Obsessed With You #Seri 1 (EN...

By elyourbaeee

1.4M 44.4K 2.1K

Elena atau biasa dipanggil Ella, gadis yang cantik berusia 19 tahun. Ia sudah menjadi yatim piatu saat ia mas... More

Prolog.
elyourbaeee
Pengumuman
elyourbaeee
elyourbaeee
Cast
Part 2: Cinta
Part 3: Break up
Part 4: Just Kiss and Sleep
Part 5: Gio
Part 6: sadest
Part 7: later
Part 8: Dissapointed
Part 9: unknown
Part 10: Dingin
Part 11: Dangerous
Part 12: Kehilangan
Part 13: Pain of Sean
Part 14: Ella's Sweet Dream
Part 15: Bangun
Part 16: Why?
Part 17: Dua kepribadian
Part 18: Mad
Part 19: Different story from Different person
Part 20: Poor Ella.
Part 21: Plan
Part 22: Who's Cassandra?
Part 23: Secret
Part 24: Marah
Part 25: Three siblings
Part 26: The Memory
Part 27: Sakit
Part 28: Khawatir
Part 29: Again?
Part 30: Tau
Part 31: Tears of Luna
Part 32: Tears Of Luna 2
Part 33: Back
Part 34: Marah
Part 35: Tersebar
Part 36: Hilang
Part 37: Confused
Part 38: Berubah
Part 39: Villa(18++)
Part 40: Hope
Part 41: Wrong
Part 42: Beda
Part 43: The true
Part 44: Pertunangan
Part 45: Persiapan
Part 46: Married
Part 47: Luna
Part 48: Lost Control
Part 49: Selingkuh
Part 50: Ancaman
Part 51: Maya?
Part 52: Bukti
Part 53 :exposed
Part 54: hilang
Part 55: the last time
E-N-D
Extra Part 1: The next
Extra Part 2 : Pregnant
Extra Part 3 : Twin born (END)
Selesai.
New Story, Axel.
Pengumuman
Thank You!!!
Author kembali!
Obsessed With You #Seri 2

Part 1: Make Love

101K 1.5K 10
By elyourbaeee

Happy Reading...
.
.
.
.

"Maaf banget, tapi aku harus lembur hari ini. Kamu tau kan aku sesibuk apa"

Ella bisa mendengar suara Luna, Kakak kandungnya dari dapur. Ella berpura-pura mencuci piring agar tidak di kira menguping.

Ellena Geraldine Agatha, tahun ini usianya menginjak 19 tahun. Cantik dan pintar, Ella mengambil jurusan hukum karena kemauannya sendiri yang ingin menjadi pengacara sukses seperti Kakaknya.

"Jadi. Hari ini dapet kasus apa lagi?"

"Biasa. Perceraian, dan kali ini aku dapat klien seorang Artis yang lumayan terkenal. Kamu tau lah siapa, kamu kan banyak rekan artis juga" suara Luna terdengar lagi.

Sekarang pukul 9 pagi, Luna sudah rapi mengenakan blazer formalnya. Luna Geraldine Agatha adalah seorang pengacara yang lumayan sukses di usianya yang masih muda.

Banyak sekali orang yang berhasil memenangkan kasus karena kecerdasan Luna, hal itu membuat Ella suatu saat ingin menjadi pengacara juga, Ella ingin membantu orang yang kesusahan, seperti yang dilakukan Luna.

Luna menikah di usianya yang ke 23 tahun, ia menikah dengan Sean Jonathan Ananta, Sean adalah pengusaha yang cukup terkenal. Keluarganya tak main-main. Semua saudaranya sukses di berbagai bidang. Sean berasal dari keluarga yang kaya raya, karena itu Luna mau menerima Sean sebagai suaminya meskipun baru kenal.

"Aku janji aku bakal pulang tepat waktu malam ini. Oke?" Ucap Luna terdengar begitu lembut, Sean sedang marah karena Luna yang sangat sibuk setiap hari.

Bahkan di hari pertama Luna dan Sean menikah, Luna harus pergi ke kantor karena akan mengadakan sidang. Sebenarnya resiko Sean sendiri karena menikahi perempuan berkarir seperti Luna.

"Bukan masalah itu. Kamu sekali-kali harus luangkan waktu buat aku. Buat adik kamu juga. Kamu sibuk terus, kita nikah tapi kayak nggak nikah tau nggak" pungkas Sean.

Luna kemudian mengalihkan pandangannya kepada Ella. Luna tersenyum lalu bangkit dan menghampiri adiknya itu.

"El. Udah nggak usah nyuci lagi. Nanti kan ada yang kesini juga buat nyuci. Udah deh" Ujar Luna.

Ella berbalik menghadap Kakaknya itu.

"Nggak papa. Lagian aku nggak ngapa-ngapain juga kan" jawab Ella.

Luna mengusap keringat yang mengalir di dahi Ella. "Maafin Kakak ya Kakak nggak bisa terus temenin kamu disini. Kamu nggak papa kan? Disini kan ada Kak Sean, kamu sekali-kali juga harus ngobrol sama dia. Yang akur sama Kakak ipar kamu. Ngerti?"

Ella hanya diam saja mendengar perkataan Luna. Ella menoleh ke arah dimana tempat Sean duduk. Sean kini juga menatapnya.

"El? Ini cuaca panas kayak gini kenapa kamu pake lengan panjang? Ini juga nggak gerah apa pake kerah leher kayak gini?" heran Luna sambil menunjuk kerah baju Ella.

Ella mendadak gugup. "Ehmm nggak kok Kak. Aku lagi nggak enak badan aja. Jadi dingin"

Luna mengernyit kemudian menyentuh dahi Ella. "Kamu agak anget. Udah istirahat aja. Nggak usah cuci piring lagi. Udah beberapa kali kakak bilang?"

Ella hanya mengangguk saja. "Aku habis ini langsung tidur kok Kak. Tenang aja"

"Yaudah kalo gitu Kakak berangkat dulu. Jaga diri baik-baik ya. Jangan kecapean, kamu kan baru masuk kuliah juga" tegur Luna sambil mengecup pipi adik kesayangannya itu.

Setelah mengucapkan itu, Luna langsung pergi, sebelum pergi Luna tak lupa untuk mencium suaminya terlebih dahulu.

Kedua orang tua Luna dan Ella sudah meninggal sejak 2 tahun yang lalu. Selama ini Luna lah yang membiayai kehidupan Ella, adik satu-satunya. Dahulu mereka hanya tinggal di apartemen yang sangat kumuh, jauh dari kata layak. Tapi kehidupan mereka berubah setelah Luna berpacaran dengan Sean. Sean sudah membelikan Luna apartemen Mewah ketika mereka baru sebulan berpacaran.

Ella sangat bergantung kepada Luna. Luna pun sama, hanya Ella yang ia miliki saat ini, dan juga suaminya.

Ella sudah memiliki kekasih, Sejak 2 tahun yang lalu. Mereka sekarang LDR karena pacarnya kuliah di New York. Ella jarang sekali menemuinya, dulu kekasihnya akan menemui Ella setiap sebulan sekali, tapi sekarang jarang sekali.

Ella pun membereskan acara mencuci piringnya lagi, tanpa sadar jika ada sepasang mata yang kini sedang menatapnya dengan tajam.

Ella sedang libur kuliah, Tahun ini ia harus melakukan kuliah secara online jadi, selain belajar, Ella hanya akan berdiam diri di kamarnya. Atau tidak....

Tiba-tiba ada sebuah tangan kekar yang melingkar di pinggangnya. Ella tersentak kaget dan tak sengaja menjatuhkan piring, untung saja tidak pecah.

Ella menoleh, Ella bisa melihat siapa yang sedang memeluknya melalui ekor matanya. Ella pun langsung melepaskan lilitan tangan itu.

"Lepasin aku! Jangan kurang ajar!" Marah Ella.

Ella menatap Lelaki di hadapannya itu dengan penuh amarah.

"Kurang ajar?" Kata lelaki itu dengan suara meremehkan.

Lelaki itu mendekati Ella dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Ella.

"Bukannya kita kemarin justru melakukan hal yang lebih kurang ajar, Elena?" Bisik Lelaki itu, Ella mendorong tubuh lelaki itu dengan keras.

"Jangan kurang ajar Kak! Kakak mau aku bilang ke Kak Luna? Biar dia tau kalau dia ternyata menikahi pria yang salah. Menikahi pria brengsek!" Umpat Ella dengan penuh amarah.

Sean justru tertawa, tertawa mengejek Ella. "Apa kamu bilang? Kamu mau ngadu ke Kakak kamu?"

"Ya! Kali ini ancaman Kakak nggak akan mempan, Aku bakal ngadu ke Kak Luna!..."

"Kalo gitu ngadu aja! Ngadu sama dia! Ngadu kalo selama ini suaminya suka menggoda adiknya sendiri. Ngadu aja, Aku tidak akan rugi apapun. Kakak kamu itu nggak ada apa-apanya buat aku. Kamu ngerti!"

"Nggak ada apa-apanya? Terus untuk apa Kakak menikahi Kakakku? Kakak cuma berniat mempermainkan Kakakku?!" Ucap Ella terdengar kecewa.

"Mempermainkan?"

Sean mendekat lalu melingkari pinggang Ella kembali. "Mungkin lebih tepatnya memanfaatkan?" Bisik Sean.

Ella mengepalkan tangannya, rasanya Ella ingin sekali memukul wajah Sean, tapi jika ia menentang, pasti sesuatu buruk akan terjadi. Ella harus melindungi dirinya sendiri dan juga Luna.

Disisi Lain Ella merasa sangat bersalah kepada Luna. Selama ini Luna sangat baik kepadanya, Ketika Sean menyentuhnya, yang ada hanyalah rasa bersalah di hati Ella. Ella membenci Sean dan membenci dirinya sendiri.

"Karena Kakak kamu itu lembur sampai malam. Gimana kalau kita bersenang-senang hari ini?" Ucap Sean begitu sensual, bibirnya menyentuh telinga Ella, Ella merinding seketika.

"Lepasin aku! Aku nggak mau berhubungan sama kamu lagi! Lepasin atau aku akan teriak!!" Ancam Ella.

"Teriak pun percuma. Ini adalah wilayah yang sangat tertutup. Jangan munafik, aku tau kamu juga menikmatinya" ucap Sean.

"Menikmati? Nggak! Aku justru jijik sama Kakak! Kakak adalah mimpi terburuk di dalam hidup aku! Aku benci... Arggghhh..."

Ella berhenti bicara ketika sebuah tangan meremas payudaranya dengan sangat kuat. Ella meringis kesakitan..

"Kamu tau, semakin kamu berontak, kamu justru akan menyakiti diri kamu sendiri. Ingat, video waktu kita melakukan hal itu masih tersimpan rapi di handphone aku. Kamu mau Kakak kamu liat? Kira-kira, gimana ekspresi Kakak kamu yang polos itu melihat adik kesayangannya dan suaminya sedang bercinta hebat di belakangnya?" ucap Sean sambil mencengkeram rahang Ella dengan begitu kasar.

Ella sudah menitikkan air mata. Payudaranya sangat sakit ditambah cengkeraman Sean yang begitu kasar di rahangnya. Hati Ella lebih perih karena perkataan menyakitkan dari Sean.

Sean menyeringai. Sean sangat suka ketika Ella tunduk seperti ini. Dengan begitu Sean akan sangat mudah menguasai Ella. Tidak ada yang bisa menolak kemauan Sean, tak terkecuali Ella.

••••••••••••

Ella menatap pantulannya di kaca. Matanya memerah menahan tangis, tidak, Air mata Ella sejak tadi sudah keluar dengan deras. Jari-jemari Ella mengepal dengan sangat kuat.

Ella jijik melihat penampilannya sekarang. Memakai lingerie yang bahkan tidak menutupi payudaranya sepenuhnya. Ella merasa seperti seorang pelacur.

(Gambar hanya ilustrasi)

Ella menatap ponselnya yang baru saja ada pesan yang masuk. Ella mengambilnya lalu melihat siapa yang mengirim pesan.

Kak Luna💞:
Sayang. Hari ini Kakak pulang malam. Kakak harus lembur soalnya. Kamu baik-baik aja kan di rumah?

Ella mencengkeram ponsel itu. Baik-baik saja? Tidak! Ella justru takut. Takut setiap kali Sean menyentuhnya. Takut karena Ella akan mengkhianati Luna untuk kesekian kalinya.

Ella mengusap air matanya, Sean pasti akan memberinya hukuman ketika tahu Ella menangis.

Ella:
Aku baik-baik aja kak. Kakak jangan sampai telat makan nanti Maag kakak kambuh. Kakak nggak perlu khawatirin aku.

Ella mematikan hapenya. Ella memakai lipstick yang sudah disediakan oleh Sean. Lingerie itu adalah pemberian Sean, Sean selalu memberikan Lingerie yang berbeda-beda setiap kali mereka bercinta.

Dok...Dok....Dok....

"Ella! Cepat keluar! Kamu mau main-main sama aku?"

Suara itu berhasil membuat bulu kuduk Ella merinding. Suara yang terdengar begitu menyeramkan di telinganya. Ella memakai bedak untuk menutupi bekas tangisannya. Lalu berjalan menuju pintu.

Saat Ella keluar, Ella melihat Sean yang sedang menata alat-alat yang sering kali Sean gunakan untuk menyiksanya. Dalam hati Ella ketakutan, Sean memang psycho. Sean seperti memiliki kelainan ketika sedang bercinta.

Ella menutupi payudara dan juga area sensitifnya, kemudian berjalan pelan menghampiri Sean.

Sean berbalik, lelaki itu meneliti tubuh Ella dari bawah sampai atas, kemudian menyunggingkan senyumnya.

"Selera gue bagus juga" gumam Sean.

Sean kemudian berjalan dan mengambil sesuatu di dalam laci. Ella menggigit bibir bawahnya ketika melihat barang mirip kemaluan pria yang sedang di pegang oleh Sean.

"Berbaringlah Ella" suruh Sean.

"Kak. Nggak bisakah kita ngelakuin itu biasa aja? Aku takut" ucap Ella dengan nada bergetar.

Alis Sean naik sebelah. "Biasa aja?"

"Iya. Biasa aja. Aku janji aku nggak akan buat kesalahan. Aku nggak suka sama barang-barang gituan. Pliss" mohon Ella.

"Kamu tau aku nggak suka dibantah?" Ucap Sean sangat datar.

"Kak. Aku mohon" ucap Ella sedih.

Sean dengan dingin menarik Tangan Ella dan menghempaskan tubuh Ella ke ranjang. Ella meringis karena tubuhnya terasa nyeri.

"Menurutlah Ella. Aku nggak akan kasar kalo kamu mau nurut. Kamu ngerti?" Ucap Sean.

"Kak. Tolong.... Aku takut hikss..." Tangis Ella pecah seketika.

Melihat Ella menangis bukannya membuat Sean iba justru membuat Sean semakin tertantang. Lelaki itu mengambil barang yang ia ambil dari laci itu kemudian menyalakan tombol on. Terdengar suara getaran yang membuat telinga Ella semakin nyeri.

"Tahan sebentar, ini akan terasa sedikit sakit" Ucap Sean.

Sean membuka kaki Ella lebar-lebar. Sean sangat menyukai vagina Ella. Bersih dan juga terawat, dibandingkan dengan Luna, Sean lebih menyukai Vagina Ella.

Sean memasukan alat itu perlahan-lahan ke dalam liang Ella. Ella menggigit bibirnya karena getaran itu.

Badannya menggeliat hebat, Ella mengatupkan bibirnya agar tidak mendesah. Ketika Ella mendesah, justru Sean akan semakin terangsang. Ella tidak mau itu terjadi.

Nafas Ella berpacu cepat Tubuhnya menegang hebat. Satu tangannya mencengkeram sprei nya dengan begitu kuat. Ella memejamkan matanya.

Sean tersenyum begitu puas. Sean suka melihat wajah Ella tersiksa seperti ini. Meskipun Ella berusaha membungkam mulutnya sendiri, Sean yakin itu tidak akan bertahan lama.

Sean pun menambah kecepatan alat itu, Sean ingin mendengar desahan Ella yang memabukkan. Hingga...

"Ahhhhhh......."

Ella kehilangan kendali, perempuan itu mendesah sangat keras dan berulang-ulang. Kakinya bergerak tak nyaman mencoba menutupi bagian sensitifnya, tapi Kaki Sean menahannya.

"Ahhh.... Kak... Stop!! Ahhhh...."

Ella menitikkan air matanya, Sean begitu menyiksanya, lelaki itu tersenyum layaknya iblis setiap kali Ella merasa kesakitan. Ella sangat sakit hati.

Sean semakin cepat menggerakkannya, Sean ingin Ella orgasme untuk pertama kalinya. Tangannya begitu cepat memajumundurkan alat itu.

Ella mencengkeram tangan Sean agar berhenti. Ella tidak bisa berhenti mendesah, Alat itu memang benar-benar menyiksanya.

Hingga.....

"Ahhhhhhhhhh......."

Ella menutup mulutnya, Ella sudah keluar. Untuk pertama kalinya, Cairannya membanjiri sprei Sean, begitu deras. Ella mengeluarkan cairan banyak sekali hingga tubuhnya sangat lemas.

Ella terisak, perlakuan Sean benar-benar menyakiti hatinya. Bukan fisiknya saja yang sakit. Hatinya jauh lebih sakit.

"Bagus Ella. Kamu hebat banget hari ini" ucap Sean dengan senyum mautnya.

"Kak. Aku mohon, jangan lagi. Aku sakit banget. Aku janji aku nggak akan ngebantah Kakak lagi. Aku mohon..." Tangis Ella.

Sean menyeringai. "Kalau begitu. Kamu harus turuti semua kemauan aku. Kamu tau apa artinya itu? Kalau kamu ngebantah lagi, aku akan melakukan hal yang lebih dari ini. Kamu paham, Elena?"

Ella mengangguk cepat. Ella ingin segera menyudahi semua ini. Menuruti ucapan Sean adalah jalan keluarnya.

Sean menyingkirkan alat-alatnya dengan kasar, alat itu berserakan di lantai. Ella masih saja menangis.

Sean mengambil sebuah pengaman di lacinya lalu kembali ke ranjang itu. Kamar ini adalah kamar rahasia, hanya Ella dan Sean yang bisa masuk ke sini. Luna sama sekali tidak tahu.

"Berdirilah, Ella" perintah Sean.

Ella menurut, gadis itu bangkit, rambutnya berantakan dengan mata yang bengap. Sean mengintruksinya.

Sean membaringkan tubuhnya dan bersandar di kepala ranjang dan melepas boxernya dengan cepat.

Ella memalingkan wajahnya ketika melihat milik Sean yang begitu panjang dan besar itu berdiri tegak. Rasanya Ella tak percaya barang itu mampu masuk ke dalam vaginanya.

"Mendekatlah" ucap Sean.

Ella mendekat, masih tidak berani menatap milik Sean.

"Aku mau kamu memakaikannya" ucap Sean sambil menyodorkan kond'm itu.

"Apa?" Ella melotot tak percaya.

Sean berubah menjadi datar seketika. "Atau kamu mau melakukan hal yang lain? Aku nggak masalah..."

"I...Iya aku mau" ucap Ella terbata-bata.

Sean meminta Ella untuk mengambil pengaman itu. Ella mengambilnya dengan tangan bergetar.

Ella membuka bungkusan itu dengan cepat lalu mengambil isinya. Ella ingin melakukannya dengan cepat.

Tapi setelah melihat kemaluan Sean, Ella mendadak stuck. Ella tidak pernah menyentuh barang itu sebelumnya. Rasanya sangat malu sekali.

"Kita punya waktu 45 menit sebelum makan siang. Jadi..." Sean mengangkat sebelah alisnya.

Ella pun memberanikan diri untuk menyentuh kemaluan Sean, saat pertama kali menyentuhnya, Ella merasa begitu asing. Keras tapi lembek, Ella tak bisa menafsirkan rasanya.

Ella memakaikan pengaman itu dengan sangat hati-hati. Ella belum pernah melakukan itu sebelumnya. Ella hanya memakaikannya persis seperti yang Sean contohkan kemarin. Hingga Pengaman itu, menutupi kemaluan Sean dengan sempurna.

"Semakin hari kamu semakin berpengalaman Ella. Aku suka" ucap Sean sambil tersenyum.

Ella hanya menunduk.

Sean bangkit sedikit lalu melepaskan lingerie tipis yang digunakan Ella. Kini Ella sepenuhnya telanjang. Puting payudara Ella yang berwarna kemerahan membuat Sean semakin tegang.

"Kamu bisa melakukannya sendiri?" Ucap Sean.

"Maksud Kakak?" Tanya Ella seperti orang bingung.

"Aku mau kamu memasukkannya sendiri. Hari ini aku mau kamu yang memimpin permainan ini. Gimana? Kamu suka?"

Ella menahan napasnya. Kalau ia menolaknya, Sean pasti akan berbuat sesuatu yang menyiksanya lagi. Tapi Ella sangat malu ketika harus memimpin semuanya.

Ella pun pasrah, Ella naik dan duduk di atas perut sixpack Sean. Ella menempelkan tangannya di dada Sean sebagai pegangannya.

"Kiss me" perintah Sean.

Ella dengan ragu-ragu membungkuk dan mendekatkan bibirnya. Sean dengan senyum menawannya menatap bibir Ella dengan begitu bergairah.

Saat bibir mereka hampir bertemu, Sean sedikit terkejut karena tiba-tiba Ella justru menyerang lehernya. Ella menggigit dan melumat lehernya dengan begitu rakus. Sean mengerang...

Satu tangan Ella mengambil kemaluan Sean lalu memasukkannya dari bawah, untuk menutupi desahannya, Ella melumat leher Sean dengan begitu agresif.

"Ahhh.... Shitt...." Sean mendesah dan mengumpat ketika Ella menggerakkan tubuhnya dengan ritme begitu pelan.

Ella menggigit leher Sean hingga leher Sean membekas. Ella juga sedang meredam desahannya agar tak keluar. Ella tidak mau membuat Sean bertambah terangsang.

Ella menggerakkannya dengan ritme kadang cepat kadang pelan hingga membuat Sean tidak bisa berhenti mendesah.

Satu tangan Sean meremas dada Ella dan satu tangannya lagi menyentuh pinggang Sean dan ikut menggerakkannya.

Ella begitu nikmat. Miliknya terasa sangat hangat dan menjepitnya dengan sangat kuat. Semua yang ada di tubuh Ella adalah tipenya. Bohong kalau Sean tidak selalu tergoda dengan tubuh molek Ella.

Ella beralih mencium bibir Sean, meredamnya dengan ciuman. Tubuh Ella bergetar, bunyi penyatuan mereka memenuhi isi ruangan. Berbenturan secara liar.

Mereka melakukannya hingga pencapaian itu terjadi. Pencapaian yang selalu Sean idamkan. Yang selalu Sean inginkan. Sekali lagi Ella berhasil memabukkannya.

Ketika pencapaian itu terjadi, Sean belum merasa puas. Mereka melakukannya sekali lagi sampai jam makan mereka terlewat. Kedua insan itu gelap mata dan sejenak melupakan semuanya. Ella juga ikut kalap dan tak sadar diri.

Ella memimpin percintaan itu dengan begitu rakus. Untuk pertama kalinya Ella berperilaku seperti pelacur yang pastinya membuatnya menyesal di kemudian hari.

.To Be Continued.

Kira-kira siapa yang cocok untuk cast Sean dan Ella di cerita ini? Kalian boleh request ya. Thank youuu..

Continue Reading

You'll Also Like

1.4M 84.8K 37
Shaen seorang gadis yatim piatu, harus rela hidup di rumah bordil. Beruntung ada seorang pria kaya raya yang menebus dan menikahinya. Tetapi baru 5 t...
105K 12.1K 41
⚠ Awas baper ⚠ .............. Ilyana harus berjuang seorang diri untuk menyatukan kembali keutuhan keluarganya yang telah hancur. Memecahkan semua t...
872K 9.5K 8
⚠🔞WARNING 21+ MENGANDUNG KONTEN CERITA DEWASA, VERY MATURE, ROMANCE⚠🔞 Buat yang masih di bawah umur PLEASE JANGAN BACA kalo masih nekat dosa ditan...
14K 3.5K 30
Tak ada kehidupan yang sempurna. Mungkin itulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan kehidupan di dunia ini. Kalimat tersebut juga sangat tepat unt...
Wattpad App - Unlock exclusive features