I'M NOT FINE (TAMAT)

By Renaruari

13.8K 933 23

-Maaf penulisannya masih acak-acakan. Akan direvisi nanti :) ***** Namanya Syla Aulia, gadis berusia tujuh be... More

01. Kecurigaan
02. Membingungkan
03. Mendadak Bodoh
04. Janji Algi
05. Penyesalan, Tatapan
06. Suasana Canggung
07. Rumor, Pertengkaran
08. Penyesalan, Kemarahan
09. Pertengkaran
10. Kebahagiaan
12. Ancaman
13. Heboh
14. Sandiwara
15. Bertemu Camer
16. Pilihan, Pelukan
17. Terkejut
18. Berakhir
19. Putus
20. Kila Kembali
21. Malu
22. Canggung
23. Harapan
24. Mengetahui
25. Ingat
26. Cokelat, Perasaan
27. Ungkapan, Kemarahan
28. Terluka
29. Kebahagiaan
30. Cinta
31. Kisah Leon
32. Jauhi
33. Uang?
34. Algi Mengatakannya
35. Tanggapan Nesya
36. Janji, Luka
37. Perasaan, Tuduhan
38. Mantan, Penegasan
39. Membahas Pertunangan
40. Rencana Nesya
41. Kalung, Masa Lalu
42. Meninggal?
43. Takdir
44. Penasaran
45. Benci, Hadiah
46. Putus, Pergi
47. Obsesi, Psycho
48. Fakta Mengejutkan
49. Nyaman, Adopsi
50. Permohonan
51. Berubah, Penjelasan
52. Tiba-tiba
53. Menjelaskan
54. Sadarlah, Kecewa
55. Terkejut
56. Ancaman, Ungkapan
57. Ternyata, Bahagia
58. Kesedihan dan Penyesalan
59. Makasih, Maaf
60. Mimpi, Janjian
61. Fakta, Dibohongi
62. Kebencian, Acara Pertunangan
63. Penjelasan, Curhatan
64. Bertemu, Sepupu
65. Menyakitkan
66. Besok, Terkejut
67. Baju pasangan, Mengatakan
68. Kecewa, Terkejut
69. Permohonan Maaf
70. Faktanya
71. Alasannya
72. Yakin, Adik?
73. Maaf, Waktu
74. Semangat, Tamparan
75. Penderitaan, Ungkapan
76. Pacaran, Menikah?
77. Menolak, Menyukainya
78. Tekanan, Bunuh Diri
79. Penyesalan (Tamat)

11. Kecewa

224 13 0
By Renaruari

-IM NOT FINE-


"Semalam dibuat bahagia, dan sekarang dibuat kecewa. Kenapa kamu tega sekali?"- Syla Aulia.

*********


"Makasih ya, kak. Untuk hari ini." Ucap Syla tersenyum senang. Akhir pekannya kali ini benar-benar membuatnya bahagia.

"Hm, iya. Sama-sama." Ucap Devan seraya membalas senyuman Syla.

"Boleh minta nomor kamu?" Pinta Devan dengan nada lembut, raut wajahnya terlihat santai.

"Boleh." Ucap Syla mengangguk lalu menyebut nomor ponselnya.

"Makasih." Ujar Devan dengan senyum manisnya, ia pun memasukan kembali ponselnya kedalam saku celananya.

Syla mengangguk pelan, senyum hangatnya tidak pudar sama sekali.

"Kamu gak mau pulang?" Tanya Devan dengan nada bercandanya.

"Kakak aja dulu. Nanti kalo kakak udah pergi, baru aku pergi." Ujar Syla seraya merapihkan rambut panjangnya yang tertiup angin malam.

"Oh, yaudah." Ucap Devan seraya memasuki mobilnya.

"Bye, Syla." Devan melambaikan sebelah tangannya, ia baru memanaskan mobilnya.

"Bye, juga. Kak Devan." Syla membalas lambaian kakak kelasnya itu.

"Selamat malam." Untuk yang pertama kalinya Devan mengucapkan selamat malam kepada seorang wanita, kecuali ibunya. Apalagi, Devan tersenyum manis, sangat manis hingga Syla tidak langsung menanggapi ucapannya.

"Malam juga, Kak." Ucap Syla yang sama halnya baru mengucapkan selamat malam kepada seorang Pria, kecuali Ayahnya. Syla tersenyum manis yang membuat Devan yang langsung melajukan mobilnya dengam kecepatan sedang.

"Kenapa senyumnya semanis itu?" Gumam Devan dengan nada kesal, raut wajahnya terlihat frustasi.

"Manis banget senyumnya." Gumam Syla dengan senyum senang yang tak bisa tertahankan. Syla pun berjalan santai menuju rumahnya, hatinya berbunga-bunga.

******

Syla merebahkan badannya ke kasur yang bermotif bunga matahari, ia menatap atap kamarnya dengan raut wajah lelah. Devan menjatuhkan tubuhnya ke kasur berwarna abu polos, ia menatap atap kamarnya dengan raut wajah lelah. Mereka berdua kompak menghela nafas panjang.

"Aku lelah, aku ingin tidur. Tapi kenapa aku terus memikirkannya?"

"Aku lelah, aku ingin tidur. Tapi kenapa aku terus memikirkannya?"

Syla dan Devan kompak bertanya, dengan nada kesal sekaligus bingung. Mereka masih menatap atap kamar mereka masing-masing.

"Tidak. Tidak mungkin."

"Tidak. Tidak mungkin."

Syla dan Devan mengatakannya dengan kedua mata yang membulat sempurna. Nada mereka terdengar terkejut. Mereka menggelengkan-gelengkan kepala, seraya memposisikan tubuh mereka berdua menjadi duduk.

"Tidak mungkin aku menyukai kak Devan."

"Tidak mungkin aku menyukai Syla."

Nada mereka terdengar lirih, mereka berdua menghela nafas pelan. Lalu Devan dan Syla pun merebahkan kembali badan mereka di ranjang masing-masing. Dua remaja itu, menarik selimut hingga dada.

"Gak, mungkin. Baru juga ketemu tiga hari yang lalu."

"Gak, mungkin. Baru juga ketemu tiga hari yang lalu."
Ujar Syla dan Devan seraya menggelengkan kepala dengan cepat, tatapan mereka lurus kedepan.

"Gak mungkin rasa suka datang secepat itu." Gumam Devan menggelengkan kepalanya, ia berusaha menghilang senyum Syla yang selalu terbayang dalam benaknya setelah ia mengantar Syla pulang.

"Mungkin cuma kagum doang gara-gara dia senyum." Gumam Syla seraya mengangguk dengan gumamannya sendiri.

"Gak usah difikirin, tidur aja."

"Gak usah difikirin, tidur aja."

Ucap Syla dan Devan seraya mematikan lampu tidur masing-masing. Lalu menarik selimut sampai leher. Beberapa menit kemudian, mereka berdua tertidur dengan mimpi masing-masing yang berbeda. Dua remaja itu pusing dengan perasaannya.

****

Hari ini adalah hari senin, yang artinya seluruh murid diwajibkan untuk pergi kesekolah dan menuntut ilmu. Tidak seperti biasanya, pagi ini sekolah digemparkan dengan Berita Devan dan Syla berpacaran.

Siapa yang tidak heboh dengan berita itu? Lantaran dua orang yang hampir memiliki kesamaan itu tidak pernah terdengar berpacaran. Di setiap koridor banyak yang membicarakan mereka berdua. Entah itu dukungan atau hujatan.

'Berita itu benar atau cuma rumor?'

'Benar. Lihat saja foto itu. Tidak mungkin itu editan.'

"Kau benar juga. Tapi, sejak kapan mereka berpacaran? Kok baru terdengar hari ini?'

'Entahlah. Hanya mereka berdua yang tau, mungkin.'

'Wah. Mereka sama-sama beruntung, ya. Sekali pacaran. Devan langsung sama orang yang cantik, baik, pintar lagi. Dan juga Syla yang langsung sama orang yang ganteng, pintar. Kalo baik sih, dia cuma sama orang yang dikenal aja.'

'Kok bisa mereka pacaran? Soalnya kan gak keliatan banget deketnya.'

'Mungkin saling sukalah. Mereka kayaknya gak mau diumbar-umbar. Tapi gak tau juga sih, soalnya kan belum dikonfirmasi sama orangnya.'

'Kalian inget gak empat hari yang lalu? Waktu Syla kasih Snack ke Devan. Sikap Devan kasar sama dia, gak keliatan banget deketnya. Gak mungkin mereka berdua cuma sandiwara.'

'Bener juga sih. Atau mereka dijodohin?'

'Ck. Kamu terlalu banyak membaca novel tentang perjodohan. Tidak mungkin mereka dijodohkan, kalian kan tau. Orang tua Devan itu jarang ada dirumah, mereka berdua sibuk.'

'Tapi kalo saling suka. Kok cepet?'

'Perasaan itu gak bisa diprediksi. Datangnya kadang cepat kadang lambat.'

'Kamu baru ketemu sama Alvin satu kali. Tapi kamu udah bilang kamu itu suka sama dia, ya. Ya, mungkinkan. Perasaan suka kamu cepet.'

'Aku gak suka sama dia. Cuma kagum doang sama wajah gantengnya.'

'Mungkin mereka berdua juga kayak gitu. Awalnya saling kagum, terus lama-kelamaan saling suka.'

'Kamu kok kayak suka sama mereka berdua?'

'Hooh. Soalnya mereka berdua itu cocok banget. Yang satu ganteng, yang satu cantik. Aku dukung bangetlah kalo mereka beneran pacaran.'

'Aku juga sama kayak kamu.'

'Apasih dukung hubungan mereka yang gak jelas itu?'

'Bubar, bubar. Penghancur suasana datang'

'Dengerin aku dulu!'

'Dengerin, yuk dengerin, kali aja ucapannya sedikit bermanfaat. Gak kayak biasanya.'

'Kalo gak bermanfaat bubar aja, ngehabisin waktu aja.'

'Nih, ya. Aku ngerasa kalo hubungan mereka berdua itu cuma sandiwara, biar semakin terkenal di seluruh sekolah ini. Kalian juga kan tau. Mereka berdua sama-sama punya kesamaan. Gak mungkin mereka tiba-tiba pacaran, pasti karena itu.'

'Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Kurasa, kau terlalu memfitnah Devan dan Syla. Kau lebih baik diam saja, sebelum mereka berdua yang bilang kebenarannya.'

'Hm bener. Aku tau kenapa kau tidak suka dengan hubungan mereka. Karena kau iri sama cemburu sama Syla, kau ingin menjadi dia kan? Kau ingin berpacaran dengan Devan. Aku tau itu.'

Gadis yang mengatakan terang-terangan tidak menyukai hubungan Syla dan Devan, lantas pergi begitu saja tanpa mengatakan sepatah katapun. Gadis yang diketahui kelas 12 itu berpenampilan seperti wanita di Club malam. Dia lari, karena ucapan gadis berpakaian rapi memang benar adanya.

Terbukti, banyak yang mendukung hubungan Syla dan Devan dibandingkan dengan orang yang menghujat mereka berdua. Bobby tersenyum senang, ternyata banyak yang mendukung hubungan temannya dengan gadis yang ia kagumi. Meskipun ia belum mendengar konfirmasi dari Devan perihal berita yang tengah diperbincangkan pagi ini.

******

Devan menarik tangan Syla ke halaman belakang sekolah yang tampak sepi karena jarang ada orang yang melewati jalan ini. Gadis yang masih menggendong tas sekolahnya itu merasa heran sekaligus bingung dengan perlakuan kakak kelasnya di saat Berita tentang mereka tengah ramai diperbincangkan.

"Kak, ada apa? Kenapa menarikku ke tempat sepi ini? Seharusnya sekarang kita mengatakan kepada semuanya tentang berita palsu itu." Jelas Syla panjang lebar, raut wajahnya terlihat cemas jika kakaknya mengetahui tentang berita ini.

"Nanti kita akan mengatakannya kepada semua orang. Setelah aku mengatakan sesuatu kepadamu." Ucap Devan seraya menatap serius ke arah Syla. Ia juga melepaskan tangannya yang awalnya menarik tangan Syla.

"Apa yang akan kakak katakan?" Tanya Syla mengerutkan alisnya heran.

"Ayo. Ayo kita katakan kepada semua orang bahwa kita memang pacaran. Jadilah, pacarku. Syla." Devan berucap dengan nada serius, tatapannya juga sama.

Syla membulatkan kedua matanya terkejut mendengar ucapan kakak kelasnya itu. Ia memundurkan langkah kakinya selangkah demi selangkah, kedua tangannya meremas ujung roknya. Raut wajahnya terkejut dan tidak percaya.

"Aku tidak mau, kak." Ucap Syla seraya membalikan badannya ia hendak berlari namun Devan lebih dulu menarik tangannya.

"Kamu benar tidak mau? Kenapa?" Tanya Devan tetap tidak ingin melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Syla.

"Bagaimana bisa kita berpacaran saat kita berdua baru bertemu empat hari yang lalu? Kakak menganggap Pacaran sebagai lelucon? Kenapa sangat mudah sekali untuk mengatakannya?" Tanya Syla tanpa membalikan badannya, ia berusaha agar Devan melepaskan tangannya.

"Baiklah. Terserahmu saja ingin mengatakan apa. Tapi, kamu yakin akan tetap menolak setelah mendengar ucapanku?" Tanya Devan seraya melangkahkan kaki mendekati Syla.

"Bagaimana jika aku membongkar Rahasiamu dan Nesya? Bagaimana reaksi mereka mendengar kamu memang adik Nesya, bukan sepupu." Lanjut Devan dengan nada pelan. Ia membisikannya tepat di telinga Syla.

Syla terdiam dengan perasaan campur aduknya. Antara kecewa, dan tidak percaya. Semalam, ia dibuat bahagia oleh Devan. Dan sekarang dirinya dibuat kecewa oleh orang yang sama. Salahnya sendiri yang terlalu menganggap Devan sebagai kakaknya.

'Syla maafkan aku. Aku terpaksa melakukannya.' Batin Devan merasa bersalah dengan apa yang dilakukannya kepada Syla. Ia terpaksa karena Ayahnya yang terus menekannya.

"Jadi, selama ini kakak mendekatiku hanya karena ini? Kakak memanfaatkan Rahasiaku dan kak Nesya hanya untuk kebahagiaanmu sendiri. Kenapa kakak tega sekali?" Tanya Syla membalikan badannya, ia berucap dengan nada penuh penekanan. Kedua matanya terlihat memerah, menahan agar air matanya tidak keluar.

Devan terdiam sesaat, dadanya terasa sangat sakit melihat kondisi Syla saat ini.

***********









Continue Reading

You'll Also Like

50.5K 2.3K 50
-PROSES REVISI WARNING⚠️ [SEBELUM BACA WAJIB FOLLOW AKUN DAN IG AUTOR YANG TELAH DISEDIAKAN DI BIO] *** Seseorang wanita paruh baya memberikan hadia...
173K 7K 47
WARNING‼️‼️ Siapin mental dan stok sabar yang dobel pokoknya! Private acak follow sebelum baca! Sequel Trust Me Aretha AKARA = Bayangan Lengkap! °°°...
36.5K 4.5K 54
[Nusa Alexandria series#1]✓ "Waktu bisa mengubah kehidupan manusia , tapi tidak untuk kenangannya" ----SHILLAVAND----- Seseorang yang memeluk lu...
18.4K 1.8K 42
{FOLLOW SEBELUM MEMBACA} MASA PERBAIKAN DENGAN WAKTU YANG TIDAK DI TENTUKAN Tema : Family Problem [General fiction, Teen fiction, Chicklit] ~●~●~●~●~...
Wattpad App - Unlock exclusive features