Infinite Feelings [END]

By ozzaleta

66.7K 10.4K 4.6K

[RE-PUBLISH] Lili tidak menyangka, bagaimana bisa ia terjebak dalam friendzone yang membuat dirinya jungkir b... More

1. CALL ME LILI
2. DIA LANGIT
3. MEMULAI MISI
4. SALAH KIRIM
5. PATAH HATI
6. MANTAN LANGIT
7. LILI VS LANGIT
8. PEMBALASAN LANGIT
9. SALAH NAMA
10. PERASAAN YANG TERSEMBUNYI
11. BERTEPUK SEBELAH TANGAN
12. LUKA LANGIT
13. SECRET ADMIRER
14. BEDA PERASAAN
15. LILI, LANGIT, DAN GALAKSI
16. PERASAAN SESUNGGUHNYA
17. IMPOSTOR SESUNGGUHNYA
18. KEPUTUSAN LILI
19. PENGAKUAN GALAKSI
20. FIRST LOVE
22. SESUATU YANG HILANG
23. SARANGHAEYO
24. HUKUMAN DARI CHANDRA
25. HAPPY OR SAD?
26. AMARAH GERHANA
27. GERHANA VS LANGIT
28. LANGIT, LILI, DAN GERHANA

21. SAD GIRL

1.5K 386 155
By ozzaleta

JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN SHARE CERITA INI KE TEMAN-TEMAN KALIAN.

Lili memejamkan kedua matanya rapat-rapat, suara isakan sekarang terdengar dari bibirnya. Lili hancur, orang-orang terdekatnya menghancurkan harapannya.

"Kenapa semua orang jahat sama gue?" tanya Lili sambil mengusap air mata yang sedari tadi mengalir dari sudut matanya.

Dosa besar apa yang Lili lakukan, hingga Tuhan menghukumnya secara bertubi-tubi. Tidak, Lili tidak menyalahkan Tuhan. Ini mungkin takdir Lili, terjebak dalam hubungan rumit yang tidak pernah Lili sangka sebelumnya.

Lili dibuat tersentak sejenak, ketika secara tiba-tiba sebuah tangan terulur mengusap pipinya. Perlahan, ia membuka matanya. Pandangan yang pertama ia lihat adalah sosok Awan yang berdiri di depannya, kedua mata kakaknya menatap dirinya dengan sendu sekarang.

"Lo kenapa nangis?" tanya Awan khawatir, ia langsung membawa Lili ke dalam pelukannya. Tadi dirinya hanya iseng melewati kamar Lili, tetapi tak disangka-sangka jika dirinya menemukan sosok adiknya yang terduduk sendirian sambil menangis di sini.

"Abang ...." Tangis Lili semakin pecah, membuat wajah Awan mengeras ketika mendengarnya.

"Siapa yang buat lo nangis?" tanya Awan sambil mengelus-elus rambut adik semata wayangnya itu dengan sayang.

"Abang ...." Awan berdecak sebal, ia perlahan melepas pelukannya dari Lili.

"Lo kenapa? Jangan bikin gue khawatir, deh!" delik Awan mulai sebal.

Lili terkekeh sendiri, tangannya kini terulur mengusap air matanya sendiri.

"Bang, peluk Lili lagi." Lili merengek manja, membuat Awan berdecak sebal mendengarnya. Ia lalu memeluk Lili lagi dalam rengkuhannya.

"Kok nggak erat? Abang nggak ikhlas ya!" cibir Lili yang membuat Awan menahan kesal.

Awan mengeratkan pelukannya.

"Kurang erat," protes Lili.

Awan menambah pelukannya lagi lebih erat.

"Udah-udah, nanti Lili mati." Lili langsung melepas paksa pelukan kakaknya.

"Jadi ... kenapa lo nangis?" tanya Awan dengan serius.

"Selamat! Abang kena prank, itu kameranya Lili taruh sana!" Lili terbahak-bahak setelahnya, hal itu membuat Awan mendelik sebal.

"Nggak lucu!" dengus Awan sambil menjitak dahi gadis itu.

"Jujur ke Abang, lo kenapa?!" sambung Awan yang membuat Lili  sontak terdiam lama. Lili tadi kenapa sok asik, sih. Jelas lah, Awan tidak percaya perkataannya.

"Lili sama Kak Langit putus," cicit Lili pelan.

Itu alasan yang tepat, agar Awan tidak bertanya lebih lanjut.

***

Jarum jam menunjukkan pukul 10 malam, Langit sekarang sudah duduk di atas sadel sepedanya dan ingin segera pulang ke rumah untuk beristirahat. Sebelum mengayuh sepedanya, pandangan Langit terlihat murung sejenak, bayangan wajah Lili tiba-tiba memenuhi pikirannya saat ini.

Langit berniat menghubungi gadis itu, tetapi ia urungkan niatnya itu dalam-dalam. Tangannya kini menepuk keningnya sendiri, kalau Langit menuruti kata hatinya terus, Langit akan semakin tidak tahu diri.

Lili berhak bahagia dengan cintanya, bukan malah bersama dengan dirinya dalam hubungan palsu yang belum jelas ujungnya. Lili tidak mencintainya, bagaimana bisa Langit menawarkan gadis itu dulu untuk berpacaran dengannya? Langit sungguh bodoh.

Hanya gara-gara Melodi, Langit akan menyakiti banyak hati.

Dirinya lebih tua dari gadis itu, seharusnya Langit lebih dewasa. Langit tidak akan mengulanginya lagi kesalahannya, Langit khilaf.

"Kak Langit," panggil seseorang yang membuat Langit langsung menoleh ke asal suara tersebut. Terlihat sosok Melodi berlari kecil menghampiri dirinya sekarang.

"Kenapa, Mel?" tanya Langit ketika gadis itu sudah ada di sampingnya. Melodi terlihat menstabilkan napasnya sejenak, tetapi sedetik kemudian, gadis itu tiba-tiba menendang ban belakang sepedanya dengan keras. Hal itu sukses membuat Langit terkejut bukan main, hampir saja dirinya dibuat oleng oleh gadis itu.

"Kak Langit putus sama Lili, ya?" tanya Melodi sambil menunjuk ke arah Langit dengan tatapan tajamnya.

Langit terdiam sejenak, bagaimana Melodi bisa tahu secepat ini? Langit buru-buru memeriksa beberapa media sosialnya, Lili tidak mungkin meng—upadate status alay, kan?

Lili stres
3 menit yang lalu.

DICARI, KOS-KOSAN PUTRI.
BERSIH, NYAMAN, DAN GAK SUKA NGASIH HARAPAN. SEDIKIT ANGKER GAPAPA YANG PENTING GAK SUKA BIKIN MELAYANG YANG UJUNG-UJUNGNYA KITA DIHEMPASKAN.

Langit menepuk jidatnya pelan, ini Lili nggak mungkin menyindirnya, kan? Jangan-jangan putusnya keduanya, dibuat alibi Lili untuk mengalihkan rasa sakit hatinya dari Galaksi.

Langit benar-benar tidak terima.

"Iya," balas Langit.

"Lili jatuh cinta sama Kak Langit? Pacaran kalian kan kesepakatan, kenapa Lili sampai patah hati pas kalian putus?" Melodi mengerutkan dahinya heran, "Kak, kalau kalian putus. Gimana aku—"

"Deketin Galaksi?" potong Langit lebih dulu. Melodi mengangguk membalasnya, ia memijat keningnya sendiri, bisa gila Melodi lama-lama kalau seperti ini terus.

"Deketin aja sesuka lo, Lili maupun Gemintang nggak akan halangin lo." Langit menatap ketus gadis itu.

Melodi mengerutkan dahinya samar, "Kok Kak Langit sewot?" tanya Melodi heran.

"Lili udah tahu perasaan Gala ke dia, karena itu buat hubungan mereka berdua renggang. Bukan mereka berdua aja sih, tapi hubungan Gala sama Gemi juga."

Senyum Melodi seketika tersungging indah, "Beneran, Kak?" tanyanya tak percaya.

Langit yang melihat ekspresi gadis itu, benar-benar dibuat geleng-geleng. Persahabatan mereka sedang di ujung tanduk, sedangkan Melodi masih bisa tersenyum saat ini.

"Iya, lo puas?" Senyum Melodi seketika luntur mendengar respon Langit. "Gue berhenti di sini bantuin lo, setelah ini, lo atur rencana lo sendiri!" sungut Langit.

"Kak—"

"Gue nggak suka, Mel. Gue awalnya emang oke-oke aja bantuin lo. Tapi setelah beberapa hari ini, gue sadar ... gue nggak mau nyakitin hati orang lain lagi."

Melodi menatap datar Langit, "Siapa orang lain itu?" tanyanya.

Langit terdiam sejenak, beberapa detik kemudian, lalu kembali membuka suara.

"Lili."

***

Lili memeluk Chandra dengan erat, gadis itu sedari tadi bersikap manja pada Papanya itu. Tangan Chandra kemudian terulur mengelus-elus surai hitam putrinya, hal itu membuat Lili tersenyum kecil.

"Manja terus!" cibir Awan sambil menyemil kacang telur di toples. Ketiganya kini berada di ruang televisi, menonton film favorit mereka yaitu film spiderman.

"Abang, pinjam ponsel, dong!" pinta Lili memohon, hal itu membuat Awan memicingkan kedua matanya curiga.

"Nggak-nggak, lo kan lagi galau. Gue tahu siasat lo ya, Li!" delik Awan mengantisipasi.

Lili menghela napas panjang, "Yang Mulia, lihat Putra Mahkota mencurigai Tuan Putri Lili yang imut, menggemaskan, berbudi luhur dan bijak ini." Lili mengadu ke arah Chandra, membuat pria itu tertawa dibuatnya.

"Yang Mulia Raja kok malah tertawa?! Nggak sopan banget," cibir Lili sambil mendengus sebal.

"Kamu galau kenapa?" tanya Chandra penasaran.

Lili menggigit bibir bawahnya, apa harus Lili ceritakan pada Chandra? Chandra bisa ngamuk, kalau tahu tuan putrinya disakiti oleh rakyat jelata seperti Galaksi.

"Yang Mulia nggak boleh kepo," balas Lili sewot.

Pandangan Lili beralih menatap Awan kembali, "Bang! Pinjam, kek. Pelit banget, sih!" pekik Lili sambil mendelik sebal.

Chandra yang berada di samping gadis itu, sampai menggosok-gosok telinganya yang berdengung akibat pekikan Lili.

"Wan, pinjamin sana!" titah Chandra ikut kesal.

"Masalahnya nanti Lili bakal hapusin aplikasi di ponsel Awan, masa Papa nggak hafal, sih? Malah parahnya, dia bisa-bisa restart pabrik ponsel Awan," gerutu Awan membela diri.

"Lili janji nggak bak—"

"Pendusta, lo waktu itu juga janji kayak gitu. Tapi apa ujung-ujungnya?" potong Awan yang membuat Lili berdecak sebal.

"Emang benar kata Kak Angkasa, kalau Abang itu nggak pernah sayang sama Lili." Lili merengut sebal, membuat Awan menghela napas kasar.

"Tuh-tuh, ambil." Awan melemparkan ponselnya, untungnya Lili dengan sigap menangkapnya.

Gadis itu terkikik geli sendiri, kemudian ia membuka ponsel Awan yang tidak pernah diberi sandi oleh laki-laki itu. Tetapi pandangan Lili dibuat terdiam sejenak, ketika wallpaper  kakaknya terpampang foto laki-laki itu bersama dua laki-laki yang Lili kenali.

"Abang masih punya foto Kak Kaisar, ya?" tanya Lili penasaran. Wallpaper itu memperlihatkan foto Abangnya, Kaisar, dan Angkasa ketika masih SD.

Awan yang semula fokus menatap telivisi, kini menoleh ke arah gadis itu.

"Kaisar? Tumben lo manggilnya Kaisar?" tanya Awan heran.

"Lah, kan dari dulu Lili emang manggil dia Kaisar. Gimana sih, Abang." Dahi Awan semakin dibuat berkerut heran. Lili sedang bercanda, kah?

"Lama banget Lili nggak ketemu Kak Kaisar lagi, dia sekolah di mana sekarang, Bang?" tanya Lili penasaran.

Awan sontak menegakkan badannya, "lo nglawak, Li? Lo ngeprank gue, kan? Mana kameranya, mana?" tanya Awan sambil mengedarkan pandangannya.

"Abang yang nglawak, nggak jelas banget lagi." Lili membalasnya dengan ketus.

"Lah, lo hampir tiap hari ketemu dia. Jangan bikin gue ngajak gelut lo, ya?!" delik Awan mulai kesal.

"Kalian ngomongin apa, sih?" tanya Chandra menengahi perdebatan kedua anaknya itu.

"Kak Kaisar, Pa." Lili menjawab pertanyaan Chandra.

"Oh ... Kaisar, temannya Awan. Emang kenapa?" tanya Chandra ikut penasaran.

"Lah, kok Papa bisa kenal?" tanya Lili balik. Kaisar adalah teman Awan dan Lili waktu SD, bahkan Lili yakin jika Chandra belum pernah bertemu dengan laki-laki itu.

"Lah, kan dia sering ke rumah ini." Lili semakin dibuat bingung sekarang, kapan Kaisar ke rumahnya? Kok Lili tidak pernah tahu.

"Kak Kaisar ke sini, kenapa nggak ada yang ngasih tahu, Lili?" tanya Lili dengan wajah sebalnya.

"Sumpah, lo nggak tahu ya kalau cowok yang jadi mantan pacar lo itu Kaisar?" tanya Awan tidak percaya.

Sampai Jumpa dipart selanjutnya
Salam cinta dari author ❤





ozzaleta

Continue Reading

You'll Also Like

178K 12.8K 96
"Yang artinya lo terikat dengan gue." Kenzo menyembunyikan senyuman di wajahnya dari Sachi. KENZO GERALDO ARNOLD, seorang most wanted di sekolah mili...
10.1M 760K 48
[PART SUDAH TIDAK LENGKAP] [𝐅𝐎𝐋𝐋𝐎𝐖 𝐒𝐄𝐁𝐄𝐋𝐔𝐌 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐀𝐂𝐀] ❌𝐃𝐎𝐍'𝐓 𝐂𝐎𝐏𝐘 𝐌𝐘 𝐒𝐓𝐎𝐑𝐘. 𝐏𝐋𝐀𝐆𝐈𝐀𝐓 𝐌𝐄𝐍𝐉𝐀𝐔𝐇‼️ "Kak Gal...
252K 10.2K 50
[⚠️Banyak kata-kata kasar & tidak untuk ditiru⚠️] Bagaimana Seorang BINTANG ALISYA GEOFANI Si Bad Girl dengan tatapan elang dan sikap sedingin Es yan...
40.3K 3.4K 71
Sebelum baca harap follow dulu yah😘 Btw jangan menyimpulkan cerita dari awalnya aja, baca sampai akhir wokee • Aku dan kamu. Kita selalu bersama dar...
Wattpad App - Unlock exclusive features