Selamat membaca semoga kalian menyukainya, ya!
*****
Seperti kata Erza kemarin. Pagi ini Habibah dijemput oleh Erza menggunakan mobil. Tepat pukul enam lewat dua puluh Erza sudah berada di depan rumah Habibah.
Sementara Habibah sudah siap dengan seragamnya sejak pukul enam pagi. Jumat pagi ini Habibah sangat bersemangat sekolah dikarenakan sudah cukup lama dirinya tidak sadarkan diri dan tidak bertemu dengan teman-temannya.
Habibah susah payah berjalan dibantu dengan tongkat yang berada di tangan kanannya. Ia menuju ruang tamu rumahnya dan menemukan Erza sedang menyeruput segelas teh hangat yang disediakan oleh Zahra.
Erza melirik Habibah sambal menyeruput teh tersebut. Bibirnya tersenyum tipis melihat Habibah kembali menggunakan seragam bukan menggunakan pakaian rumah sakit lagi.
"Pagi Eza,"
"Pagi, Nona!" Ucap Erza lembut. "Sudah mau berangkat?" Tanyanya.
Habibah mengangguk bersemangat.
"Bunda! Abuya! Kita berangkat sekolah dulu, ya!" Teriak Habibah pada kedua orangtuanya yang berada di kamar.
"Iya! Hati-hati!" Teriak Zahra terdengar samar-samar.
Setelah itu mereka keluar rumah menuju mobil yang dibawa Erza yang telah terparkir rapi tepat di depan pagar rumah Habibah.
"Sini gue bantuin," ucap Erza sambal membukakan pintu untuk Habibah dan membantunya masuk.
Habibah hanya tersenyum tipis dan menerima bantuan dari Erza. Habibah tidak dapat menolak bantuan dari Erza karena dia merasa dia memerlukan bantuan untuk memasukki mobil tersebut.
Setelah itu Erza masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobilnya. Seauara deru mobil mengisi ruang hening di antara mereka berdua. Erza menoleh memandang Habibah dan tersenyum tipis.
Habibah merasa rishi dan malu dipandang seperti itu. "Kenapa Eza? Ayo jalan," titah Habibah.
"Iya sebentar manasin dulu," ucap Erza.
Erza merogoh kursi belakang dengan tangannya dan mengambil satu kotak tempat makan. Ia menyodorkan bekal makan tersebut ke depan Habibah. Sementara itu Habibah memandang menyeringai bekal makanan tersebut.
"Buat saya Eza?" Tanya Habibah.
"Iya dong. Itu dari Bunda, dia masakin itu buat lo pagi-pagi. Anaknya mah kaga dimasakin," ucap Erza medengus kesal. "Dimakan, ya! Sayang banget Bunda sama lo. Ya gak Bunda doang sih, gue juga," lanjutnya menyeringai.
Habibah sedikit tersipu malu. Namun ia mengihraukan godaan Erza dan fokus membahas bekal pemberian dari Nabila.
"Bilang makasih ya sama, Bunda! Pasti enak. Kebetulan saya belum sarapan, pasti nanti saya makan," kata Habibah bersemangat
Erza hanya bergumam dan menjalankan mobilnya perlahan meninggalkan perkarangan rumah Habibah.
"Iya Eza juga. Makasih ya, Eza!" Ucap Habibah tersenyum girang.
*****
Sesampainya di sekolah Erza membantu Habibah turun dari mobilnya. Karena masih cukup pagi jadi belum banyak siswa yang berada di sekolah. Keduanya di parkiran sekolah cukup menjadi pusat perhatian bagi para siswa yang berada di sekitar sana.
"Udah saya jalan sendiri aja ke kelas," ucap Habibah saat menutup pintu mobil Erza. "Eza sekali lagi terimakasih, ya!" lanjutnya tersenyum.
"Gak," kata Erza tegas.
"Loh kenapa?" Tanya Habibah kaget.
"Lo boleh bilang makasih setelah gue anter selamet sampe ke depan meja lo di kelas," Ucap Erza datar.
Habibah mendengus pelan. "Udah Eza saya bisa sendiri," ucap Habibah memohon.
Erza tertawa membuat Habibah menyeringitkan dahinnya tidak paham.
"Lo liat tuh, emang lo bisa gampang jalan sambal megang itu bekel?" Tanya Erza menyeringai mengangkat sebelah alisnya sambil menujuk kotak bekal yang Habibah pegang menggunakan tangan kanan.
Habibah melihat ke arah tempat bekal yang ia pegang. Habibah terkekeh pelan baru menyadarinya kalau dia masih memegangi kotak bekal tersebut ia akan susah jalan menggunakan tongkat itu.
"Udah sini gue bawain," kata Erza sambal merebut paksa kotak bekal tersebut.
Habibah tidak memberikan perlawanan, ia menurut di antar Erza menuju kelasnya. Baru beberapa langkah dari parkiran Habibah berhenti dan menatap lekat wajah Erza.
Erza menoleh dan mengekspresikan seolah bertanya kenapa pada Habibah.
"Saya baru kepikiran kenapa gak Eza masukkin aja bekelnya ke dalem tas saya?" Ucap Habibah mengeluh.
Erza terkekeh mendengar perkataan itu dari Habibah. Sebenarnya dia sudah sadar bisa dengan cara seperti itu. Namun tidak diberitahu oleh dirinya agar ia bisa mengantar Habibah hingga ke kelasnya.
"Ya lo dodol sih," ucap Erza disela-sela tawanya. "Udah deh ayo ah cepet!" Titah Erza kembali berjalan lebih dahulu meninggalkan Habibah.
Habibah berdesis pelan merasa dirinya tidak cekap tanggap. Ia menuju kelasnya dengan Erza yang berada di sebelahnya. Sepanjang perjalanan Habibah sedikit menunduk karena merasa malu.
Sesampainya di kelas suasana kelas langsung hening fokusnya teralihankan kepada mereka berdua. Habibah dan Erza menjadi pusat perhatian di kelasnya. Secara perlahan Habibah masuk ke dalam kelas dan segera duduk menuju kursinya. Erza mengekori dan meletakkan kotak bekal tersebut di atas meja tepat di hadapan Habibah.
"Dimakan, lo belum sarapan kan tadi bilang," kata Erza. "Ya udah gue langsung cabut ke kelas, nanti balik bareng sama gue lagi," lanjutnya setelah itu pergi meninggalkan Habibah.
"Iya Eza terimakasih!" ucapnya tersenyum tipis.
Setelah kepergian Erza tempat duduknya dikerumuni oleh beberapa temannya dan menanyakan kabar Habibah pasca kejadian kecelakaan Bersama Laura tersebut. Habibah menjelasan sebisanya sambal tertawa tipis.
Tidak lama Naura serta Hana datang dan kaget melihat Habibah sudah kembali hadir di kelasnya.
"HABIBAH KANGEN BANGET!" Teriak Naura berlarian menuju Habibah dan memeluknya erat.
"Kangen juga sama kalian, maaf ya tidurnya lumayan lama," ucap Habibah sambal membalas pelukkan Naura.
"Untung lo gak kenapa-kenapa. Sumpah gue nangis sih sampe lo kenapa-kenapa, Bah," ucap Hana.
"Aku laper belum sarapan, aku sarapan dulu deh," ucap Habibah sambal membuka kotak bekal yang dibawakan oleh Erza.
"Asik dari calon mertua, ya?" Goda Naura.
"Kok tau?" Habibah menyeringitkan dahinya.
"Jadi bener nih calon mertua?" Tanya Hana terkekeh ikut meledek Habibah.
"Ngga gitu maksudnya," kata Habibah tersipu malu.
"Tau dong, soalnya tadi pas ke kelas kaya ada yang ngomongin lo berdua berangkat bareng sampe di anter ke kelas," kata Naura mengangkat kedua bahunya. "Enak?" Tanya Naura.
"Masakan Bunda gak pernah gak enak, sini aku suapin," kata Habibah sambal menyendokkan bekalnya untuk Naura.
"Peka banget deh punya temen," ucap Naura gembira.
"Gue juga mau Habibah!" Kata Hana merengek.
"Iya-iya sini deketan,"
*****
Sepulang sekolah benar saja Erza sudah berada di depan kelas Habibah sambal asik memainkan ponselnya. Sementara Habibah baru selesai membereskan buku-bukunya. Habibah menarik panjang napasnya dan berusaha berdiri menggunakan tongkatnya.
"Sini gue bantu," kata Naura lebmbut sambal membantu Habibah berdiri.
"Makasih,"
"Udah ditungguin sama pangeran tuh, Bah! Cepet samperin," kata Navia sambal menunjuk Erza yang berada di depan kelas sedang tersenyum melihat ke arah dirinya.
Erza melambaikan tangannya saat Habibah menoleh melihat dirinya. Habibah menoleh membuang pandangannya merasa malu dan terasa sedikit panas pipinya.
"Yauda ayo!" Kata Hana mengajak untuk segera pulang. Akhirnya mereka berempat keluar kelas bersamaan menuju Erza.
"Jangan ngebut-ngebut, gue tabok lo sampe Habibah gue kenapa-kenapa," ancam Naura.
"Ya udah kita balik duluan, ya," ucap Hana.
Mereka bertiga meninggalkan Erza dan Habibah yang masih berada di depan kelas.
"Mau ketoprak dulu gak?" Tanya Erza mengangkat kedua alisnya.
Habibah mengangguk semangat. "Boleh," katanya sambal tersenyum lebar.
"Okey ayo, Nona," kata Erza sambil berjalan menuju parkiran bersama Habibah.
Setelah mamasukki mobil Erza menyalakan mesin mobilnya dan tidak lama setelah itu dia menjalankan mobilnya meninggalkan perkarangan sekolah pergi menuju tempat makan ketoprak yang biasa mereka beli sepulang sekolah.
Sesampai di sana Erza memarkirann mobilnya. Ia menoleh menatap Habibah. Pandangan mereka bertemu.
"Lo tunggu sini, gue pesenin," kata Erza.
"Gak turun aja Eza?" Tanya Habibah tampak gembira dari raut wajahnya.
"Gak usah kasian kaki lo masih sakit," kata Erza.
"Tapi saya gak mau makan dibawa pulang," ucap Habibah cemberut mengalihkan pandangannya. "Ya udah nanti aja makannya kalo saya udah sembuh," lanjutnya dengan nada merajuk.
"Makan di sini, gue pesenin. Kita makannya di mobil jadi lo gak perlu turun-turun. Maksud gue gitu," ucap Erza sambal tertawa akibat mendengar dan melihat perubahan ekspresi pada wajah Habibah saat mengatakan kalimat tersebut.
Habibah terkekeh malu sambil mengaggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya udah tunggu sebentar, ya!" Titah Erza yang langsung keluar setelah mendapat jawaban anggukan dari Habibah.
Erza berjalan keluar mobil dan memesan ketoprak untuk mereka berdua. Cukup lama sampai akhirnya Erza datang membawakan satu porsi ketoprak untuk Habibah dan satu porsi lagi untuk dirinya.
Habibah tampak sumringah melihat sepiring ketoprak tersebut. Dia tersenyum lebar lalu segera menyantap ketoprak miliknya.
"Makasih ya, Eza," ucap Habibah tersenyum lebar menatap ke arah Erza.
Erza hanya mengangkat kedua alisnya sambal masil menyantap ketoprak miliknya.
"Eza,"
Erza hanya bergumam sebagai jawaban.
"Satu minggu ke depan kita libur," ucap Habibah tampak sedih.
"Iya tau, kenapa?" Tanya Erza heran.
"Iya satu minggu itu 'kan satu minggu tenang sebelum ujian try out kita," kata Habibah lesu.
"Cepet banget ya waktu, perasaan baru aja kemarin gue diem-diem ngeliatin lo di kantin dari jauh," kata Erza terkekeh. "Eh sekarang malah semobil terus udah mau lulus pula," lanjutnya disela tawanya.
"Kalo kita gak sekampus gimana?" Entah dari sekian banyak pertanyaan yang dapat diajukan malah pertanyaan tersebut yang terlontar dari bibir mungil Habibah.
Erza tersenyum miris.
"Ya gapapa. Walaupun gak sekampus bareng, yang penting cerita tentang kita masih terus berlanjut," ucap Erza terkekeh pelan sambal membuang pandangannya ke arah lain.
Matanya tampak sedikit berkaca-kaca saat mengucapkan kalimat tersebut, Meyakinkan dirinya dan berharap kalau cerita mereka berdua masih akan berlanjut meski nanti mereka akan menjalani lembar baru, cerita baru, serta kehidupan baru yang mereka pilih masing-masing.
"Lo mau ke mana? Universitas Indonesia 'kan?" Tanya Erza tersenyum lebar.
"Insya Allah. Doain, ya," kata Habibah tersenyum tipis.
"Tanpa lo minta pun pasti gue doain tenang aja. Gue yakin lo pasti lolos," kata Erza tersenyum lebar meyakinkan Habibah.
"Terimaksih Eza," kata Habibah.
"Makasih mulu, kali ini makasih kenapa lagi?"
"Karena Eza, kehidupan masa-masa akhir SMA saya jadi lebih seru,"
Erza terkekeh senang mendegar kalimat tersebut keluar dari bibir Habibah.
"Tenang aja kali,"
"Tenang kenapa?"
"Kehidupan seru lo itu gak akan ikut mati setelah SMA berakhir kok. Sampe tua sampe punya anak cucu juga masih bakal seru karena ada gue," kata Erza menyeringai.
"Eh?" Ucap Habibah kaget mengerti dari perkataan Erza. Ia menenggelamkan kepalanya merasa malu. Terbentuk ukiran senyum tipis diwajahnya.
Erza tersenyum tipis melihat Habibah seperti itu.