Par(End)s [SELESAI]

By rdzanditaa

5.3K 381 9

mencintailah dengan cara sederhana, maka akan ku beritahukan satu hal. Bahwa pembunuh memiliki cara terbaik u... More

Prolog
01|| About Family's Haider
02|| Harta, tahta, keluarga
03|| Kejanggalan
04|| Zain Raihan Ali
05|| Kerasnya hidup Aamirila Haider
06|| Aamirita dan jus alpukat
07|| Kesepian
08||Sedikit fakta
09||Curiga
10|| Gagal
11|| Tirta Kesuma
12|| Amarah
13|| Memilih untuk diam
14|| Perang dingin
15|| Bicara Sebentar
16|| Api kemarahan Zain
17|| Penyihir Aneh
18|| Menjadi Asing
19|| Tak Terduga
20|| Sisi Lain
21|| Bertemu
22|| Kecanggungan
24|| Pertemuan kembali
25|| Hampir terbongkar
26|| Kau kan Adik ku
27|| Completed Lunch (1)
28|| Completed Lunch (2)
29|| Anggota baru
30|| ini semua nyata Zain!
31|| Pertengkaran lagi
32|| Berbicara dari hati
33|| Sedikit paham
34|| Surat untuk Zain
35|| Permintaan pertama dan terakhir
36|| Back Indonesia
37|| Bagian Lain
38|| Aneh
39|| Rumah
40|| Satu bagian yang hilang
41|| Quality time
42|| Pamit ya!
43|| See you soon
44|| Petaka
45|| Kehancuran
46|| ZAIN TIDAK!
47|| Kau Pembunuh
EPILOG

23|| Sedikit Berbohong

33 5 0
By rdzanditaa

Tertawa kadang untuk menutupi rasa sakit yang datang dari hati.
- Zain Raihan Ali.


Siang ini, Aamirita, Zain dan Ryan sedang menikmati makanan seafood yang terkenal di mall yang sedang mereka datang i.

Aamirita duduk di samping Zain, tapi lelaki ini dengan enak nya sedang mengobrol bersama Ryan.

Zain sedang sibuk dengan obrolan nya, sampai tidak menyentuh makanan yang masih terlihat penuh.

"Kalian tidak ingin makan?" tanya Aamirita menatap heran dua lelaki yang terus saja mengobrol tiada henti.

Aamirita menatap mereka pasrah, "baiklah terserah kalian saja." putus Aamirita yang kemudian melanjutkan kembali memakan makanan yang ada di piring nya.

Selama menikmati makanan nya dengan lahap, ternyata dua lelaki ini sama sekali tidak bergeming untuk menyentuh makanan mereka. "Kalian sungguh tidak ingin makan?" tanya Aamirita kembali.

Tidak di jawab.
Tidak di hiraukan.
Sebenarnya siapa yang mereka obrolkan ini?

"Baik, kalian mengacuhkan ku." ujar Aamirita sendiri.

Merasa tidak di hiraukan, Aamirita memainkan ponsel nya sambil menunggu dua lelaki ini berbicara kepadanya. Aamirita menscroll sosial media nya yang sudah lama sekali tidak ia buka karena menurut nya tidak ada yang penting sama sekali.

"Kurang ajar, mereka tetap tidak berbicara." ujar Aamirita kesal.

"ZAIN!" teriak Aamirita kesal.

Zain terkejut dan menjatuhkan ponsel  yang ada di genggaman nya. "Astaga, kau kenapa berteriak?" tanya Zain sambil mengambil ponsel nya.

"Kalian yang kenapa? Kenapa tidak menjawab pertanyaan ku sedari tadi."

"Nikmatilah makanan mu saja, kami sedang ada urusan." jawab Zain.

"Sebenarnya, apa urusan kalian." tanya Aamirita sambil memperhatikan arah yang sedari dua lelaki ini tatap.

"Kakak!" teriak Aamirita terkejut.

"Itu kakak ku kan Zain?" tanya Aamirita memastikan apa yang ia lihat barusan.

Kenapa ada kakak nya disini? Kenapa kakak nya tertawa dengan bahagia bersama seseorang yang ada di depannya itu. Siapa wanita yang sedang mengobrol dengan kakak nya itu? Kini banyak pertanyaan yang terdapat di kepalanya.

"Ryan jawab aku,"

"RYAN!" teriak Aamirita kesal.

Sedangkan lelaki itu langsung menoleh, "aku juga tidak tahu itu siapa? Sebaiknya kita kembali." saran Ryan yang disetujui oleh Zain.

"Ayo pulang, biarkan kakak mu disana. Dia pasti nanti akan kembali ke rumah."

"Zain, kita susul saja kesana. Aku penasaran dengan wanita itu." usul Aamirita.

Zain menggelengkan kepalanya, "tidak kita pulang saja. Biarkan penyihir itu disana,"

"Tapi Zain.... "

"Dengarkan aku, jika kakak mu ingin berkata jujur dia pasti akan mengatakan nya nanti. Sekarang, pergilah ke mobil aku akan membayar makanan nya terlebih dahulu." ujar Zain menyuruh Aamirita lebih dahulu ke mobil.

"Baiklah." jawab Aamirita pasrah.

Sedangkan dua lelaki ini memastikan dahulu wanita yang bersama mereka pergi ke mobil lebih dulu baru mereka akan mendatangi dua wanita yang sedang tertawa bahagia di pojok sana.

"Sepertinya dia sudah tidak ada," ujar Ryan memastikan kembali.

Zain masih melihat-lihat sampai pintu keluar, siapa tau Aamirita masih penasaran kenapa kakak nya ada disini.

"Ryan, sebenarnya penyihir itu kenapa disini?" tanya Zain heran.

"Entah lah sedari awal kita masuk aku sudah melihatnya. Mangkanya saat memesan tadi aku sengaja mengirimkan mu pesan agar tidak bertanya kepada Aamirita. Yang ternyata wanita itu tidak melihatnya,"

"Kita salah, harusnya kita sama sekali tidak menatap penyihir itu. Jadinya, Aamirita mengetahui kakak nya juga sedang ada di Amerika." jawab Zain menyesal ketika mengacuhkan pertanyaan yang dilontarkan oleh wanita yang bersama nya tadi.

Zain berdiri dari duduk nya, "aku akan kesana Ryan. Kau bayar, dan langsung saja menyusul Aamirita."

"Kau, hati-hati. Di sana ada kekasih ku,"

"Apa itu Neta, Ryan? Aku sama sekali tidak ingat wajah nya."

"Benar, ini Neta. Aku bisa melihat jelas dari sini, katakan saja jika aku tidak melihatnya dan ikut dengan mu kesini."

"Baiklah."

Zain berjalan menuju dua wanita yang sedang tertawa di pojok kanan restoran ini. Zain tidak menyangka, dunia sempit hingga bisa bertemu dengan penyihir kantor dan kekasih dari Ryan.

"Aamirila," sapa Zain sambil berdiri.

"Kau," wajah Aamirila terkejut, melihat siapa yang menyapa nya.

"Tuan Zain, hai apa kabar?" sapa wanita yang duduk tak jauh dari Aamirila.

"Saya baik nona, kau sendiri apa kabar?" tanya Zain.

"Aku baik tuan." jawab nya sambil tersenyum simpul.

"Penyihir, kau sedang apa disini?"

"Memangnya aku harus meminta izin?" jawab Aamirila dingin.

Zain tersenyum miris, "aku harap kau tidak pulang ke rumah yang sama dengan kami nona. Jika tidak, adik mu akan memberi mu seribu pertanyaan yang ada di otak nya itu." ujar Zain mengingatkan dan langsung berjalan pergi.

***

"Dimana Zain, Ryan?" tanya Aamirita yang melihat hanya Ryan yang masuk ke mobil.

"Sedang membeli sesuatu," ujar Ryan sambil berbohong.

Semoga Zain membeli sesuatu agar wanita ini tidak mencurigai mereka berdua. Batin Ryan penuh harapan.

"Hai," sapa Ryan sambil membawa paper bag.

"Apa itu?"

"Cemilan,"

"Syukurlah kau mengerti maksud hatiku Zain,"

"Tenang saja, aku paham kegelisahan mu." jawab Zain pelan.

"Sini, berikan padaku. Biar aku lihat dulu," pinta Aamirita.

Zain menyerahkan paper bag yang ia bawa ke tangan Aamirita. Daripada wanita itu bertanya lagi, dan mengajak nya berdebat lebih baik Zain memberikan nya.

"Kirim pesan kepada kekasihmu, katakan jangan pergi ke rumah kau. Pergilah ke hotel saja bersama penyihir kantor itu."

"Mereka akan ke hotel, tidak ada pesanan. Kamar VVIP khusus pemilik hotel. Resepsionis mengirimkan pesan nya kepada ku,"

"Luar biasa, penyihir kantor itu bahkan mengajak kekasih mu ke hotel. Aku tidak pernah melihat nya tertawa dan sebaik itu kepada orang." salut Zain ketika mendengar penyihir itu sudah memesan kamar khusus pemilik hotel.

"Kalian bicara sesuatu?" tanya Aamirita yang masih sibuk dengan cemilan yang ada ditangannya.

"Tidak, Ryan jalan kan mobilnya."

"Tentu, kita pulang atau ingin mampir ke suatu tempat?" tanya Ryan sebelum melajukan kendaraannya.

Aamirita berpikir sejenak, "kita ke taman bagaimana?" saran Aamirita.

"Tidak, kenapa ke taman? Kau kira tidak ada tempat lain selain taman."

"Ayolah Zain, taman disini pasti sangat indah. Ku mohon," pinta Aamirita.

"Baiklah, terserah kau saja."

Di dalam mobil suasana hening, hanya terdengar suara cemilan yang dikunyah oleh wanita yang duduk di belakang ini. Zain niatnya akan memakan saat ia menonton televisi, tapi ia urungkan agar wanita ini tidak bertanya lagi tentang kakak nya.

"Kalian, turun saja ya. Aku akan ke supermarket sebentar." ujar Zain menyuruh Ryan dan Aamirita yang duluan untuk ke taman.

"Baiklah, ayo Ryan." ajak Aamirita sambil membawa cemilan di tangan nya.

Zain membuka jendelanya, "tinggalkan cemilan nya hei! Kenapa kau bawa?"

"Terserah aku Zain."

"Baiklah, terserah seperti katamu."

"Ryan, aku ke supermarket sebentar. Jaga wanita yang seperti anak kecil itu."

Zain melajukan mobilnya menuju supermarket yang tak jauh dari taman itu, sebenarnya ia sama sekali tidak berniat untuk main di taman dan duduk. Jadi, ia memutuskan untuk pergi ke supermarket dan membeli cemilan dan hal-hal yang dibutuhkan nya.

Mobil sudah terparkir dengan rapi, Zain memasuki supermarket dengan memakai kacamata hitam yang menambah kesan ketampanan seorang Zain Raihan Ali.

Zain mengambil troli dan kemudian mendorong nya ke arah makanan ringan, "kamu Gerald kan?" tanya Zain.

"Tuan Zain," jawab lelaki itu.

"Matilah aku, kenapa harus bertemu Zain lagi." ujar lelaki itu sangat pelan.

Zain tersenyum, "kau berbelanja juga?"

Lelaki itu hanya mengangguk kan kepalanya," tuan juga sedang berbelanja, saya pamit dulu ya tuan." pamit lelaki ini dengan cepat.

"Ah, iya baiklah."

"Sepertinya wajah itu tidak asing, tapi aku baru bertemu nya 3 kali. Mungkin wajah nya mirip dengan teman-teman ku." ujar Zain sambil melanjutkan langkahnya mendorong troli yang masih kosong itu.

"Zain, hampir saja mengenali ku. Jika kami terus bertemu Zain akan mengenali siapa aku sebenarnya." gumam Dewa yang masih menatap Zain dari kejauhan.

Zain... andai kau tahu, kecelakaan itu tidak terjadi karena alasan yang tidak jelas. Aku ingin menyelamatkan mu Zain, bukan karena aku menginginkan nya.

***





















Hai ketemu lagi ya!
Jangan lupa vote dan komen ya!
See next chapter gais!

Continue Reading

You'll Also Like

595 68 16
Katakan padaku perasaanmu yang sebenarnya. Bunga itu sudah tumbuh dengan indah. Mengapa kau paksa ia untuk layu? Tidak mudah untuk seorang gadis berh...
115K 5.2K 43
Sebagian alur ceritanya gue rombak, nggak jadi sad ending. Ternyata gue nggak bakat bikin cerita model begituan.
829 183 9
Jatuh cintalah sewajarnya, perjuangkan yang patut di perjuangkan,karna sia sia saja jika kau berjuang sendirian dan sama sekali tak dihargai sebuah p...
Wattpad App - Unlock exclusive features