Halo guys i'm back!
Jangan lupa tekan Vote dan Comment nya Guys! Happy Reading!
.
"Tuhan, kalo request jodoh bisa gak sih?"
.
6. Hutan Lagi
Karena paksaan Alaska akhirnya Saina mau juga dibawa menyusuri hutan mencari air terjun yang kemarin Luna datangi dengan Alfan dan Kaisar. Untungnya mereka memulai hari ini saat pagi karena jika saat sore Saina pasti akan takut.
Jalan bebatuan menjadi rintangan para remaja ini untuk sampai ke air terjun. Luna berjalan paling depan dengan Kaisar yang senantiasa di sampingnya takut gadis itu terjatuh karena jalannya yang tak mulus.
Di belakang Saina berjalan diapit oleh dua manusia cerewet siapa lagi kalau bukan Alfan dan Alaska. Sedari dua lelaki itu terus saja mengoceh. Entah membanggakan dirinya sendiri atau saling menjelekkan.
Dengan muka cemberut Saina berjalan terseok-seok. Padahal tadi dirinya sedang enak menikmati teh hangat buatan Gerald di dekat kolam ikan Villa. Tapi keempat sahabatnya itu malah menarik paksa Saina untuk ikut. Lalu Alaska mengancam ingin membeberkan jika dirinya bilang pada semua orang bahwa Saina sering menangis.
Tentu saja Saina mengiyakan keinginan lelaki itu. Dengan senyum kemenangan Alaska menggenggam tangan Saina. Gerald yang ada disana tak bisa menghalanginya karena calon jodohnya itu tahu dimana dia harus diam.
Saina menghembuskan nafas panjang kesal paa dua lelaki yang belum juga berhenti mengoceh. Dilihatnya ke depan dimana Luna yang terpeleset dan dengan sigap Kaisar memegang tangan Luna agar gadis itu tak jatuh.
Saina menggigit bibirnya pelan ada rasa sesak saat melihat Kaisar yang selalu berusaha menjaga Luna.
Tiba-tiba Saina merasa bahunya dirangkul dari kiri di mana Alfan berada lalu lelaki manis itu membisikan sesuatu padanya.
"Gak usah cemburu."
"Anakonda! Gak ada akhlak Lo rangkul-rangkul Saina. Lepas!" Teriak Alaska menjauhkan tubuh Saina dari Alfan. "Ai kalo Lo kepeleset kayak Luna pegang aja tangan gue." Alfan berdecak muak dengan perkataan Alaska barusan.
Sepertinya yang melihat Kaisar dan Luna tadi bukan hanya Saina. Alfan dan Alaska pun sama mereka memperhatikan apa yang dilakukan dua manusia yang ada di depan sana.
"Yang ada Saina malah nyusruk kalo pegang Lo! Sok sok an mau jadi pahlawan tapi kerjaan telat mulu." Celetuk Alfan langsung mendapat semburan amarah Alaska.
"Mending gue tolongin Saina, lah Lo malah diem-diem bae. Cowok apaan!" Balas Alaska tak mau kalah.
"Gue udah rangkul dia Lo nya aj..."
"Pusing gue denger Lo berdua ribut terus! Jauh-jauh dari gue Lo berdua!" Sentak Saina sambil mengibaskan tangannya ke udara mengusir Alfan dan Alaska agar menjauh darinya. Dengan cepat Saina berjalan lebih dulu meninggalkan Alfan dan Alaska yang masih adu congor di belakang.
Tak ingin memusingkan hal kekanakan Alfan dan Alaska, Saina memilih jalan dekat dengan Kaisar dan Luna. Tapi sepertinya itu adalah kesasalahan besar. Dirinya justru dibuat panas oleh perilaku Kaisar terhadap Luna.
Saina lagi-lagi menelan pil pahit setelah melihat bagaimana Kaisar tertawa hanya karena Luna yang memberi lelucon yang menurut Saina garing.
"Kayaknya lebih mending gue jalan bareng dua setan dari pada jadi kamcong." Lirihnya.
Karena tak memperhatikan jalan Saina tak sengaja tersandung karena batu besar nan licin di depannya. Tak ingin berharap akan ada yang membantunya Saina pun berusaha untuk bangkit sendiri.
Saat kesusahan berdiri sebuah uluran tangan datang. Saina berdecak sebal dirinya pikir itu salah satu tangan dari dua setan yang tadi ribut di belakangnya.
"Gue bisa berdiri sendiri." Seru Saina yakin padahal kakinya lumayan sakit untuk digerakkan.
"Yaudah."
Saina langsung menengadah saat mendengar suara itu. Bukan Alfan dan Alaska melainkan Kaisar. Saina tahu betul seperti apa suara Kaisar. Dan di depannya kini Kaisar mengangkat bahunya lalu berbalik kembali meninggalkannya.
Tahu jika Kaisar yang mengulurkan tangannya Saina sudah pasti menerimanya sepenuh hati. Sekarang hanya penyesalan yang bersemayam dalam hati dan pikirannya.
Saina menatap punggung Kaisar yang pergi menghampiri Luna dengan sedih berharap lelaki itu berbalik dengan peka dan membantunya.
Tapi nihil, Kaisar tatap berjalan menjauh dan sekarang malah dua setan yang datang menertawakan dirinya.
"Mana yang tadi mau jadi pahlawan gue?! Gue nyusruk gak ada yang bantu!" Pekik Saina menghentikan tawa Alfan dan Alaska. Dua lelaki itu membantu Saina berdiri dengan perlahan terlihat mereka berdua menahan tawanya.
"Kaki Lo berdarah Ai, masih bisa jalan gak? Kalo gak, suruh si Alfan gendong Lo." Ucap Alaska langsung mendapat pukulan di bahunya dari Alfan.
"Enak aja Lo! Emang Lo pikir Saina kurus?! Badan kek galon gitu." Sahut Alfan cepat setelahnya lelaki itu dan Alaska malah tertawa.
Saina menatap kesal kedua cowok itu bergantian. Tadi ribut ingin menolongnya sekarang ribut saling melemparkannya. Saina hanya bisa berharap kedua sahabatnya itu cepat-cepat di beri azab.
"Suit aja! Yang kalah gendong Saina!" Usul Alaska yang langsung diangguki Alfan. Saat akan melakukan suit Saina sudah lebih dulu menghalanginya.
"Gak usah gue bisa telpon Gerald buat antar gue balik. Lagian gue udah males lanjut cari air terjunnya." Ujar Saina mengambil handphone-nya.
Saat panggilan tersambung Saina merasakan benda pipih berwarna biru itu dirampas dari belakang. Dengan cepat Saina berbalik melihat siapa pelakunya.
"Lo...!" Ucapan Saina tertahan saat melihat Kaisar yang memegang handphone-nya dengan datar Kaisar menatap Saina lalu berjongkok membelakangi Saina. Memberi isyarat agar cewek itu naik ke punggungnya.
Saina berkedip beberapa kali takut ini hanya ilusi semata. Tapi saat dirinya mencubit kecil perutnya terasa sakit menandakan bahwa ini bukan ilusi.
"Gu.. gue naik punggung Lo?" Tanya Saina tak yakin. Kaisar berdecak malas.
"Menurut Lo?"
Sama seperti Saina, Alfan dan Alaska pun terdiam mereka merasa aneh melihat Kaisar yang tiba-tiba muncul menawarkan dirinya untuk menolong Saina. Biasanya lelaki tampan itu hanya akan fokus pada Luna.
Saina akhirnya mau digendong oleh Kaisar. Dengan perlahan Kaisar mulai berjalan menghampiri Luna lagi.
"Benar gapapa Lo gendong gue?"
"Kalo bukan gue siapa lagi? Lo mau buat mereka berdua ribut terus?" Balas Kaisar.
Kaisar yang jauh di depannya tadi ternyata mendengar keributan dari Alfan dan Alaska. Karena dua orang itu terus saja ribut makannya Kaisar turun tangan untuk menggendong Saina.
"Sorry." Ucap Saina menyesal kalau digendong Kaisar tapi cowok itu tak ikhlas lebih baik dirinya berjalan sendiri lagipula tadi dirinya sudah menelpon Gerald untuk menjemputnya. "Padahal tadi gue udah telpon Gerald mau minta jemput."
"Ck. Emang dia tahu kita di hutan bagian mana?"
"Seenggaknya ada yang tolongin gue."
"Lo gak suka gue yang gendong?"
"Bukan gitu!" Jawab Saina cepat. Masalahnya jika dengan Kaisar dia selalu merasa grogi dan canggung juga ada rasa Kaisar yang sepertinya hanya terpaksa. Ditambah detak kan jantungnya yang cepat.
Kadang Saina aneh dengan sikap Kaisar yang sering berubah-ubah. Kadang cuek kadang baik. Tapi, Saina juga sadar sikap perhatian lelaki itu hanya sebagai contoh perilaku sesama manusia.
Karena beban yang dibawa membuat Kaisar berjalan lambat dan menjadi yang paling belakang. Kini justru Alfan dan Alaska berjalan menghimpit Luna takut gadis itu ikut jatuh seperti Saina.
"Kai, kalo berat mending Lo turunin gue." Ucap Saina melihat Kaisar yang sepertinya kesulitan, Saina merasa tak enak harus menyusahkan orang ini untuk menggendongnya.
"Justru gue aneh, Lo makan banyak tapi gak berat sama sekali." Sahut Kaisar dengan tawa kecil. Jika tidak digendong ingin rasanya Saina melihat bagaimana rupa Kaisar saat ini. Tertawa kecil karenanya.
"Gue gak banyak makan! Cuma ngemil doang." Alasan Saina kembali mengundang tawa Kaisar. "Emang bener gue gak berat?"
"Gak Sa, Lo gak berat." Jawaban barusan sedikit membuat Saina tenang untuk tetap digendong Kaisar. Setidaknya lelaki itu yang tetap ngotot mau menggendong bukan karena Saina yang memaksa.
Saina dengan lancang menaruh wajahnya di bahu Kaisar menidurkannya disana. Merasakan kenyamanan saat dirinya melakukan itu dengan tipis Saina tersenyum mengingat ini pertama kalinya Kaisar mau peduli dengannya.
🍀
"Gak ikut main air?" Tanya Alaska duduk menghampiri Saina yang hanya diam melihat yang lain sibuk bermain air di sungai. Saina masih kesal dengan lelaki itu jadi memutuskan tak membalasnya.
"Mitosnya kalo marah di hutan jodohnya bakal diambil temen sendiri." Ucap Alaska menakuti Saina sayangnya gadis itu tak percaya dengan mitos abal-abal Alaska. Saina tetap diam menghiraukan Alaska yang sekarang terlihat cemberut.
"Alfan jangan ciprat aku! Kaisar marahin Alfan!" Jerit Luna dari tengah yang mendekati Kaisar meminta pertolongan. Alaska langsung beranjak meninggalkan Saina dan pergi menghampiri Luna yang kesal karena ulah jahil Alfan.
Saina menghela nafas berat dilihatnya Kaisar dan Alaska yang mencoba menghalangi cipratan air yang Alfan buat untuk Luna. Ada rasa cemburu melihat sahabat kecilnya dan orang yang disukanya sangat peduli pada Luna.
Padahal baru saja kedua lelaki itu menjadikan Saina sebagai prioritasnya. Nyatanya mereka hanya datang karena ruang kosong yang dibuat Luna. Bukan karena memang mereka ingin.
Sekarang apakah salah Saina ingin meminta pada Tuhan agar Luna menjadi jahat? Agar Saina bisa membenci Luna. Gadis baik itu tidak ada nilai mines sama sekali membuat Saina sulit untuk membenci sepupunya itu.
"Upil Abu! Sini Lo diem mulu nahan berak Lo?!" Teriak Alfan mengundang yang lain menatap Saina yang sedang melamun. Karena tak ada sahutan Alfan kembali.
"Kenapa? Udah beres main airnya?" Tanya Saina tak nyambung. "Kalo belum gue balik duluan." Ujar Saina malas lalu beranjak pergi dari batu yang ia duduki.
Tak ada yang mencegahnya seolah mereka tak khawatir akan terjadi sesuatu pada Saina. Sama halnya Saina yang tak sadar jika dirinya bisa saja lupa jalan pulang apalagi sekarang dirinya melewati hutan. Tempat yang sangat dirinya hindari.
Berjalan terus dengan pandangan kosong membuat siapapun yang melihat Saina sekarang pasti akan mengira bahwa Saina adalah mahkluk tak kasat mata yang ada di hutan ini.
Karena tak melihat jalan yang ia lalui Saina tersandung oleh akar pohon yang merambat ke jalanan yang ia lalui.
"Aish...." Setelah jatuh barulah Saina sadar dirinya hanya sendiri dan tak tahu di mana. Saina yakin ini bukan jalan ke villa. "Gue dimana?"
Berharap ada yang menjawab tapi ia hilangkan harapannya karena jika ada yang menjawab bukankah lebih menakutkan. Saina yakin keempat sahabatnya tak ada yang sadar Saina hilang di hutan.
Bayangan masa lalu dimana dirinya hilang di tengah hutan pun datang membuat Saina ketakutan. Ditatapnya satu persatu pohon besar yang mengelilinginya.
Sekarang telah senja itu membuat Saina semakin panik, takut tak bisa kembali ke villa.
Ada banyak hal yang dirinya sesali dan hari ini dirinya menyesali kenapa harus marah pada Alaska jika tidak mungkin lelaki itu akan diam duduk di sampingnya tadi.
"Saina bego! Saina bodoh! Saina tolol!" Umpatnya untuk diri sendiri. Saina ingat dirinya membawa handphone dan langsung menyalakannya. Sayangnya di tengah hutan begini sinyal tidak dapat ditangkap oleh handphone nya.
"Al please cari gue lagi." Ucap Saina berharap. Dulu Alaska bisa menemukannya dan sekarang Saina berharap lelaki itu datang lagi menolongnya.
"Jangan Al deh, kan gue lagi marah sama dia. Kaisar aja eh jangan gue juga marah, Alfan apalagi. Terus gue harap siapa yang tolongin?" Seperti orang kurang waras Saina bertanya lalu menjawab pertanyaannya sendiri.
"Gerald! Ya, semoga Gerald peka gue hilang terus cari gue disini. Kalo dia yang duluan ketemu gue, gue akan rela dijodohin sama dia." Ujarnya putus asa.
Karena lelah dan takut Saina memutuskan untuk duduk di batang pohon yang sudah potong. Dirinya mencoba untuk tidak menangis.
Sudah beberapa jam tapi masih belum ada yang menemukannya bahkan sekarang sudah gelap. Apakah memang tidak ada yang peduli padanya?
Saina merapatkan kedua lututnya menahan angin yang membuat tubuhnya kedinginan sekarang. Disaat seperti ini Saina ingin menangis memohon agar ada seseorang yang menolongnya.
"Mamah Saina mau pulang! Saina gak akan nakal lagi, Saina akan ikutin kemauan Mamah sama Oma, Saina mau dijodohin sama Gerald." Saina tak lagi bisa membendung tangisnya. Sekarang wajah gadis itu sudah dipenuhi oleh air mata.
Tubuhnya meremang ketakutan saat mendengar suara yang menakutkan berasal dari balon semak-semak. Takut-takut ada mahkluk ganas yang akan memakannya.
"Hiks.. Hiks.."
🍀
"Kebo Bangun Lo! Tidur terus!" Sentak Alaska memasuki kamar Saina dengan nampan berisi makanan dan air putih. Ditaruhnya nampan itu di nakas dekat tempat tidur. "Gue pikir Lo pingsan di hutan, taunya lagi ngorok!"
Lelaki itu dengan kasar menendang kaki Saina yang masih tertidur. Karena kesal tak bangun juga akhirnya Alaska memakai cara lain yaitu menjepit hidung Saina hingga gadis itu susah bernafas.
Saina membuka matanya perlahan lalu mulai meregangkan tubuhnya. Dilihatnya sekarang dirinya sudah ada di kamar Villa yang ia tempati.
Kenapa dirinya bisa ada di sini? Bukankah terkahir kali dalam ingatannya dirinya ada di tengah hutan menangis ketakutan?
Siapa yang membawanya kemari? Saina bukan hanya ingin berterimakasih tapi ia juga ingat dengan janjinya
Saina memandang kesal pada lelaki itu. Mendengar dari geraman Alaska barusan sepertinya lelaki itu lagi yang menemukannya di hutan.
Tuhan tidak bisakah diganti saja menjadi Kaisar atau Gerald? Saina lebih ikhlas jika yang menemukannya adalah Alfan dari pada orang yang sekarang duduk di kasurnya berusaha untuk menyuapi sesuap nasi dengan lauk pauk lainnya.
"Gak bosen Lo ilang terus di hutan?"
"Lo juga! Gak bosen tolongin gue di hutan?" Balas Saina. Dirinya masih mengantuk tapi sudah disuguhkan sepiring makanan. Saina tahu itu dari mamahnya yang menyuruh Alaska. Karena jika mamahnya yang menyuruh Saina akan menolaknya dan mamahnya tidak bisa menolak. Sedangkan jika dengan Alaska atau Alfan kedua lelaki itu akan memaksa tanpa belas kasihan.
"Syukur Lo ketemu kalo gak? Lo bisa jadi lalapan Maung di hutan." Cerca Alaska sedikit mencibirnya.
"Gak ikhlas banget Lo nolongin gue." Sahut Saina mencebikkan bibirnya.
"Kan gue kepaksa."
"Dih! Yaudah sana Lo pergi!" Usir Saina mengambil piring yang dibawa Alaska lalu menyuruh lelaki itu pergi. "Hush.. pergi dah Lo Hama!"
"Gak ada akhlak ya Lo bukannya bilang makasi malah Lo usir!"
"Cerewet banget Lo ganggu kuping cantik gue!" Alaska memasang ekspresi wajah ingin muntah jijik mendengar ucapan Saina barusan. "Apa? Mau mati Lo?!"
"Iyee! udah gue mau mati eh maksud gue mau pergi." Dengan malas Alaska beranjak dari kasur Saina. Saina menahan tawanya tak kala mendengar ucapan salah Alaska. "Ketawa aja udah keliatan jelas Lo mau banget ngetawain gue." Ucapnya ikut sebal menatap Saina malas.
"Udah sana! Gak jadi-jadi Lo perginya." Alaska pun pergi saat menutup pintu lelaki itu menyembulkan kepalanya ke dalam dan memandang Saina lekat.
"Ai Lo beneran mau terima perjodohan Lo sama Gerald?" Tanyanya tiba-tiba dengan wajah yang innocent. Saina membalas itu dengan bingung jadi hanya menghedikkan bahunya.
Setelahnya Alaska benar-benar pergi menutup pintunya perlahan takut membuat kebisingan. Saina menghela nafas dan beranjak dari kasur tak ingin melanjutkan makan yang sudah Alaska bawa tadi.
Gadis itu berjalan ke arah balkon kamar yang menghadap langsung ke hutan. Saina duduk di salah satu kursi yang ada disana.
"Kemarin aja cerita seolah tau hidup gue gimana tapi hari ini dia seolah lupa sama kalimat yang dia ucapkan kemarin."
Alaska kemarin berhasil membuat Saina berharap lebih atas perkataannya. Tapi nyatanya lelaki itu sama saja hanya ingin membuat Saina sedikit bahagia saja.
Itulah mengapa Saina cukup sulit untuk membagi isi hatinya pada orang lain kecuali Alfan. Ada rasa takut dan kehilangan saat dirinya menyadari kenyataan Alaska dan Kaisar yang lebih peduli pada Luna.
Kalau Alfan, Saina benar-benar merasa lelaki itu netral dirinya bisa merasakan perhatian lelaki itu terbagi dengan sempurna padanya maupun Luna. Dan Saina tak pernah mendapat pembenaran atau penyalahan sepihak saat dirinya yang selalu bercerita pada Alfan.
Saina melihat Gerald yang sedang memberi makan cimol di halaman belakang. Lelaki itu tersenyum senang saat berinteraksi dengan hewan itu sama halnya saat bersama Saina.
Sesekali Gerald bersiul dan menggerakkan tangannya mengusap kepala burung itu. Saina tak sadar telah tersenyum melihat Gerald si lelaki kaku itu bisa berinteraksi dengan konyol di depan seekor burung kakak tua.
Untuk pertama kalinya Saina melihat Gerald memakai baju santai. Dan itu sangat memukau perhatian Saina. Baju berwarna hijau tosca yang dipadukan dengan celana panjang berwarna cream itu sangat cocok bagi Gerald.
Tiba-tiba Gerald menghadap Saina menatapnya dari jauh lalu tersenyum sambil melambaikan tangannya. Saina gelagapan sendiri karena sudah terlihat memperhatikan Gerald.
Dengan canggung Saina membalas lambaian tangan Gerald. Lelaki itu tersenyum manis dan cukup membuat diri Saina terpesona.
"Jangan sampe gue duluan yang suka dia."
🍀
Tbc.