Letters

By mooncaine

214 28 5

Mingi x Yunho World War 2!AU Sebuah kisah yang terjadi pada perang dunia ke dua. Antara seorang Captain dan D... More

Letters : His Lion
Letters : Battle of Britain
Letters : War of Hope and Destiny
Letters : End of Our Journey

Letters : The Beginning and Dreams

187 24 5
By mooncaine

Orang bilang langit membawa cinta pada manusia saat senja. Rona oranye dan nila yang tergambar pada awan membuatnya tampak berseri.

Inggris 1936,
Suasananya jauh dari kata ramah. Semua jatuh pada tekanan setelah Jerman menolak perjanjian Versailles. Meskipun perjanjian laut sudah dilaksanakan namun rasanya mereka bisa menolak kembali dan membuat semuanya jatuh dalam perang.

Yunho merapatkan mantelnya. Hari ini salju pertama turun. Dengan sebuah roti lapis di genggamannya ia kemudian berjalan dengan santai menuju rumah sakit tempatnya bekerja.

Menyandang gelar seorang dokter membuatnya sedikit waspada. Peperangan bisa pecah begitu saja dan ia tidak siap untuk kehilangan segalanya.

Semua menyapanya dengan ramah. Dengan segera ia pergi menuju ruangannya. Pasien hari ini tidak begitu banyak dan Yunho bersyukur akan hal itu. Artinya semua dalam keadaan sehat dan ia tidak bisa tidak bahagia mengetahuinya.

Ketukan di pintu merebut atensi sang dokter muda yang sedang sibuk dengan kertasnya. "Masuk." Katanya yang kemudian berbuah tawa saat sebuah kepala menyembul dari balik pintu. Konyol, pikirnya.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Lelaki pendatang itu kemudian duduk di kursi yang bersebrangan dengan sang dokter. Senyum lebarnya tidak pudar, tertarik lurus di wajahnya. Ia kemudian menyerahkan sebuah kertas yang di dalamnya tertulis nama dan ketersediaannya bergabung bersama tentara Inggris.

Ia mengerjapkan matanya, terlalu terkejut dengan apa yang ada di tangannya. Bak disiram air dingin ia membeku di tempat. Jantungnya berdegup kencang, kekhawatiran miliknya menggunung dan siap meledak.

"Mingi kau . . Yakin?" Lelaki yang duduk di hadapannya mengangguk dengan semangat. "Kau tahu ini adalah cita-citaku. Ayahku juga tergabung dalam angkatan udara, sementara aku mungkin akan bersama angkatan darat." Yunho tersenyum lalu mengangguk. Dalam diam ia menelan ludahnya dengan paksa, memaksa kembali seluruh kekhawatirannya untuk masuk dan tenggelam di dasar perutnya.

"Lalu kau kemari untuk memeriksa kesehatanmu?" Mingi mengangguk. Yunho menghela nafasnya dan kemudian ia memulai pemeriksaannya.

Ruangan itu seketika hening dan dingin. Yunho melakukan pekerjaannya dalam diam. Meninggalkan wajah masam yang sedari tadi dipandang heran oleh kekasihnya.

"Kau bisa bicara." Yunho terperanjat dan kemudian air mata menggenang di sudut matanya. Lelaki bersurai cokelat itu menggeleng dan kembali menenggelamkan diri pada pekerjaannya.

"Yunho." Dan isakan pun menggema di seluruh penjuru ruang.

Mingi merengkuh sang dokter dalam diam. Ia paham dengan kekhawatiran kekasihnya tapi ia tidak bisa melewatkan kesempatan yang hanya datang satu kali seumur hidupnya.

"Aku paham dengan kekhawatiranmu." Jelasnya. "Tapi ini yang aku inginkan. Dan selama kau belajar untuk mengabdi sebagai seorang dokter pun aku selalu mendukungmu, benar?" Yunho mengangguk dalam peluknya. Isakan itu berhenti dan Yunho melepas rengkuhan kuat kekasihnya.

"Jalankan tugasmu dengan baik. Ingat aku akan selalu menunggumu kembali pulang." Mingi tersenyum dan mengangguk. Sepertinya hari-hari di depannya akan ia lewati dalam sulit.

***

Inggris, April 1939

Tiga tahun berselang, dan Jerman menolak perjanjian laut, persis seperti dugaannya tiga tahun lalu. Yunho menggigit bibirnya cemas dan memutar cincin yang melingkari jari manisnya dengan kalut. Mingi kekasihnya baru saja resmi diangkat sebagai seorang Captain dari British Expeditionary Force. Jantungnya berdegup kencang, euforia yang seharusnya ia rasa kini mendadak berubah menjadi cengkraman erat.

Ia seharusnya tahu, bahwa hal seperti ini akan terjadi. Seharusnya ia bisa mencegah kekasihnya yang bersikeras mengejar mimpinya sebagai seorang tentara dan mereka bisa menikah. Menjalani kehidupan normal dan hidup bahagia selamanya.

Tapi Mingi akan selamanya menjadi si keras kepala kesukaanya, dan ia akan berusaha untuk mendukung apapun yang sudah lelaki itu pijaki.

Surat digenggamannya diremas hingga kusut. Sebuah surat dengan kabar yang tertulis bahwa Mingi kekasihnya baik-baik saja. Memang benar inggris sedang mengawasi gerak gerik Jerman dan bisa saja terlibat lebih jauh. Tentu saja hal ini membuatnya marah.

"Apa yang mereka inginkan dari sebuah peperangan?" Gerutunya di sepanjang jalan menuju ke rumah. Ia mengadahkan kepalanya ke langit, menyaksikan awan senja yang mewarnai kanvas biru itu dengan cantiknya.

"Betapa senangnya menjadi awan. Mereka tidak akan terganggu dengan peperangan." Gumamnya.

Tiga tahun lalu, sebelum keberangkatan Mingi menuju markas utama, lelaki itu melamarnya di sebuah taman di mana mata mereka berpandang untuk pertama kalinya. Cincin perak sudah melingkar manis di jari Yunho, namun tampaknya Mingi tak akan segera pulang ke rumah.

28 April 1939
Sayangku, disini cuacanya mulai hangat dan kami makan dengan teratur. Tidak perlu khawatir tentang kesehatanku karena di sini banyak sekali dokter yang bersedia membantu menjaga kondisi kami. Makanlah dengan teratur dan tidak perlu mengkhawatirkan hal-hal yang tidak pasti, aku mencintaimu
- Song Mingi

***

31 Agustus 1939

Hari berlalu dengan berat. Seperti ada ruang kosong yang menekannya dari atas kepala. Bala tentara mulai dipersiapkan di seluruh penjuru negeri, dan itu membuatnya berada dalam kondisi panik luar biasa.

Rumah sakit tempatnya bekerja penuh oleh tentara yang hendak memeriksakan dirinya. Sekarang sudah berada di akhir bulan agustus. Pesawat tempur mulai banyak melintas di atas kepalanya. Bising, kepalanya penuh oleh banyak kemungkinan yang akan terjadi dan rasanya ia ingin meledak.

"Pasien Song Mingi." Seorang perawat berteriak keras memanggil satu nama yang tak asing lagi di telinga Yunho. Jantung Yunho berdegup kencang. Dengan segera ia menyelesaikan pekerjaannya dan memberitahu perawat yang berjaga bahwa ia akan beristirahat sebentar.

Yunho berlari menuju ruang tiga dan membuka pintunya. Di sana dokter Jongho sedang memeriksa Mingi yang jauh lebih kurus dari sebelumnya. Rambutnya yang semula menutup dahi kini dipangkas tipis.

Mingi menoleh ke arah Yunho yang tersengal di ambang pintu. Ia tersenyum manis sementara Yunho jatuh pada kecemasanya.

"Apa yang terjadi? Mengapa kau kurus kering seperti ini?" Tanyanya dengan panik. Mingi mengisyaratkan kekasihnya untuk menenangkan diri dan duduk di sampingnya.

Jongho menaikan satu alisnya, menatap bingung pada dua insan yang ada di depan mata. Seperti menduga-duga bahwa keduanya memiliki ikatan khusus yang terjalin dibalik pintu yang tertutup.

"Dokter Jung? Mengapa kau berlari ke sini sementara ada pasien menunggu di ruanganmu?" Akhirnya, dokter muda itu memberanikan diri untuk bertanya. Yunho pun gelagapan dibuatnya.

"Aku . . Aku datang untuk melihat pasien Mingi." Jawabnya. "Baiklah, aku akan berbicara dengannya nanti." Dengan itu Yunho kembali ke ruangannya yang terletak di dekat pintu masuk. Kembali pada pekerjaan yang menenggelamkannya, membuatnya lupa sejenak pada seseorang yang membuatnya gila tiga tahun belakangan.

Desas-desus rencana penyerangan Jerman terhadap Polandia mulai didengarnya dari para prajurit yang ia periksa. Nazi Jerman dibawah pimpinan Adolf Hitler mulai membalaskan dendamnya pada sekutu yang menyetujui adanya perjanjian versailles.

Beberapa saat yang lalu seseorang datang padanya, menyampaikan pesan dari Captain Song Mingi bahwa ia menunggunya di belakang bangunan rumah sakit.

Captain, pikirnya. Mingi sudah melangkah sejauh ini. Ia tidak bisa untuk tidak bangga atas pencapaian yang Mingi raih. Menjadi seorang Captain tidaklah mudah. Memimpin hampir 120 tentara dalam satu skuadron benar-benar mengesankan.

"Dokter Jung." Langkahnya terhenti saat seseorang yang ia rindukan memanggil namanya. Ia menoleh ke samping kiri dan mendapati Mingi berdiri gagah sambil menatap lurus ke arah matanya.

"Mingi. ." Lirihnya. Yunho berlari dan memeluk lelaki jangkung itu. Menangis dan meraung seperti orang gila. Tangannya yang gemetar mencengkram erat seragam angkatan darat yang ia kenakan. Sungguh gusar Yunho dibuatnya.

Mingi terkekeh, ia merengkuh tubuhnya dalam hangat. Telapak tangannya yang kasar merengkuh surai lembut Yunho dan mengusapnya penuh cinta. Ia benar-benar merindukan sang dokter.

"Besok." Ucapnya. Yunho menaruh atensi sepenuhnya pada lelaki pujaan yang ia rengkuh. Menatap matanya dengan sendu, masih tersedu di tengah tangisnya yang terus menderu.

"Besok, bila Nazi Jerman benar menyerang Polandia, Britania Raya akan menyatakan perang melawan mereka." Yunho terkesiap. Lelaki itu kembali luruh dalam tangis dan menggeleng dengan kuat. Berusaha menyangkal kenyataan yang kekasihnya ucapkan.

"Tidak! Tidak semuanya bisa selesai dengan peperangan, Mingi!" Nada suaranya naik, nafasnya tersengal ditengah tangis. Kali ini Yunho benar-benar murka. Peperangan hanya akan merugikan banyak pihak, melukai mereka yang berperang maupun mereka yang ditinggalkan.

Seluruh keluarga Jung adalah bagian dari British Expeditionary Force, bahkan kakek buyutnya rela mati dalam perang demi melindungi negeri. Yunho benci, ia benci perasaan dimana ia ditinggalkan. Yunho tak menyukainya, lelaki itu bahkan menolak tawaran untuk terjun langsung bersama British Expeditionary Force dan memilih karirnya sendiri sebagai seorang dokter.

Setidaknya ia bisa menyelamatkan nyawa atas dasar kemanusiaan dibandingkan dengan melenyapkannya atas dasar kekuasaan.

"Sayangku, kau tidak mengerti."

"Kalian yang tidak mengerti! Benar, peperangan bisa mewujudkan ambisimu. Tapi berapa banyak nyawa yang harus membayar semuanya? Apa yang mereka harapkan dari peperangan ini? Kekuasaan seperti apa lagi yang mereka inginkan, Mingi?" Captain muda itu dengan sabar mengusap rambutnya, menenangkannya dari segala amarah yang menggulung.

Mingi paham perasaan ini. Lelaki itu bahkan sama naik darahnya dengan sang kekasih. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Seperti membuat perjanjian dengan iblis, ia harus pergi ke medan perang. Ia tidak bisa menolak, pun tidak bisa melawan.

Ia tahu, mungkin tidak seharusnya mengikat dokter muda itu dalam sebuah pertunangan. Yunho pasti akan selalu dan selalu menantinya pulang ke rumah. Ia tahu akan impian sederhana kekasihnya, ia ingin mereka menikah. Hidup bersama dengan anak-anak yang mereka adopsi, kemudian menghabiskan masa tua di Skotlandia. Memelihara domba-domba yang lucu lalu bersama menuju keabadian.

Demi Tuhan ia pun ingin mewujudkan impian sang dokter muda. Duduk di halaman belakang dan menyesap kopi kesukaannya, membaca surat kabar sambil mengawasi anak-anaknya yang berlarian kesana kemari dengan riang. Ia berani bersumpah dengan darah bahwa ia pun ingin bersama dengannya.

"Sayang, dengarkan aku." Yunho tetap pada diamnya. Ia meremas lengannya sendiri dan meredam tangisnya yang kembali tersedu. "Aku berjanji aku akan baik-baik saja. Aku akan kembali setelah semuanya usai dan kita bisa menikah. Mari wujudkan impianmu, kita akan pergi ke Skotlandia dan mengadopsi anak-anak yang lucu. Kau ingin memelihara beberapa domba, bukan? Kita akan mewujudkannya. Sayangku, percayalah padaku."

Jiwanya serasa diremas dengan kuat oleh sang bijak. Rasanya sakit sekali. Hatinya bagai ditempa oleh besi berkarat. Demi Tuhan sakit sekali.

Pada akhirnya yang bisa Yunho lakukan hanyalah mengangguk, percaya pada kekasihnya. Percaya bahwa ia akan mewujudkan impiannya.

Ia percaya.

Continue Reading

You'll Also Like

49.3K 4.2K 34
Cerita Song Mingi, murid paling pintar yang menyukai seorang Jeong Yunho, murid paling populer di sekolahan. Tahun ini tahun ajaran baru. Setelah 2 t...
33.2K 4.1K 30
Mingi adalah manusia yang menyimpan rahasia besar. Sedangkan Yunho adalah pangeran Merman yang haus akan pengetahuan. Dipertemukan dalam ketidakseng...
104K 9.1K 70
Gimana jadinya kalo seorang Jeong Yunho yang dikenal idaman cewe -cewe di kampus ternyata ngejar adek tingkatnya? Song Mingi, si kutu buku, antisosia...
9.4K 513 6
Mingi pikir sudah tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan tentang kehidupan pernikahannya. Semenjak 'kejadian itu', hari demi hari dia jalani asmara de...
Wattpad App - Unlock exclusive features