Banci Terminal

By medruhimpong

298K 6.4K 5.1K

PERINGATAN: BACAAN KHUSUS 21++ Mengandung unsur LGBT, Transvestisme, Transgender, Transexual, Bigender, Gende... More

Prolog
01 - Sebuah Awal Kehidupan
02 - Ibu Kota oh Ibu Kota
03 - Kejadian Yang Tak Terlupakan
04 - Rosa
05 - Warung Bang Jek dan Dini Hari
06 - Sentuhan Rosa
07 - Salon Mami Lulu
08 - Cobaan Mental
10 - Zaman Edan dan Duit Di Balik Kutang
11 - Tatapan Rindu
12 - Warmang Culinary Business
13 - Kupu-kupu Malam
14 - Shake the Cone Tall
15 - Bos Aman Suken
16 - Pejantan Yang Payah
17 - Kenalan
18 - So What
19 - Kebutuhan Dasar
20 - Kedatangan Dirinya
21 - Satu Tahun Perantauan
22 - Harta Tahta Wanita
23 - Multi Purpose Kentotable
24 - Bibit Cinta
25 - Pertanyaan dan Kabar Mengejutkan
26 - Anak Perjaka dan Secangkir Anggur Merah
27 - Momen Kalung Mutiara Di Tepi Kolam
28 - Kehidupan Baru Dengan Mas Andra
29 - Men Don't Do Beauty Contest
30 - Berangkat ke Jogja
31 - Siapa Lelaki Itu
32 - Tukang Becak
33 - Chronicle Of The Moon (I)
34 - Chronicle Of The Moon (II)
35 - Aku dan Kakakku Yang Gagah
36 - Kencan Dengan Kakakku
37 - Pulang Kampung
38 - Rumah Bapak
39 - Silaturahmi Membawa......
40 - Pria Yang Berkelana Dengan Air Mata
41 - Menolak Tapi ......
41 - Menolak Tapi...... (lanjutan)
42 - Sebelum Meninggalkan Kampung
43 - Jogja Bersama Anakku
44 - Kenalan
45 - Berangkat
46 - Tiba Di Thailand
47 - Artis Jaket Oranye
48 - Wanita Galdiran
49 - Hasil Tes
50 - Gadis Cantik
51 - Rainbow In Your Heart
52 - Aku Tahu Yang Kulakukan Ini Salah
53 - Jubah Putih Para Ksatria Revolusi Pelangi
54 - Selamat Datang Kembali Rika
55 - Catatan Rika
56 - Selamat Tinggal Terminal Cinta
57 - Jogja
58 - Ultimate Question
59 - Konfrontasi Indri
60 - Konfrontasi Indri (II)
61 - Sebuah Rencana
62 - Sambutan Hangat
63 - Kejadian Malam Itu
64 - Kejadian Malam Itu (II)
64 - Kejadian Malam Itu (lanjutan)
65 - Keesokan Pagi
66 - Transgender Man Subcutaneous Mastectomy
67 - Catatan Rika
68 - Persiapan Pernikahan
69 - Undangan Pesta
70 - Selamat Tinggal Riko Ivanes
71 - Pesta Dansa
Lancrot eh.. lanjutin (maksudnya)
72 - Malam Pertama
73 - Pagi Yang Baru
Epilog?
Catatan Buat Anakku
WP RANK #5 Transgender
WP RANK #1 Waria

09 - Dunia Gemerlap

6.4K 114 156
By medruhimpong

"Mending lu ikut gue sekarang." kata Oskar.

Oskar membawaku ke sebuah gang sempit yang ternyata ada sebuah rumah yang gelap namun ada lampu LED kelap-kelip yang sangat kontras di kegelapan begitu menyilaukan mata, begitu aku dibawa masuk di dalam ruangan ternyata ada suara musik yang sangat keras bukan main, musik dengan suara bass besar sampai membuat gendang telinga rasanya seperti mau pecah.

Kulihat di sana orang berjoged, minum, tertawa, ada wanita-wanita seksi yang bergoyang begitu HOT berpelukan erotis dengan pasangan dansanya, ada yang saling meraba tanpa rasa malu, bahkan ada yang berciuman terang-terangan.

**

**

"Nih minum..." tiba-tiba Oskar menyerahkan padaku sebuah minuman yang dikemas di botol kecil berwarna hijau, aromanya sudah dapat kutebak, minuman beralkohol.

Sementara aku terdiam memperhatikan botol minuman itu di tanganku, seumur-umur aku belum pernah bersentuhan dengan minuman terlarang itu.

"Minum dah! Ini gratis dari gue." kata Oskar sambil ikut membuka botol yang sama dengan milikku.

**

**

Ia menghabisi minuman sebotol itu hanya dalam beberapa teguk. Sementara aku baru satu teguk saja sudah merasakan gas yang merebak dari dadaku sampai hidungku.

"Ayo minum, habiskan, kalau mau tambah santai aja." kata Oskar.

Akhirnya pelan-pelan aku mencoba menghabiskan tetes-tetes cairan haram itu yang mulai membuatku terbiasa dengan rasanya. Aku belum pernah merasakan sensasi aneh dari minuman ini, entah apa yang membuatku jadi merasa begitu santai dan rileks padahal kepalaku rasanya agak pusing, tapi aku malah merasa begitu ringan dan seperti tidak ada beban pikiran.

"Mau lagi?" tanya Oskar.

"Hm... boleh?" kataku. Sepertinya efek alkohol mulai sukses meracuni otakku.

Hanya dengan menjentikkan jari pelayan pun datang dan memberikan minuman lagi ke tempat kami duduk. Sekarang Oskar jadi semakin berani untuk duduk semakin rapat denganku, tangannya mulai melingkar di bahuku, tapi herannya aku merasa santai dan cuek, malah aku tersenyum kepadanya dan menyandarkan kepalaku di lengannya.

"Hm... kamu cantik banget, aku belum tau namamu." kata Oskar.

"Aku Rika... mas... panggil aja aku Rika..." kataku.

"Berapa tarif kamu Rika?" tanya Oskar.

Degg... tarif? Ini bener aku mau dibayar sama orang ini?

"Sebenarnya aku nggak jualan mas..." kataku polos.

"Ah, goblok kamu? Siapa yang nggak butuh duit hari gini? Kamu mau aku perkosa saja? Hah!?" kata Oskar.

"Eh... hmm... tapi mas... aku ini..." aku berusaha memberitahukan dengan ragu.

"Iya aku tahu, kamu waria kan?" kata Oskar.

Eh? Aku terkejut. "Koq mas tau?"

"Pokoknya aku tau, makanya aku tertarik, di sini juga banyak koq, waria enak buat variasi, nggak kalah sama cewek asli." kata Oskar. "Ya udah mau dibayar apa mau langsung diperkosa aja?"

"Eh... hmm... mas maunya dilayani seperti apa?"

"Open Service, full." katanya.

Duh, istilah apalagi itu? Sebenarnya aku belum tau banyak, aku baru tahu handjob itu permainan tangan, blowjob itu sepong-sepongan... full service maksudnya? Apa mas ini mau full berhubungan badan?

"Eh... anu... kalau itu... hmm..." kataku yang canggung.

"Berapa?"

Aku teringat-ingat waktu Hadi yang bertransaksi sama Tagor tempo hari, kulihat Hadi menerima lembaran seratus ribuan nyaris 10 lembar, jadi aku pernah laku sekitar sejutaan, entah karena aku perawan atau karena dijual ke tiga orang sekaligus.

"Sejuta mas..." kataku dengan gugup sambil meneguk berulang kali minumanku untuk menghilangkan rasa gugup ku.

"Kemahalan..."

"Ya udah nggak usah... kita bersenang-senang biasa aja, nggak usah yang aneh-aneh." kataku lagi.

"Heheheheh... masih pemula udah pinter pasang tarif ya..." kata Oskar kepadaku. "Nggak, aku bayar 500.000 aja udah cukup, plus traktiran minum ini kan." kata Oskar.

Sialan, gue ditawar kayak barang di pasar.

Oskar menarik tanganku mengajakku mabuk berdansa, aku jadi seperti pasangan wanitanya, ikut mabuk berdansa, gelendotan manja, tiba-tiba musik yang tadinya tidak aku mengerti itu malah mulai terasa asik di telingaku, padahal cuma suara bass jedak jeduk ga jelas, tapi semakin aku mabuk semakin rasanya asik masuk ke telingaku.

* * *

Drrttt... Drrttt... HPku berbunyi-bunyi, getarannya terasa di dalam tasku.

"Rosa..." kulirik layar ponsel itu. Hmm... dia khawatir juga rupanya sama aku, tapi udah jam segini dan aku udah diangkut orang baru dia telpon, sialan tuh bencong, kataku mencelos dalam hati.

Biar ah, aku malah penasaran dengan malam ini, apa yang akan terjadi padaku. Aku malah ingin menantang diriku sendiri, ah aku seperti sudah tidak punya apa-apa lagi yang harus kutakutkan, istilahnya 'nothing to lose', toh aku juga sudah pernah diperkosa lebih parah, sekarang aku dibawa bersenang-senang, aku mau menikmatinya, aku belum pernah merasakan pengalaman yang seperti ini.

Berulang kali Rosa menelpon, tapi aku malah memilih untuk mencuekinya. Sampai akhirnya Rosa berhenti mengebel ponselku. Kutarik Oskar mendekat untuk berpelukan denganku dan kuajak selfie dengan HPku, setelah itu kukirim foto tersebut kepada Rosa. Ah, gue pamerin nih sama lu cong..., ini kan yang lu mau, lihat gue diangkut orang, kataku dalam hati.

Aku pun mulai terbawa suasana, aku semakin nyaman dan semakin berjoget panas. Bahkan aku mengikuti gaya wanita-wanita di samping kiri kananku, aku ikutan memeluk mesra Oskar mengalung di lehernya dan Oskar yang sudah mulai semakin horni tiba-tiba menciumku.

Aku pun terkejut saat kedua tangan Oskar yang besar menggenggam wajahku yang begitu kecil dalam genggamannya dan menarikku berciuman dengannya. Ia begitu liar dan buas menciumku, mengulum dan melumat bibirku. Air liur kami yang sama-sama bau alkohol saling bercampur aduk dalam cipokan basah itu.

"Hummfftthh... mas.. mas... hmmmhhh..." aku mendesah kepayahan dilumat, aku mendorong Oskar mundur sejenak.

Oskar menatap nanar melihatku, ia jelas sudah mabuk berat.

"Mas... santai aja... pelan-pelan aja, aku nggak kemana-mana koq, aku layani kamu malam ini..." kataku berbisik sambil membelai pipinya yang penuh dengan bekas kurisan kasar.

Perlahan Oskar terlihat melembut dan mulai tenang. Aku menariknya kembali dengan perlahan, mengajaknya kembali berciuman denganku, kali ini lebih lembut, soft tapi saling memagut dan walaupun semakin lama semakin terasa gairah panas itu kembali membara. Kumisnya terasa geli menyentuh wajahku tapi entah kenapa aku menyukainya. Aku juga tidak mengerti kenapa aku nyaman melakukan ini, antara pasrah, rasa penasaran, atau sesuatu yang lain dalam diriku diam-diam telah menguasaiku.

* * *

Kamar di Gang Sempit

"Ayo kita main sekarang, aku udah nggak tahan..." katanya.

"Eh, main di mana mas?"

"Sini ikut aku." kata Oskar yang menggandengku ke belakang club. Rupanya ada gang sempit lagi yang menyambung ke rumah yang lain, sebuah bangunan bertingkat petakan seperti kamar kos. Oskar menemui seseorang di meja yang ada di pintu masuk dan orang tersebut menyerahkan kunci.

Hm... mungkin ini yang disebut kamar losmen hotel jam-jam an.

Oskar mengajakku masuk ke sebuah kamar yang ada di lantai dua, ruangan itu cukup nyaman, suhu ruangan, tidak panas tapi juga tidak berpendingin ruangan. Hanya ada kipas angin di atas meja. Tapi udara malam cukup membuat hawa di kamar tidak terasa pengap.

Aku menyadari aku sudah tidak mungkin kabur menghindar dari semua ini, ah apa ruginya, aku pernah digangbang Tagor dkk, aku juga bercinta dengan Rosa, sekarang apa yang kutakutkan kalau aku harus bercinta lagi dengan laki-laki yang baru kukenal ini. Tapi lalu aku teringat sesuatu... "Tunggu mas... aku nggak mau main polosan, aku mau yang aman." kataku.

SREEEEKKK... Oskar membuka laci di samping tempat tidur dan laci itu isinya kotak kondom yang berserakan jumlahnya banyak sekali, ada botol gel juga. Bahkan ada obat merah betadine dan plester juga entah buat apa? Aku sampai terkejut, tempat ini memang sudah disiapkan untuk aktivitas mesum rupanya.

Oskar nampak sudah tidak tahan ia langsung hendak membuka baju kemejanya tapi segera kutahan.

"Kenapa!?" geram Oskar.

"Sabar mas... pelan-pelan aja... malam masih panjang kan?" kataku.

Hm, aku tidak percaya aku baru saja mengatakan hal itu, sepertinya aku mabuk.

"I—iya... kamu katanya mau dijemput siapa?"

"Nggak ada koq... ga ada yang bakal jemput aku malam ini." kataku.

Aku menyuruh Oskar rebahan santai setengah bersandar, kutumpuk bantal di punggungnya. Aku merangkak naik duduk ke atas kedua paha kekarnya, kutindih dada bidangnya.

"Kamu bayar aku full, sepanjang malam ini aku milikmu." kataku. "Katanya kan kamu pentolan paling ditakuti, pasti duit kamu banyak kan?" kataku yang tiba-tiba mulai bisa berekspresi nakal seperti yang kutiru dari gadis-gadis malam di warung bang Jek saat mereka merayu calon mangsa.

"Hmm..." Oskar menatap tajam kepadaku, tapi tangannya meraba lembut ke pinggangku yang kecil, ditariknya rokku dan tanpa ragu ia meraba pantatku, meremasnya lalu meraba punggungku.

Aku mengajaknya kembali berciuman dengan posisi ia di bawah dan aku di atas, kubiarkan ia melumat-lumat bibirku sembari aku membuka kancing bajunya satu persatu sampai tubuh Oskar terbuka di hadapanku. Ya ampun, tubuhnya hitam sekali, kenapa aku harus selalu bagian ketemu cowok-cowok berbadan gelap tapi untungnya cowok yang satu ini tidak bau apek, masih ada harum-harum sabun mandi dan parfum murahan. Cowok itu menarik kepalaku menyuruhku menciumi dadanya, duh... dadanya berkeringat, terasa asin-asin pahit di lidahku, terlebih saat aku disuruh menjilati puting susunya yang begitu hitam gelap gulita itu, tapi untungnya tidak berbulu-bulu kasar seperti milik Tagor. Ah kenapa aku selalu teringat dengan cowok supir truk bejat brengsek itu, bahkan di antara kedua temannya yang juga sama-sama menjijikan itu aku tetap hanya terngiang-ngiang sosok Tagor yang traumatis buatku.

Dan sekarang aku tahu apa yang paling diinginkan Oskar, kubuka resleting celananya dan kupelorotkan celana panjang itu, ada batang keras panjang terlihat menjulang dari balik celana dalamnya, bahkan ujungnya sudah tembus banjir tetesan-tetesan bening. Kuremas-remas batangan panjang itu dari balik CDnya sampai precumnya semakin banjir dan membuat lepek kain CDnya.

"Aarrgghhh!!" Oskar menggeram tidak tahan dan membuka CDnya sendiri, aku membantunya melepaskan celana cangcut tersebut. CD Oskar cukup seksi untuk ukuran cowok, CD cowok model cangcut segitiga yang ada bagian menonjol untuk si pentungan gemes. Yah, untungnya bukan celana kolor putih buluk banyak kuning-kuning sisa kencing dan kopet macam punya Tagor (huh lagi-lagi ingat Tagor), Oskar nampaknya jauh lebih menjaga kebersihan.

Jungg... batang kukuh berotot berurat-urat itu menjulang tinggi di depan wajahku. Panjangnya mungkin sama dengan panjang wajahku diukur dari dagu sampai kepala. Lehernya ditumbuhi bulu-bulu jembut yang tercukur rapih, hmm sudah jelas Oskar cukup menjaga kebersihannya. Tapi aku malas menjilat kantung zakarnya, soalnya ada rambut-rambutnya.

Aku menarik nafas dan menelan ludah berulang kali, toh aku sudah pernah melakukan ini kepada Rosa, jadi aku rasa aku juga bisa melakukannya kepada Oskar. Perlahan kujilat dari pangkal leher sampai ke ujung palkon kepala jamurnya dan hal itu langsung membuatnya jadi berdenyut kembang kempis.

"Euuugghh..." Oskar nampak mendesah, otot perutnya terlihat mengencang, nampak ia begitu menikmati permainanku. Tiba-tiba ia langsung menarik kepalaku dan memaksa mulutku langsung melahap batangnya yang hanya masuk seujung palkon lebih dikit, seperempat batang saja.

"Huukkk!!" aku terkejut. Rupanya ia sudah benar-benar sange tak tertahankan.

Crrttt... precumnya muncrat di dalam mulutku.

"Aaagghhh..." Oskar menggeram melenguh bercampur desahan.

Sssrrrhhttt... aku merasakan ada cairan kental hangat di mulutku tapi jumlahnya tidak banyak.

"Huk.. uhuk..." lagi-lagi aku kaget, rasa cairan itu asin-asin kecut begitu menusuk. Setelah itu kurasakan ujung kepala jamur yang besar itu berdenyut-denyut di mulutku. Sepertinya Oskar orgasme pre-ejakulasi.

Oskar menarik tubuhku dan balik menindihku yang dalam posisi tengkurap. Dibukanya dressku perlahan sampai aku telanjang sisa BH dan CD, dibukanya tali pengait BHku tapi ia tidak melepas BHku, ia membiarkannya saja tali bahunya menggantung di pundakku. Lantas ia mencium daerah pundak dan tengkukku dan aku pun terkejut dengan sensasi ciuman yang dibuatnya.

"Hsshhh... aahhh... masss..." aku mendesah sampai mataku gelap, ternyata aku auto merem sampai tidak sanggup membukanya.

Entah apa yang Oskar lakukan, ia membuat ciuman yang begitu dalam menghisap kencang, sepertinya aku tahu istilahnya 'dicupangin', atau bahasa gaulnya membuat 'kissingmark'. Sengatan nikmat di kulit tipisku itu menghantarkan rangsangan menjalar ke seluruh pembuluh darah di tubuhku dan membuatku tegang bukan main.

Aku sampai mendongakkan leherku, tubuhku sendiri yang memintanya, menagihnya lagi dan lagi. Sampai tak sadar ternyata pantatku sudah telanjang dan terasa begitu licin-licin dingin. Entah sejak kapan Oskar melepas cawatku, sekarang cawat segitiga berenda transparan itu sudah berada di pergelangan kakiku yang sebelah. Jemari Oskar bermain nikmat di belahan pantatku memijat-mijat area sensitif yang baru kutahu sebutannya area perineal atau perineum.

"Aaaaahhh..." aku mendesah geli.

"Mantep banget desahan kamu, alami dan bikin ngilu dengernya." bisik Oskar sambil mencium daun telingaku.

"Shhhh... aanngghh..." aku semakin mengerang saat Oskar semakin mencium leher belakang dan punggungku, ciumannya sungguh kuat dan bertenaga, tambah lagi jarinya semakin masuk ke lubang analku yang sudah licin nikmat oleh gel dingin.

"Mmmmhhh... badan kamu enak banget wanginya... putih... dan halus... bener-bener kayak cewek..." kata Oskar.

Sementara aku sudah tidak peduli apapun yang dikatakan Oskar karena aku sudah melayang-layang, kasur yang kutindih rasanya sudah lembab oleh cairan yang terus mengalir dari saluran kencingku yang tidak henti-hentinya berdenyut.

* * *

Slepp... jari Oskar yang besar itu keluar dari lubangku dan kini berganti dengan sebuah benda tumpul daging keras-keras alot dan aku sudah dapat menebak. Aku memejamkan mata berusaha serileks mungkin mengatur nafasku, penis Oskar lebih panjang dari milik Tagor dan Rosa, aku belum pernah dipenetrasi dengan senjata sebesar itu. Tapi aku sudah tidak mungkin mundur sekarang, Oskar juga sudah melakukannya dengan lembut padaku jadi aku pasrah mempercayakan tubuhku pada cowok ini.

Aku membenamkan setengah wajahku pada bantal yang kupeluk. Oskar mulai mendorong masuk benda pusakanya ke dalam tubuhku.

"Uuugghh..." aku mengerang, terasa sempit, ketat dan sepertinya bibir analku mau sobek. Tapi Oskar melakukannya perlahan, ia mendorong, menarik, mendorong, menarik hingga akhirnya terasa setengah batang itu bersarang menembus analku. Semua otot-otot rektum sampai prostatku tergencet oleh ketatnya batang kejantanan cowok itu.

Aku sampai mendesah ngos-ngosan, tubuhku langsung banjir keringat.

Tanpa menunggu, Oskar sudah langsung menggenjotku, aku digenjot dalam posisi telungkup di bawah Oskar, ia menggenjot setengah penisnya maju mundur di analku. Seketika itu juga aku langsung terbang melayang-layang entah sampai lapisan langit ke berapa.

Hingga semakin lama semakin kurasakan ujung benda panjang itu sepertinya menusuk semakin dalam, sampai benar-benar mentok, sampai akhirnya kurasakan pantatku bertabrakan dengan pinggul Oskar, artinya penis maut itu sudah terbenam seluruhnya di dalam tubuhku entah sampai di ujung mana, tapi ketika bagian paling ujung itu tertabrak-tabrak aku semakin kelojotan sampai mendelik kejang-kejang. Aku sendiri heran kenapa rasanya bisa begitu nikmat, aku belum pernah merasakan persetubuhan yang benar-benar membuatku kejang-kejang hilang kendali sampai seperti ini.

"Ahh... Aahh... Maass.... Mas... Oskaaaar..." desahku.

Semakin ditabrak semakin kurasakan geli berdenyut luar biasa di ujung penisku sendiri. Kuraba penisku yang kerasnya bukan main, sampai ujung palkonku berubah kemerahan, setiap disundul di dalam, cairan precumku menetes, cairan bening kental itu menetes tanpa henti.

Aku melenguh meracau seperti perempuan di film-film porno. Rasa maluku sudah lenyap menguap, pikiranku sudah masa bodo sama dunia di sekitarku yang penting sekarang aku mau enak.

Entah berapa lama Oskar menggenjotku sampai keringatnya bercucuran di tubuhku, tapi aku bukan merasa jijik aku justru merasa erotis sekali mandi keringatnya di tubuhku.

Tiba-tiba aku merasa kejang tak tertahankan, beberapa detik itu aku seperti tidak dapat merasakan tubuhku selain sengatan luar biasa yang membuat jiwaku melayang-layang ke dunia lain.

"Aaahhhkkhh..." aku menjerit... CROOOOOTTT... cairanku muncrat-muncrat membasahi kasur, aku melenguh sambil menjambak-jambak kain sprei. Aku menarik wajah Oskar, kujambak rambutnya dan kucipok bibirnya, aku lanjut orgasme sambil bercipokan panas. Crrt... croott... cairanku seakan tidak mau berhenti keluar sampai aku kejang-kejang menggelepar, aku minta Oskar berhenti.

Tubuhku gemetar menggelepar, Oskar menghentikan permainannya dan membiarkanku tenang sejenak, ia membaringkanku terlentang. Setelah melihatku mulai tenang, ia lanjut kembali menjemput kenikmatannya yang tertunda, ia kembali memasukkan senjata mautnya ke dalam tubuhku dan kali ini ia menggenjotku dalam posisiku yang terlentang, penisku kembali tegang, padahal baru saja aku keluar begitu banyak.

Pantatku sudah semakin ngilu dipenetrasi, Oskar begitu bersemangat menggenjotku semakin dalam, memutar-mutar pinggulnya membuatku kembali geli-geli nikmat. Tambah lagi ia menggenjotku sambil berciuman tanpa lepas, sampai lidahku sudah begitu basah oleh banjir air liurnya yang semakin banyak di mulutku sampai sudah tertelan olehku berulang kali.

"Uuummm... uhmmhh..." aku melenguh di tengah kuluman bibir Oskar yang nampaknya juga semakin intense menggenjotku, ia sudah mau melepaskan puncak kenikmatannya.

"HMMHHGGHGGGMMMHHH!!!!!!" Oskar mendengus dan menggeram, bibirnya memagut bibirku dengan begitu kencang.

SRRHH.. CRTTT.. CROOTT.. CROT... Aku mendelik terkejut, kembali merasakan kehangatan yang mengisi setengah bagian tubuhku, sampai seluruh bagian dalam pinggangku benar-benar terasa panas, rasa yang nikmat luar biasa.

CRRTT... "Hhhmmhffhhhtt...!!!" Oskar nampak mengejan memompa tetesan-tetesan terakhir benih-benih cintanya mengosongkan kantung amunisinya. Penisnya berdenyut kencang hingga perlahan mulai terasa mengendur secara bertahap.

Rupanya aku tidak sadar saking tenggelam dalam nikmatnya permainan aku membiarkan Oskar mempenetrasi diriku tanpa kondom karena aku takut dengan penyakit menular.

Oskar nampak puas dan berbaring mengatur nafas tanpa berucap sepatah katapun. Aku pun juga kelelahan dan ikut tiduran di sampingnya. Aku baru sadar tubuhku yang telanjang bulat seluruhnya sekarang tidur berdua dengan cowok yang sama-sama telanjang bulat, entah apa yang sedang kupikirkan.

Udara dini hari terasa berhembus dari sela-sela ventilasi kamar menyejukkan tubuh. Maklum lah satu-satunya penyejuk ruangan itu hanya kipas angin yang ada di atas meja.

Aku terbangun membuka mata, kulihat Oskar masih nikmat tertidur. Kubuka HP ku yang ada di samping meja sambil masih rebahan di samping Oskar, kulihat notif dari Rosa. Ia meledekku habis-habisan, "asik ya malam pertama jadi banci langsung dapat lekong ganteng." tulisnya. Sialan tuh bencong, kataku dalam hati.

Kupandang wajah Oskar yang masih tertidur pulas, aku pun ikut lanjut tidur, kali ini dengan merebahkan kepalaku di dadanya, baru kali ini aku merasakan tidur di dada cowok, aneh... aku jadi merasa seperti lupa dengan jati diriku sebagai cowok, aku malah menikmati didominasi.

Hingga penghujung menjelang fajar, aku mendengar suara panggilan ibadah dari pengeras suara. Duh lucu banget, kehidupan yang begitu kontras, di kawasan zona remang-remang seperti ini masih ada suara panggilan ibadah. Mungkin mengingatkan penghuninya yang setiap hari mandi dosa agar tetap kembali kepada jalan yang benar.

* * *

Pagi Hari

Pagi harinya suara manusia hilir mudik di gang sempit itu sudah seperti pasar. Oh sudah pagi rupanya. Aku membuka mata dan Oskar masih berada dalam pelukanku, ia terbangun dan melihatku yang berpelukan dengannya.

"Jangan bangun dulu mas..." kataku.

"Hm?" ia nampak heran dan terkejut.

"Biarkan aku menikmati seperti ini dulu sebentar aja." kataku. "Peluk aku mas." kataku lagi.

Oskar bingung tapi ia menurut permintaanku.

Aku menikmati pelukan telanjang pagi itu.

Diam-diam aku malah jadi teringat mantan istriku, yang ada di bayanganku kenapa ia dulu tidak mesra kepadaku? Apa kekuranganku? Harta? Tampang? Tetapi buat apa dulu ia mau denganku? Ia hanya memanfaatkanku untuk kesepiannya? Kenapa ia mempermainkan perasaanku.

Aku teringat masa-masa pacaran dengan Indri, ia begitu cuek, kami hanya sebatas bergandengan tangan seperti anak kecil, ia selalu menjaga jarak saat berjalan berdua denganku, bukan gandengan mesra seperti pasangan-pasangan biasanya.

Sewaktu sempat putus denganku baru saja putus sehari esoknya ia sudah kulihat jalan bersama cowok barunya, mereka jalan berdua, Indri nemplok di lengan cowok itu, sampai dadanya menempel erat di lengan cowok itu. Ia selalu gampang dekat dengan cowok manapun juga dan selalu mesra pacaran dengan siapapun.

Waktu ia dan cowok itu akhirnya putus, Indri balikan denganku tapi tetap tidak semesra ketika ia dengan mantannya itu. Hanya denganku ia jaga jarak dan selalu mengingatkan untuk tidak bersentuhan terlalu banyak ia selalu beralasan kami belum muhrim.

Ketika pada akhirnya kami lulus sekolah orang tuanya hendak menjodohkannya pada pak Ade si anggota hewan yang terhormat itu, padahal pak Ade si gadun tua itu sudah punya istri dan bahkan punya anak yang seumuran Indri, tapi begitulah budaya di kampungku, poligami sah-sah saja, bapak-bapak mapan bebas merdeka menikah berapa kali pun yang mereka inginkan.

Aku memohon sampai bertekuk lutut mengemis cinta agar Indri tidak dimiliki orang lain, setelah aku menikah dan aku baru mengetahui Indri ternyata sudah tidak perawan pada malam pertama kami tapi aku tidak mempermasalahkannya. Aku tidak pernah tahu dan tidak pernah berminat mencari tahu kapan dan dengan siapa Indri kehilangan keperawanannya, mungkin salah satu mantannya di sekolah.

Pada akhirnya toh pernikahanku ambyar juga dan Indri jatuh ke pelukan anggota hewan yang terhormat itu.

* * *

Bayangan masa lalu membuatku meneteskan air mata, sekarang yang aku bayangkan Indri yang mungkin sedang bercinta gila-gilaan dengan gadun bernama Ade itu. Sedangkan aku hanya cowok payah yang tidak pernah bisa menaklukkan wanita, aku tidak punya modal apapun, tidak ada aset, harta, tampang apalagi. Sepertinya Rosa benar, aku lebih pantas jadi banci.

"Kenapa kamu nangis?" tiba-tiba suara Oskar menyadarkanku dari lamunanku.

"Ah... maaf, nggak kenapa-kenapa." kataku yang menghapus air mataku. Tiba-tiba aku bangun dan menatap nanar ke arah Oskar, lelaki itu nampak terkejut melihatku yang tiba-tiba duduk di atasnya sambil menahan bahunya. Ekspresi kesedihanku berubah menjadi tatapan tajam dan nanar menusuk mata Oskar dalam-dalam, kuangkat dagu kukuh cowok gagah perkasa itu.

Spontan kucium Oskar dengan liar, ganas dan buas. Lelaki itu tidak siap dan nampak terkejut menerima serangan mendadak dariku. Kutarik dan kuhisap dalam-dalam lidah Oskar ke dalam mulutku sembari tanganku meraba-raba ke bawah, meremas-remas aset kejantanannya yang memang sedang tegang-tegangnya di pagi hari, tapi aku membuatnya semakin mengeras sampai kembali berdenyut-denyut lagi.

"Kenapa kamu tiba-tiba..." belum habis kata-kata Oskar kubungkam lagi dengan mulutku tapi sambil kututup matanya.

"Hmmffttt..." Oskar mendesah saat aku memasukkan batang kenikmatannya kembali ke tubuhku. Kudorong batang kenikmatan itu masuk ke dalam tubuhku, kukencangkan jepitan otot rektumku sampai Oskar kelojotan merem-merem melenguh.

Aku merasakan adanya kepuasan dalam diriku saat mendominasi Oskar.

Kugenjot Oskar pagi itu dalam posisi woman on top.

Kami genjot-genjotan sampai kami berdua sama-sama klimaks, Oskar muncrat walau tidak sebanyak semalam, aku pun ikutan ejakulasi tapi hanya keluar cairan bening sepertinya aku sudah kehabisan sperma. Aku mendesah lelah tapi kali ini aku puas. Oskar pun nampak ngos-ngosan.

Selesai adegan quickie ekspress itu aku bangun sambil tersenyum dan aku pun pergi mandi. Kulepas aksesoris cewek di tubuhku, termasuk rambut wig yang menempel dari semalam, kepalaku langsung rasanya lega.

Kunyalakan shower air hangat mengalir di kepalaku, lega rasanya. Aku keramasi kepalaku sambil kupijat-pijat dengan shampo, rasanya lega sabun mengalir hangat di tubuhku, kugosok seluruh tubuhku.

Saat sedang asyik menggosok badan tiba-tiba Oskar masuk ke kamar mandi, aku pun terkejut. Ia langsung memelukku dari belakang dan mencumbu tubuhku yang licin penuh sabun padahal saat itu aku tidak bisa melihat karena wajahku penuh shampo, jadilah aku pasrah diraba-raba sampai dicipok dan astaga... lagi-lagi aku digenjot di dalam bilik kamar mandi itu.

Aku pun pasrah membiarkan Oskar menggenjotku sampai klimaks dan membuatku lemas sampai aku ngos-ngosan terjerembab di lantai. Saat aku membilas wajahku, kulihat Oskar yang sudah puas akhirnya meninggalkanku untuk melanjutkan mandiku.

Selesai mandi kulihat Oskar yang tiduran di kasur telanjang dada, setengah badannya tertutup selimut, ia sedang merokok Gudang Cinta Filter, rupanya ia mengambil rokok itu dari tasku.

Udara dari luar berhembus masuk dari jendela kamar yang terbuka.

Aku memungut pakaianku yang berantakan di lantai, Oskar menontonku yang berganti pakaian di hadapannya, memakai BH dan CD ku lagi. Karena udara yang panas aku berdandan hanya memakai BH dan CD saja, entah kenapa tanganku cepat sekali menelusuri wajahku, entah sejak kapan insting dandanku berjalan melakukan persis seperti apa yang pernah Rosa lakukan pada wajahku, tapi tidak seheboh riasan yang dilakukan Rosa kemarin, aku hanya merapihkan wajahku dengan bedak, eyeliner dan lipstik yang sudah dibekali Rosa di dalam tasku. Setelah mengeringkan kepalaku kupakai kembali rambut wig ku.

Tiba-tiba Oskar menarik dan mengangkat tubuhku yang masih terbalut BH dan CD saja. Ia kembali mencumbuku dengan ciumannya di bibirku, entah berapa lama ia menikmati bibir merahku yang masih manis polesan lipstik.

Ia nampak begitu meresapi rasa ciuman panas pagi itu, aku diam dan pasrah menerima.

Selesai puas menciumku ia mengeluarkan uang lembaran warna merah jumlahnya begitu banyak dan itu lebih dari lima lembar.

"Nih ambil!" katanya kepadaku.

Aku terpana memandang uang tersebut.

"Cepet ambil sebelum aku berubah pikiran." kata Oskar dengan tegas.

Aku pun segera merebut uang tersebut dari tangan Oskar.

"Hehhehheh... dasar lonte..." kata Oskar sambil tertawa mencibir kepadaku. Ia nampak puas membayarku, ekspresinya menunjukkan kekuasaan dan kepuasan. Berkuasa karena mampu membayarku lebih dari yang kuinginkan, puas karena membuatku menerima semua uang itu.

Dalam hati aku baru merasakan yang namanya harga diriku yang sebenar-benarnya hancur, lucunya kurasakan hancurnya harga diriku setelah aku menerima lembaran uang panas itu di tanganku. Kenikmatan tubuhku untuk lembaran uang... setelah persetubuhan hangat semalam, semua itu adalah percintaan hubungan lendir semata, semua kenikmatan tubuh yang ditukar demi uang. Aku wanita murahan...

"Hmm... ya udah aku pulang sekarang mas." kataku.

"Hei... kamu sebenarnya mangkal di mana?"

"Hm, bukan urusanmu mas." kataku sambil tersenyum nakal. "Yang penting kemarin puas kan?" kataku lagi.

"Justru itu aku mau lagi kapan-kapan." katanya.

"Hubungi aja nomorku." kataku.

"Hm... dasar... jadi kamu lonte panggilan?"

"Tapi besok-besok kalau aku mood ya... dan kalau bayarannya lebih baik lagi." kataku dengan sok menyombong, lantas kutinggalkan Oskar di kamar tersebut, aku keluar dari losmen esek-esek itu.

Suasana siang sangat jauh berbeda dari suasana malam, club dugem kumuh yang hingar bingar kemarin itu sudah tertutup rapat dari luar hanya terlihat seperti rumah biasa. Gang sempit tempat manusia dan manusia saling senggolan itu pun juga penuh dengan dagang kaki lima. Aku berjalan keluar gang panjang yang kemarin malam adalah gang remang-remang dan berujung ke taman tempat aku ditinggal Rosa kemarin. Kulihat warung bapak ibu tempatku nongkrong kemarin itu sudah kembali buka, aku pun memutuskan untuk sarapan pagi di sana. Perutku menjerit keroncongan bukan main, apalagi permainan semalam benar-benar menguras tenagaku.

**

**

Saat makan, kulihat uang yang diberikan Oskar, gila ternyata jumlahnya ada dua juta. Jangan-jangan Oskar tidak menghitungnya saat memberikannya padaku. Ah masa bodo deh.

Ddrrrtt... Drrttt... suara getar HPku. Rosa menelponku lagi.

"Oi, Rik... lu di mana?" suara Rosa di telpon.

"Eh... bangke lu yaa... sengaja lu tinggalin gue di sini." langsung kusemprot dia dengan omelanku.

Akhirnya aku memberitahu tempatku di warung yang kemarin dan kulihat Rosa yang berhenti dengan motor skutik warna pink di depan warung. Ia tertawa-tawa cekikikan sementara aku rasanya sudah gemas ingin menjambak rambutnya. Ia ikut makan, beli rokok, baru setelah itu kami pun pulang.

Skuter matic itu rupanya milik mami Lulu.

Aku duduk di boncengan Rosa, sepanjang jalan aku mendengus kesal mengumpat-umpat, tapi Rosa semakin tertawa terbahak-bahak. Dan yang paling membuatku KESAL, ternyata taman tempatku ditinggal kemarin JARAKNYA hanya beberapa blok, mungkin sekitar dua kali melewati perempatan lampu merah dari tempat kosan Rosa. BANGSAAAT... tau gitu aku bisa naik ojek lolos dari taman dan gang sempit penuh nestapa itu.

Sampai di kosan aku langsung melepas seluruh pakaianku dan mencari bajuku.

"Eh Ros... mana baju gue??" tanyaku.

"Ooh udah gue obral di pasar malam." kata Rosa enteng.

"Apaa!!?? Terus maksud lu gue harus pakai apa??"

"Oh tenang aja cyin, ini gue beliin baju baru, mulai sekarang lu pakai baju ini." kata Rosa sambil menyerahkan baju kaus cewek dan celana pendek hotpants.

"Terus duit hasil penjualan baju gue itu mana?" tanyaku.

"Ya udah gue pake buat beli baju lu yang baru ini laah." kata Rosa enteng.

"Tunggu... baju gue kan ada banyak, trus koq jadinya cuma beberapa lembar kaus sama celana gini?"

"Ya kan ini ibu kota cyin, apa-apa mahal, apalagi baju cewek. Lagian baju lu jelek ga ada merknya cuma laku dikiloin doank." kata Rosa lagi dengan entengnya.

"Bangke lu Ros..." kataku.

Tapi baju yang dibelikan Rosa itu rasanya nyaman juga, bahan kausnya lembut dan adem. Setelah berpakaian aku tidur-tiduran sambil menghitung uangku, dan aku pun kaget. Aku bisa kirim uang sedikit ke bapak di kampung, terus aku juga mau membelikan ponsel supaya gampang menghubungi keluargaku di kampung.

Aku pun lantas membuka HP ku untuk menelpon seseorang.

"Halo..." sapaku saat teleponku diangkat.

Continue Reading

You'll Also Like

GavinZel [END] By E

Teen Fiction

9.5M 764K 56
Dikhianati oleh dua orang yang selama ini begitu ia percaya membuat sosok Grizelle yang dulu dikenal bergaya kuno dan cupu dalam sekejap berubah menj...
113K 4.5K 24
Follow akun nya author dan kalo mau baca minimal hargai author dengan cara tekan tanda bintang 🌟 yah beb, inget Jan salah lapak ini cerita bl pojo p...
7K 475 22
haiiii haiii kalian semua, apakah kalian tertarik untuk membaca book ini? jika tertarik silahkan baca dan jangan lupa vote yaa THX U🀍 disini saya s...
Wattpad App - Unlock exclusive features