Di tempat ruang keluarga terdapat seorang laki-laki tua yang tak lain adalah K.H Ahmad zafran dan istrinya. Bu nyai Chalimah sedang menunggu sang putra.
" Mik cepat panggilkan Harun, Abah tunggu disini". Perintah kiai zafran kepada istrinya.
"Enggih bah." Kemudian nyai Chalim pergi menuju kamar sang putra yaitu Harun Al Rasyid putra tunggal kiai Zafran dan umi Chalim.
Sesampai di depan kamar sang putra umi Chalim menggetok pintu sang putra.
"Le, cah Bagus harun" pnggilnya. Dari dalam kamar Harun menyahuti umiiknya.
"Enggih umik, sekedap." Ceklek Pitu kamar terbuka. "Ada apa mik ? " Tanya Harun kepada sang umiknya.
"Itu le, kamu di panggil abahmu di ruang keluarga. Kayaknya ada yang mau di bicarakan.
"Iya umikku sayang" goda Harun kepada sang umiik sambil berjalan.
~Sesampainya di ruang keluarga
" Run, Duduk ada yang Abah ingin sampaikan kepada mu ke."
"Nggeh bah, pripun ?".
"Abah ingin menjodohkan kamu dengan putrinya kiai Mahfudz, yaitu Ning Zahra. Abah kira kamu sudah mengenalnya. Ning Zahra yang terkenal dengan segudag prestasinya dalam membaca kitab kuning dan dia seorang penghafal Al Qur'an. Bagaimana menurut mu ke ?".
"Bah, apakah Harun harus menjawab sekarang ?"
"Tidak. Sholatlah istikhoroh. Abah tunggu jawaban mu dalam waktu 3 hari".
"Iya, le istikhoroh lah". Timpal sang umik.
"Enggih, bah umik. Harun akan istikhoroh dahulu, kalau begitu Harun izin masuk kamar dulu ya bah mik."
"Iya, istirahat lah. Ini Abah sama umik juga langsung ke kamar. ".