Sakit yang tidak parah membuat Keysa yang sudah sehari berada di rumah sakit, sudah diperbolehkan pulang dan dirawat di rumah. Kini Keysa berada dikamarnya bersama beberapa orang yang menjenguknya.
"Cepat sembuh ya, Keysa dan Mama harap kejadian seperti kemarin itu yang terakhir kalinya. Kamu tahukan seberapa cemasnya, anak Mama yang nomor dua suamimu Arkan amat mengkhawatirkanmu, Nak. Kamu sudah menyaksikan sendiri tadi bagaimana, Arkan bersih keras mempekerjakan perawat di rumah untuk mengawasi kondisimu, padahal sakitmu tidak parah." Mama Arkan berkata sambil tersenyum.
"Mama mohon kamu memaklumi sifatnya yang suka berlebihan juga suka memaksakan kehendaknya, akan tetapi ketahuilah bahwa Arkan melakukan hal itu pasti sebab dia teramat mencintaimu." Mama Arkan melanjutkan sambil menjelaskan kepada menantunya.
Keysa hanya mengangguk paham dan balas tersenyum ramah. "Iya, Ma. Mama nggak usah mengkhawatirkan hal itu. Keysa sudah paham dan sangat mengenali kelakuan anak Mama itu. Lagian Keysa suka kok Arkan bersikap begitu, kelihatan manis kalau lagi maksain kehendaknya." Keysa menjawab balas tersenyum ramah.
"Tapi kalau dia sampai marahin kamu lapor saja ke Mama. Biar Mama marahin balik dianya." Mama berkata dengan serius.
"Iya Kak, Keysa. Kalau Mas Arkan berani marahin kamu, jangan sungkan. Kakakan sudah menjadi bagian keluarga kita dan aku sudah menganggap Kakak seperti Kakak sendiri. Pokoknya kalo Mas Arkan marahin Kakak, harap lapor. Ok!" Seru Lisa adik kandung Arkan menimpali.
"Siapa yang marahin?" Kata Arkan tiba-tiba masuk membawa nampan makanan untuk Keysa dan nampan tersebut lagsung diletakkannya di atas nakas.
Laki-laki itu menghampiri isterinya duduk disampingnya di atas tempat tidur yang kosong.
"Kenapa diam, kalian lagi habis membicarakanku?" Lanjut Arkan menerka tepat sasaran.
Lisa cemberut lantas menilap tangannya. "Idih percaya diri sekali anda. Siapa yang lagi membicarakan Mas? Mama dan Kek Keysa, ngerasa kita lagi membicarakan dia tidak?" Kata Lisa ketus kemudian menatap Mama dan Kakak Iparnya Keysa untuk meminta pembelaan.
Mamanya Arkan mengangguk menyetujui perkataan putrinya.
"Baguslah kalau, begitu. Awas kalo aku tahu kamu berani membicarakan Mas dibelakang, ya Liss!! Mas nggak akan mau memberikan kamu uang lagi!" Ancam Arkan diakhir kalimatnya.
"Ch, Lisa nggak butuh uang Mas lagi!!" Ketus Lisa meniuap tangannya.
"Oh, mentang-mentang sudah menikah dan punya mesin penghasil uang kamu mau sombong. Ch, palingan pas suamimu lagi mode pelit, kamu pasti balik minta padaku!" Jawab Arkan dengan yakinnya.
"Ogahh!! Masih ada Mas Adien, blewekkk ...." Lisa memeletkan lidahnya meremehkan Arkan.
"Hm, Adien pelit, mana mungkin kamu diberi uang." Arkan memberitahu mengejek Lisa.
"Yasudah, aku minta ke Mama," jawab Lisa tidak hilang akal.
"Sudah menikah dan punya anak, kamu masih minta uang sama Mama!!" Hina Arkan membuat Lisa mendengus kesal.
"Iihhh, sadar nyebelin!! Mas Arkan nyebelin!" Dumel Lisa geram.
"Bodo amat!" Ketus Arkan tidak memperdulikan perkataan Lisa yang ngatainya.
Kedua orang yang bersaudara tersebut terus adu debat hingga membuat Keysa terkekeh melihatnya, tetapi sang Mama malah menatap tajam keduanya seraya memperingatkan putri serta putranya.
"Sudah-sudah, kalau mau berantam jangan di sini, di luar saja. Kalian ini, nggak lihat menantu Mama lagi sakit apa?" Omel Mamanya tak enak hati pada Keysa yang menyaksikan kelakuan buruk anak-anaknya.
"Nggak apa kok, Ma. Lagian kita inikan keluarga dan Keysa merupakan menantu Mama, jadi hal itu tidak perlu mempermasalahkannya." Keysa membela.
"Tapi kamu lagi sakit, Sayang." Mamanya menjelaskan membuat Keysa tersentuh. Sudah lama ia tidak merasakan kasih sayang seorang ibu seperti ini dan perhatian Mama mertuanya membuatnya teringat kepada mendiang Mamanya.
"Tuh Ma, jangan marah. Keysa tidak masalah. Iyakan sayang ...." kata Arkan memberitahu Mamanya, lalu beralih kepada istrinya meminta persetujuan isterinya sambil menyeringai galak hingga Keysa mengangguk dengan terpaksa.
Hal itupun tak lepas dari perhatian Mama dan mengakibatkan jemari Mama tak tahan untuk mencubit putranya hingga mengaduh sakit.
"Aduh, sakit, Ma." Arkan meringis mengelus bagian tubuhnya yang baru dicubit Mama.
Membuat Lisa tersenyum melihat penderitaannya, sedang isterinya langsung memeriksa perut suaminya yang sakit.
"Harusnya Mama, jangan cuma mencubit perutnya. Pukul pakai besi, sekalian, Ma." Adien saudara Arkan yang tertua tiba-tiba datang.
Laki-laki itu masuk dengan seenaknya seraya membawa isterinya duduk di sofa yang ada di dalam kamar tersebut. Adien merangkul isterinya yang tengah hamil dengan perut terlihat sedikit membuncit dengan begitu mesra.
Menyadari keberadaan Adien, Arkan meraih nampan yang ditaruhnya tadi, mengambilnya kembali setelah memapah Keysa agar duduk dan meletakkannya di atas pangkuan Keysa. Arkan memasang wajah ketus mengabaikan Adien dengan cara menyuapi Keysa makan.
"Nih buat isterimu." Adien berdiri sebentar melepaskan rangkulannya pada isterinya sejenak, agar bisa menyerahkan buah tangan yang dibawanya untuk menjenguk adik iparnya.
Melihat Arkan suaminya enggan meraihnya, Keysa pun berinisiatif meraihnya sambil tersenyum ramah.
"Terima kasih, ya Mas dan Kak Syaira. Aduh pasti merepotkan sekali, padahal dijenguk saja tidak membawa apapun. Aku sudah senang sekali."
Keysa beramah tamah berbanding terbalik dengan suaminya yang memasang wajah tidak bersahabat melihat saudara kembar tidak identiknya.
"Cuma membawa buah saja sudah sombong, dasar pelit!" Ejek Arkan melihat pemberian Adien yang kini berada diisterinya. "Lain kali kalau menjenguk adik iparmu harusnya kamu membawa buah tangan, saham lima persen, mobil atau rumah mewah kek!" Lanjut Arkan dingin memberi saran membuat Keysa mengelengkan kepalanya.
"Wah-wah, kamu sudah memilik semua itu. Masih saja mau morotin suami gue." Syaira cerocos membela suaminya.
"Biasa yang, dia emang serakah dan tidak tahu diri." Adien menimpali membuat Arkan mengepalkan tangannya dan berniat menghantam saudara tertuanya itu.
Keysa yang menyadari niat suaminya, dengan sigap meraih serta mengelus lengan suaminya.
"Tanganku masih lemas, tolong bantu aku makan, Sayang." Keysa beralasan dan Arkan tidak bisa menolak dan melakukan keributan.
Sementara itu sang Mama yang melihat perdebatan kedua anaknya mendengus geram.
"Keysa dan Syaira, mohon memaklumi anak-anak Mama yang dua ini. Aduh mereka memang selalu saja begini tiap ketemu. Padahal sudah tua, tapi masih saja kekanakan nggak malu didepan istri sekalipun." Mamanya meringis menyaksikan kedua putranya.
"Dia duluan, Ma!" Tuduh Adien membela diri.
"Kamu jangan fitnah!" Balas Arkan tak mau mengalah.
"Memang kamu yang lebih dahulu menyulut pertengkaran. Sudah mending aku datang baik-baik menjenguk isterimu, tapi kamu malah menyambutku dengan emosi." Adien mengelak tak mau disalahkan.
Arkan berdecak sebal. "Isteri gue tidak membutuhkan jengukan dari eloh! Tidak membutuhkan buah yang kamu bawa karena buah ini banyak di kulkas gue, kecuali kamu membawa buah tangannya mobil, itu baru diterima meskipun punya gue sudah banyak."
"Tidak tahu diri sekali loh!" Balas Adien.
Keduanya berdebat membuat kaum Hawa yang menyaksikannya menjadi jengkel. Tak ayal mengakibatkan Mamanya berdecak kesal.
"Diam!!" Mamanya memekikkan suaranya seraya beranjak. Meraih telingan kedua putranya masing-masing.
"Mama sudah bilangin, tapi masih saja ribut. Apalagi kamu Adien sebentar lagi mau menjadi seorang ayah, akan tetapi kelakuanmu masih bocah sekali. Dan kamu Arkan, apa kamu tidak melihat isterimu masih sakit, hahhh!!! Dasar anak nakal!!"
Omel Mamanya menyeret kedua putranya agar keluar dari kamar tersebut. Sehingga Arkan yang sedang menyuapi isterinya digantikan Lisa dan Adien yang merangkul erat tubuh isterinya terpaksa melepaskannya dengan tidak rela.
*****
To be continued
10-01-2021