Setelah tiga hari penuh perjuangan. Akhirnya Jooheon dan Changkyun menyelesaikan hukuman mereka.
Changkyun bahkan sempat ngedrop di hari terakhir karena terlalu capek, berat badannya juga menurun beberapa kilo. Tapi, untung belum parah jadi dia masih bisa bantu Jooheon meski cuma sedikit. Walaupun, aslinya Jooheon udah ngeyel mau bersihin lapangan indoor sendirian.
Dengan amarah juga jitakan dari Changkyun akhirnya Jooheon mengalah.
Setelah selesai bersih-bersih hari ketiga, pulang sekolah, Changkyun langsung tidur biar dia nggak kelabas sakit. Syukurnya, emang gen orangtuanya bagus, dia udah sehat kembali besoknya.
Tapi kabar sehatnya Changkyun buat Jooheon ngeluh. Bukan, dia bukannya bahagia semisal Changkyun sakit. Dia sedih banget, apalagi kalo Changkyun sakit itu punya kebiasaan buruk. Dia jadi lebih salty dari biasanya.
Alasan kenapa Jooheon ngeluh adalah karena mulai minggu depan, mereka udah mulai masa-masa ujian. Apalagi ini tingkat tiga, jadi ujiannya banyak macemnya. Dan, karena Changkyun udah sehat seperti biasa, berarti hukuman dia mulai berjalan. Tepatnya mulai hari ini.
"JOO JANGAN BENGONG!" Jitakan kecil meluncur di kepalanya.
Jooheon mengusap-usap bagian kepalanya sambil mencibir. Lihat, Changkyun jadi ekstra galak sekarang.
"Kyun, lo beneran udah sehat?" Kata Jooheon sambil menempelkan tangannya ke dahi Changkyun. "Masih rada panas, istirahat aja deh."
"Kalo lo niatnya mau menghasut gue, nanti gue jejelin rumus-rumus ke otak lo semaleman."
"Lagian Joo, mau gue sakit, otak gue bakal tetep jalan. Gak mati kek punya lo," tambah Changkyun sambil melirik tajam.
Jooheon cuma bisa menghela napas. Hari pertama aja udah gini. Makanya, dari dulu dia selalu nolak semisal Changkyun maksa Jooheon buat belajar bareng.
Jooheon emang suka Changkyun, tapi maaf, dia juga benci sama belajar.
"Sekarang lo coba garap itu. Itu soal dasar banget. Gue bikinin tadi. Semisal lo gak bisa, kayaknya gue kudu bedah otak lo."
Jooheon meneguk ludah kemudian mulai mengambil pulpen. Soal dasar matematika katanya. Dasar apanya, kalo dasar mah harusnya cuma penjumlahan sama pengurangan.
Beberapa menit berlalu, Jooheon belum juga memulai menghitung. Sementara Changkyun menatap kertas Jooheon kemudian menghela napas. "Lo gak bisa?"
Mau nggak mau, Jooheon mengangguk.
"Lo sekolah selama ini ngapain sih?"
"Mandangin lo," sahut Jooheon spontan berusaha mencairkan suasana juga amarah Changkyun.
"DIEM! Gue kasih tau stepnya lo ikutin!"
Setelah struggling selama kurang lebih dua puluh menit, akhirnya Jooheon berhasil menyelesaikan satu soal. Itu pun, karena Changkyun yang kasih banyak bantuan.
"Paham gak?"
"Dikit." Bohong. Jooheon nggak paham sama sekali. Tapi dia nggak mau diamuk sama Changkyun. Sahabatnya ini udah terlalu sabar, terbukti selama tadi ngajarin Jooheon, Changkyun nggak melakukan serangan kecil karena frustasi sama kebodohan Jooheon.
Tiba-tiba, secara nggak terduga, tangan Changkyun mengusak pelan kepala Jooheon. "Gue tau lo bohong. Ngomong sama gue lo gak paham bagian mananya, gue ulang dari awal."
"Semuanya."
Changkyun menghela napas sambil memejamkan mata. Dia nggak boleh emosi. "Oke, gue ajarin lo dari basic. Tolong, Joo, gue cuma mau lo bisa nanti pas ujian karena lo gak bisa bergantung sama gue. Gue mau lo lulus sama nilai yang lumayan."
Jooheon mengangguk. Dia paham kok maksud Changkyun. "Iya Kyun, tapi jangan galak-galak."
"Iya deh, nanti gue ngajarnya sambil senyum."
"Jangan. Nanti gue malah gak fokus."
"Mau lo apa sih!"
"Mau tutor gue sekarang jadi pacar gue."
Changkyun memukul kepala Jooheon dengan batang pulpennya. "Gue gak mau sama orang yang soal dasar matematika aja gak bisa jawab."
Sehabis itu, Changkyun mengajari dari Jooheon, dari awal materi, basic of basic. Setiap sepuluh menit sekali, Changkyun bakal berhenti njelasin cuma buat tanya apa penjelasannya bisa dipahami sama Jooheon.
Satu jam bersikap sabar ternyata membuahkan hasil, Jooheon berhasil menyelesaikan satu soal tanpa bantuan Changkyun, meski durasinya yang panjang. Hampir tiga puluh menit.
Tapi, Jooheon puas. Changkyun emang tutor terbaik meski galak. Dan tebak, setelah berhasil mengerjakan soal itu, Jooheon dapet reward berupa usakan pelan di pucuk kepalanya dengan senyum manis ala Changkyun.
Buat orang yang dimabuk cinta kayak Jooheon, reward kayak gitu, bener-bener ampuh buat menaikan semangatnya.
"Kyun, brenti dulu. Ke minimarket yuk, beli mie cup gitu laper," tawar Jooheon setelahnya.
Changkyun melirik ke arah jam, pukul setengah sebelas malam. Nggak terasa ternyata sesi belajarnya yang dimulai setelah matahari terbenam itu udah berlangsung selama ini.
Changkyun kemudian mengangguk. "Tapi sebelumnya garap ini dulu." Tangannya mengulurkan selembar kertas yang berisi beberapa soal.
"Banyak banget. Nanti gue selese, lo pasti udah tidur."
"Dua apa tiga aja. Pilih nomer random. Terus sisanya bisa lo lanjutin besok."
Jooheon kemudian mengambil pulpennya dan mulai mengerjakan soal. Sementara Changkyun cuma merhatiin Jooheon dengan kepala yang menumpu pada dua tangannya.
"Jangan diliatin gitu nanti gue gak fokus."
"Gue kan liat kertasnya. Mastiin lo gak ngaco," kilah Changkyun.
"Sama aja, liat nih tulisan gue grogi diliatin lo," tunjuk Jooheon ke arah tulisannya yang emang berantakan itu.
"Tulisan lo kan emang setremor itu. Udah buru, katanya mau ke minimarket."
Jooheon mengangguk berulang kali, berusaha menyelesaikan soal secepat mungkin, meski pada akhirnya tetap lama karena kapasitas otak Jooheon yang udah menipis.
"Udah!"
"Sini gue liat." Changkyun menarik kertas Jooheon kemudian mengoreksinya dengan cepat. "Lo salah satu soal. Gue udah tulisin cara sama jawabannya di samping tulisan lo. But, so far buat orang yang baru belajar basic hari ini, you did a good job."
Jooheon terharu, ternyata otaknya nggak bobrok-bobrok amat. Selain itu, terharu juga sama Changkyun yang daritadi bener-bener serius dalam ngajarin dia. Dengan semangat, Jooheon merentangkan kedua tangannya, kemudian memeluk Changkyun cukup erat.
"Apaan?"
"Gak papa, cuma mau meluk lo."
"Jangan kelamaan, gue laper."
Jooheon melepaskan pelukannya sambil mencibir. Tapi kemudian beranjak dan membuka lemari pakaian Changkyun. Mengambil sweater ungu pastel Changkyun dan sebuah jaket.
"Pake ini," suruh Jooheon mengulurkan sweater ke arah Changkyun.
"Lo mau pake jaket gue? Mana muat."
"Jaketnya lo pake juga. Dingin."
"Ih gak mau panas," tolak Changkyun tanpa pikir panjang.
"Percaya sama gue, diluar dingin. Lo juga baru sehat, gue gak mau ya lo ngedrop lagi." Jooheon berkata sambil memaksa Changkyun memakai jaketnya.
"Trus lo pake apa?"
"Ini," kata Jooheon sambil menunjuk hoodie yang lagi dipakainya.
"Cih, ngomongin orang tapi sendirinya gak sadar."
"Hoodie gue tebel, tiga lapis. Toh kalo gue dingin kan gue punya lo," kilah Jooheon sambil tersenyum usil.
"Musnah aja sana!" Changkyun berseru sambil meninggalkan kamar. Yang kemudian disusul sama Jooheon yang masih cekikikan.
•••••
Jooheon sama Changkyun lagi asyik menyeruput mie mereka di seat corner minimarket. Malem dingin gini, emang paling cocok makan mie.
"Joo, nih lanjutin."
"Astaga! Lo ke minimarket bawa kertas soal?" Jooheon terkejut menatap kertas soal tadi yang disodorkan Changkyun.
Changkyun nggak menjawab, malah menyodorkan pulpen.
"Bawa pulpen juga?!"
"Buru."
Lagi-lagi, Jooheon mengalah. Memeras otaknya lagi demi menyelesaikan kumpulan soal dari tutor Changkyun. Untung Jooheon sayang pake banget.
Meski pada akhirnya, dia nyesel karena mie-nya mengembang duluan karena kelamaan garap soal.
•••••
"Gimana Joo? Bisa?" Tanya Changkyun keesokan harinya. Mereka baru selesai sesi ujian pertama. Mata pelajaran matematika yang kemarin mati-matian dipelajari Jooheon.
"Separonya bisa, separonya lagi capcipcup," jawab Jooheon sambil nyengir.
Changkyun tersenyum. Meski cuma setengah, tapi seenggaknya Jooheon membuktikan kalo dia juga udah berusaha.
Lagian ini baru ujian awal, masih banyak ujian lainnya, dan Changkyun bakal usahain nilai Jooheon bakal terus meningkat.
"Bagus. Rewardnya gue traktir lo apa aja di kantin."
"Sekalian jadi pacar gue gimana?"
"Joo ih!" Changkyun melirik. Jooheon, baru selesai ujian aja, masih sempet-sempetnya nawar kayak gitu.
Jooheon nyengir, tapi kemudian ekspresinya berubah lagi. "Gue serius Kyun, kalo gue lulus nilainya lumayan, gue mau lo ngabulin permintaan gue yang satu itu."
Changkyun jadi ragu. Di satu sisi, dia tahu kalo dia menyanggupi, Jooheon bener-bener bakal menepati perkataannya dengan belajar mati-matian setiap hari. Tapi, di satu sisi juga, Changkyun nggak mau, dia terima Jooheon karena sebatas taruhan. Juga, dia bahkan nggak paham sama perasaanya sendiri, dia nggak mau salah menafsirkan.
"Kyun?"
"Joo, gue—"
"Changkyun?" Panggilan itu membuat keduanya menoleh. Ternyata wali kelas mereka yang kemarin memberi ceramah kehidupan.
"Iya, Bu?"
"Bisa bantu Ibu?" Tanya wali kelas mereka sambil menunjuk tumpukan kertas ujian. Changkyun mengangguk.
"Ibu nggak butuh bantuan saya aja?" Jooheon bersuara. Dia kan cowok tulen, daripada Changkyun, kenapa bukan dia coba?
"Enggak, kamu masih bandel soalnya." Kilahan itu membuat Jooheon merengut sementara dua orang lainnya terkekeh.
"Udah sana, cari tempat duduk dulu, nanti gue susul," kata Changkyun. Dengan berat hati, Jooheon akhirnya mengiyakan dengan sebelumnya berkata kepada Changkyun buat nggak lama-lama.
•••••
"Terimakasih ya." Changkyun mengangguk setelah meletakan tumpukan kertas itu di meja, kemudian berniat buat pamit menyusul Jooheon.
"Tunggu sebentar, ibu mau ngomong sama kamu."
Changkyun mengernyit bingung, tapi menuruti permintaan itu dengan nggak beranjak dari tempatnya berdiri sekarang.
"Ibu denger, kamu minat kuliah di luar negeri?"
Dengan ragu, Changkyun mengangguk. Setelah itu, wali kelas Changkyun mengulurkan sebuah brosur.
"Baca dulu, siapa tau kamu tertarik."
Changkyun mulai membaca sekilas. Tawaran beasiswa luar negeri di Inggris ternyata.
"Sudah baca persyaratannya?"
"Sudah bu."
"Gimana? Dilihat dari persyaratannya, ibu rasa kamu memenuhi semua kriteria, cuma tinggal final testnya aja, tapi itu pun ibu yakin kalo kamu pasti bisa."
Changkyun bingung. Kuliah di luar negeri emang udah jadi salah satu tujuannya. Dan, seperti kata wali kelasnya, tawaran ini cukup menguntungkan Changkyun. Tapi ada sesuatu yang mengganjal pikirannya.
Jooheon.
"Saya bahas sama orangtua saya dulu ya, Bu." Pada akhirnya jawaban itu lah yang keluar dari mulut Changkyun. Lawan bicaranya memaklumi.
"Kalo kamu minat, kamu bisa tinggal apply formulirnya, nanti konfirmasi ibu ya, sekarang kamu bisa keluar, kasian anak bandel itu nungguin kamu."
Changkyun cuma tersenyum tipis, kemudian pamit sebelum pergi menyusul Jooheon.
•••••
"Lama banget." Jooheon mengeluh. Gimana nggak, makanannya bahkan udah hampir habis.
"Sori, tadi di kantor juga suruh bantuin," kata Changkyun cepat.
Dia belum mau kasih tau ini ke Jooheon, dia belum ambil keputusan, dan dia belum siap buat kasih tau ini ke Jooheon. Karena, Changkyun nggak bisa bayangin gimana nanti reaksi Jooheon kalo denger kabar ini.
Changkyun rasa, nggak apa-apa kan kalo dia sembunyiin hal ini dulu dari Jooheon?
•••••
Semoga kalean gak bosen ya baca cerita ini wkwk, btw ini baru konflik aslinya, gak kek kemaren yang abal-abal lol
Perjalanan kita masih panjang~