Ia membuka kelopak matanya perlahan, ruang serba putih terlihat di indera penglihatannya. Bau obat-obatan menyeruak ke dalam hidungnya. Aldifa menyimpulkan ia ada di rumah sakit. Tapi, apa yang terjadi?
Aldifa bangkit untuk duduk. Tidak ada siapapun di kamar rawatnya, hingga suara pintu yang dibuka mengalihkan perhatiannya. Kelvin dan Kalea terlihat di sana.
"Aldifa!" Kalea dengan mata sembap berlari kecil ke arah Aldifa. Ia memeluk satu-satunya sahabat yang ia miliki. "Ada yang sakit? Apa perlu gue panggil dokter?" tanyanya setelah melepas pelukan mereka.
Aldifa menggeleng, ia masih mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Sampai tiba-tiba kepalanya terasa sakit, kejadian mobil Alfin yang terjatuh terekam jelas di pikirannya. Seketika tangisnya kembali pecah. Ia tidak tahu kabar mereka apakah selamat atau... Aldifa menggelengkan kepalanya tidak ingin berpikiran buruk.
"Kenapa, Dif ada yang sakit?" tanya Kalea.
Aldifa menatap Kelvin dan Kalea yang berdiri di sampingnya. "Alfan sama Alfin, mereka selamatkan?"
"Kita nggak tahu, mereka masih ditangani dokter," jawab Kelvin setenang mungkin. "Tapi lo nggak usah khawatir, mereka dibawa ke rumah sakit dalam keadaan masih bernapas kok."
Aldifa menghela napas lega. Sedangkan Kalea menyikut Kelvin, sarkas sekali perkataannya mereka dibawa ke rumah sakit dalam keadaan masih bernapas. Ck ck. Kurang ajar, bukan?
***
Kalea mendorong kursi roda Aldifa pelan, ia mendengus sebal. "Dif, balik aja ke kamar lah. Tar bisa diomelin kita."
"Ngga Kal, gue mau liat kondisi Alfan sama Alfin."
"Mereka lagi dioperasi, Dif,"
Aldifa menegang, "Kecelakaan nya separah itu sampai harus dioperasi?"
PLAK
Suara tamparan yang begitu keras terdengar di lorong rumah sakit ketika Aldifa dan Kalea berbelok. Kalea memberhentikan langkahnya karena terkejut siapa yang menampar siapa.
Saat ia akan kembali mendorong kursi roda. Aldifa menahan nya, "Biar kita denger dari sini aja."
Kalea mengangguk ia mendorong kursi roda mundur, bersembunyi dibalik belokan lorong.
"Lo kenapa sembunyiin ini semua dari kita, Anggi?!" suara Bintang terdengar marah dan menyesakan.
"Sayang udah ya, kita bahas ini lagi nanti." Sekarang suara papanya, Rafa. Mencoba menenangkan Bintang.
Aldifa memajukan badannya agar bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi.
"Nggak bisa!" Bintang menatap Anggi tajam. "Lebih dari tujuh belas tahun lo sembunyiin ini? Mana amanah lo yang dikasih Tuhan buat ngerawat anak lo sendiri?!"
"Sekarang kedua anak lo kritis. Dan salah satunya belum pernah dapet kasih sayang dari lo!" Bintang mengusap air matanya kasar. "Kalo gue tahu Alfan anak lo yang lo buang, gue bakal rawat Alfan kayak anak gue sendiri."
"Gue nggak ngebuang Alfan, Bin. Gue—gue cuma titipin dia di panti asuhan."
"Sampai tujuh belas tahun, iya?! Lo titipin dia sama orang lain sampai tujuh belas tahun? Itu bukan nitipin, Nggi. Tapi lo ngebuang anak lo sendiri. Mana cinta lo buat anak lo sendiri sampai rela buang Alfan—"
"Gue nggak ngebuang Alfan, Bintang!" Anggi menangis meraung-raung. Sorot matanya penuh akan penyesalan.
"Bin cukup Bin, ini semua salah gue," Bryan bersuara, ia mencoba untuk menghentikan Bintang agar tidak mengeluarkan kata-kata kasar yang akan menyakiti Anggi. "Nyokap gue nggak mau punya cucu yang nggak sempurna, sejak lahir Alfan didiagnosa kelainan jantung Ventricular Septal Defect. Kelainan sekat bilik jantung. Kondisi tubuhnya lemah dan Mama nggak mau jadi bahan omongan kolega bisnisnya kalo cucunya penyakitan. Mama nggak mau Alfan jadi bahan bicaraan orang-orang yang bakal menjatuhkan perusahaannya."
Bintang menggeleng takjub. Awal semua ini hanya karena sebuah perusahaan? Mereka lebih mementingkan benda mati dibandingkan benda hidup yang harus dijaga.
"Gue nggak ngerti sama jalan pikiran lo. Setelah nyokap lo bilang gitu, elo nurut? Ya oke, lo nggak ngebuang Alfan. Tapi lo titipin dia di panti asuhan mau sampai kapan? Butuh berapa tahun lagi buat kalian berdua sadar kalo Alfan anak kalian yang butuh kasih sayang bukan dikasih duit tiap bulan sama lo, Bryan!" Bintang memejamkan matanya sebentar lalu menghela napas pelan untuk meredakan amarahnya, jujur sebagai seorang ibu ia merasa sakit hati melihat perilaku kedua sahabatnya terhadap anak mereka. "Sori, gue minta maaf udah ngebentak kalian. Gue harap kalian menyesal dan gue harap mereka selamat. Kalo sampai mereka selamat dan kalian masih nggak mau rawat Alfan. Lepasin dia, biar gue yang rawat."
Bintang pergi, ia menghapus jejak air matanya kasar. Langkahnya terhenti di belokan ketika melihat anaknya dan Kalea di sana.
"Ma..," Aldifa membiarkan air matanya luruh. Perihal Alfan anak siapa Aldifa sudah tahu, tapi alasan yang dipakai untuk Alfan tinggal di panti asuhan sungguh mengecewakan. Dan penyakit, Aldifa tidak tahu kalo Alfan menanggung penyakit seberat itu.
Bintang memeluk anaknya. "Semua akan baik-baik aja."
***
Aldifa duduk di ranjang rumah sakit. Ia berkali-kali melirik jam dinding. Sebentar lagi malam tiba namun belum ada tanda-tanda mengenai kondisi Alfan dan Alfin.
"Kal, perasaan gue nggak enak."
Kalea yang sedari tadi melamun tersadarkan oleh perkataan Aldifa. Ya dirinya pun merasakan hal yang sama. Apalagi fakta bahwa Alfan dan Alfin bersaudara masih membuatnya tidak menyangka.
"Kal, operasi mereka lancar kan?"
Kalea menggeleng, "Kita berdoa aja, Dif."
Aldifa merasakan sakit di kepalanya saat ia memaksakan berdiri. Kalea dengan sigap menahan tubuh Aldifa agar tidak jatuh.
"Lo mau kemana?" tanya Kalea.
"Gue mau cari tau keadaan mereka,"
"Nggak boleh, lo harus istirahat Dif. Lo lagi sakit,"
"Please, Kal. Setelah gue tau keadaan mereka gue akan istirahat." Aldifa meyakinkan Kalea.
Kalea menghela napas berat. "Yaudah tunggu, gue ambil kursi roda dulu."
"Nggak usah, gue bisa jalan."
Tanpa bertanya lagi mereka keluar ruang rawat dengan Kalea yang memapah Aldifa. Mereka menyusuri lorong rumah sakit menuju ruang operasi.
Tepat setelah sampai di sana, pintu ruang operasi terbuka. Yang membuat Aldifa heran, mereka yang ada di sana bukan mengucap syukur melainkan semakin terisak.
Dokter yang baru keluar ruang operasi berucap lirih, "Operasi berjalan lancar."
Beberapa detik kemudian satu brankar di dorong keluar dari ruang operasi. Tubuh Aldifa membeku, di atas brankar itu ada tubuh yang ditutupi kain putih dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Matanya kembali berair, ia mencoba untuk berpikir positif mengenai keadaan sekarang. Namun itu sulit ketika melihat Anggi menangis histeris dan memeluk tubuh itu.
Aldifa ingin bersuara, bertanya apa yang terjadi namun tenggorokannya terasa tercekat hanya air mata yang terus mengalir di pipinya. Aldifa benci situasi ini dan pikiran buruknya.
Please, siapapun jelasin semua ini.
Pa... Ma... tolong jelasin ini. Aldifa menatap orangtuanya bergantian.
Aldifa luruh, ia terduduk di lantai. Dadanya semakin sesak. Ia harap ini hanya mimpi.
Tolong... tolong bangunin Aldifa.
Penglihatan nya memburam sebelum akhirnya benar-benar gelap.
***