"Nggak apa-apa, Pak. Saya pulang sendiri aja, nggak mau ngerepotin."
"Nggak, kok, Eunha. Saya nggak merasa direpotkan. Lagian rumah kamu di daerah X, kan? Searah dengan rumah saya."
Eunha menatap atasannya itu dengan sungkan. Ia sebenarnya menolak Jaehyun mengantarnya pulang karena ia tidak mau jadi bahan gosip di kantor. Apa lagi sebagian orang yang satu divisi dengan Eunha sudah tahu kalau Eunha sudah menikah.
"Tapi, Pak ...."
"Udah nggak apa-apa bareng aja."
Eunha tidak punya selain mengangguk saja. Mungkin satu kali tidak akan menimbulkan gosip aneh-aneh. Mereka berjalan beriringan menuju parkiran kantor. Saat sampai di mobil Jaehyun Eunha kaget saat ada yang menarik tangannya tiba-tiba.
Ia lebih terkejut saat tahu orang yang menarik tangannya adalah Jungkook.
"J-Jungkook ...." lirih Eunha.
"Kamu ikut aku, kita harus ngomong!"
"Lho, Pak Jungkook?" Jaehyun menatap bingung pada Jungkook. Tatapanya beralih ke tangan Eunha yang di pegang oleh Jungkook. "Ada apa ini?"
"Maaf, Pak Jaehyun. Biar Eunha pulang bersama saya dulu," ucap Jungkook pada Jaehyun kemudian menarik Eunha. Namun sebelum ia pergi dari sana, Jaehyun juga memegang tangan Eunha.
"Maaf, Pak Jungkook. Saya tidak bisa mengizinkan sekretaris saya pergi dengan orang asing. Apa lagi bapak membawanya secara paksa."
Jungkook langsung melayangkan tatapan nyalang pada Jaehyun. "Kami bukan orang asing, Pak. Dan juga ada hal yang penting yang saya harus bahas dengan dia. Saya harap bapak mengerti."
"Tapi ...."
"Yang dikatakan Pak Jungkook benar, Pak. Saya dan beliau sebenarnya sudah saling kenal secara pribadi. Biar saya pulang sama Pak Jungkook aja." Eunha menyahut karena tidak ingin ada keributan di tempat ini. Eunha tahu persis kalau Jungkook dan Jaehyun itu sama-sama pemaksa.
"Kamu mau ngomong soal apa?" tanya Eunha ketika sudah masuk ke dalam mobil bersama Jungkook.
"Kamu ada hubungan apa sama Pak Jaehyun?" tanya Jungkook balik, mengabaikan pertanyaan Eunha sebelumnya.
"Bos sama sekretaris."
"Bohong! Kalian kelihatan dekat."
Eunha langsung menatap tajam Jungkook, perempuan itu marah karena Jungkook asal menuduhnya.
"Memangnya kalau ada urusannya sama kamu apa? Ingat ya, kita sudah cerai!"
"Nggak. Kita belum cerai!"
"Memang belum, sih. Tapi minggu depan sidangnya diadakan dan kita akan bercerai."
"Nggak. Kita nggak akan cerai!"
"Maksud kamu apa, Jungkook?!" bentak Eunha yang mulai kesal. "Apa jangan-jangan karena kejadian malam itu? Aku udah bilang lupain aja. Kamu mabuk berat, kamu pasti ngira aku Yeoreum, kan?"
Jungkook langsung membanting stir mobilnya ke pinggir jalan dan berhenti tiba-tiba. Hal itu membuat Eunha terkejut. Ia menatap Jungkook yang juga menatapnya dengan tajam.
"Walaupun aku mabuk, tapi aku ingat aku tidur dengan kamu dan aku sama sekali tidak membayangkan Yeoreum malam itu."
Lidah Eunha mandadak menjadi kelu. Ia tidak tahu ingin bilang apa. Tapi saat menatap mata Jungkook, sama sekali tidak tertulis kebohongan di sana.
"Mau kamu sebenernya apa, Jungkook?" tanya Eunha terdengar lirih.
"Aku nggak mau kita cerai, Eunha," jawab Jungkook pelan. Ia menatap dalam mata bulat milik Eunha.
"Dua tahun pernikahan kita kamu selalu nyakitin aku. Kamu nggak pernah kasih aku perhatian, nggak pernah anggap aku ada, kamu selingkuh di depan mataku, kamu bahkan nggak pernah nyentuh aku! Dua tahun aku tahan semua luka yang kamu kasih, Jungkook!"
Jungkook tertohok mendengar perkataan Eunha. Ia makin menyesali perbuatannya yang telah menyakiti Eunha.
"Saat aku mau melepas luka itu, tapi kamu datang dan seenaknya bilang nggak mau cerai?! Bahkan kamu nidurin aku disaat kita sudah tanda tangan di surat cerai itu! MAKSUD KAMU APA, HAH? NGGAK CUKUP DUA TAHUN KAMU NYAKITIN AKU?!"
Tangis Eunha pecah. Ia langsung menangis meraung-raung. "Apa salah aku, Jungkook? Kenapa kamu tega lakuin ini sama aku?" ucap Eunha di sela-sela tangisnya. Tanpa berpikir Jungkook menarik Eunha ke dalam pelukannya.
Jungkook makin dibuat bersalah. Semua perbuatannya yang menyakiti hati Eunha tiba-tiba berputar di ingatannya dan membuatnya menitikkan air mata.
"Kamu nggak salah Eunha, aku yang salah." Jungkook mengucapkan kalimat itu di sela-sela tangisnya. Eunha yang ada di dalam pelukannya Jungkook makin menangis sejadi-jadinya.
Semakin lama tangis Eunha makin reda, ia kemudian melepas pelukan dan menatap laki-laki yang sebentar lagi akan jadi mantan suaminya ini.
"Aku tahu, kata maaf nggak cukup buat nyembuhin luka di hati kamu. Aku sadar, luka yang aku kasih ke kamu itu terlalu lebar, bahkan seribu kata maafku tidak akan bisa nyembuhin hati kamu. Tapi aku mau bilang sama kamu, kalau aku benar-benar menyesal, Eunha."
Eunha hanya diam dengan sesekali ia terhisak karena terlalu banyak menangis. Jungkook mengambil tangan Eunha dan menggenggamnya dengan erat.
"Memang benar, kita melalui dua tahun yang sia-sia sebagai sepasang suami istri. Tapi hanya dalam satu minggu saat kamu pergi, aku merasa kehilangan semuanya. Aku sadar sekarang, aku cinta sama kamu. Selama ini aku selalu menyangkal hal itu karena fakta kalau kita hanya dijodohkan." Jungkook menatap manik mata Eunha. "Aku ... apa aku boleh memperbaiki semuanya?"
Eunha bukannya menjawab ia malah menangis lagi. Ia menangis sambil menutup mulutnya. Eunha tidak pernah menduga kalau ia mendengar kata-kata seperti itu dari Jungkook. Sedikit timbul rasa tidak percaya dalam benaknya. Namun saat melihat tatapan Jungkook padanya, ia tidak menemukan kepura-puraan di sana.
"Kamu nggak bohong, kan?" tanya Eunha di sela-sela tangisnya.
Jungkook menggeleng dengan tegas. "Aku janji, kalau aku nyakitin kamu lagi, aku sendiri yang akan pergi dari hidup kamu. Aku berjanji, Eunha!"
Eunha langsung menggeleng. "Nggak, kamu nggak boleh ninggalin aku!" ucapnya dengan terisak.
Jungkook tersenyum dan langsung menarik Eunha ke dalam pelukannya lagi. Eunha membalas pelukan Jungkook dengan erat. Punggung kokoh yang dulu hanya ia pandangi dari belakang ini, kini ada dalam dekapannya. Eunha nggak akan lepasin sampai kapanpun!
"Sejak kapan?" tanya Eunha di sela-sela pelukan mereka.
Jungkook melepas pelukannya dan menatap Eunha dengan bingung. "Apa yang sejak kapan?"
"Kamu jatuh cinta sama aku."
Jungkook tersenyum tipis, ia menatap lurus ke depan dan meraih tangan Eunha, menggenggamnya dengan erat.
"Aku nggak tahu sejak kapan, tapi saat aku lihat kamu jalan di samping Pak Jaehyun aku merasa marah, dan rasanya aku ingin bawa kamu pulang saat itu juga. Aku pikir itu hanya rasa formalitas aja karena aku suami sah kamu. Tapi ternyata nggak seperti itu. Aku sadar dengan perasaan itu saat kamu pergi ninggalin rumah. Aku ngerasa bener-bener kehilangan. Setiap hari aku selalu ingat-ingat kamu. Kelakuan kejam aku sama kamu selalu berputar-putar di kepala aku dan bikin aku gelisah. Aku sering diam-diam datang ke kafe depan kantor kamu berharap kita bisa bertemu. Jadwal pertemuan dengan Pak Jaehyun seharusnya minggu depan aku percepat hanya karena aku pengen lihat kamu," cerita Jungkook panjang lebar, sedangkan Eunha menjadi pendengar setianya.
"Puncaknya saat cemburu lihat kamu ketawa sama Pak Jaehyun. Aku datang ke klub malam dan minum sampai mabuk. Pulangnya aku malah datang ke rumah kamu dan kita berakhir di ranjang."
"Aku kaget banget malam itu, tahu! Pas kamu nyium tiba-tiba aku hampir teriak!" ujar Eunha.
Jungkook tertawa kecil, "Tapi kamu nikmatin, kan?"
"I-iya, sih ... Tapi pasti malam itu kamu nggak sadar, kan?!"
"Asal kamu tahu, meski aku mabuk, aku tidak pernah lupa sedetikpun malam pertama kita itu. Aku ingat semuanya dengan jelas, Eunha!" Jungkook menatap Eunha dengan intens lagi. "Dan aku tidak pernah bayangin kamu orang lain. Bahkan aku selalu nyebut nama kamu malam itu."
Eunha tersenyum lebar kemudian mengangguk. "Iya, aku percaya, kok."
Jungkook ikut tersenyum, ia mengecup punggung tangan Eunha yang ada di dalam genggamannya.
"Oh iya, bagaimana dengan Yeoreum?"
"Aku sudah mengakhiri hubungan aku sama dia. Aku sadar, aku hanya gunain dia sebagai alat buat nyakitin kamu. Dia memang marah banget, tapi aku nggak bisa maksain perasaan aku juga. Aku harap dia dapat laki-laki yang baik."
"Aku mau nanya satu hal sama kamu lagi, Jungkook. Aku harap kamu jawab dengan jujur!" ucap Eunha lagi. Ia menatap Jungkook dengan intens dan ekspresinya terlihat sangat serius.
"Apa itu? Aku janji akan jawab sejujur-jujurnya!"
"Kamu pernah tidur sama Yeoreum?"
Jungkook awalnya terkejut dengan pertanyaan Eunha, namun detik berikutnya ia tersenyum sendu. "Aku jawab jujur! Aku sama sekali nggak pernah tidur sama dia, karena dalam hati akumemang tidak ada niat ingin nyentuh dia. Kamu satu-satunya wanita yang pernah tidur sama aku, Eunha!"
"K-kamu nggak bohong, kan?"
"Makanya aku sadar kalau aku hanya gunain dia sebagai alat buat nyakitin kamu. Karena dua tahun berhubungan dengan dia aku sama sekali nggak pernah nyentuh dia."
Senyum Eunha langsung mengembang. "Bagus, deh."
"Oh iya, mana surat cerainya? Kamu simpan, kan?" tanya Jungkook pada Eunha.
"Kok kamu tahu?"
"Aku habis ketemu sama pengacara kamu, dia bilang kamu nggak kasih surat cerai itu sama dia. Kamu serius nggak, sih, gugat cerainya?" ucap Jungkook dengan nada menggoda.
"Aku serius, kok!" Eunha mengeluarkan sebuah amplop dari dalam tasnya. "Nih, suratnya! Rencananya hari ini aku mau bawa ke tempat Pak Jin."
Jungkook langsung mengambil surat itu dari tangan Eunha dan merobeknya hingga berkeping-keping. "Kita nggak akan cerai! Selamanya!"
Eunha langsung tersenyum lebar. Perempuan itu meraih tangan Jungkook dan menggenggamnya erat. Jungkook membalas genggaman istrinya itu. Ia menarik istrinya itu mendekat dan mendaratkan ciuman lembut di ubun-ubun Eunha.
"Maaf untuk semuanya, dan terima kasih udah aku kesempatan."