Crazy For You - Lizkook

By annawithdream

158K 13.4K 860

"aku menggilainya." "dia menggilaiku." Jungkook merangkul Lisa yang baru saja melontarkan kata itu dengan nad... More

1. The Red Lips
2. Penanggung Jawab
3. Keberuntungan ?
4. Naughty kookie and the truth
5. Pendekatan
6. Pendekatan (2)
7. Unexpected ones
8. Tentang Kita
9. kebetulan
10. Dirty Mind
11. Buku yang tertukar
#AskingTheChar
12. Garis merah
13. Among the boys
14. kebiasaan buruk
15. Sebuah cabang
16. The truth told
17. Hati yang lain
18. hari untuk kita
19. Other's
20. Tugas
21. Keluarga
22. Talking to the moon
23. kau dan aku
24. Sebuah segitiga
25. An Angle
26. gelas yang pecah
27. Masa depan
28. libur

27. libur (2)

3.1K 224 12
By annawithdream

"taaateeeeet!" Suara July mendominasi ruangan ketika melihat sosok kakeknya sedang duduk meminum teh disana.

"July...!" Min Hyuk tersenyum penuh bahagia, langkah kakinya berubah menjadi cepat menghampiri cucu satu - satunya.

Lisa ikut tersenyum berusaha membungkuk sebagai tanda salam kepada ayah mertuanya yang kini sudah menua. Ia tampak jauh berbeda dari dirinya yang lama setelah Lisa datang dan mengurus rumah ini.

Wanita itu memberikan July pada Min Hyuk yang sudah tidak sabar ingin menggendongnya. Pria itu tampak teralihkan fokusnya dengan mudah ketika ada July di tangannya.

"Aku ingin berkeliling sekitar sini dengan cucuku." Min Hyuk berjalan menjauhi Lisa dan Jungkook. "Bisakah kau siapkah mobil untuk kai berkeliling?"

Michelle dengan sigap mengikuti langkah Min Hyuk untuk mengarahkannya pada mobil yang akan digunakan untuk mereka berkendara.  "Tentu."

Lisa tersenyum ketir, padahal ia bersiap - siap dengan lama karena mengira bahwa mertuanya akan membicarakan hal penting dengan Jungkook dan Lisa.  Entah kenapa, hatinya terluka dan kecewa mengetahui bahwa mungkin pria tua itu hanya ingin melihat July dibanding melihat mereka berdua.

Matanya memandang Jungkook dengan tatapan miris, suaminya paham akan derita istrinya sehingga ia mengangguk dan menepuk pundak Lisa seraya mengatakan, "aku paham, sayang."

"Nek, bukankah tadi kalian datang dengan July? Kenapa ayah terlihat merindukannya?" Jungkook menuntun Lisa agar duduk diantara dirinya dan sang nenek yang sudah semakin menua.

"Kami bertemu di luar pintu." Jawab sang nenek dengan santai, "aku kemari karena ingin meminta alamat Jongguk."

Baik Lisa atau Jungkook sama - sama merasa tidak enak hati begitu nama tad disebut. Dengan pelan Lisa mengelus tangan sang nenek dan bertanya, "untuk apa... Nek?"

"Apa kau akan membiarkan orang tua sepertiku mencarinya sendiri? Untuk berjalan saja aku harus hati - hati.." matanya melirik Jungkook da Lisa dengan getir, wajahnya mungkin keriput karena usianya yang sudah sangst tua namun ia masih bisa melihat mereka dengan jelas. "Kau bisa berikan aku alamatnya. Alamat Jongguk di makamkan."

"Aku akan meminta Taehyung untuk mengantarmu." Jungkook mengeluarkan handphonenya berusaha menghubungi Taehyung dengan menjauh dari Lisa dan sang Nenek.

Kini giliran Lisa untuk mengajak neneknya berbicara seperti dulu, "Nek, apa kau masih ingat saat aku membuat taruhan dengan Jongguk?"

Wanita itu tertawa, nampaknya kejadian yang diceritakan Lisa adalah memori yang tak dapat ia hapus meski usia seringkali menggerogoti kenangan.

"Kau adalah gadis kecil yang nakal. Tapi lihat dirimu yang sekarang, sudah memiliki anak kecil yang sangat imut seperti July.  Bagaimana kau melakukannya?"

Mereka berdua tertawa setelah ucapan itu terlontar dari mulut sang nenek. Perbincangan terus berlanjut, banyak hal yang berubah namun tidak dengan hubungan yang sudah ada sejak dulu ia bangun.

Butuh waktu sekitar dua puluh menit sampai Jungkook kembali dengan Taehyung di sampingnya.

Mereka berpamitan untuk pergi mengantar nenek menuju makam Jongguk menggunakan mobil pribadi Jungkook sebagai tanda tanggung jawabnya kepada Taehyung dan sang Nenek.

Jungkook tersenyum karena Taehyung adalah orang yang penurut meskipun pria itu lebih tua dari Jungkook. Beruntung juga hari ini Taehyung tidak memiliki jadwal padat sehingga asistennya bisa mengisi kekosongan itu.


.

"Aku pikir Ayah ingin membicarakan sesuatu denganmu." Ucap Lisa seraya memandang wajah tampan suaminya.

Jungkook mengangguk kecil setuju, "mungkin setelah orang itu puas bermain dengan July."

"Aku lelah..."

"Kau bisa tidur, sayangku."

"Kau tidak ingin tidur bersamaku?"

"Tentu saja."

"E-eh..!"

Jungkook merangkul dan membopong wanitanya menuju kamar utama rumah, Lisa nampak sedikit malu - malu karena ada beberapa pelayan disana. Ia masih saja tak terbiasa untuk bersikap cuek ketika ada pelayan di rumah.

Pipinya memerah, ia memandang wajah Jungkook kembali. Mungkin kerutan akan muncul di wajah itu ketika July beranjak dewasa. Ia tiba - tiba mengingat hari pertama kepindahan mereka kemari, disambut oleh pelayan dan dekorasi megah. Meskipun begitu, Jungkook bersikap sama seperti sekarang. Ia tak ragu membopong istrinya menuju kamar utama.

"Jangan memandangku terlalu lama." Ujar Jungkook begitu sadar bahwa Lisa sedang melihatnya dari tadi.

"Aku memiliki hak untuk memandangimu selama yang ku mau."

Cklek.

"Tentu saja, aku juga memiliki hak untuk mendengarmu menyerukan namaku selama yang ku bisa."

Iris matanya membulat dengan sempurna begitu mendengar ucapan nakal Jungkook barusan. Kemampuan menggodanya tampak mendarah daging, bahkan tidak memudar sama sekali meskipun mereka sudah tidak lama bertingkah seperti ini.

Lisa tersenyum lebar, ia duduk begitu Jungkook menurunkanya diatas ranjang. Matanya tak bisa lepas dan berhenti untuk memandangi sosok sempurna suaminya.

Jungkook pun duduk disamping Lisa yang tampak cantik dengan pakaiannya.  Mata mereka bertemu, saling menjerat satu sama lain untuk tetap berada di tempat yang sama.

Perlahan namun pasti, Jungkook mulai memegang rahang Lisa untuk mengendalikannya. Bibirnya ia dekatkan pada bibir Lisa yang sudah siap menerima cumbuan dari sang suami. 

"Mmh.."

Mereka berdua menikmati permainan lidah masing - masing, Jungkook yang dulu sering kali bermain dengan sangat agresif sekarang ia bisa lebih mengendalikannya. Ia menyamakan irama itu dengan permainan milik Lisa sehingga mereka berdua bermain di irama yang sama.

"Jungkook-hh.."

Jungkook tersenyum puas begitu mendengar Lisa mengucap namanya. Tubuhnya yang kekar dan atletis mendorong Lisa agar ia bisa bergerak dengan leluasa menyentuh tubuh Lisa.

Lisa nampak menerima perlakuan Jungkook kali ini. Tentu saja karena ia merasa tangan Jungkook jauh lebih baik dari mainan yang ia beli untuknya. Mainan itu terlalu menyeramkan bagi Lisa yang kesulitan mengontrol diri dan suaranya.

Tangan panjang dan lebar milik sang pria menyentuh satu persatu buah dadanya dengan agresif. Irama nya terus bertambah semakin cepat dan agresif semenjak Jungkook berhasil memegang kendali sepenuhnya.

"Hei." Suara itu terdengar lebih berat dari biasanya, bisikan pada telinga Lisa yang berhasil membuatnya merinding seketika. "Bukankah kau harus melakukan sesuatu pada ini?"

Jungkook menunjuk benda miliknya yang sudah tegang berusaha berontak di dalam sana. Lisa mengangguk kecil, jantungnya berdegup lebih kencang begitu nelihat sesuatu yang berada di bawah sana nampak tegang.

Ia nampak ragu untuk melakukannya dengan mulut, takut jika benda itu terlalu besar dan tidak muat di mulut Lisa.

"Apa yang kau ragukan, hm?" Jungkook tersenyun miring, pria itu berusaha berjalan denga lututnya untuk menghampiri mulut Lisa.

"Kita tidak pernah melakukan ini." Jawab Lisa dengan jujur, matanya berbinar meminta ampun pada Jungkook agar tidak melakukan ini. Meskipun wanita satu anak itu penasaran dengan bagaimana rasanya, ia lebih takut dengan bagaimana mulutnya nanti. 

"Kau tidak mau?" Tanya Jungkook.

Lisa berfikir selama beberapa detik untuk memustukan, mungkin melakukan itu dengan posisi seperti ini tidak membuat Lisa nyaman dan tertekan.  Ia memiliki cara lain agar posisinya pas an mulutnya tidak sakit.

"Kau duduk, aku tidak ingin berada di posisi ini."

Jungkook lagi - lagi tersenyum, ia mengikuti permainan Lisa karena penasaran sejauh mana istrinya bisa menjadi liar dan mendominasi permainan. Ia juga tak sabar ingin melihat bagaimana jika mainan baru itu ia tunjukkan pada istrinya setelah ia terkapar.

Jantung dan pikirannya dipenuhi oleh rasa gembira dan penasaran dengan apa yang akan terjadi setelah ini. Ia berharap istrinya memiliki cukup stamina untuk terus bermain bersamanya.

Continue Reading

You'll Also Like

21.4K 1.5K 10
[END] Kita sama-sama gila. Penuh dengan dosa, bahkan dengan setitik darah kita mencerminkan neraka yang membakar raga. Kau dan aku adalah sebuah rasa...
100K 7.4K 27
"Ketika kamu siap untuk hidup, maka kamu akan siap untuk kehilangan dan merelakan" Jungkook yang menjadi pemurung setelah kepergian pacar nya Lalice...
20.8K 2.3K 27
δΈ€ft. taelicekook and bambam. DESC. Lalisa pikir hidupnya akan menjadi lebih baik ketika ia bertemu dengan Jeon Jungkook dan sahabatnya Kim Taehyung...
9K 593 21
(on going November πŸ”ž) "Ternyata benar kata orang Kita tak boleh serakah dalam hal bercinta jika tidak kita akan kehilangan semuanya,tapi kalo bisa...
Wattpad App - Unlock exclusive features