All Ears [ Haruto ; Winter ]

By winteonim

220 33 5

Enggan untuk alihkan pandangan dari puan bersurai pirang dengan warna serupa langit di tiap ujungnya. Hanya s... More

Kedua Kalinya

Ihwal Pertemuan

143 17 3
By winteonim

"Ruto-ya! Lagu buatanmu dan Sahi sangat bagus! Kami menantikan lebih banyak produser Ruto!"
"Kau jenius! Aku yakin Ruto pasti sudah menyiapkan karya lain untuk kami kan?"
"Ruto-ya, kau begitu berbakat, jadi segeralah kembali dengan karya yang lain."

Pujian demi pujian ia dapat.
Terlalu banyak.
Terlalu banyak hingga hadirkan beban.
Beban yang tanpa dirinya sadari semakin berat.
Buat ia sulit bernafas.
Buat dirinya bertanya-tanya.

'Mampukah?'
'Mampukah ia penuhi ekspektasi khalayak luas dengan kemampuannya yang belum memumpuni ini?'
'Bagaimana jika popularitas karyanya dan Asahi hyung hanya keberuntungan semata?'
'Apa yang harus ia ciptakan sekarang? Darimana ia harus memulai?'
'Bagaimana jika—

—Buyar.
Rentetan tanya dalam benak buyar begitu saja kala rungunya menangkap senandung halus. Terlalu mendayu hingga buat dirinya terbawa dalam tiap kata yang disenandungkan.

"You seem a lot of tired than yesterday
i know when I touch you,
Did the wind hurt you again?"

Tolehkan kepala perlahan-lahan, seolah terhipnotis oleh lembutnya lantunan nada dari sosok tak dikenal.
Atensi keduanya bertemu.
Dapati sosok puan di balik layar ponselnya.
Asing, tentu saja.
Namun, terselip rasa nyaman disana. Selayaknya bukan kali pertama berjumpa.

"Why aren't you saying anything?
You can be honest with me"

Kembali si puan bersuara.
Menyanyikan tiap kata yang dilontar.
Seolah-olah bertanya, seolah-olah beri ruang bagi dirinya 'tuk berbagi rasa.

"Tell me everything,
It's alright if it takes all night"

Terdengar begitu halus, kontras dengan raut wajah si empu.
Puan dengan suara bak rengkuhan hangat tersebut memiliki rona wajah sedingin es.
Lekukan yang sempurna, namun tak sisipkan jiwa pada garis wajahnya.
Akan tetapi kala ia pertemukan iris miliknya dan puan di balik layar tersebut, dirinya menemukan sesuatu.

Jiwa yang terkungkung di balik iris coklatnya.
Nampak samar, seolah-olah sengaja disembunyikan. Begitu sulit untuk dibaca.
Satu hal yang nampak pasti, tiap kata yang disenandungkan puan tersebut selaras dengan sorot matanya.
Begitu tulus. Seolah-olah membujuknya untuk berbagi kisah. Berbagi tumpukan beban yang dipikulnya.

"So your cold day can melt through me"

Rasa hangat perlahan hadir.
Sesuatu di balik dadanya terasa penuh, menggantikan resahnya tadi.
Tak mampu lagi ia menahan.
Senyumnya terbit tanpa disadari, bersamaan dengan degupan kencang yang tak wajar.
Ia yakin jika rekan-rekan disebelahnya tak bersuara dengan keras, semua orang akan mendengar tiap degupan di balik dadanya dengan jelas.

"I am all ears hmm,
I am all ears, I'm listening"

Perlahan, tempo si empu melambat.
Beri tanda lagu yang ia nyanyikan telah usai.
Kedua mata puan tersebut tertutup untuk sepersekian detik. Ya, ekspresi pertama yang sosok itu tunjukkan.
Kepalanya merunduk untuk beberapa saat sebelum kembali bertukar tatap.

Tidak, ini terlalu tiba-tiba.
Ia tak mampu bersuara.
Ia juga enggan 'tuk alihkan pandangan dari puan bersurai pirang dengan rona serupa langit di tiap ujungnya.
Hanya senyum yang ia pertahankan. Tersenyum bukan hanya dengan bibirnya, namun juga dengan sorot matanya.
Keduanya mempertahankan hening, namun sadar betul jika mereka bertukar rasa lewat tatap.

"Apapun yang terjadi padamu hari ini, jujurlah. Setidaknya pada dirimu sendiri. Jika kau sedih, katakan. Jika kau lelah, tunjukkan."

Lagi, si puan yang memecah hening.
Buat dirinya sadar jika tadi tak sengaja tunjukkan rasa lelah yang sepatutnya ia sembunyikan.

"Memang tidak etis untukku memberimu nasehat seperti ini karena aku tak berbeda jauh denganmu, tapi melihat ekspresimu tadi rasa-rasanya begitu kurang ajar jika aku membiarkanmu tenggelam dalam begitu banyak tanya dalam benak."

Tepat sasaran. Ujaran puan di balik layar ponselnya itu berhasil buatnya terkejut.
Terlalu tepat hingga buat ia merasa pertemuan keduanya terlalu terencana.
Seolah-olah Tuhan dengan sengaja mengirimkan sosok puan tersebut untuk mengeliminasi rasa gelisahnya.

"Merasa lebih baik?" si puan kini melontar tanya, nampak heran dengan reaksi si lawan tutur.

Anggukan hadir sebagai jawaban.
Lengkap dengan senyum yang semakin melebar —tak lupa juga degupan asing di balik dadanya yang setia mengiringi.

Entah mengapa tubuhnya gemetar.
Kedua kuasanya kini bertaut, beri tekanan-tekanan ringan guna tepis rasa gugup.

"Terima ka—

"MINJEONG-AH! Kau datang?!"

Suara serak nan nyaring memutus tiap kata yang sudah ia persiapkan.
Jeongwoo, lelaki tan yang memegang jabatan sebagai kawan sepermainannya adalah tersangka utama.
Tanpa basa-basi Jeongwoo menggeser posisinya, melempar senyum tak kalah lebar dengan yang ia tunjukkan tadi. Bahkan kekehan hadir disana.

Tak nyaman.
Sesuatu membuatnya merasa kesal.
Dan lagi-lagi Jeongwoo lah penyebabnya.

"Sudah puas Jeongwoo-ah? Sudah puas membuatku kehabisan tenaga menghadapi hyungmu?"

Iri. Puan dihadapannya ini nampak lebih ekspresif kala menghadapi Jeongwoo. Dahinya berkerut, samar memang. Walaupun begitu, intonasinya tetap sama. Terlampau datar.
Tak sadar jika hal itu menjadi daya tarik tersendiri.

"Hey, kau dan kawan-kawan yang lain harusnya merasa beruntung. Aku memberimu akses untuk bertemu dengan calon bintang, Minjeong-ah." sahut Jeongwoo.

Minjeong.
Nama yang begitu asing namun sukses buat degupan itu kembali hadir.
Sukses membuat senyuman itu kembali terbit.

"Park Jeongwoo, kembali ke tempatmu!"

Lagi, suara lain menginterupsi interaksi Jeongwoo dan Minjeong. Sukses buat wira yang sedari tadi menahan rasa senang dan kesalnya secara bersamaan, tersenyum lebih lebar sebelum mendorong Jeongwoo pergi dari areanya.

'Terima kasih, Jihoon hyung.'

Persempit jarak antara layar dan dirinya. Hendak tangkap wajah pujaan lebih dekat. Entah dari mana ia peroleh keberanian.

"Terima kasih, Minjeong-ssi. Terima kasih sudah tidak membiarkan aku tenggelam seorang diri."

Tulus, ia berujar dengan begitu halus.
Jujur saja, ucapan terima kasihnya masih terasa belum cukup.
Tak sebanding dengan nyanyian selayaknya rengkuhan yang dipersembahkan puan tersebut.

Minjeong mengangguk.
Raut wajah tanpa ekspresinya masih setia ia pertahankan.

"Sama-sama. Kau punya banyak orang yang peduli denganmu. Setidaknya jika mereka bukan pemberi nasihat yang baik, paling tidak mereka adalah pendengar yang ulung."

Benar. Ia tak sendiri.
Keluarga dan kawan-kawannya siap mengiringi tiap langkah yang dirinya ambil.
Dan kini, semakin yakin jika sepi takkan menghampiri.
Karena malam ini dengan kesadaran penuh, Watanabe Haruto menyimpulkan jika ia jatuh hati pada puan dengan paras selayaknya putri. Puan dengan rona wajah sedingin es dan senandung sehangat rengkuhan —Kim Minjeong, jenamanya.

                                        -tbc-

Hai semua!
Penulis hadir kemari membawa yang manis-manis!
Jujur, ini karyaku yang pertama.
Jadi, walaupun peminat pasangan ini gak banyak —atau mungkin belum ada? tapi semoga bisa buat kalian tarkesan dan penasaran sama lika liku perjalanan kisah mereka disini hehe.
Sebenernya ini terinspirasi dari momen dimana Haruto gak bisa nyembunyiin raut lelahnya di fansign yang lalu, dan ya munculah ide untuk bangun cerita ini.

Sekian cuap cuapnya, jangan bosen buat nunggu kelanjutan kisah oknum Watanabe dan Minjeong ini ya!

Continue Reading

You'll Also Like

111 2 9
Di balik kabut kenangan yang samar, tersembunyi jawaban atas rasa penasaran yang tak terucapkan. Sebuah pertemuan yang terasa akrab namun penuh teka...
130K 15.2K 60
Kisah si bungsu keluarga Kim
IM (END) By Choco

Fanfiction

6.6K 641 23
Gimana jadinya seorang watanabe haruto yang dingin dan cuek ketemu song yunji adiknya song yunhyeong & song mino yang polos sepolos kertas hvs "Gue s...
Wattpad App - Unlock exclusive features