereka sampe gue gak mau berenti lakuin itu. Terus, saat udah puas, gue tiba-tiba punya pemikiran aneh ini." Gea tersenyum "Gak pernah sekalipun dalam hidup, gue mengasihani diri gue sendiri, sampe kemarin."

Akina mendengarkan dengan cermat

"Kemaren gue bener-bener ada dititik dimana gue bener-bener kasian sama diri gue sendiri. Menyedihkan banget. Dulu kalo ada orang yang ngasianin gue, gue marah. Gue tanya sama mereka, apa yang buat mereka kasian sama gue. Apa karna gue yatim? Atau nyokap gue yang banting tulang cari duit biaya gue sama mamas sekolah dan buat kebutuhan sehari-hari? Itu yang gue tanya ke mereka. Tapi kemaren pertama kalinya gue setuju sama mereka. Gue baru sadar kalo mereka bener. Gue itu menyedihkan dan pantas dikasianin."

"Kak" Gea menatap Akina

Akina tersenyum dan menggenggam tangan Gea "Hm, bilang semuanya. Apa yang ada difikiran lo bilang semuanya ke gue. Kita cari jalan keluarnya bareng-bareng."

"Lelah itu manusiawi kan? Bisa bertahan sejauh ini aja udah hebat kan? Gak semuanya berjalan lancar sesuai kemauan gue itu, biasakan?"

"Kenapa? Gea yang gue kenal itu kuat, gak pantang menyerah dan tegar."

"Ada pilihan lain selain nyerah?"

Akina tersenyum "Apapun keputusan lo, gue harap lo gak terus pake topeng. Gue minta lo buat jujur. Kalo itu susah, coba jujur ke diri sendiri. Bilang kalo sakit, kalo gak kuat lo bisa bagi ke orang lain. Terlalu banyak mendem banyak hal bisa bahaya buat kesehatan lo juga. Dan tentunya lo punya banyak orang yang sayang sama lo, jangan buat salah satu dari mereka sedih. Lo ngerti maksud gue kan Ge?"

"Gue bener-bener kesakitan" Gea lanjut cerita "Gue udah hidup semaksimal mungkin, sebaik yang gue mampu, setenang yang gue harapkan. Tapi kenapa orang-orang terus tuntut gue ini-itu? Kenapa mereka terus nyuruh gue lakuin apa yang mereka bilang? Apa gue buat dosa besar dikehidupan sebelumnya? Kenapa hidup gue berat banget? Kenapa cuma gue dari milyaran orang diluar sana?"

Akina mengusap punggung tangan Gea dengan lembut. Pandangannya menatap kedalam tas yang terbuka dimana ponselnya tergeletak dalam keadaan terhubung dengan telpon.

"Lo denger itu Geri?" Akina membatin "Cewek lo kesakitan salama ini."

***

"Boleh gue ikut?"

"Gea gak bakal leluasa kalo ada lo disana."

"Tapi gue pengen ikut."

"Gak usah. Runyam nanti urusannya. Gue males ikut campur urusan pribadi orang lain sekalipun itu klien gue."

"Kin..."

"Lo gak sopan sama gue. Gue lebih dulu makan asin garem daripada lo" kesal Akina karena daritadi Geri terus memanggil namanya tanpa embel-embel apapun "Udah gak sopan banyak mau lagi lo."

"Kalo gitu gini aja." Geri memberi usul tanpa mengindahkan kekesalan Akina "Lo telpon gue sebelum lo masuk ke kamarnya Gea, gimana? Gue bakal nyalain mode senyap jadi lo gak bakal denger apapun yang gue lakuin, jadi gak bakal ketauan."

"Lakuin sesuka lo." Acuh Akina dan berdiri dengan menenteng tasnya

"K—"

Akina melotot.

"Kak, Kina" ujar Geri penuh penekanan "Gue belom liat dia hari ini, kesana bareng gue gimana?"

~~

"Lo bisa telpon gue sekarang" Geri berdiri dihadapan Akina, tepat didepan pintu kamar rawat inap Gea.

Akina sempat berdecak samar sebentar sebelum akhirnya menelpon Geri seperti yang lelaki itu sarankan "Gue gak bisa nyembuhin sakit hati yah."

"Apa seburuk itu?" Geri kaget

"Kadang. Beberapa kali."

"Pantesan daritadi lo bersikap seolah lo kenal gue udah lama."

"Bertahun-tahun yang Gea ceritain itu cuma lo." Balas Akina "Tapi gue beneran. Apapun yang lo denger nantinya, gue gak bertanggung jawab karena ini kemauan lo."

"Karena ini kemauan gue, gue bakal terima konsesikuasinya"

"Konsekuensi" Akina membenarkan

"Ribet."

Akina terhenyak "Gimana bisa orang kayak lo jadi dokter?"

"Masuknya jalur ahlak"

"Gea bilang akhlak, pun, lo gak punya" tekan Akina pada kata 'pun' yang ia katakan

Geri berdecak kesal "Amanda tuh terlalu jujur anaknya"

Akina tersenyum samar "Gue masuk. Lo bisa liat dia dari sini?"

"Bisa, dia cantik hari ini."

"Lo katanya belom ketemu dia hari ini?" Heran Akina

"Lo banyak tanya juga ternyata."

"Orang yang banyak tanya ini bakal pergi sekarang" acuh wanita berusia 30-an tersebut dan masuk kedalam kamar inap Gea.

Akina sengaja membuka pintu sedikit lebar agar meskipun dari jauh, Geri dapat melihat Gea dan memastikan jika gadis itu sudah baik-baik saja.

Geri tersenyum melihat Gea yang duduk bersandar dibrankarnya, sedang memainkan ponsel. Gea menoleh bersamaan dengan pintu yang perlahan tertutup. Geri mendesah karena itu sangat singkat.

"Gue gatau sejak kapan punya pacar ngangenin kayak gini" gumamnya dan memasang headset dikedua telinganya.

"Geri"

Suara dibelakangnya masih dapat Geri dengar dengan jelas, namun lelaki itu pura-pura tak mendengarnya karena itu Sella.

"Lo bener-bener gak bakal noleh?" Tanyanya lagi "Bahkan sesederhana balas sapaan gue?"

"Hm" Geri keceplosan

"Gue gak bakal nutup rezeki lo dengan nyuruh lo resign. Tapi sebagai gantinya gue yang keluar dari sini."

"Itu juga bener?"

"Hm. Dalam waktu dekat gue bakal tempatin klinik baru gue. Dan dalam waktu yang lama-lama-lama-lama- dan bakal terus semakin lama, kita gak bakal ketemu."

"Emang udah jadi?" Heran Sella "Kliniknya."

"Udah selesai dalam waktu semalem."

"Lo fikir ini jaman bandung bondowoso?"

"Gue sodaranya roro jingkrak"

"Jongrang" Sella meralat

"Lo kenal sodara gue?" Tanya Geri telak. Ditanya seperti itu tentu saja Sella diam. "Kalo gatau diem aja. Yang sodaranya gue, bukan lo."

"Dokter"

Geri berbalik. Melihat Cica yang berdiri dibelakang Sella Geri berdecak karena menatap wajah gadis itu. "Sini lo." Suruhnya pada Cica

Cica bersama pria tua yang mengikutinya dibelakang menghampiri Geri "Ada pasien yang kecelakaan sekarang di UGD, mau dioperasi segera"

"Untuk sementara tugas dokter Geri saya yang handel" ujar Dimas tiba-tiba

"Hm?" Bingung Geri

"Dokter Geri ada urusan pribadi yang harus dia selesaikan" tekan Dimas pada kata 'harus' yang ia katakan.

Cica mengangguk "Iya dok."

"Di UGD kan pasiennya? Bilang sama yang lain siapin ruang operasinya"

"Cia" panggil Geri membuat Cica menghela napas berat "Dia siapa?"

"Penghulu"

"Siapa yang mau nikah?"

"Bukan dokter"

"Tau gue. Tapi gue rasa plang didepan masih bertuliskan Rumah sakit, bukan Kantor urusan Agama"

Dimas menyentuh pundak Geri "Jangan mikirin hal yang gak penting. Ayah yang suruh dan kamu selesein masalaj kamu sama Gege aja. Ngerti anak baik?"

***

Geri menyeret kakinya dengan perlahan saat mendengar apa yang Akina dan Gea bicarakan disana.

Geri benar tentang kesakitan yang selama ini Gea rasakan, itu berkat dirinya. Geri juga benar mengenai alasan Gea sakit, masih karenanya.

"Apa yang selama ini gue lakuin?" Gumam Geri gamang "Gue rasa gue cuma kerja dan kerja, tapi gue gak nyangka dikesibukan gue, gue nyakitin orang yang gue jaga supaya gak terluka."

Geri menyusuri koridor rumah sakit dengan langkah pelan dan penuh keyakinan. Lelaki itu akan mengikuti saran Gea juga Bagas.

Lelaki dengan setelan kaos juga celana levis pendek itu berdiri didepan pintu bercat putih dan mengetuknya.

"Masuk!" Seruan itu terdengar dari dalam.

Geri memantapkan hatinya jika apa yang ia lakukan sekarang adalah benar. Lelaki itu memegang handle pintu dan perlahan mendorongnya

"Ada— Geri?"

Geri tersenyum "Rian."

"Cari Anna? Anna belom pulang sekolah" ujar Rian mengalihkan pembicaraan. Sepertinya lelaki itu tau apa maksud Geri menemuinya.

"Gue cari lo."

"Ada apa?"

"Gue..." Geri kembali tersenyum "Gue butuh bantuan lo."

Tbc

Seguir leyendo

También te gustarán

2.3M 172K 59
CERITA DIPRIVATE ACAK [Enaknya sih baca THE CLIMB dulu, biar makin nganu] Humor-Teenfiction March 11, 2018, Highest rank #4 in Humor. "Lagi serius m...
26.3K 816 17
gimana si rasanya nikah sama cowo yang sifatnya kadang cuek, kadang jail, kadang mesum, kadang bikin salting? dia /𝚁𝚎𝚟𝚊𝚕𝚣𝚎𝚗 𝙰𝚎𝚛𝚕𝚊𝚗𝚐𝚐�...
4.2M 184K 61
[FOLLOW SEBELUM BACA] **** Otoriter. Kaku. Kasar. Kejam. Ketus. Pemarah. Arogan. Angkuh. Bisa di bilang semua sifat buruk laki-laki melekat p...
6.3K 413 39
Sun meets ice by babyoreoo Gadis yang memiliki sifat seperti bunglon dingin dan hanya hangat ketika dekat dengan seorang yang memang dia anggap mampu...
Wattpad App - Desbloquea funciones exclusivas