Siapa yang tahu? Bahwa semuanya telah direncanakan?
- Aamirila Haider
Ruangan sangat besar ini dilengkapi dengan beberapa kursi dan sebuah meja besar. Bernuansa hitam dan abu-abu, menambah kesan gelap disetiap ruangan ini.
"Rapat di mulai." ujar nya tegas.
Aamirila memperhatikan para dewan direksi memberikan semua asumsi mereka mengenai proyek yang mereka kerjakan masing-masing. Tidak ada yang bisa mengelak lagi kali ini, dana yang dikeluarkan perusahaan mengalami perubahan drastis di bulan ini. Aamirila akan langsung mengeluarkan orang tersebut sekarang juga, tapi lihatlah dulu bagaimana cara dia berbohong lebih banyak lagi.
"Bagaimana menurut anda nona?"
"Penurunan nya cukup drastis bukan? Bagaimana dana perusahaan ini bisa dihabiskan secepat itu. Dalam kurun waktu hanya 2 minggu?" tanya Aamirila tanpa mengindahkan pertanyaan lain nya.
"Izin menjawab nona, di proyek yang kita tangani yaitu membuat resort kita sudah menghabiskan lebih dari 3 miliar dalam 2 minggu." ujar bagian administrasi.
"Tanggung jawab siapa di proyek itu? Apa kau tuan Reza?" tanya Aamirila.
"Benar nona, semua transaksi sudah di catat dan di masukkan ke data perusahaan. Anda bisa meminta nya kepada tuan Sihab."
"Semua nya sudah saya lampirkan di file yang saya kirim nona, anda bisa melihatnya. Saya sudah menuliskan beberapa uang yang tidak memiliki transaksi tapi masuk ke dalam rekening perusahaan."
Aamirila diam, mengambil file yang sudah dia tanda tangani untuk dibagikan kepada semua orang yang sedang mengikuti rapat sekarang. "Bacalah, bagaimana saya melihat dimana semua uang yang sudah kalian ambil dari rekening perusahaan."
"Bacalah dengan baik, saya tidak ingin ada keraguan lagi. Bukankah sudah banyak uang perusahaan saya yang habis dengan sia-sia, saya maafkan tapi kali ini saya akan mengeluarkan kalian dengan baik dari Haider Group."
"Bagaimana tuan Reza? Kau mengerti maksud ku?"
"Kau menyalah kan saya nona?"
"Hebat tuan Reza... kau tidak membaca berkas yang saya berikan, bacalah dahulu sebelum anda menyela nya." jawab Aamirila.
Aamirila menunggu sebuah kata-kata yang menyudutkan seseorang yang sudah menggelapkan dana perusahaan nya. Tidak, ia tidak akan membuat dirinya mengatakan hal keji untuk seseorang yang seharusnya tidak perlu ia marahi. Tidak ada gunanya, membuat seseorang terdiam dan tersudut sendirian.
"Kau keterlaluan tuan," ujar tuan Sihab.
"Apa maksud anda tuan Sihab?"
"Kau yang menggelapkan uang perusahaan, dan kami semua yang harus menanggung nya."
"Tidak, semua ini tidak benar." sanggah tuan Reza.
"Semua data ini mengarah padamu tuan, apa kau yakin ini adalah salah paham."
"Saya tidak pernah mengambil uang perusahaan nona, percayalah kepada saya."
"Maaf, seperti yang tertulis di berkas tersebut. Bahwa saya tidak akan mengampuni lagi, jadi silahkan bereskan barang-barang anda dan segera pergi."
"Peringatan terakhir bagi kalian yang masih ingin macam-macam dengan Haider Group, kalian tahu siapa saya! Saya akan melakukan hal yang tidak pernah kalian duga sekalipun. Percayalah, saya Aamirila Haider tidak pernah main-main dengan ucapan saya." peringat Aamirila kepada semua orang yang sudah berada di ruangan nya ini.
"Baik nona."
"Silahkan kembali keruangan kalian, saya ingin kalian memperbaiki semuanya dalam waktu 3 hari dari sekarang."
Semua orang telah meninggalkan ruangan, kini tersisa Aamirila seorang diri tengah menatap layar besar didepannya ini dengan seksama.
"Halo, nona. Selamat sore," sapa Ryan.
"Bagaimana keadaan disana?"
"Disini baik nona, proyek nya akan segera selesai. Setelahnya anda bisa kesini, untuk segera meresmikan nya."
"Bagaimana dengan Aamirita?"
"Mereka belum tiba nona, bukankah mereka baru saja pergi dua jam yang lalu?"
"Bagaimana bisa kau tahu?"
"Zain kehilangan dompet nya nona, di meminta ku untuk melacak dompet nya."
"Baik, terima kasih. Jaga dirimu, selamat sore." tutup Aamirila yang kemudian meninggalkan ruangan rapat dan kembali keruangan nya.
Sudah seminggu ini dia tidak pernah kembali ke rumah nya, bahkan untuk sekadar mengantarkan bunga lily yang biasanya dia beli.
"Sista, bunga lily pesanan ku apa sudah sampai?"
"Belum nona, kembali lah keruangan anda. Saya akan mengantarkan nya jika sudah sampai."
"Baiklah."
Aamirila Haider: Tolong antar kan beberapa berkas yang ada di meja kerja ku. Masukkan sidik jari untuk masuk kesana, semua sudah aku atur agar bibi dapat masuk kesana.
Send
Setelah mengirimkan pesan, Aamirila kembali duduk dan diam sambil menatap dirinya di balik cermin yang tidak jauh dari meja nya. Cermin itu memang sengaja diletakkan disana agar dia bisa melihat dirinya dari balik pantulan cermin.
"Siapa kau?"
"Aamirila Haider,"
"Kau bahagia?"
"Tidak, sama sekali tidak."
"Kenapa?"
"Apa kau menderita?"
"Tidak, aku tidak menderita."
"Lalu? Apa yang selalu membuat mu cemas?"
"Harta, tahta, kebahagiaan, balas dendam."
"Kau harus memaafkan dirimu sendiri."
"Untuk apa?"
"Agar kau terbiasa menghentikan sikap buruk mu itu."
"Aku tidak perlu nasihat mu."
"Kau perlu, sangat perlu."
"Pergilah! Siapa kau sebenarnya?"
"Aku adalah kau, diriku yang tersiksa saat kau melakukan hal yang seharusnya tidak pernah kau lakukan."
"TIDAK! PERGILAH!" teriak Aamirila kencang.
"Nona, baik-baik saja?" tanya Sista sekretaris nya.
"Saya baik-baik saja, pergilah." usir Aamirila.
"Siapa aku sebenarnya?" tanya Aamirila dengan dirinya sendiri.
Ting
Tirta Kesuma: Nona proyek disini membutuhkan Zain, paraf nya untuk segera menyelesaikan pekerjaan mereka.
Aamirila Haider: Katakan saja kau yang menggantikan nya, jangan pusingkan masalah ini. Zain tidak akan mau mendengarkan siapapun.
"Tirta benar-benar menjadi manusia bodoh sekarang!" kesal Aamirila, kenapa semua orang menjadi bodoh disaat yang tidak tepat.
Tok tok tok
"Masuk."
"Nona... bunga nya."
"Letakkan saja." jawab Aamirila tanpa menatap sekeliling nya bahkan bunga yang sangat harum menyeruak didalam ruangannya.
"Saya permisi nona."
Setelah kepergian sekretaris nya, barulah dia menatap bunga yang sudah diletakkan diatas meja nya. Bunga itu masih terlihat sama, indah, harum, dan sangat cantik. Tidak ada yang bisa menggantikan bunga tersebut.
"Apa kabar? Kalian baik-baik saja." tanya Aamirila dengan dirinya sendiri.
"Jangan takut tidak ada yang bisa menyakiti Aamirita, aku berjanji."
***
"Tuan Ryan, maaf menganggu anda. Tapi, sepertinya ada sedikit masalah dengan proyek nya."
"Masalah apa?"
"Ada sedikit bahan yang tidak diantar, padahal barang itu akan segera digunakan."
"Tanyakan pada tuan Tirta, aku tidak bisa mengambil keputusan apa-apa."
"Baik tuan, terima kasih."
Ryan Pamungkas: Tuan Tirta, bagiamana bisa ada barang yang tidak dikirim.
Send
"Dia mengatakan, tidak perlu ada yang di khawatirkan. Lihatlah sekarang, pegawainya mengeluh tidak ada barang." gumam Ryan sendirian.
"Halo,"
"Bagaimana bisa ada barang yang tidak dikirim Ryan?" tanya Tirta.
"Saya tidak paham, pegawai mu yang mengatakan nya."
"Kurasa barang nya sudah dikirim tapi mereka belum mengecek nya."
"Sambungkan telepon nya dengan sekretaris ku,"
"Baiklah, tunggu."
"Muti, kenapa ada barang yang tidak terkirim."
"Maaf tuan, saya juga tidak tahu. Itu adalah barang terakhir yang dipesan oleh pihak distribusi."
"Tanyakan pada mereka, saya yakin sudah memesan nya. Sudah dilakukan transaksi juga. Buktinya sudah ada di berkas yang saya lampirkan saat rapat terakhir kemarin, coba kamu cek di ruangan saya."
"Baik tuan."
"Ryan, terima kasih."
"Sama-sama."
Sambungan telepon mati, Ryan mendapati ada yang berbeda dengan tuan Tirta hari ini. Dia tidak seperti biasanya, bahkan memanggil sekretaris dengan nama nya saja Tirta tidak pernah melakukan nya. Bagaimana bisa Tirta bersikap se sopan itu.
"Muti, masuklah keruangan saya."
"Baik, tuan."
Tok tok
"Masuk."
"Muti, duduklah."
"Ada apa tuan?"
"Tuan Tirta, biasa memanggil mu dengan sebutan apa?"
"Nona, tuan."
"Tadi dia memanggil mu dengan nama mu. Apa itu pernah terjadi?"
"Tidak tuan, dia selalu memanggil saya nona. Saya juga terkejut ketika dia memanggil saya dengan nama."
"Terima kasih infonya, silahkan kembali ke pekerjaan mu."
"Semua orang sedang gila, kenapa semua nya terlihat aneh."
***
Perjalanan cukup panjang, duduk di kursi selama berjam-jam, membuat nya terasa kebas.
"Kau lelah?"
"Tidak,"
"Bisakah berhenti memakan cemilan mu itu?"
"Kenapa? Kau mau juga?"
"Hitung berapa bungkus cemilan yang sudah kau makan selama beberapa jam ini."
"Kau ini kenapa Zain? Aku yang makan kau yang tidak suka."
"Jika nanti kau sakit aku akan dimarahi oleh kakak mu."
"Itu tidak akan terjadi, tenang saja."
"Jangan minum soda Aamirita, minum saja air mineral yang kau beli tadi."
"Cerewet! Kau lebih baik tidur, aku akan tetap terbangun jika aku masih sangat lapar."
"Lapar mu seperti tidak makan bertahun-tahun lamanya," jawab Zain.
"Diam tuan Zain Raihan Ali."
"Terserah kau saja nona." pasrah Zain.
"Dasar wanita aneh." gumam Zain pelan sambil menatap layar didepannya ini.
"Kau mengatakan sesuatu?"
"Diam, makan saja kau."
"Apa kau membalas perkataan ku?"
"Tidak, kau saja yang merasa."
"Baiklah-baiklah."
Tuhan mengirimkan dirimu untuk mengobati lukamu yang belum kunjung sembuh hingga sekarang.
***
Hai ketemu lagi!
Jangan lupa vote dan komen ya!
See next chapter gais!