ALEA'S Journey

By user32566954

1.4M 46.5K 4.2K

Untuk sesaat, gadis yang saat ini tengah berdiri di balik jendela kamar seraya memegang cangkir seduhan cokla... More

πŸ‰ P R O L O G πŸ‰
πŸ‰ Paksaan Windy
πŸ‰ First Meet
πŸ‰ Tatapan Itu (?)
πŸ‰ Behind Fero's Birthday
πŸ‰ After Accident
πŸ‰ Butterflies Tattoo
πŸ‰ What Happened to Her?
πŸ‰ Meet Him, Again
πŸ‰ C A S T πŸ‰
πŸ‰ Denied Pregnancy
πŸ‰ Baseball Bat
πŸ‰ Barra: Bad Papa
πŸ‰ Mimpi Yang Mengubah Segalanya
πŸ‰ Keputusan
πŸ‰ Not A Dream Wedding
πŸ‰ Belanja Bulanan Pertama
πŸ‰ Barra's Fam Gathering
πŸ‰ Yang Tidak Alea Ketahui
πŸ‰ Nightmare
πŸ‰ She's Barra's Fiance
πŸ‰ Keep Your Type, Who's She?
πŸ‰ Our Pride School
πŸ‰ Janji Barra
πŸ‰ Ingkar
πŸ‰ He Need a Hug
πŸ‰ Apel dan Galeri Seni
πŸ‰ Siapa Orang Jahat Itu?
πŸ‰ Pantai Dan Harapan
πŸ‰ A Night
πŸ‰ Delusi
πŸ‰ Amukan Meli
πŸ‰ Kilas Balik
πŸ‰ Terror
πŸ‰ Terror (2)
πŸ‰ Apa Arti Kebaikannya?
πŸ‰ Something in The Rain
πŸ‰ I Hold Your Trump Card
πŸ‰ Kamuflase Orang Orang
πŸ‰ Barra: Is a Good Papa
πŸ‰ Baby's Breath
πŸ‰ Where is Barra?
πŸ‰ Penyesalan
πŸ‰ How Did He Tell
πŸ‰ Sisi Lain Alea
πŸ‰ Cigarettes After Sex
πŸ‰ Liku Penuh Luka
πŸ‰ I'm Done
πŸ‰ Save Me, Please
πŸ‰ That's Where We Go
πŸ‰ Done For Me
πŸ‰ Make It Real
πŸ‰ Selamat Tinggal
πŸ‰ Juna and His Papa
πŸ‰ Finally, He Knows the Secret
πŸ‰ Juna's Anger
πŸ‰ Cerita Tentang Kita
πŸ‰ Usai
πŸ‰ I'm Late, Sorry
πŸ‰ Now, We Have Meet
πŸ‰ The Promise
πŸ‰ Paris in Love
πŸ‰ Only You, My Dearest Home
πŸ‰ Sampai Menutup Mata
πŸ‰ New Baby
πŸ‰ Sebuah Kenyataan
πŸ‰ New Journey
πŸ‰ Barra VS Juna
πŸ‰ End πŸ‰

πŸ‰ Fero's Birthday

17.4K 678 13
By user32566954

[Ikuti akun ini jika kalian suka ceritanya. Vote komen juga jika kalian suka dengan ceritanya. Terima kasih sudah berkunjung ❤️]

04 || FERO'S BIRTHDAY

Memoleskan blush on berwarna peach di pipinya yang asli putih tanpa polesan foundation ataupun bedak, Alea menutup persiapan make up-nya. Ia hanya menggunakan moisturizer sebagai pelembab lalu menambahkan sedikit blush on agar wajahnya tidak monoton pucat.

Alea menilai penampilannya sudah cukup sesuai karena tidak ada kesan berlebihan dalam dirinya. Dress hitam selutut dengan tali pita di pundak membalut tubuh rampingnya. Heels 8 cm menjadi pilihannya untuk menolong tinggi tubuhnya yang bahkan tidak mencapai 160 cm.

"Mama khawatir loh kamu keluar malem malem. Jangan pulang larut loh Lea."

Gadis itu tersenyum manis menanggapi kekhawatiran sang mama. Wanita paruh baya itu memang sering melarangnya keluar malam hari. Namun untuk kali ini, sang putri diizinkan keluar setelah Alea mengatakan keinginan dan alasannya.

"Tenang Ma, abis acara pasti langsung pulang kok."

Melihat Windy di bawah sudah datang dengan BMW hitamnya, Alea memutuskan berpamitan dengan ibunya. Ia mencium punggung tangan, tak lupa kedua pipi wanita yang melahirkannya itu. Ia lalu bergegas keluar dari kamar dan turun ke bawah.

"HP nggak boleh mati loh. Kabarin mama terus. Kalau ada apa-apa langsung telfon."

"Iya mamaa. Udah ya aku pergi." Ia masuk ke dalam mobil Windy seraya menenteng paperbag berisi kado yang akan ia berikan pada Fero.

"Pamit ya Tante," ujar Windy tersenyum membuka kaca mobilnya dan melambaikan tangan. Setelah itu mobil melaju meninggalkan pelataran rumah Alea yang luas.

"Nasib punya strict parent." Alea berucap mengisi keheningan, dibalas kekehan kecil oleh Windy.

Gadis itu mengangguk setuju. "Emang kadang nyebelin sih. Cuma, kadang gue banyak-banyak bersyukur punya orang tua yang kayak gitu. Karena, justru kayak gitu tuh peduli gitu. Anaknya nggak dibiarin gitu aja."

Alea mengangguk-angguk merespon pendapat Windy. "Mama emang paling peduli. Beda sama papa. Nyapa aku aja jarang. Lebih sayang kerjaan."

"Heleh bokap lo gitu kan juga buat nyukupin hidup lo. Omong-omong lo ngasih kado apa jadinya?"

Senyum Alea membuat Windy tidak mengerti. "Kepo," sahutnya, membuat Windy mendengkus kesal.

"Kasih tau kek. Apaa?" tagih Windy yang masih dirundung penasaran.

"Kepo ah." Cewek itu masih saja enggan memberitahu sang sahabat yang sudah penasaran level atas.

Mengerti tabiat Alea, Windy memilih menyerah. Percuma dia bertanya, pasti Alea masih tetap tidak mau memberitahu. Lain waktu pasti gadis itu bercerita sendiri.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam, tepat pada pukul delapan malam Windy serta Alea sampai di hotel tempat Fero mengadakan birthday party. Usai memarkirkan mobilnya, Windy mengajak Alea masuk ke dalam.

"Orangnya yang mana deh. Lupa aku tuh," tanya Alea tepat di samping telinga Windy. Bukannya apa, suara musik yang dimainkan oleh disc jockey malam ini sangat keras. Alea yakin Windy tidak akan mendengar ucapannya jika suaranya tidak dikeraskan.

Windy nampak celingukan, mencari dimana sang raja pesta malam ini. Dia sudah berusaha tampil maksimal hanya demi dinilai lebih oleh mas crush malam ini.

Dia sampai sengaja menghabiskan waktunya untuk menonton video tutorial make up agar bisa tampil cantik di pesta Fero. Mengingat selama ini dia jarang merias diri dengan make up. Hampir sebagian waktunya habis di sekolah, dan peraturan sekolah tidak memperbolehkan siswinya berdandan terlalu berlebihan saat kegiatan belajar mengajar.

"Nah itu orangnya." Begitu menemukan apa yang dia cari, tanpa basa-basi Windy menarik tangan Alea menuju Fero yang duduk di sudut ruangan bersama sahabat-sahabatnya.

Melihat ada yang hendak menghampirinya, Fero peka dengan berdiri menyambut keduanya.

"Hai. Lo anak basket juga kan?"

Jantung Windy langsung berdisko mengetahui Fero mengenali dirinya, bahkan menyapanya lebih dulu. Dia sudah tersenyum-senyum salah tingkah sampai membuat Alea terheran-heran berdiri di sampingnya.

"Iya. Happy birthday ya Fer. Lo doa aja biar gue bantu aminin hehe. Sorry cuma bisa kasih ini."

Fero menerima kotak biru yang Windy berikan untuknya. Dia tersenyum ramah, semakin membuat Windy ingin teriak kesetanan. Jika tidak lupa tempat, Windy ingin guling-guling dan teriak. Bahkan tangannya hampir reflek meraih ponsel untuk mencari jasa wedding organizer yang tepat untuk menyiapkan wedding dreamnya dengan Fero.

"Thank you ya." Tatapan Fero beralih pada seseorang yang berdiri di samping Windy yang tak lain adalah Alea.

Perempuan itu terlihat canggung, tidak tahu harus bertingkah seperti apa. Mengerti dengan maksud tatapan Fero, Windy lalu memperkenalkan Alea. Terlalu hanyut melihat ketampanan Fero sampai membuatnya melupakan Alea.

"Ini sahabat gue, namanya Alea." Windy menyentuh pundak Alea, merangkul gadis itu.

Alea tersenyum canggung, mengulurkan tangannya pada Fero. Selesai perkenalan, Alea langsung memberikan kado yang ia bawa agar dirinya bisa cepat-cepat menjauh dari cowok itu. Jujur Alea jadi canggung.

"Happy birthday Fero. Semoga panjang umur, sejahtera, sehat sentosa, bahagia, tambah pinter, tambah baik, nurut sama orang tua, hehe."

Tak hanya Windy, Fero pun tercengang dengan ucapan selamat serta harapan-harapan yang Alea ungkapkan. Tidak ada yang salah, hanya saja ini terlalu childish untuk ukuran mereka yang sudah remaja menginjak dewasa.

Alea seperti berdoa untuk anak TK yang ulang tahun. Windy tersenyum kikuk, sedangkan Fero mengangguk kaku. "I-iya thank you ya, enjoy ya kalian. Sekali lagi makasih udah dateng."

Windy serta Alea mengangguk, keduanya segera berlalu, mencari tempat kosong untuk mereka tempati selagi menunggu acara inti mulai.

"Lo aneh banget anjir," sewot Windy pada Alea ketika mereka sudah menemukan tempat. Yang ditegur hanya sibuk dengan ponselnya, menjawab pesan-pesan dari saudara-saudaranya yang terus menginterogasi dimana dia berada.

Tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel, Alea menyahut, "aneh apanya?"

"Ya tadi, masa ngasih ucapannya gitu," heran Windy masih dengan ekspresi kagetnya. Dia masih shock. Ini mungkin berlebihan, tapi dia benar-benar tidak menyangka Alea akan memberikan ucapan selamat seperti tadi.

"Loh emang ada yang salah? Perasaan doaku baik-baik semua kok. Gak ada tuh aku doain dia yang jelek-jelek."

Windy menepuk jidatnya, geregetan. Bergaul dengan Alea memang kadang membuat batinnya lelah.

Alea mengalihkan fokusnya dari ponsel, beralih pada Windy yang terlihat masih tak habis pikir dengannya. "Gak ada tuh aku doain dia semoga cepet mati. Kalau gitu ya langsung ditendang akunya. Perasaan gak ada yang salah deh," sambung Alea yang justru semakin membuat Windy kepanasan sendiri.

"Iya deh Alea iya. Lo bener, gue yang salah."

Suara musik yang cukup keras sebenarnya mengganggu pendengaran Alea. Jujur dia tidak terbiasa dengan atmosfer seperti ini. Lampu disko mengganggu penglihatannya. Alea ingin segera pergi dari tempat ini. Sejak awal datang dia sudah merasa tidak nyaman.

"Pulang yuk, udah kan?"

Windy hampir tersedak minuman bersoda yang baru saja diteguk. Ia meletakkan gelas kaca di meja, menatap Alea lelah. "nanti dong Aleaa, baru dateng masa langsung pergi. Lo juga belum cobain makanannya."

Gadis itu menghela napas panjang. Belum apa-apa tapi Alea sungguh merasa bosan. Di sekitarnya hanya ada orang-orang yang menikmati minuman dan berjoget di dance floor mengikuti iringan musik disc jockey.

Demi Windy merasa puas, Alea akan bertahan. Toh sebentar lagi acara inti mulai.

🍉

Sejak kedatangannya ke tempat ini, Galih dengan segala kurang kerjaannya menghitung berapa gelas minuman yang sudah Barra tenggak habis.

"Ini yang ke tujuh. Udah Bar, gak lucu kalau lo mati di pesta sahabat lo," cegah Galih ketika Barra hendak kembali menuangkan minuman beralkohol ke dalam gelasnya.

Barra menepis tangan Galih yang berusaha menghalangi kesenangannya. Sedari kecil, hal-hal yang dilakukan oleh orang tuanya tak absen untuk ia tiru. Salah satunya adalah mabuk untuk menyelesaikan masalah.

Di rumah megahnya bahkan ada mini bar yang dibuat khusus untuk menikmati minuman haram itu. Gudang untuk menyimpan anggur yang diproduksi dari berbagai macam tahun pun ada.

"Lo ada masalah apa sih?" heran Gavin. Ketiganya duduk di sudut ruangan, samar dari pandangan banyak orang. Sedangkan Fero menemui satu-persatu tamunya untuk sekedar menyapa dan berterimakasih atas kedatangannya memenuhi undangan yang ia buat.

Selain pesta ulang tahun, sejujurnya Fero sengaja mengundang satu angkatan sebagai perayaan kelancaran mereka mengerjakan UTS beberapa minggu yang lalu. Agar mereka tidak segan datang dengan alasan tidak mengenalnya, maka alasan perayaan sekolah akan lebih membuat mereka terbuka.

"Vino! Gue bunuh lo bangsat!" geram Barra, mengepalkan tangannya sampai urat-uratnya muncul.

Galih mengerti titik masalah yang tengah Barra hadapi. Ia menepuk punggung cowok yang duduk di sebelahnya seraya mengangguk sok bijak. "Tenang. Besok kita hajar lagi," anjurnya penuh kesesatan.

Gavin menggeleng, menanggapi tingkah ke-dua sahabatnya yang begitu kompak ingin menghajar habis anak orang. "Udahlah Bar, kemarin kita baru aja olahraga sama geng mereka. Udah mau ribut lagi?"

Menggulung kemeja hitamnya, Gavin menunjukkan luka lebam di tangannya. "Nih masih ada bekasnya, biarin sembuh dulu kek."

Barra tak mempedulikan curhatan Gavin. Cowok itu hanya bersandar di sofa dengan tangan yang terus memijit pelipisnya. "Dia berani sentuh Amara."

Uhuk uhuk.

Spontan Galih tersedak es sirup yang ia minum. Cowok itu menganga, tak percaya pada Barra. "Serius lo?"

"Dia bikin Amara dirawat di rumah sakit," papar Barra, mengerang frustasi.

Sedetik setelah itu, ia berdiri menyambar dompetnya. Kepalanya pening dan tubuhnya mulai beraksi tidak nyaman.  Sepertinya minuman keras yang dikonsumsinya terlalu banyak.

Sejujurnya, Barra jarang--bahkan sepertinya tidak pernah merasakan pening dan nyeri berlebihan di kepala setelah menenggak minuman sekalipun dengan dosis yang over.

Anehnya, sekarang tidak lagi seperti itu. Kepalanya benar-benar nyeri. Dia butuh mengistirahatkan tubuhnya. Beruntung hotel ini milik ayahnya. Hal itu memudahkannya untuk mendapatkan tempat istirahat tanpa harus pulang lebih dulu. Lekas-lekas ia menuju resepsionis untuk check in satu kamar.

"Barra kemana?" Fero bertanya ketika mendapati Barra berjalan sempoyongan memegangi dinding menuju bagian hotel lebih dalam.

"Check in. Biasa lagi banyak masalah," ungkap Galih tak mau menjelaskan bertele-tele.

Fero duduk di tengah-tengah Gavin dan Galih. Ia memperhatikan sekelilingnya dimana para tamunya tengah menikmati pesta yang ia suguhkan.

Secara tiba-tiba, ia mengeluarkan tawa kecil. Hal itu sontak mengundang tanda tanya di benak Gavin serta Galih.

"Ini apa lagi? Kerasukan lo?" tanya Gavin terheran-heran, mewakili Galih yang juga penasaran.

Fero yang tadinya terkikik kecil lalu mengubah rautnya menjadi serius. Ia duduk tegap, memancing penasaran Galih dan Gavin.

"Kalian tau Alea?"

"Alea itu apa?" Gavin bertanya dengan raut wajah melongo, membuat Fero menatap malas ke arahnya.

Galih reflek memukul paha cowok itu. "Pertanyaan lo salah goblok. Bukan apa, tapi siapa," kesalnya.

Yang dipukul menyengir lebar, menggaruk pipinya yang tidak gatal. "iya salah, maksudnya Alea siapa?"

"Anak IPA 1. Gue juga baru tau tadi. Anaknya lucu anjir, pengin gue karungin bawa pulang."

"Lo suka?" tanya Galih, langsung pada intinya. Fero jarang sekali memuji cewek, apalagi sampai mengatainya lucu. Jika sudah seperti itu, artinya cewek itu bukan sosok biasa untuk Fero.

Yang ditanya hanya menggidikkan bahu. "Gak sampai situ sih, cuma ngerasa lucu aja."

Gavin mengukir senyum remeh. "Bukan gak sampai, tapi belum sampai. Liat aja ntar," candanya yang entah akan benar-benar terjadi atau hanya tebakannya semata.

🍉

"Lea lo mau kemana?" Windy bertanya pada Alea yang tiba-tiba berdiri.

Gadis itu memandangi sekelilingnya, seperti mencari-cari sesuatu. "Toilet, aku mau ke toilet."

"Mau gue temenin?" Windy berdiri hendak menemani Alea.

Gadis itu hendak mengangguk mengiyakan, namun begitu melihat sesosok laki-laki yang datang ke meja mereka, niatnya jadi urung. Dia cukup peka untuk membuat Windy bahagia dengan membiarkannya memiliki momen dengan Fero yang belum tentu terjadi dua kali.

Ia lalu menggeleng. "Nggak, aku sendiri aja."

"Alea mau kemana?" tanya Fero begitu menyadari gadis itu hendak pergi dari mejanya.

"Ke kamar mandi, kamu temenin Windy dulu ya, dia gak berani sendirian," pesan Alea pada Fero, membuat Windy meringis diam-diam. Dia tahu sahabatnya itu tengah berusaha membantunya, tapi bukan dengan menyebar hoax seperti itu.

Melihat Fero terkekeh kecil, Windy dibuat takjub dengan ketampanan cowok itu yang terlihat bertambah berkali-kali lipat. Dia cukup kaget ketika mas crushnya bisa dengan mudah tertawa kecil karena candaan Alea.

"Okey, dia aman," sahut Fero seraya tersenyum sangat ramah mengangkat dua jempolnya. Ia mengisi kursi kosong di samping Windy.

Gadis itu mulai grasak-grusuk tidak jelas. Berada di dekat Fero membuat jantungnya terus berdetak kencang. Benar-benar tidak aman untuk kesehatan jantung. Windy juga bingung harus bertingkah seperti apa untuk membuat Fero terkesan lalu akrab dengannya.

Cukup peka dengan momen langka ini, Alea akan memanfaatkan dengan berlama-lama dulu di dalam toilet. Bodoamat dengan apa yang nanti akan dilakukannya di sana. Membaca komposisi sabun, menghitung cicak, atau apalah itu. Setidaknya yang dia lakukan akan membuat Windy memiliki waktu lebih lama untuk berduaan dengan Fero. Artinya, tidak sia-sia juga dia menemani gadis itu datang.

"Minum kak."

Alea mengangkat tangannya sebagai isyarat menolak tawaran seorang pelayan yang berlalu seraya menyodorkan segelas minuman.

"Toilet dimana ya mas?" Dibanding menerima tawaran minumannya, Alea lebih memilih untuk bertanya pada waiters yang Alea tebak seumuran dengannya.

Waiters itu menunjuk lorong hotel. "mari ikut saya."

Alea mengangguk setuju. Ia lalu berjalan di belakang pemuda itu.

Begitu sampai di depan sebuah pintu, lelaki  tersebut menunjuk dengan tangannya. "ini kak."

Alea mengangguk seraya tersenyum. Ia membungkukkan setengah badannya. "Makasih mas."

Waiters tadi berlalu setelah membalas Alea dengan senyum tipis. Sedangkan gadis itu masuk ke dalam toilet. Ia hanya perlu membenahi tatanan rambutnya yang sedikit berantakan.

Menatap pantulan dirinya di dalam cermin, entah mengapa perasaan tidak nyaman hinggap di benaknya. Ia menyentuh tengkuk lehernya, menatap sekeliling. Setelahnya, Alea hanya mencuci tangan lalu lekas-lekas keluar dari tempat itu.

"Astaga! Dek kamu ngagetin aja." Alea terlonjak memegangi dadanya ketika membuka pintu kamar mandi dan mendapati sesosok gadis kecil bergaun putih dengan wajah pucat berdiri tepat di depan pintu seolah memang menunggunya.

Anak kecil berambut hitam pekat dan lurus sepanjang punggung itu mendongak menatap Alea seraya tersenyum. Senyum yang malah terlihat menyeramkan di mata Alea.

"Kamu di sini sendirian? Mama papa kamu mana?" tanya Alea berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan tinggi anak itu. Tangannya mengusap lembut rambut panjangnya dengan senyum tak kunjung pudar. Batin Alea memuji kecantikan gadis kecil yang tengah ia usap rambutnya. Sangat cantik. Hanya saja kulitnya pucat.

Anak itu menggeleng. Telunjuk kecilnya menuding perut Alea dengan senyum yang masih tidak Alea pahami.

"Kenapa perut kakak?" tanyanya seraya menyentuh perut yang sedari tadi ditunjuk anak itu.

Anak itu melangkah untuk lebih dekat dengannya, lalu berbisik pelan tepat di telinga Alea. "Adik bayi."

Alea diam mematung seraya tersenyum kaku, tak mengerti dengan maksud anak itu. Setelahnya, gadis kecil tadi pergi meninggalkannya begitu saja.

Menoleh kaku, arah pandang Alea mengikuti kemana gadis kecil berkulit pucat tadi pergi. Namun entah bagaimana ceritanya, gadis kecil tadi menghilang begitu saja seolah memiliki kemampuan sihir menghilangkan diri.

Bilik-bilik kamar mandi tidak ada yang tertutup. Semua pintunya terbuka. Lalu kemana anak tadi? Bagaimana caranya dia bisa menghilang begitu cepat tanpa jejak?

"Jangan-jangan ...." Bulu kuduk Alea meremang. Ia menyentuh belakang lehernya, lalu bergidik ngeri.

Lekas-lekas Alea meninggalkan bilik-bilik kamar mandi yang sunyi itu. Perasaannya kian tak nyaman. Meski taat beribadah dan percaya pada Tuhan, Alea tetap akan takut jika diperhadapkan dengan mahluk tak kasat mata yang terkenal seram dan mengerikan.

"Imut sih, tapi kalau hantu ya gak jadi imut," gumamnya masih meraba tengkuk lehernya seraya berjalan cepat.

Continue Reading

You'll Also Like

1.3M 45K 54
-please be wise in reading- βˆ† FOLLOW SEBELUM MEMBACA βˆ† Moana Audia menjalani hidup yang jauh dari kata bahagia. Terjebak dalam keluarga broken home d...
6.3K 286 53
Sudah lama Elang memendam rasa kepada sahabatnya sendiri. Seorang perempuan cantik yang sejak masa Sekolah Menengah Atas sudah menjadi primadona bagi...
2.2K 144 19
Barra." "Hm." "Tolong sabar sedikit lagi ya." "Buat?" "Aku tahu kamu nggak nyaman denganku, aku tahu aku cuma pengganggu buat kamu, aku tahu kamu ris...
30.8K 1.5K 55
Arsya merupakan anak asisten rumah tangga dari keluarga Lidya. Saat Arsya berusia 11 tahun, ibunya meninggal. Lidya sudah berjanji bahwa dia akan men...
Wattpad App - Unlock exclusive features