Bab 1

1.2K 10 2
                                        

Mencintai Istri orang

Lagi-lagi pagi ini aku di buat kesal dengan kelakuan Mamaku. Ya, memiliki menantu dan cucu yang mungil adalah impiannya. Namun, semenjak patah hati dengan Widya. Aku enggan untuk menjalin cinta, walau banyak perjodohan yang aku lalui. Kenyataannya tidak ada satu wanita pun yang dapat menembus relung hatiku.

Aku langsung berangkat ke pabrik tanpa sarapan. Bahkan, mengendarai mobil pun dengan penuh emosi. 

Ketika memasuki jalanan menuju pabrik, jalanan begitu sepi. Hanya nampak para petani yang berada di sawah yang membentang luas di kanan kiri jalan.

Sialnya, ketika hendak sampai di pabrik aku menabrak sesuatu. Rem ku injak dan segera kaki melangkah keluar dari mobil.

Kulihat seorang wanita tersungkur. Sepeda beserta seluruh dagangannya porak poranda. Ku dengar wanita itu meringis sambil memegangi kakinya.

Aku mendekatinya dan menopang nya untuk berdiri. Ketika kami bersejajar, Wanita itu menoleh ke arahku dan wajah kami begitu dekat.

Deg!

Desiran halus menembus dada. Cantik. Sejenak aku terdiam dan menatapnya. Namun, dia yang merasa canggung langsung melepaskan tanganku.

Aku pun tertunduk malu. Kemudian mataku yang tak sengaja tertuju pada kaki wanita itu pun segera menyingkap gamis yang di pakainya.

Sontak dia terkejut dan menghentak mundur.

"Jangan kurang ajar ya, Mas! " Kata wanita itu dengan nada marah. Bodohnya aku yang tanpa fikir panjang langsung menyingkap gamisnya.

"Maaf. Aku melihat darah mengalir dari kakimu. Aku ingin memastikan apakah luka itu parah?  Atau langsung ku antar kau ke rumah sakit terdekat? " Kataku

"Tidak usah. Aku tidak apa- apa" Kata wanita itu. Dia menunduk dan mengambil sepedanya.

Wanita itu berjalan tertatih-tatih sambil menuntun sepedanya.

"Tunggu! " Ucapku. Wanita itu menoleh penuh tanda tanya.

"Ada apa? "

"Apa kamu tidak ingin aku bertanggung jawab atas semua ini? " Tanyaku sambil menunjuk ke arah dagangannya yang sudah bercampur di aspal.

"Nggak apa, Mas" Kata wanita itu dengan senyum tersungging di bibirnya. Membuat jantung serasa mau copot. Tidak bisa. Mana mungkin aku tidak bertanggung jawab atas kecelakaan yang aku sebabkan ini.

Akhirnya ku hentikan langkah kakinya itu  dan mengajaknya ke rumah sakit terdekat.

"Bagaimana dengan sepedaku? "

"Aku akan menyuruh orang ku untuk membawa sepedamu ke bengkel"

Aku menelpon satpam pabrik ku dan menyuruhnya untuk membawa sepeda milik wanita itu.

***

Dari wajahnya aku tahu bahwa dia menahan sakit. Tapi senyumnya tetap tersungging kala mata kami bertemu.

Ya. Gara- gara aku. Lututnya harus di jahit.

"Setelah ini, aku antar kamu pulang ya? "

"Tidak usah, Mas" Katanya dengan senyum yang begitu manis.

"Kenapa? " Tanyaku keheranan

"Suamiku akan marah kalau tahu istrinya pulang dengan seorang lelaki"

Deg

Suami??

Mencintai Istri orangWhere stories live. Discover now