Waste Of Time

By Jane_byme

137K 13.5K 2.7K

Hidupnya bukan untuk kedamaian, meski tujuh tahun berlalu bukan hal mudah baginya untuk menghapus ingatan gel... More

(1) First Time
(2) Who are you?
(3) Point of View
(4) Give It All
(5) The Last Party
(6) Worst Night
(8) Another Threat
(9) Something Weird
(10) Make It Easy
(11) Stuck In Trouble
(12) Confusion
(13) Truth
(14) Improve Gradually
(15) Never
(16) Remembrance
(17) Plan
(18) Classical
(19) Reason
(20) Trapped
(21) Silly
(22) Slowly
(23) Drunk
(24) Sickening
(25) His
(26) Nightmare
(27) Agreement
(28) I'm Fine
(29) Mis:Take
(30) Enough
(31) Tears
(32) Impossible
(33) Crumble
(34) Speechless
(35) I'm Done!
(36) Disaster
(37) Your Fault
(38) Change
(39) Fall
(40) Only One
(41) You're Mine [END]
1. After
2. Middle
3. The Little Bunny

(7) Seven Years

3.3K 344 61
By Jane_byme

.

.

Seoul, 21 Desember 2020

Seorang wanita tengah membuka pintu dan masuk ke sebuah ruangan. Ruangan itu milik seorang Direktur dari perusahaan Sky High Corp. Wanita itu memandangi seorang pria yang sedang menatap kosong ke arah jendela.

"Oppa..." Pria itu membalikan badan, kemudian tersenyum simpul.

"Soo-ya? Kau sudah menungguku, ya?" Wanita itu mengangguk, dan perlahan duduk di sofa hitam yang berada di dalam ruangan.

Sedari tadi Jisoo menunggu di Lobby. Jam kerja sudah selesai. Setelah 10 menit menunggu akhirnya Jisoo memutuskan untuk menghampiri ke ruangan, ternyata Pria itu hanya melamun. Sepertinya berdiam diri menjadi kebiasaan pria itu akhir-akhir ini.

"Maaf, aku sangat tidak fokus belakangan ini."

"Tidak apa, aku mengerti. Kau masih memikirkannya?"

Pria itu menghela napas panjang, dengan jas warna hitam dan rambut hitam pekat. Ia menghampiri dan ikut terduduk di sofa samping wanita itu.

"Aku gagal." Menaruh dahi di pundak wanita yang menjabat sebagai Sekretaris-nya, sekaligus wanita yang selalu menemaninya beberapa bulan ini.

"Apa yang kau katakan, Oppa?"

"Aku gagal membangun perusahaan ini. Aku juga gagal untuk menafkahimu nanti Soo-ya..." Dengan suara berat Pria itu sangat terdengar kesedihan dan putus asa.

Jisoo menghadapkan tubuhnya pada Pria itu.

"Pak Suho! Apa ini Bapak yang saya kenal? Dimana Bapak yang selalu semangat? Apa saya salah masuk ruangan?" Ujar Jisoo berusaha menghibur, mungkin ini pertama kalinya Jisoo seperti ini pada Pria itu. Akhirnya Pria itu menimbulkan senyuman dan mengelus rambut Jisoo.

"Perkataanku benar adanya Jisoo, kau bisa tahu sendiri. Jika perusahaan ini bisa bangkrut karena kekurangan dana." Jisoo terdiam menatap Suho yang terlihat benar-benar putus asa.

"Ini semua terjadi karena aku tidak bisa mengembangkan perusahaan dengan baik, Soo-ya."

"Jangan menyalahkan dirimu, Oppa. Kau pria yang sangat bekerja keras. Hal seperti ini biasa dalam sebuah Bisnis."

"Jika seperti itu, Ayahku tidak pernah mengalaminya. Aku merasa sangat gagal." Jisoo bisa melihat mata Suho yang memerah.

"Aku tidak ingin kau berdampingan dengan pria sepertiku, Soo-ya." Pria dihadapan Jisoo mulai mengeluarkan air mata. Oh, lihatlah Suho yang lebih tua 4 tahun dari Jisoo, menangis dengan memperlihatkan kelemahan dihadapannya. Suho terlihat sangat rapuh, Jisoo tidak pernah melihat Direkturnya menangis seperti ini. Suho selalu memperlihatkan sosok yang kuat dan menjaga Jisoo dengan baik.

"Oppa.. Apa yang kau bicarakan? Semuanya akan baik baik saja. Oppa juga sudah berusaha untuk meminta bantuan pada perusahaan lain, bukan? Kita hanya perlu menunggu bantuan." Jisoo menghapus air mata di pipi pria itu.

"Mereka semua menolaknya, beberapa saat yang lalu."

Jisoo tidak bergeming. Ia tidak tahu harus berkata apa. Sejujurnya ia ingin menangis, memikirkan bagaimana nasib karyawan dan perusahaan ini. Perusahaan ini dibangun oleh Suho sejak awal. Suho pasti sangat sedih, mengetahui bahwa perusahaan yang ia bangun sedang berada diujung ambang ke bangkrutan.

"Aku yakin seseorang pasti akan menolong." Jisoo meyakini.

"Boleh aku memelukmu?" Jisoo mengangguk. Inilah Suho selalu meminta izin kepada Jisoo.

Suho adalah Pria yang sangat baik, memperhatikannya dan sangat peduli. Jisoo sudah bekerja sebagai Sekretaris diperusahaan Sky High Crop selama kurang lebih 2 tahun lamanya. Namun Jisoo tidak dapat mengira jika Direktur dari tempat kerjanya tertarik pada dirinya. Sekitar 3 bulan yang lalu Direkturnya secara terang terangan mengajak Jisoo untuk menikah.

Jisoo sangat bingung dengan perasaannya. Namun Jisoo tersadar, jika ia sudah dalam usia yang sangat matang untuk menikah. Suho juga orang yang sangat menyayangi-nya. Awalnya memang Jisoo merasa sangat terkejut.

Banyak pria yang mendekati Jisoo selama ini, tetapi Jisoo tidak pernah bisa untuk membiarkan mereka masuk. Namun Suho, pria itu selalu mengerti. Jisoo bisa membuka hatinya secara perlahan. Entahlah sejak kejadian buruk menimpanya sekitar 7 tahun yang lalu, ia selalu menjauh dari kalangan pria. Kecuali, Taehyung dan rekan kerja. Ia selalu menjauhi ketika mengetahui maksud seorang pria mendekati-nya.

Berbeda dengan Direktur-nya. Jisoo mengira Suho mendekatinya karena sebatas antara Direktur dan Sekretaris, tetapi Suho melamarnya. Bahkan Jisoo dan Suho tidak pernah menjalin hubungan sepasang kekasih. Jisoo harus membuka lembaran baru yang baik. Apalagi jika akan menjadi pendamping seorang pria yang baik hati juga sangat mencintai-nya.

Jisoo bagaimanapun harus melupakan masa pahit dalam masa lalunya. Walaupun selama ini ia hanya menyimpan keperihan sendiri, akibat pria yang tidak ingin Jisoo sebutkan namanya lagi. Tidak ada yang tahu tentang malam itu selain ia dan pria itu.

Bahkan Jisoo tidak ingin memberitahu Suho, bahwa ia telah diperkosa oleh pria yang ia sukai dulu. Jisoo ingin memberi tahu. Tetapi saat mengingatnya, itu membuat hati Jisoo kembali perih. Jisoo tidak berani untuk membicarakan hal yang sangat sensitif bagi-nya. Cepat atau lambat Jisoo harus memberitahu. Ia akan menunggu waktu yang tepat untuk membicarakan masa lalu-nya yang kelam. Bagaimana-pun Jisoo harus lebih terbuka pada pasangannya kelak.

Setelah malam kala itu terjadi, Jisoo tidak berhenti menangis. Ia bahkan mencoba untuk bunuh diri, namun ia teringat Ibunya. Ia tidak mungkin meninggalkan Ibunya sendirian. Ia harus menjalani hidup yang lebih baik, tidak dengan cara seperti itu.

Bayangkan saja jika berada di posisi Jisoo. Kekejaman apa lagi yang pernah ia rasakan selain malam itu? Jisoo merasa kecewa, marah, sedih, lemah dan tidak ingin untuk menunjukkan wajah pada semua orang. Pria itu pergi, setelah berhasil merusaknya.

Selama 7 tahun lamanya Jisoo tidak pernah melihat wajah pria itu lagi. Jisoo sering dengar jika pria itu melanjutkan kuliah-nya diluar negeri, Pria itu pun sepertinya sudah menikah dengan gadis yang bernama Chaeyoung. Jisoo mencoba untuk tidak mendengar segala hal tentang pria itu. Ia bahkan menjual Apartemen yang menjadi saksi bisu, saat kejadian itu terjadi. Jisoo tidak memberikan alasan yang jelas pada Ibu dan teman teman-nya.

Jisoo hanya ingin seperti wanita lain. Ia hanya ingin dihargai dan dipandang sebagai wanita yang berharga tidak memandang soal derajat.

Jadi, Jisoo yakin. Tuhan mengirimkan Suho untuk menjadi pelindungnya di masa depan.

Namun sepertinya tentang pernikahan harus ia tunda. Mengenai masalah perusahaan yang kekurangan dana dalam jumlah yang sangat besar, pernikahan tidak akan berjalan dengan lancar jika situasi sekarang terlalu rumit. Mungkin sekitar 8 sampai 10 bulan lagi, ia akan menikah.

.

.

13.45

Jisoo terduduk di sofa ruang tengah, Apartemen Suho. Hari ini adalah hari libur. Otomatis tidak bekerja, jadi ia ingin menemani Suho. Ia tahu jika Suho masih bersedih.

"Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Suho ikut bergabung duduk dengan Jisoo

"Tidak ada, Oppa."

"Mau-ku antar pulang sekarang?"

"Kau mengusirku?" Suho tertawa kecil, tangannya mulai mengusap bahu Jisoo.

"Tidak, aku hanya kasihan padamu."

"Ada apa denganku?"

"Hanya diam. Sepertinya kau bosan disini."

"Tidak Oppa, aku hanya ingin menemanimu." Jisoo tersenyum

"Baiklah, aku harus mengantarmu kemana nanti?" Tanya Suho, Jisoo sudah berada di Apartemen-nya sekitar pukul 9 pagi.

"Antar aku ke Apartemen Jennie, Oppa."

"Kau bermalam disana?"

"Tidak, aku akan pulang naik taksi. Jennie ingin meminta rekomendasi gaun untuk pernikahannya nanti." Jelas Jisoo, terlihat Suho tertawa kecil.

"Kenapa tertawa?"

"Kau cantik, boleh aku mencium-mu?" Jisoo tidak menjawab, ia tidak pernah mendengar Suho bertanya seperti ini. Suho memang tidak pernah bertindak lebih dari sebuah pelukan. Entahlah, Jisoo juga binggung. Ia terlalu takut, ia tidak ingin mengingat kejadian malam itu lagi.

Saat Jisoo ingin menjawab, suara dering Ponsel lebih dulu berbunyi. Ponsel itu milik Suho. Pria itu beranjak mengambil ponsel dan menjauh.

"Sebentar, ya?" Ujar Suho diangguki oleh Jisoo.

Jisoo mengamati Suho yang berada di dapur. Sepertinya itu telepon dari seseorang yang penting, terlihat dari raut Suho yang serius dan sangat formal saat berbicara. Jisoo menghela napas dan mengatur detak jantungnya. Ia masih syok dengan permintaan Suho tadi.

Beberapa menit kemudian, Suho datang menghampiri Jisoo dengan raut wajah yang terlihat sangat gembira. Jisoo sedikit heran. Apa ini tentang perusahaan?

"Soo-ya!!" Suho menarik Jisoo untuk masuk ke dalam dekapannya.

"Ada apa, Oppa?" Tanya Jisoo sedikit kebingungan.

"CH Group meminta perusahaan-ku untuk berkerja sama!"

"Mereka menyetujuinya?" Jisoo tersenyum lebar antusias.

"Tidak, aku tidak mengajukan peminjaman dana pada CH Group. Mereka yang mengajukan bekerja sama!"

"B-benarkah?" Jisoo terlalu senang mendengarnya, ia sangat tidak percaya. Suho kembali mendekap Jisoo. Wanita itu mulai menangis, terharu. Begitu baik perusahaan CH Group ingin bekerja sama dengan perusahaan milik Suho. Jisoo tahu perusahaan itu sangat besar.

"Besok kita pergi kesana, ya?" Tanya Suho pada Jisoo yang terlihat memerah.

"Baik, Oppa. Aku sangat bahagia." Jisoo tersenyum saat Suho menatapnya.

Benar, semua akan baik-baik saja. Dalam segala masalah pasti ada titik terangnya.

.

.

"Oppa, aku tidak menyangka CH Group meminta untuk bekerja sama. Apa ini ulah Ayah-mu? " Tanya Jisoo melirik pada Suho yang sedang menyetir, mengantarnya ke Apartemen Jennie.

"Tidak, aku mengatakan jika Ayah tidak boleh ikut campur dalam masalah perusahaan. Ia sudah terlalu tua. Aku juga tidak sangka, biasanya perusahaan itu hanya akan menyetujui perusahan besar-besaran." Jelas Suho. Ini seperti sebuah keajaiban.

"Benar, Oppa"

"Ku dengar Direktur-nya telah diganti beberapa bulan yang lalu. Jadi, mungkin Direktur yang baru memiliki tujuan yang berbeda." Suho memberhentikan mobil di Lobby.

"Sepertinya begitu, terima kasih Oppa sudah mengantarku. Aku pergi." Jisoo membuka sabuk pengaman dan membuka pintu saat Suho mengangguk.

Saat sampai depan Apartemen Jennie, ia mulai menekan bel. Beberapa saat kemudian Jennie membuka pintu. Menyuruh Jisoo duduk di ranjang kamarnya.

"Kau diantar oleh Suho Oppa?" Tanya Jennie sambil membereskan meja rias-nya.

"Iya, hari ini ada berita yang sangat luar biasa." Jisoo tersenyum senang.

"Apa itu?"

"Sebuah perusahaan besar mengajukan kerja sama dengan Suho Oppa. Besok kita akan pergi perusahaan-nya" Jisoo menjelaskan dengan raut yang terlihat sangat bahagia.

"Benarkah? Syukurlah.." Jennie tersenyum senang. "Perusahaan besar? Perusahaan yang mana?"

"CH Group" Jawab Jisoo. Jennie terdiam sejenak, ia merasa pernah mendengar dan membaca tentang artikel perusahaan itu. Namun ia lupa.

"Aku sangat senang mendengarnya." Jennie membawa Jisoo kepelukan-nya. Jisoo adalah wanita kuat dalam masalah apapun, Jennie tahu itu.

"Baiklah, jadi pernikahanmu lima bulan lagi dan kamu belum mengetahui gaun yang seperti apa?" Tanya Jisoo. Jennie mengangguk.

"Aku ingin kamu yang memilih rancangannya untukku."

"Kenapa tidak Kai?"

"Hanya tidak ingin. Aku ingin kamu yang memilih. Aku akan bersiap sebentar, setelah itu kita pergi ke butik. Oke?" Jisoo menaikan alis tanda setuju. Jisoo gemas pada Jennie. Jadi wanita yang sudah menjadi sahabatnya sejak lama akan segera menikah. Waktu memang sangat cepat berlalu.

.

.


Jisoo terkagum kagum saat memasuki gedung perusahaan CH Group. Dari luarnya sangat terlihat mewah, didalamnya tidak kalah bagus. Desain-nya sangat indah, rapi dan juga bersih. Ini adalah hari dimana pertemuan akan dimulai.

"Hei! Kagum, ya?" Tanya Sehun sebagai Manager Suho yang ikut dalam pertemuan ini.

"Iya. Sangat mewah." Jisoo tersenyum senang, ini pertama kalinya ia melihat perusahaan seindah ini.

"Bos sudah duluan, ya?" Tanya pria itu lagi.

"Tidak, dia pergi ketoilet. Pak Suho Gugup." Jisoo sedikit berbisik dengan kekehan kecil, bahkan Sehun ikut terkekeh membayangkan wajah Direktur-nya.

"Membicarakan-ku, ya?" Suho muncul dari arah belakang. Suho berkacak pinggang. Sehun dan Jisoo tertawa melihatnya.

"Ayo kita harus pergi ke ruangan-nya. 10 menit lagi harus segera dimulai." Ujar Suho. Mereka berjalan memasuki Lift. Gugup dan senang Jisoo rasakan sekarang.

"Oh iya, pegang dan catat ini Jisoo." Suho memberikan sebuah kertas lembar laporan persetujuan. Pantas Jisoo tidak diminta untuk membuat laporan, ternyata Suho membuatnya sendiri. Suho memang Direktur yang terbaik.

Jisoo menerima dan mulai membaca laporan tersebut. Senyum Jisoo yang sedari tadi timbul, mulai memudar. Tangannya mulai gemetar. Ini tidak nyata, kan? Dalam surat laporan tersebut, tertera nama pria yang Jisoo tidak ingin lihat sebagai Direktur perusahaan CH Group. Cha Eun Woo.

Perasaan Jisoo tidak enak. Keringat dingin mulai bercucuran. Apa semua ini nyata? Suho dan Sehun yang menyadarinya, khawatir dengan wajah Jisoo yang memucat.

"Jisoo? Kau tidak apa-apa?" Tanya Suho. Saat pintu Lift terbuka, Suho menuntun Jisoo untuk duduk disebuah kursi.

Jisoo terdiam dengan tatapan yang sangat kosong. Tidak mungkin bukan jika pria itu berada disini? Bahkan pria itu sepertinya sudah menjadi Dokter. Jadi, tidak mungkin ini orang yang sama, kan? Mungkin hanya kebetulan namanya sama. Mata Jisoo memerah, meremas jas Suho yang berjongkok dihadapannya.

"O-oppa? Direktur-nya.. " Jisoo terlihat sedang menahan air matanya.

"Kenapa Soo-ya?" Jisoo menggeleng, ia tidak yakin juga tentang hal itu. Tidak masuk akal jika pria jahat itu tiba-tiba menjadi seorang Direktur. Dokter adalah profesi pria itu.

"Pak, Direktur Cha sudah menunggu." Ujar Sehun pada Suho yang sedang menatap Jisoo.

"Baiklah, kita harus masuk keruangan-nya." Suho berdiri dan memegang tangan Jisoo agar ikut berdiri. "Apa kau sakit?" Tanya Suho pada Jisoo yang masih diam. Suho sedikit bingung, beberapa saat lalu Jisoo terlihat senang saat masuk. Namun sekarang? Tatapan Jisoo seakan sangat kosong .

Sehun memimpin jalan, Suho menuntun Jisoo. Akhirnya sampai pada pintu ruangan Direktur pemilih CH Group. Jisoo tidak sanggup untuk masuk. Ia tidak siap untuk melihat Direktur itu. Sehun mengetuk pintu, lalu masuk diikuti Suho dan Jisoo dibelakang.

Perasaan Jisoo tidak enak, aura dalam rungan sangat mencekam. Jisoo yang tadinya menunduk memberanikan diri untuk melihat Direktur pemilik perusahaan ini, mungkin namanya hanya sama saja. Direktur ini bukan seseorang yang ia kenal.

Jisoo melihat seorang pria duduk dikursi membelakangi-nya sedang berbincang dengan wanita yang sepertinya adalah seorang sekretaris.

"Selamat pagi Direktur Cha!" Sapa Suho, pria yang merasa dipanggil akhirnya menoleh.

Jisoo melemas, meremas rok yang ia kenakan saat melihat pria itu. Ia merasa pusing, matanya pun memerah. Tidak mungkin. Ia merasa ingin pergi dari ruangan ini. Pria itu adalah Cha Eunwoo yang merusak Jisoo.

Terlihat air mata Jisoo yang akan keluar, susah payah ia tahan.

"Pagi Pak Kim!" Pria itu menjawab dengan memperlihatkan senyuman.

Pria itu berubah, tubuhnya menjadi lebih tinggi dan berotot juga gagah. Terlihat lebih tampan. Namun, mengapa Jisoo harus melihatnya lagi? Jisoo rasa ingin pergi dan merobek kertas persetujuan ini. Itu semua tidak bisa Jisoo lakukan, tubuhnya sulit untuk digerak-kan.

Jisoo menatap pria itu penuh selidik dan keperihan dihati-nya. Tidak lama netranya saling bertemu. Jisoo memutuskan pandangannya, menunduk melihat ke arah sepatu-nya. Bisakah Jisoo keluar sekarang? Tangannya bergetar hebat.

"Ini Sekretaris-ku Kim Jisoo." Suho memperkenalkan Jisoo, karena ia melihat Direktur Cha yang terus menatap Jisoo sedari tadi. "Dan ini Manager Oh Sehun." Sehun mulai membungkuk dan disusul oleh Jisoo bersusah payah untuk membungkuk memberi hormat.

"Senang bertemu denganmu." Eunwoo berjabat tangan dengan Suho. "Silahkan duduk." Pintanya. Jisoo merasa lemas, mungkin jika Suho tidak menompang bahu-nya untuk duduk, Jisoo akan terjatuh. Mereka pun akhirnya terduduk. Jisoo tetap tidak ingin mengangkat kepalanya. Sepertinya ia sudah menangis, ia langsung teringat malam itu. Malam terburuk sekitar 7 tahun lalu, pria itu berhasil membuat Jisoo mendapat trauma berat.

"Jisoo.. Kau baik-baik saja?" Tanya Suho sedikit berbisik. Eunwoo memperhatikan. Jisoo mengangguk, menyeka air matanya sebelum beralih memandang Suho. Ini adalah kesempatan besar Suho untuk menyelamatkan perusahaan-nya. Jisoo harus bersikap lebih profesional, ia tidak boleh mengacaukan rencana kerja sama ini. Semua ini adalah satu satunya harapan Suho untuk melanjutkan perusahaan-nya. Suho selalu memberikan apapun padanya, jadi Jisoo tidak boleh mengecewakan Suho.

Jisoo memberanikan diri memandang lurus kedepan, ia bisa melihat Eunwoo yang juga menatapnya. Bayang-bayang perlakuan pria itu terus berputar dipikiran Jisoo. Ia alihkan pandangan kearah Suho, ini jauh lebih baik dari sebelumnya. Melihat wajah Suho yang tersenyum membuat Jisoo merasa hangat.


.

Entah sudah berapa lama berada diruangan ini, Jisoo merasa Blank. Ia tidak bisa berpikir sama sekali. Ia hanya menatap Suho. Ia tidak mendengarkan, ataupun berbicara. Ia hanya ingin keluar dari sini. Jisoo merasa tidak berguna, namun apa daya Jisoo tidak bisa mengendalikan diri. Ketakutan adalah yang paling ia rasakan.

Perbincangan berjalan dengan sempurna, sepertinya kerja sama akan berjalan dengan baik. Mereka menyetujui, besok mereka harus kembali untuk membicarakan lebih jauh.

Jisoo akhirnya bisa keluar dari ruangan itu, ia terlihat sangat pucat. Wajah Jisoo bahkan sangat merah, keringat dingin terlihat di dahinya. Suho merasa khawatir, Suho menyuruh Jisoo agar bermalam dirumah-nya saja. Dan Jisoo menyetujuinya.

.

.

Memandang kearah luar jendela, memperhatikan seorang wanita yang masuk kedalam mobil dibantu oleh pria yang baru saja menyetujui kerja sama. Sebenarnya ini bukan yang ia inginkan.

Eunwoo, Pria ini hanya dipaksa untuk menjadi penerus oleh ayahnya. Setelah kejadian yang ia lakukan pada wanita yang sedang ia perhatikan dari lantai atas. Ia dipaksa pergi melanjutkan pendidikan keluar negeri, dan datang sebagai penerus. Cita-cita sebagai Dokter harus ia kubur hanya demi mematuhi Sang Ayah.

"Sejeong-ssi." Panggil pria itu, setelah menghela napas panjang. Tanpa beralih dari sosok wanita yang ia amati dari jendela.

"Iya, Pak?" Sejeong yang menjabat sebagai Sekretaris-nya menghampiri.

"Besok kau tidak perlu datang."

"M-maksud Bapak?" Sejeong tidak mengerti apa pembicaraan ini. Pria itu menjawab dengan sebuah lirihan.

"Kau diberhentikan."

.

.

Tbc

.

.

Cast

Vote ya!

Makasi udah vote dan comment! Sharanghae! That's really make me happy. Aku yakin kok usahaku gak akan sia sia kalau ada kalian. Bye! ^^

See you!

Continue Reading

You'll Also Like

5.4K 558 16
Pada kenyataan sebuah cerita, selalu ada pengorbanan dan penyesalan. 17 tahun kehidupan Dimas, setelah menanti bersama ke sabarannya, satu impian kec...
32.7K 3.7K 14
Menjadi orang tua muda di usia 17 tahun Cerita ini hanya mengisahkan sepasang kekasih yang mau tak mau harus menerima kenyataan, jika mereka akan men...
244K 22.5K 46
[Complete] Bukan maksud hati untuk mencintai adik nya sendiri, tapi Jungkook tidak bisa menahan dirinya untuk jatuh kedalam pesona Eunha.. [ 27-01-1...
Wattpad App - Unlock exclusive features