Kedua lengan Gea mengalung di leher Ken. Menahan setiap gerakan Ken yang berusaha menghindari tatapan matanya. Usai makan malam, Ken pamit untuk mengantarkan Gea pulang. Alih-alih pulang ke rumah Oji, Gea minta di antar ke D&G Travel. Mengajak Ken masuk ke ruang rahasia yang beberapa kali menjadi markas baru Gea.
"Kamu ada apa sebenarnya?" tanya Gea serius, menatap tepat di kedua matanya. Kali ini Dia tidak membiarkan Ken mengalihkan tatapan lagi seperti beberapa menit yang lalu saat Dia meminta kejelasan mengapa Ken melamarnya, meminta mereka memajukan pernikahan dari waktu yang sudah disepakati. Meski belum jelas kapan waktunya, tapi Ken berjanji akan memberikan waktu untuk Gea.
Kedua mata Ken terpejam karena tidak bisa mengalihkan tatapan saat Gea menahanya terus menerus. Dia menunduk, menumpukan dahinya pada dahi Gea. Berbagi rasa hangat yang begitu disukai olehnya dan secara ajaib memberikan ketenangan untuk dirinya yang dilanda gelisah.
"I'm sorry. Really sorry, hon." bisik Ken. Hidung mereka bersinggungan ringan, seringan bulu.
"Why sorry to me?"
Kali ini Ken membuka mata, berbalik merangkum wajah cantik Gea yang tampak sendu. Pancaran mata Gea terlihat gusar. Jemarinya bergerak mengurut kerutan halus di dahi Gea. Turun dan mengusap tulang pipi Gea yang begitu indah. Mencari jejak lekukan saat Gea tersenyum.
"Karena berpikiran buruk tentang Kamu."
"What.. do you mean?" tanya Gea bingung. Dia meluruhkan lengan dari pundak Ken dengan tubuh yang sedikit bergetar. Ken segera menahan lengan Gea dan meletakanya di pinggang.
"Saat Om Dana membicarakan tentang Kamu, Aku memotongnya." mulai Ken. "Aku menghentikan apapun yang akan Dia katakan tentang Kamu. Karena Dia lancang menyelidiki latar belakang Kamu."
"Om Dana mengalahkan Aku dengan telak saat Aku tidak memiliki argumen untuk menjawab pertanyaanya. Dia bilang, kalau Aku secara tidak langsung juga berfikir buruk tentang Kamu karena menghentikan kalimatnya yang Aku pikir itu berisi sesuatu yang buruk tentang Kamu." jelas Ken sedikit terbata.
Ken menarik Gea kedalam pelukanya. "Aku takut Kamu akan pergi dari Aku kalau benar Om Dana akan melakukan sesuatu yang nggak baik sama Kamu. That's why Aku lamar Kamu lagi dan ingin secepatnya menikah."
"Tapi setelah Kamu keluar dari rumah dengan gestur yang kaku... Aku tahu Aku salah karena terlalu tergesa-gesa dengan semua ini." Ken mengusap rambut belakang Gea. "Seharusnya Aku dengerin dulu apa yang Om Dana pikirkan tentang Kamu, dan Aku membenarkan apa yang salah dengan pemahaman Dia tentang Kamu. Kalau perlu Aku harusnya membela Kamu habis-habisan didepanya."
Gea mendorong tubuh Ken lembut. Menatap wajah Ken yang tampak menelas. "Bukan bermaksud tidak percaya atau ragu sama Kamu, tapi Ya.. Aku sakit hati saat orang lain salah memahami seperti apa Kamu. Aku nggak rela orang mengatakan hal buruk tentang Kamu. Aku marah saat orang-orang.. menganggap remeh siapa Kamu. Dan.. "Ken menelan ludah, tercekat oleh gumpalan yang begitu menyesakan dada dan pikiranya. "Aku marah sama diriku sendiri karena Aku juga sempat berpikiran buruk tentang Kamu."
Ken menaikan sepasang matanya yang mulai basah. "Maaf, Maafin Aku Yaya."
Sebelah mata Gea gagal menahan bendungan air mata. Meluruhkan genangan kecil menuruni pipinya. Dia mengusapnya pelan sebelum mengulurkan jarinya dan mengusap aliran air mata yang juga membasahi pipi Ken.
Kedua sudut bibirnya tertarik pelan, membentang sebuah senyuman haru. "Terimaksih sudah mencintai Aku seindah ini." bisik Gea dengan suara bergetar. Dia memejamkan mata, menjernihkan tatapanya untuk menatap wajah Kenan. "I love you so much. I really do, deeply."
Ken mendaratkan ciuman dibibirnya. Ciuman Ken seperti berkisah bagaimana Ia mencintai Gea selama ini. Jatuh bangun bertahan hidup saat kewarasanya tergempur rasa rindu dan kehilangan karena kepergian Gea.
"Yes Kenan Laza McAdams, I will marry you ASAP you want."
©©©
Nela mempercepat langkah kakinya menapaki halaman perpaving kediaman rumah Hadi Armani saat melihat tantenya berdiri mematung dengan wajah pias. Kedua tanganya mengepal, kaku seperti wajah dan tubuhnya. Dihadapanya berdiri seorang perempuan yang seumuran denganya, menatap wajah Tasya dengan sinis.
"Tante, tante Tasya kenapa?" tanya Nela khawatir. Dia melirik wanita yang ada didepanya menyilangkan tangan menatapnya dengan raut bosan. "Siapa Anda?"
Dengusan keluar dari bibirnya. "Saya Sarah."
Hanya dua kata, dan Nela sudah menemukan jawabnya. Wanita ini adalah wanita yang sama dengan yang ada di foto-foto yang Jeno berikan. Tubuhnya sedikit limbung, berusaha menahan tubuh tantenya yang hampir meluruh ke lantai.
"Dimana Hadi Armani? Saya tidak punya banyak waktu karena putra Kami ingin bertemu."
Kalimat itu sukses memaku tubuh Nela. "Putra?"
"Iya, Putra Kami. Oji Purba Diantoro, pemilik O'graphy Studio." Sarah mengetuk jam tangan. "Saya tidak punya banyak waktu. Dimana Hadi Armani? Saya kesulitan menghubungi Dia beberapa hari ini."
Tasya menatap Sarah dengan sorot nanar. Dia menepuk punggung tangan Nela lembut. "Hadi Armani pergi ke Surabaya sudah satu minggu ini."
"Ada urusan bisnis disana?"
"Saya juga tidak yakin apa yang sedang Dia lakukan disana." ucap Tasya mantap setelah berhasil menguasai rasa terkejutnya. "Dan untuk Ibu Sarah, tolong jangan pernah kemari lagi untuk mencari Hadi Armani. Setelah hari ini, Hadi Armani tidak akan pernah menginjakan kaki disini lagi. Saya akan pastikan itu, dan mungkin akan menyuruhnya pulang ke rumah kalian. Terimakasih."
"Pak Mar, tolong antar Ibu Sarah keluar. Pastikan jangan membukakan pintu untuk Dia dan Hadi Armani lagi." Tasya tersenyum datar dan berbalik. Melangkah pelan memasuki rumahnya.
"Tante okay? Mau Nela ambilkan minum lagi?" tanya Nela setelah menerima gelas dari tante Tasya.
"Cukup, terimakasih sayang. Tante sudah baik kok." Nela duduk di sisi Tasya. Mengusap lengan wanita paruh baya itu dengan lembut. "Tante sudah tahu cepat atau lambay hal ini akan kembali terjadi." Tasya mengatakan dengan tatapan kosong. Datar tanpa emosi apapun. Nela salut dengan pengendalian diri yang dimiliki Tasya.
Nela mengernyit. "Kembali terjadi?" tanya Nela bingung.
Tasya tersenyum sendu. "Ini bukan kali pertama selingkuhan Om Hadi datang. Tapi yang membuat tante terkejut, Dia memiliki putra yang lebih tua dari Wisnu." Tasya dan Hadi memiliki putra berusia tiga puluh dua tahun. "Apa tante salah satu selingkuhan Om Hadi yang beruntung dinikahinya?" kali ini senyuman sinis mencuat. "Tapi bukankah ini sebuah kesialan lebih tepatnya?"
"Nela dengar." Tasya menangkup wajah Nela lembut. Sejak kecil, Dia sudah dekat dengan Tasya. Nela seperti anak perempuan bagi Tasya. "Saat Kamu memilih pendamping suatu saat ini, pertimbangan yang harus Kamu ambil adalah Dia mencinta Kamu dan Kamu nyaman karena di cintai oleh Dia. Jangan abaikan keraguan sedikit apapun itu. Talk to him, sebelum Kamu ambil keputusan besar untuk hidup bersamanya."
"Kamu tidak akan kesulitan mencintai pria yang mencintaimu selama Kamu nyaman dan merasa aman. Hati Kamu akan menuntun dan berkata bahwa ini cinta yang benar."
©©©
Oji memukul kap mobil dengan keras. Meninggalkan jejak peyok disana. Dia mengabaikan tanganya mengucurkan darah seakan tidak terjadi apa-apa dengan tanganya. Kedua lenganya bertumpu pada body mobil. Mencoba menenangkan desakan yang memenuhi dadanya.
Kemarahanya memuncak saat tahu apa yang telah dilakukan Mamanya. Tidak hanya mengganggu Dara-Mama Gea- tapi juga mengusik Gea lewat Dana Armani. Menyebabkan terganjalnya restu untuk bersama Ken. Gagal menghancurkan hubungan Ken dan Gea, Mamanya datang menemui istri dari Hadi Armani dan membawa namanya. Wanita yang beberapa menit lalu datang padanya.
"Meski tidak lahir dari rahim Saya. Kamu tetap anak Saya." kakinya menyilang anggun. "Perkenalkan, Saya Tasya Armani. Suami dari Ayah kandung Kamu: Hadi Armani."
Oji hanya diam menatap wanita paruh baya yang masih mengenakan kacamata hitamnya. "Mama Kamu datang mencari Hadi Armani karena Kamu ingin bertemu denganya." Dia kembali menurunkan kaki. Menegakan tubuh. "Katakan pada Sarah, Hadi Armani bisa Dia miliki setelah Dia bersedia menandatangani surat gugatan cerai dari Saya. Kalian bisa hidup bahagia setelahnya."
"Saya tidak akan mencari Hadi Armani. Ayah Saya Ganesha Diantoro dan Saya sudah bahagia hidup denganya dan Adik Saya."
Tasya menaikan sudut bibirnya. "Saya tahu itu." tanganya meraih kacamata, menunrunkanya. "Saya hanya ingin bertemu dengan Oji Purba Diantoro, hanya untuk menyapa sebagai Ibu dan Anak. No offense."
"Katakan pada Sarah, jangan pernah mengusik keluarga Armani tampa terkecuali. Urus saja Hadi Armani, hanya Dia." Tasya kembali memakai kacamata. "Jaga Adikmu, jangan sampai lengah."
©©©
Hi, Novila here!
Untuk pembaca setia yang budiman, terimaksih atas apresiasi kalian. Ini adalah cerita yang keluar dari prediksi aku. (awalnya cuma mau sampe part 40-an, eh ini malah sampe 50+) Semoga kalian tidak bosan dengan cerita ini.
Happy reading guys. Vote, komen dan boleh banget kalo mau share.
P.S: Link ada di wall bagi yang mau baca extra part Meet You.