Malam itu berlalu dengan baik, terlebih oleh karena alasan ketakutan Taehyun semalam, maka Yeonjun sudah memutuskan untuk tidur di luar saja sejak awal. Tidak ada sofa atau lain semacamnya, pemuda itu malah nekat saja memutuskan tidur di lantai. Soya bahkan sampai merelakan satu-satunya bantal yang ada untuk mengalasi kepala kakaknya.
Ah, beginilah derita pergi dari rumah tanpa rencana yang matang.
Alhasil, pagi itu Yeonjun terbangun dengan keadaan sakit di badan dan agak masuk angin.
"Yeonjun Oppa?" panggil Soya, menunggui di sisinya. Ternyata dia sudah memangku kepala Yeonjun dari tadi. "Kulit Oppa dingin sekali. Kenapa tidak minta alas dari kamar Terry, sih?"
"Dia tidak menyukaiku," jawab Yeonjun jujur. Mulai duduk dan meregangkan otot lehernya. "Sudahlah, aku tak apa."
"Yang benar?"
Yeonjun mengangguk. "Lain kali, mau kabur itu pakai rencana. Jangan mendadak."
"Tidak sempat. Namanya juga kabur, bukan piknik."
"Apa rencanamu setelah ini, hm? Menunggu nasib buruk saat pasukan Tuan Lay menangkap kita nanti? Atau menikahi Terry dan tinggal di sini selamanya?"
Soya bergidik, memukul pelan lengan Yeonjun. "Yak! Oppa! Opsi pertama seram sekali."
Yeonjun tambah membulatkan mata syok. "Jadi, rencanamu adalah opsi kedua?"
"Tidak juga. Ah, tidak tahulah!" Soya tegak agak kesal. Memikirkan soal rencana selalu membuat stres tapi kalau tidak dipikirkan rasanya malah tambah membuat stres. Maunya apa? "Terry belum bangun?"
"Kau lihat pintunya masih ditutup begitu." Yeonjun ikut tegak akhirnya, berjalan menyusul Soya yang sudah berjalan ke kamar Taehyun itu. "Kurasa ide bagus juga berkencan dan membuat dia menyukaimu. Barangkali bisa menghapus ketakutan dan pikiran kotornya terhadap laki-laki."
Soya membesarkan mata, tercengo pada Yeonjun.
"Aku bicara fakta. Dia sampai mengira kalau aku salah satu orang yang menginginkan itu."
"Sudah, ah! Membahasnya!" Soya memukul lengannya lagi. "Oppa 'kan laki-laki."
"Tuh. Kau yang membahasnya lagi."
"Aku 'kan hanya menjelaskan."
Pintu tiba-tiba dibuka, memperlihatkan pemuda dengan surai acak-acakan dan wajah bantal. "Kalian berisik sekali."
Soya reflek menunduk sopan. "Selamat pagi."
Taehyun melirik, agak tak tertarik. "Hm. Pagi." Kemudian berjalan melengos melewati kakak adik itu begitu saja. "Omong-omong, aku haus," katanya, duduk di satu-satunya kursi yang ada di ruang tengah rumah itu.
"Akan aku ambilkan. Tunggu sebentar." Soya langsung lari terbirit-birit ke dapur. Yeonjun pun cepat menyusul keheranan.
"Yak! Soya!"
"Ha?" sahut gadis itu, kerepotan mencari gelas terbaik.
"Kenapa kau menyapanya seformal itu? Dan mau disuruh-suruh juga."
"Kubilang dia agak sensi. Lebih baik menurut saja apa kemauannya."
Yeonjun mendesah tidak suka, menyilangkan tangan di depan dada, mulai curiga. "Dia pernah berlaku kasar padamu? Membentakmu?" tanyanya, tatkala otaknya spontan mengingat adiknya sudah memasuki kamar terkutuk Tuan Lay hanya berdua dengan Terry.
"Bukan, bukan. Tapi-yak! Yeonjun Oppa!" Belum selesai Soya menjelaskan dan menuangkan air ke gelas. Yeonjun sudah berjalan ke depan, dengan kepala bagaikan sudah terbakar dia melabrak Taehyun yang sedang duduk dengan tenang.
"Yak! Terry, siapa pun nama aslimu. Apa yang sudah kau lakukan pada adikku, ha? Apa ini semua rencanamu untuk kabur seperti ini?"
Soya berlari terengah-engah jantungan, menjaga air di gelas agar tidak tumpah kemana-mana. "Oppa!" panggilnya frustasi. "Biar aku yang jelaskan!" Mengatur napas, Soya menyodorkan cepat air minum ke Taehyun dengan gumaman sopan lalu menarik Yeonjun ke kamarnya.
"Oppa! 'Kan sudah kubilang untuk jangan macam-macam dengannya."
"Kau bicara seolah dia itu bangsawan saja."
Soya terdiam, meneguk ludah dengan susah. Oh, tidak! Ini kabar gawat! Matanya kemudian melirik pada perkebunan sayur yang begitu luas tak jauh dari rumah mereka itu. "Woah! Apakah kita bisa membantu sedikit di sana?"
***
Di perkebunan itu, hamparan kehijauan terbentang luas. Soya terpaksa mengajak Taehyun ikut untuk tidak menumpuk curiga pada Yeonjun. Gadis itu ceroboh sekali dalam banyak hal dan tidak pandai berakting. Seharusnya dia sadar kelemahannya itu sejak awal, dan menduga bahwa semua kebohongan ini bisa saja segera terbongkar dalam waktu dekat jika begini terus.
Tapi, mau bagaimana? Lagi pun, bukankah Soya berjanji untuk mengantar Taehyun ke istana dengan selamat? Apa rencananya kini sudah berubah?
Soya di sana. Memandangi Taehyun yang sedang memanen sayur bersamanya. Lihatlah. Bahkan keindahan panorama alam sudah kalah telak dengan keindahan visual pangeran itu.
Bahkan memanen sayur pun tetap membuatmu terlihat setampan ini, Pangeran....
"Nona Choi, bagaimana caranya?" gumam Taehyun, dengan mata sangat fokus dengan sayur-mayur di tangannya.
Soya tersentak, mengerjap cepat. "Begini. Lakukan seperti ini," jelasnya mencontohkan, dan Taehyun mengikutinya dengan tepat. "Kau memahaminya dengan cepat, Yang Mulia," pujinya tersenyum puas.
"Aku ini Putra Mahkota yang memiliki jadwal pendidikan khusus setiap hari. Otakku cerdas, dan aku bagus dalam berbagai hal," sombongnya, melanjutkan memanen dengan serius.
Soya terkekeh pelan. Ya ampun, ini hanya perkara memanen sayur. Kenapa dia serius sekali?
"Kekasihmu itu galak sekali."
"Siapa? Aku tidak punya kekasih," sahut Soya spontan. Lihat, kan? Betapa ceroboh gadis itu. Soya langsung menutup mulut setelahnya, meralat ucapannya. "Ah, Yeonjun Oppa? Hng! Dia memang terkadang agak galak. Tapi, tenang. Karena galaknya pasti punya alasan."
"Kenapa kau harus menutupi identitasku darinya?"
Soya terbungkam seribu bahasa. Bukankah jawabannya akan menjadi sangat jelas? Yeonjun bisa saja marah besar dengannya. Menyuruh Soya pulang dan berdiam di rumah agar aman, kemudian memulangkan Taehyun ke asalnya dengan caranya. Yeonjun kakaknya itu juga nyalinya bisa saja tak terduga. Bagaimana kalau aksi nekat Yeonjun itu tadi yang akhirnya membuat Yeonjun sendiri harus mendapat hukuman keji Tuan Lay?
Soya menelan ludah dengan susah. Ini ternyata ... terlalu beresiko.
"Nona Choi."
"Y-ya?"
"Aku bertanya."
"Oh, soal itu, aku-"
"SOYA! TERRY!" Yeonjun berseru, suaranya menggema ke seluruh penjuru ladang sayur. Pemuda itu memacu langkah lebih cepat guna mendekati dua orang yang tengah berbincang serius itu. Ternyata Yeonjun sedang memegang kertas pengumuman yang dia dapat di salah satu dinding bangunan Desa. "Lihat. Tuan Lay sudah menggerakkan pasukan untuk mencari Terry dan menghukum siapa pun yang membantunya kabur," jelasnya dengan napas tersengal-sengal, rautnya agak khawatir. "Ayo, kita di rumah saja. Berbahaya untuk kita berkeliaran di luar."
***
Rasanya Soya ingin menenggelamkan diri saja. Situasi makin berada di luar kendalinya sementara yang di sekitar sini saja sudah dipenuhi kebohongan yang membludak. Bagaimana kalau Pangeran bertanya lagi soal alasan dia menyembunyikan identitas dari Yeonjun? Bagaimana kalau Yeonjun makin semena-mena dengan Taehyun karena tidak tahu fakta besar itu? Bagaimana kalau ... Taehyun memerintahkan untuk mengantarnya pulang ke istana malam ini juga?!
"Ah, aku bisa gila!" racau Soya, mengacak surai memanjangnya yang terjuntai ke sisi badan sampai ke punggung. Biasanya gadis itu memang suka mengikat satu rambutnya ke belakang dengan tinggi hanya untuk membuatnya terlihat rapi.
"Kenapa kau bisa gila?" Taehyun bertanya saat baru saja memunculkan diri dari rumah. Kini Soya memang tengah menyendiri di halaman belakang, semuanya baru saja usai makan malam. Yeonjun langsung disibukkan dengan pekerjaan membantu petani di ladang, dan Taehyun tadinya mengatakan mau langsung tidur, makanya gadis itu lari ke sini agar bisa merenung sampai puas.
Soya reflek tegak, menguncir tangkas rambutnya, kemudian menunduk dalam. "T-t-tidak ada, Yang Mulia." Eh? Sempat dia melirik cemas ke pintu belakang itu. Memastikan kalau Yeonjun tidak ada di sana.
Taehyun menyadarinya, melangkah mendekat seraya menghela napas. "Dia belum pulang."
Soya ikut melemaskan bahu, setidaknya beban pikirannya bisa agak berkurang. "Kemana sih, dia itu? Padahal dia sendiri yang bilang kalau bahaya di luar."
"Yang dicari Tuan Lay 'kan aku. Bukan dia."
"Tapi 'kan tetap saja. Tuan Lay jelas tahu kalau dia yang terakhir menjaga di depan pintu sebelum aku membawa Yang Mulia pergi."
"Jadi, kau mengkhawatirkannya?"
Soya sebentar agak menimbang sesuatu dalam pikirannya. Mengangguk lambat.
Taehyun membuang napas lagi, duduk di sisi Soya begitu saja. "Tenanglah. Aku tahu, dia akan baik-baik saja." Sekilas pemuda itu melirik lawan bicaranya yang masih mematung di posisi. "Kenapa diam begitu? Duduklah," katanya, menepuk batang kayu besar yang memang sudah lama terbaring di sana.
Bukannya di batang kayu yang tadi dia duduki. Gadis itu malah duduk di bawah tanah.
"Yak! Aku bilang di sini."
"Bukankah itu lancang?"
"Ck, ini perintah."
Soya pun perlahan-lahan menurut, duduk di samping Taehyun dengan perasaan campur aduk.
"Kau berlebihan. Kau itu perempuan pertama yang menyewaku dan tidur satu ranjang denganku malam itu, kalau saja kau lupa."
"Maafkan aku, kalau menurut Yang Mulia itu sangat lancang!" Soya menunduk pada Taehyun, ketakutan sontak memenuhi seluruh benaknya.
"Santai saja. Kau 'kan butler-ku."
Soya kembali mengangkat kepala, jantungnya sudah bergemuruh lagi. Ini lebih parah dari sewaktu di kamar tempo lalu. Bayangan sewaktu dia meminta bergandengan semalaman dengan Taehyun dan sempat membuka kancing bajunya juga membuat Soya ingin bunuh diri sekarang juga. Kenapa aku berani sekali sih, melakukannya waktu itu?! Dasar gila!
"Kenapa keluar? Apa kamarnya tidak nyaman? Yang Mulia kesulitan tidur?"
Taehyun mengangguk enteng. "Bekerja di ladang pagi tadi membuat badanku agak pegal."
Lagi, Soya menunduk dalam. "Maafkan aku, Yang Mulia."
Kali ini Taehyun terkekeh. "Hey, ternyata aneh juga kalau kau yang memperlakukanku begitu. Khusus untukmu santai saja, kau juga punya alasan," ujarnya, kemudian memaku netra pada langit kelam malam itu. "Aku hanya ... merindukan Soobin Hyung."
Soya menoleh. "Butler-mu sebelumnya?"
Taehyun mengangguk. "Kuharap Ayah takkan menghukumnya mati seperti seharusnya."
Soya langsung melotot. "Seperti seharusnya?!"
"Tentu. Tapi bukannya tidak jadi?" Taehyun menoleh pada Soya, tampak lebih heran. "Kau sendiri 'kan yang bilang kalau seharusnya dia yang menjemputku dari Goyeolga dan pulang ke istana. Hanya karena dia sakit, jadinya kau yang diutus?"
Soya menegang. Bodohnya, dia memang nyaris melupakan bahwa pernah membuat kebohongan sebesar itu. Tanpa bersuara, gadis itu balas anggukan.
"Jadi, itu bohong?" tanya Taehyun menatap lurus, lebih membuat Soya seperti terkena serangan jantung. "Kau berhutang penjelasan denganku. Besok saja. Sekarang aku mengantuk." Taehyun tiba-tiba menarik tangan Soya menyingkir dari pangkuan gadis itu, lantas membaringkan kepalanya ke paha Soya. Pemuda itu mulai memejam. "Nyanyikan aku sebuah lagu tidur."
Soya masih menahan napas. Kebingungan. Jantungnya terancam betulan lepas dari tempat kalau begini caranya. "L-lagu apa?"
"Terserah. Itu urusanmu." Taehyun merespon, memejam sambil menyilangkan tangan di depan dada. "Cepatlah. Jangan buang-buang waktu."
Napas Soya tercekat. Bodoh sekali pertanyaannya yang terkesan melawan perintah itu. Ayo, bernyanyi. Ini perintah pangeran!
Soya pun mulai berdeham pelan, menetralkan deru napas terlebih dahulu agar suaranya dapat keluar dengan baik kala bernyanyi. "From the way you smile, to the way you look, you capture me, unlike no others ...."
Lagu itu dia senandungkan merdu. Ternyata ada gunanya hobi menggelar konser di kamar mandi dan bersenandung tiap kali merajut pakaian untuk Yeonjun. Nyanyian Soya itu lumayan, dan sangat pantas untuk diperdengarkan kepada pangeran seperti Taehyun.
Namun sayangnya, Soya pasti tidak menyadari bahwa Yeonjun baru saja pulang dan tiba di pintu belakang sana memperhatikan mereka berdua. Pertanyaan Taehyun sampai perintah itu-Yeonjun telah mendengarkan hampir semuanya. Dalam diam, Yeonjun pergi dari sana. Apa yang sebenarnya kau rencanakan, Soya?
***
Setelah karam secara mutlak di BISWY, kini TaeSo kita berlayar, guys! Mari pelukan!😭😭✨✨