Dungeon Hallow 2

By erix_arthur

61.4K 10K 9.7K

Sekuel Dungeon Hallow ~Tamat~ Kelanjutan kisah pertualangan Erix yang terdampar di dunia lain bersama pelayan... More

Prolog
01 : Rencana Selanjutnya
Awakening : Hercules - part 1
02 : Cara Untuk Mencari Tahu
03 : Ajudan Musuh Yang Mundur
04 : Terkuaknya Kebenaran
05 : Legenda Bangsa Dragon
06 : Istana Raja Iblis
07 : Kebenaran Para Kaum Iblis
08 : Awal Dari Kisah Baru
09 : Terdampar Di Negri Asing
10 : Nimue di Rieheim
11 : Perkumpulan Dungeon Hallow
12 : Raja Rieheim
13 : Untuk Mandiri
Awakening : Hercules - part 2
14 : Desa Ninja Takegakure
15 : Terus Maju
Intervision 1th
16 : Drak Elf, Salam dan Bocah
Awakening : Kurokaze Kotaro - part 1
Awakening : Kurokaze Kotaro - part 2
Awakening : Kurokaze Kotaro - part 3
17 : Ke Masa Lalu
18 : Pertemuan Singkat
19 : Didapatkan Kembali
20 : Dungeon Kuil Inari
21 : Dungeon Reruntuhan Doryodo
22 : Kesatria Terhebat
23 : Takdir dan Arti Kematian
24 : Kehancuran
25 : Akhir Perjalanan
26 : Kejutan
27 : Sekutu dan Musuh
28 : Perang Musim Dingin
29 : Menguras Segalanya
30 : Kehancuran Garis Depan
Intervision 2th
Open Pre-Order
31 : Kembali Pulang
32 : Pesta Pernikahan
33 : Pemulihan Beatrice
34 : Taktik Untuk Menerobos
35 : Menyelamatkan Lucius
36 : Menuju Medan Pertempuran
37 : Perang Akbar Kedua
38 : Tiga Malaikat Jatuh
39 : Salamander vs Thanom
40 : Akhir Babak Pertama
41 : Phoenix dan Pasukan Burung Ababil
42 : Kericuhan Yang Belum Berhenti
43 : Menuju Titik Akhir
44 : Kemenangan
45 : Akhir Yang Sangat Memuaskan
46 : Gejolak Elsia dan Illinixhina
47 : Langkah Awal
48 : Ke Illinixhina
Intervisio 3th
49 : Hutan di Kaki Pegunungan Zahwein
50 : Kenyataan dan Takdir
51 : Niat Tulus
52 : Penyelamatan Jean
53 : Suku Thuck
54 : Langkah Awal Pembebasan
55 : Bergerak
56 : Menaklukkan Benteng Pertama
57 : Samael
58 : Ke Sisi Selanjutnya
59 : Kartu As lawan
60 : Sang Professor Gila
61 : Beelzebub
62 : Lahirnya Gastrodiah
63 : Berkat Lecnahem
64 : Succubus
65 : Mediocris Slemandra
66 : Artileri Pertama di Dunia
67 : Penaklukkan Kota B
68 : Zenda vs Gremory
69 : Harga Diri dan Partner
70 : Pertempuran Di Kaki Perbukitan
71 : Mematahkan Pemicu
72 : Akhir Monster Marlboro
73 : Akhir di Illinixhina
74 : Hiel di Target Terakhir
75 : Hiel dan Androaphus
76 : Tragedi Frankenstein
77 : Mengembalikan Waktu
78 : Pasukan Malaikat Jatuh
79 : Malaikat Jatuh & Penyihir
80 : Seireor Ham-Moor
81 : Seventh Dwarf
82 : Tim Haruka dan Pasukan Iblis
83 : Lucius vs Lucifer
84 : Madara dan Hakurou
85 : Kejatuhan Lucifer
86 : Putusnya Hirarki
87 : Valak Mati Konyol
88 : Crownwald
89 : Membangun
90 : Kuil Peri Danau
91 : Ibu dan Gilgamesh
92 : Sesak Untuk Yang Kedua
93 : Daftar Nama
94 : Merekrut - part 1
96 : Merekrut - part 3
97 : Merekrut - part 4
98 : Aurelia
Intervision 4th
Intervision 5th
Intervision 6th
99 : Garuda - part1
100 : Garuda - part2
101 : Garuda - part3
102 : Gerbang Fleur-de-lis
103 : Pukul 10 Pagi
104 : 2.500 Tahun di Masa Lalu
105 : Dewa Kegelapan
106 : Menembus Badai Salju
107 : Raka Nothnegel
108 : Pulau Beku
Intervision 7th
109 : Wajah Pengkhianat
110 : Suara Tuhan
111 : Sembunyi
112 : Menantang Roh Superior
113 : Pembebasan Pulau Beku
114 : Erk Uter
115 : Persiapan Ekstraksi
116 : Garis Waktu
117 : Mermaid Yang Jelek
118 : Kepemimpinan
119 : Bayu Aswanta
Intervision 8th
120 : Yui Palsu
Intervision 9th
121 : Mesin Bubut
122 : Energi Bulan Darah
123 : Membekukan Waktu
124 : Datang Menyerang
125 : Via Trium
126 : Mammon
127 : Bangun dari Tidur Panjang
128 : Quining
129 : Kota Gizaros
130 : Fakta Pengkhianat
131 : Kematian Merlin Palsu
132 : Strategi Pengalihan
133 : Teluk Nirwarta
134 : Perang di Pantai Ginkaku
135 : Leviathan
136 : Haruka ...
137 : Auman Kesedihan
138 : Bukan Sekedar Sebutan
139 : Ambisi Baal
140 : Lahirnya Raja Iblis Baru
141 : Penghentian Baal
142 : Perpisahan Kedua
143 : Kematian Baal
144 : Strategi Merlin
145 : Witch vs Wizard
146 : Akhir Strategi Merlin
147 : Memanggil dan Berkumpul
148 : Pelantikan Lord
149 : Haruka, bangunlah
150 : Lord
151 : Kebangkitan Man-dug 'Ul
152 : Padang Ranjau
153 : Perang Akhir - part 1
154 : Perang Akhir - part 2
155 : Pazuzu
156 : Tujuan Bersama
157 : Erix vs Pazuzu
158 : Strategi Tipuan
159 : Sergapan - part 1
160 : Sergapan - part 2
161 : Dark Lord dan Class Lord
162 : Bertahan dan Melawan
163 : Kegelapan Yang Tersenyum
164 : Harapan di Medan Perang
165 : Titik Balik
166 : Miroku Muramasa
167 : Titik Akhir
168 : Setimpal
169 : Jiwa Yang Gelap
170 : Kemenangan
171 : Menuju Masa damai
172 : Pelantikan
173 : Pernikahan Sang Raja
Epilog

95 : Merekrut - part 2

206 45 56
By erix_arthur

Erix sekarang menatap seorang wanita tepat di hadapannya. Sebenarnya tidak ada yang aneh pada wanita itu. Dia manis seperti wanita lain pada umunya. Namun, sepasang telinga kucing yang menempel di atas kepalanya itu membuat Erix berpikir berbeda. Ditambah lagi, dengan tangan yang berbulu dan ekor yang melambai-lambai membuat Erix tidak bisa mengontrol dirinya.

Mereka berada di dalam toko sekarang, lebih tepatnya toko alat sihir. Dulu, toko itu dipenuhi banyak sekali alat-alat aneh dan banyak orang yang datang untuk berbelanja. Namun, sekarang terlihat sepi dan barang-barang yang di jual pun jauh lebih sedikit.

Sekitar sepuluh menit yang lalu, Erix masuk ke toko tersebut dan langsung menghampiri wanita yang di kasir. Padahal di sana ada tiga wanita werebeast lain yang bertugas melayani pembeli. Ada dua wanita bertelinga kelinci, ada juga yang bertanduk dan sebagian tubuhnya merupakan kambing. Seharusnya ada satu lagi wanita werebeast bertelinga kucing dengan warna bulu di tubuhnya kuning bertutul, tetapi wanita yang dalam ingatan Erix itu sepertinya tidak ada. Erix melewati tiga gadis tadi dan langsung menuju ke arah wanita kasir ini.

"Boleh aku mengusap telingamu?" ujar Erix spontan. Untuk orang pecinta kucing sepertinya, permintaan itu merupakan suatu hal yang wajar. Namun, berbeda bagi orang lain yang mendengarnya. Hal itu dianggap mesum.

"Apa yang mau kau lakukan pada anakku! Penjahat Kelamin sialan!" Sebuah pukulan dari tangan berbulu menghantam kepala Erix. Bukannya merasa sakit, dia justru memeluk tangan tersebut.

Sosok werebeast linxman dengan tinggi sekitar dua meter tampak berdiri di belakang Erix dan akan meluncurkan pukulan susulan.

"Halusnya ...," ujar Erix sambil mengusap bulu pada tangan linxman itu ke pipinya.

"Apa-apaan orang ini. Apa dia orang gila?" Linxman itu mencengkram leher Erix dan berniat untuk membuangnya keluar. Hanya dengan sekali angkat saja, telapak kaki pemuda itu langsung berpisah dengan lantai.

Namun, bukannya merasa sakit atau terganggu, Erix justru membentang tangannya dan menusap tangan berbulu linxman itu seakan menikmati kelembutannya. Erix terlihat seperti orang yang menenggelamkan wajahnya pada selimut bulu yang halus. Karena merasa jijik, linxman itu langsung melepas cengkramannya dan Erix jatuh ke lantai.

"Aduh ...," keluh pemuda itu setelah pantatnya mendarat duluan. Ia melenguh sambil mencoba berdiri.

"Pergilah, atau kami panggil prajurit keamanan," ujar linxman itu. kerutan pada wajahnya menunjukkan kalau di sedang jengkel.

"Ini aku, Tom," ujar Erix sambil menahan sakit di pantatnya.

"Aku tidak kenal orang mesum. Pergilah, jangan sok kenal denganku." Linxman itu melangkah dan masuk ke pintu yang berada di belakang kasir.

Suara lonceng pada pintu terdengar tanda kalau ada seseorang yang masuk. Semua mata para wanita werebeast langsung menoleh. Namun, wanita yang baru masuk itu tampak kaget melihat Erix yang memegang pinggulnya dan bertingkah seperti orang tua.

"Erix, kau tidak apa-apa?" seru Haruka.

"Ya, aku tidak apa-apa," jawab pemuda itu.

"Erix?" Tom batal melangkah. Ia menoleh ke belakang sesaat. Dia tahu nama itu. Terngiang di telinganga beberapa waktu lalau sebagai seorang Pahalawan Ardesdale. Namun, dikabarkan kalau si Erix itu sekarang memimpin pasukan di garis depan untuk membalas serangan pasukan iblis.

Tidak sengaja, Tom teringat sesuatu. Ingatan lama yang mana ada dua orang pemuda datang sambil membawa Tombak Poseidon dan item-item istimewa lain. Namun, satu kata yang keluar dari mulut salah satu pemuda itu langsung terngiang di telinga. Dia menyebut linxman itu imut.

"Oh, kau si mesum itu. Aku ingat!" seru Tom. Ia menutup pintu yang akan dia masuki dan menghampiri Erix.

"Cih, aku bukan mesum. Aku pecinta kucing!"

"Aku bukan kucing, aku linx!"

"Linx itu kucing, hadapi kenyataan dan biarkan aku mengelus bulumu!"

"Tidak akan pernah!"

"Kalau begitu ...." Erix mencabut sebuah pedang dari body bag-nya. Pedang yang melambangkan identitas seorang raja Camelot. Namun, dengan cepat Haruka menjewer telinga kekasihnya itu. "Adudududuh! Sakit ... sakit."

"Jangan gunakan senjata suci untuk menakuti orang lain!" ujar Haruka kesal.

"Aku hanya bercanda ... aduuuh ...."

"I-itu 'kan ... Excalibur ...." Gadis bertelinga kucing anak Tom tahu akan pedang yang tadi sempat keluar dari tubuh Erix. Hanya seklais saja, dan pedang itu sudah kembali ke dalam body bag.

"Erix ... kau .... Keterlaluan! Sampai melakukan duplikasi senjata suci. Kau akan dipancung!" seru Tom. "Kau ... seorang kriminal."

"Aku bukan kriminal!" seru Erix kesal.

"Buktikan!"

"Baiklah. Jika aku tidak berbohong, kau harus rela aku eles-elus!"

Punggung Tom merasa berkidik. Insting binatangnya memberitahukan untuk tidak menuruti perkataan bocah di depannya itu. Namun, harga diri sebagai orang tua tidak mengizinkannya untuk mundur. "Kau boleh melakukan apa pun!"

Haruka hanya menghela napas. Padahal ada cara lebih baik dan normal untuk merekrut Tom, tetapi Erix terlalu dibutakan dengan bulu halus linxman tersebut.

Erix mencabut Excalibur dari body bag-nya dan langsung dihunuskan. Semua pasang mata di sana, kecuali Erix dan Haruka, tampak terbelalak akan aura yang dipancarkan pedang tersebut. "Dengan melihatnya saja, kalian akan tahu kalau ini asli."

"Biarkan aku menyentuhnya." Anak gadis Tom yang berada di kasir, langsung maju dan mendekat.

"Maaf, Milla. Pedang ini sudah dilengkapi mantra pelindung sehingga tidak bisa disentuh oleh orang lain. Jika kau memaksa, tanganmu akan menjadi abu." Begitulah yang dicuapkan Salamander waktu itu. Ia akan melindungi pedang dari orang lain.

"Aku kalah ...," sahut Tom. Bibir Erix langsung melengkung.

"Baiklah ... karena aku menang aku akan menyuruhmu untuk memindahkan tokomu ke Camelot. Aku rasa, di sana alat-alatmu jauh lebih dibutuhkan," ujar Erix sambil menyimpan kembali pedangnya.

"Sungguh!" seru Milla. Namun, wajah bahagianya seketika menghilang. Digantikan dengan wajah lesu seakan tidak bertenaga. Kemudian, ia menoleh dan menatap wajah ayahnya. "Tapi ...."

"Itu sedikit sulit, Erix," sahut Tom menjawab tatapan anaknya.

"Kenapa?"

"Kami ... kami tidak bisa meninggalkan negri ini. Saat membuka toko, aku meminjam uang pada seseorang. Namun, semenjak semua dungeon berhasil disucikan dan para shensin hijrah ke negara tetangga, penghasilan kami turun drastis sehingga kami tidak bisa membayar hutang. Malahan, bunganya sekarang membengkak sampai melebihi nilai pokok peminjaman. Dalam kontrak itu juga mengatakan kalau kami dilarang meninggalkan kota sampai hutang kami dilunasi."

Suara lonceng pada pintu berbunyi tiba-tiba, diikuti dengan terbukanya pintu tersebut. Seoarang laki-laki kurus mengenakan baju yang lengannya sengaja dirobek, masuk ke dalam toko. Erix dapat melihat semacam tato ular melingkar di bahu kiri laki-laki itu.

"Selamat siang," ujar pria kurus tersebut. "Oh, ada pembeli. Syukurlah, Tom. Aku turut senang."

Raut muka Tom sedikit aneh. Meski dipenuhi bulu, tetapi Erix menangkap sesuatu yang kurang menyenangkan dari mimik wajahnya. Dan itu membuat Erix penasaran.

"Apa kau temannya Tom?" tanya Erix. Ia berakting seakan sedang memilih barang-barang yang ingin dibeli.

"Yah, bisa dibilang begitu," jawab laki-laki itu. Ia terlihat sedang tersenyum dengan mata mengarah pada Milla, anak Tom.

Alis mata kiri Erix terangkat sebelah, menunjukkan kalau instingnya tepat. Orang ini adalah penagih hutang. "Apa kau mencari alat sihir juga?"

"Tidak, aku hanya ingin mengingatkan Tom kalu jatuh tempo hutangnya adalah besok."

"Hutang? Tom punya hutang? Astaga." Erix termasuk orang yang buruk dalam berakting. "Berapa, apakah besar?"

"Hanya 2,5 juta ric," jawab laki-laki kurus itu dengan senyum menyeringai. Lidahnya bahkan terjulur seperti kadal.

"Bukannya hanya 1,8 juta saja," seru Milla.

"Ups, apa aku lupa bilang kalau sampai jatuh tempo, jumlahnya akan menjadi 2,5 juta." Senyum iblis yang menunjukkan kelicikan jelas terlihat sekarang.

Lonceng pintu kembali berbunyi. Kali ini laki-laki bertubuh besar dan berotot yang masuk. Tinggi badannya mungkin sama dengan Tom, hampir 2 meter. Namun, masa otot di tubuhnya menggelembung sangar.

"Bro, apa mereka sudah bisa dijadikan budak?" tanya laki-laki berotot itu.

"Masih belum. Setidaknya sampai besok," jawab yang kurus. Kemudian dia tertawa terbahak-bahak.

"Budak?" Ini merupakan informasi yang belum pernah Erix dengar sebelumnya.

"Tentu saja. Kami akan menjual mereka ke pedagang budak untuk melunasi hutang." Erix dapat gambarannya. Jadi, Tom dan Milla akan dijual ke pedagang budak untuk membayar hutang mereka. Setelah itu, pedagang budak itu akan menjual mereka sebagai budak ke orang yang mau membeli mereka. Tentu saja ini buruk bagi Erix mengingat Tom Davis merupakan salah satu rasi bintang yang harus dia rekrut.

"Aku akan bayar!" seru Erix. "Karena aku temannya, aku akan bayar."

"Erix ... itu uang yang besar!" Tom merasa tidak enak dibuatnya.

"Aku hanya punya 18.000 koin emas. Ini sama dengan 1,8 juta ric, 'kan?" Erix mengeluarkan sekantong besar yang berisi koin emas. 1 koin emas sama dengan 100 ric, begitulah nila mata uangnya. "Dan sisanya, apa boleh aku bayar dengan senjataku saja?" Erix memberikan Pedang Excalibur di tangannya itu.

"Erix ... itu 'kan ...."

Haruka mengangkat tangannya ke arah Tom seakan mengintruksikan untuk diam.

Erix memberikan uang 18.000 koin emas pada si otot. Kemudian Erix memberikan Excalibur pada si kurus yang terlihat menyeringai. Namun, saat ia memegang gagang pedangnya, detik itu juga api menyambar lengan laki-laki itu dan menghanguskannya. Tidak menjadi arang, tangan laki-laki itu langsung menjadi abu.

Jeritan keras bergema di toko tersebut. Dan Erix, tampak tersenyum jauh lebih mengerikan dari iblis. Tidak hanya itu, aura kegelapan tipis tampak meluap dari tubuhnya. "Ups, apa aku lupa bilang kalau pedang ini tidak boleh dipegang oleh orang lain selain pemiliknya."

"Kau ...."

Belum sempat si otot maju untuk membalas, Erix melesat lebih dulu dalam balutan kegelapan sehingga terlihat seperti asap yang meluncur. Dalam satu detik, wajah Erix sudah berada di depan wajah si otot itu. "Ada masalah?"

Laki-laki itu terdiam. Tubuhnya seketika kaku saat matanya bertemu dengan mata Erix yang menyorot tajam. Dia seperti hewan buruan yang dihadapkan dengan predator. "T-tidak ...."

"Hutangnya hanya 1,8 juta dan sudah aku lunasi. Jadi, cepat bawa temanmu itu karena suaranya hanya akan membuatku makin marah."

"B-baik ...." Laki-laki berotot itu langsung membawa temannya dan cepat-cepat meninggalkan toko itu. Langkahnya sangat cepat karena saat ini dia benar-benar ketakutan.

Dengan begitu, hutang Tom resmi sudah lunas.

"Baiklah, Tom. Masalahmu sekarang sudah selesai. Kau bisa ke Camelot sekarang, 'kan?"

"Ba-baiklah."

"Dan juga, ini." Erix kembali mengeluarkan beberapa koin emas dari body bag-nya dan diberikan pada Tom. "Ini biaya memindahkan semua barang-barangmu ke Camelot."

"T-tapi ...."

"Kau hanya perlu menjadi pedagang sukses untuk mengganti uangnya, 'kan?" sahut Haruka. Senyumanya sangat manis. Senyum itulah yang membuat Erix jatuh cinta padanya. "Dan juga kau tidak perlu takut dengan waktu jatuh tempo. Karena tempo tidak pernah jatuh."

Milla langsung bersujud pada Erix. Namun, dengan cepat pemuda itu menangkapnya. "Jangan lakukan. Itu sungguh tidak menyenangkan."

"Baiklah." Milla pun beranjak. "Kami akan menjadi pedagang sukses dan segera mengganti uangmu."

"Jika kalian tiba di Kota Crownweld, temui pelayanku Lucius dan ceritakan padanya mengenai hal ini. Dia akan mempermudah semua urusanmu."

Tom menghampiri Erix dan menepuk kedua pundak pemuda itu. Tangan berbulunya yang besar mengganggam erat sambil gemetar. Mimpi buruk melihat anaknya sebagai budak yang sangat ia takutkan, sekarang telah sirna. "Terima kasih ... terima kasih ...." Ia sesegukan tak mampu menahan tangis.

"Kalau begitu, kami pergi dulu." Erix menyimpan kembali Excalibur ke body bag-nya dan akan keluar dari toko. "Sampai jumpa di Camelot."

Haruka juga melambaikan tangannya dan mengikuti Erix meninggalkan toko. Ia segera digendong dan mereka pun tinggal landas. Terbang ke angkasa membelah angin dengan sangat cepat.

"Kau tidak berubah, selalu kejam pada ketidakadilan," ujar Haruka.

"Apa itu buruk?"

"Tidak. Aku hanya terpukau dengan caramu mempermainkan orang-orang jahat itu."

"Jangan dicontoh, ya. Itu hanya boleh dilakukan oleh yang professional."

Haruka tertawa. "Tentu saja."



_______________________________

Jangan lupa vote dan komentarnya

Bay bay

Continue Reading

You'll Also Like

191K 7.6K 45
(Cerita Masih Lengkap) Kalian tau dunia ini akan berakhir seperti apa? Apa tidak asing dengan kata GAME OVER? Ya , Itu dia yang aku bicarakan. Semua...
514 303 9
Ketika sembilan ekor bangkit dari tubuhnya, Luc sadar... ia bukan manusia biasa. Tapi apakah menjadi luar biasa berarti harus kehilangan segalanya? D...
8.1M 492K 84
#1 berapa kali peringkat pertama di dunia Werewolf. #1 berapa kali peringkat pertama di dunia Luna. #1 berapa kali peringkat pertama di dunia Vampire...
269K 14.4K 42
Siapa yang tidak terkejut jika saat terbangun, tiba-tiba dirinya telah berada di tengah kumpulan para werewolf? Awalnya Ranya merasa bingung setenga...
Wattpad App - Unlock exclusive features