Aku terbangun dari lelapku yang entah berapa lama, sepertinya aku mimpi aneh, dalam bangunku, kucoba mengingat lagi, apa yg tadi ku impikan, aku seperti terjatuh dalam pelarianku didalam gua, dan sesuatu menimpa kepalaku hingga terasa teramat pening, badanku seperti terjepit dan tak bisa bergerak, semua hitam pekat, laksana malam kelam dalam sekam. . .
Tapi kok sekarang aku tak merasakan apapun yaa ? Tak ada pening, tak ada sakit baik di kepala ataupun di perut dan pinggang, walaupun iya sih tetap gelap, mungkin iya aku hanya mimpi, tapi mimpi yang begitu nyata.
Aku bangun dan berdiri, ku coba ingat ingat lagi, ooh iya gimana nasib Rio dan Maman? Ataukah mereka ikut binasa di tangan Icha, husssttt jangan berfikir negatif Rani mereka pasti selamat, dan sekarang lagi mencari kamu, pikiranku berdebat sengit melawan nuraniku. Yaa sudahlah aku harus cari tau batin ku, sambil melangkah kan kaki, eeh kok enteng banget yaa? Ooh mungkin karena aku tadi ketiduran dan entah berapa lama jadi tenagaku sudah pulih kembali. Ku merangkak memanjat lubang, tempat dimana sebenarnya jasad ku terhimpit di dasar lubang gua, sayangnya aku belum sadar akan itu, terasa mudah sekali, tanpa hambatan dan tanpa mengeluarkan tenaga sama sekali. sesampainya di atas, aku merayap mencari dinding untuk berpegangan, awalnya bingung mesti cari jalan arah mana, aku mendengar suara gemuruh air di sebelah kiri dan aku teringat bahwa aku memang di dalam gua di balik air terjun, maka ku ikuti saja suara gemuruhnya air terjun di sebelah kiri, cahaya matahari dari balik air terjun berusaha menembus masuk ke dalam gua, akupun mulai melangkah menuju pintu gua, sinar matahari menyapu wajahku, tapi tak terasa hangat apalagi panas, saat aku mulai menuruni tebing batu dan tubuhku terkena air, lagi lagi aku merasa heran, air tak mampu membuatku basah dan tak ada rasa dingin sama sekali, seakan akan air terjun itu tembus melewati tubuhku. aku jadi ingat, Rio kemaren bilang mungkin kita masuk dan tersesat di dimensi lain, jadi kayaknya sekarang aku masih di dimensi lain makanya sinar matahari ataupun air terjun tadi tak terasa apa apa, bahkan seperti menembus tubuhku. Setelah sampai di bawah aku mulai memandang berkeliling, sambil mengingat jalur mana yg aku lewati semalam, matahari tepat berada di atas kepala, sepertinya kalau aku ikutin aliran sungai ini pasti akan sampai ke hilir dan ke kaki gunung pikir ku, aku mulai melangkahkan kaki menuju petualangan baru di antara dua alam...
"Aku Rani " dan inilah kisahku......
Sepanjang aliran sungai yang ku ikuti, tak satupun mahluk yg kutemui semua terasa hening, angin semilir menggoyangkan pepohonan dan dedaunan tapi tak terasa walaupun menerpa wajahku, lama terus ku berjalan sampai aku mendengar suara manusia untuk pertama kalinya selama perjalananku dari air terjun tadi sampai ke tempat ini, pepohonan mulai jarang menandakan adanya perkampungan di dekat sini, di dimensi manusia sebenarnya di atas gunung ini tidak ada perkampungan namun aku pikir karena ini di dimensi astral mungkin memang ada perkampungan, ada rasa takut dan khawatir yg kurasakan saat itu, takut kalau nantinya penampakan atau wajah mereka sangat mengerikan, seperti wajah Icha yg berubah menjadi sangat mengerikan dan khawatir takutnya mereka tahu kalau aku ini manusia dan aku di jadikan budak oleh mereka, tapi bismillah saja lah, semoga mereka tidak curiga kalau aku manusia dan semoga saja mereka tidak semengerikan yg ku bayangkan bathinku, aku terus melangkah menelusuri sungai menuju ke arah suara suara anak anak yg sepertinya sedang bermain, tak lama aku melihat di kejauhan ada beberapa anak kecil tanpa pakaian berlari lari saling kejar, sesekali mereka tertawa, ada kelegaan dalam hati, ternyata mereka sama sepertiku, mereka tidak mengerikan wajah dan perawakan mereka seperti layaknya manusia biasa, atau mungkinkah mereka memang manusia? Dan aku sudah kembali lagi ke dunia nyata dunianya manusia ? Duniaku, tapi seingatku di gunung ini tidak ada perkampungan, ataukah memang portal antar dunia itu berada di kaki gunung ini? Dan aku memang sudah berada di duniaku, suara hatiku terus berkecamuk. Ada secercah harapan yg muncul di hatiku, ada rasa bahagia dan keyakinan bahwa aku bisa pulang dan berkumpul kembali bersama keluarga tercinta.
Setelah dekat dengan anak anak yg sedang bermain itu " dek...dek... Boleh antar Kaka ke desa kalian?" Tanya ku pada anak anak itu, mereka melihat ke arahku lalu saling pandang, " Kaka siapa ? Terus Kaka dari mana? Mau kemana? Kok keluar dari dalem hutan sana? " Tanya salah satu anak perempuan yang rambutnya di kuncir kuda, sambil menyodorkan tangannya mengajak salaman. " nama Kaka Rani, Kaka abis mendaki gunung Kaka tersesat dan Kaka butuh bantuan supaya bisa kembali ke rumah Kaka, dan kamu siapa namanya adek cantik?" Kataku sambil menerima salam anak cewek itu " aku ningsih Kaka, ayo ening anter ke rumah nenek ening ka" ajak gadis kecil itu yang ternyata bernama Ningsih, selama perjalanan Ningsih terus berceloteh, apapun di ceritakan, dari mulai keadaan desanya sampai keluarganya bahkan Ningsih cerita kalau dia hanya tinggal sama neneknya karena orang tuanya di binasakan oleh bangsa lelembut yang di sebut "MANUSIA" deg.... Aku langsung terdiam dan terkejut, ternyata aku masih di dimensi astral, ada rasa sedih dan kecewa yg tak bisa ku bendung, " Kaka kenapa berhenti?" Tanya Ningsih sambil menarik narik tanganku, " eeh enggak ening, Kaka cuman mau benerin tali sepatu Kaka yg lepas" kata ku mengelak, tapi kok kalau aku masih di dunia lain, kenapa tanganku bisa merasakan tanganya anak ini? Dan bisa bersentuhan? Bukanya antara manusia dan mahluk astral itu tak bisa saling sentuh? Mungkin karena aku di dimensi mereka kali, batinku terus aja bertanya tanya penuh dengan rasa heran, " hayuk kak bentar lagi sampai ke rumah nenek" ajakan Ningsih membuyarkan lamunanku. " Iyaa dek bentar yaa" jawabku lalu pura pura membetulkan tali sepatu. Perkampungan ini layaknya perkampungan biasa, semua tampak normal cuma rumah rumah nya itu seperti rumah rumah panggung jaman dahulu, dinding nya terbuat dari balok balok kayu dengan jendela tanpa kaca dan atapnya terbuat dari injuk dan ada juga yg terbuat dari ilalang kering yang diikat dan di susun dengan rapih, kami memasuki perkampungan ada beberapa mata dari penghuni kampung memandang ku seperti keheranan dan ada juga yg berbisik bisik sambil melihat kearah ku, mungkin karena pakaianku yang manusia banget, sementara pakaian mereka seperti pakaian orang jaman kerajaan, sepertinya Ningsih tidak terpengaruh oleh tatapan aneh mereka, gadis kecil itu berjalan dengan sesekali meloncat dan menari sambil bernyanyi pelan dan entah lagu apa yang dinyanyikan, seperti nya lagu Sunda kelasik, karena bahasa sundanya tidakku pahami. Akhirnya kami tiba di sebuah rumah yg gak terlalu besar, Ningsih berlari masuk ke dalam rumah sambil memanggil neneknya, sementara aku menunggu di halaman depan yang sangat asri, penuh dengan bunga bunga yang sangat indah namun aneh, banyak bunga yang tidak ku kenal, ada bunga seperti monstera di pojokan halaman rumah namun warnanya tidak biasa seperti yang sering ku lihat, monstera ini berwarna merah darah dengan garis hitam di setiap belahan daunnya, ada juga yang seperti caladium namun warnanya seperti lidah api yg sedang berkobar, ada seinsievera dengan warna hitam pekat dan ada bintik bintik biru di setiap helai daunnya dan yang paling aneh dan membuatku bergidik ngeri adalah bunga anggrek bulan yang memiliki mata yg merah dan mulut yg penuh dengan gigi gigi runcing , anggrek itu meliuk liuk di tangkainya dan menangkap serangga yang lewat di depannya, di saat ku sedang memperhatikan bunga bunga yang unik itu tiba tiba di belakangku ada yg menyapa, "selamat datang di gubuk Nini yang reot ini neng" Kubalikan badan dan dihadapan ku nampak sosok wanita tua berwajah bersih, hidungnya mancung agak bengkok, matanya sedikit menyipit tetapi cekung ke dalam karena faktor usia, tersungging senyuman manis dari bibirnya yang sudah keriput dan peot karena sebagian giginya sudah copot, badannya bungkuk mengenakan kebaya warna hijau dengan kain samping kebat sebagai bawahannya, tongkat panjang dari kayu dan di atasnya ada semacam batu hijau, sepertinya Jamrud, di tangan kanan untuk menopang tubuhnya yg terbungkuk, saat dia melihat ku ada raut terkejut di wajahnya, namun kembali tersenyum sambil berkata "hhhhmmmm.... Menarik...! " Aku kebingungan, apanya yg menarik? Lalu aku coba beramah tamah sambil mengenalkan diri " aku Rani nek " kataku singkat, " ngobrolnya didalam aja yaa neng, gak enak ngobrol di luar, takutnya ada yang mendengar" potong si nenek sambil mengajaku masuk ke dalam rumahnya, sesampai didalam aku di persilahkan duduk lalu si nenek masuk ke ruangan belakang, tak lama kemudian si nenek keluar membawa kendi dengan 2 gelas kosong di nampan, " diminum dulu neng Rani, silahkan " tawar si nenek sambil menuangkan air putih dalam kendi, akupun meminum air putih dalam gelas yang terbuat dari tanah liat, sama persis dengan kendinya. Air yg ku teguk rasanya seger banget, setiap tetes yg mengalir ke dalam tubuhku seperti membawa energi yang luar biasa, mengalir di setiap denyut nadiku, badan terasa begitu ringan. " Nek airnya seger banget, rasanya berbeda dengan air putih yg biasa saya minum" kataku sambil meneguk kembali sisa air di dalam gelas, " itu hanya air biasa neng, air itu di ambil dari Curug Kahuripan, Curug yang ada di atas gunung ini" kata si nenek menjelaskan, " Nah desa ini namanya desa Wates Cikahuripan neng" lanjut si nenek sambil menuangkan kembali air ke gelas ku karena melihat gelasku sudah kosong "naah... Neng Rani silahkan kalau neng Rani mau menjelaskan sesuatu ke nenek, sepertinya neng Rani sedang kebingungan" tambah neneknya Ningsih, " iya nek, Rani itu sebenarnya lagi cari jalan buat pulang karena Rani.... ( Maka ku ceritakan semua kejadian yang menimpa saya dan teman teman dari pertama naik hingga mendapatkan teror sampai ada beberapa teman ku yg terluka bahkan sampai terenggut nyawa, dan sampai akhirnya sy lari dan sembunyi di gua di balik air terjun dan terperosok hingga jatuh dan pingsan, setelah terbangun dari pingsan aku langsung keluar dari gua dan mengikuti aliran sungai, sampai akhirnya bertemu dengan ningsih dan teman temannya yg sedang bermain nek" kataku menjelaskan sama si nenek, "ooh begitu yaa neng, memang neng Alloh tidak hanya menciptakan manusia saja, ada mahluk lain juga yg Alloh ciptakan neng, dan mereka sama seperti manusia dan hidup di dunianya. walaupun berdampingan, tetapi tidak semua nya baik itu manusia ataupun kami bangsa jin bisa menyebrang ke dunia lain. Hanya mereka yg memiliki kelebihan dan memiliki kekuatan tentunya atas seizin Gusti Alloh neng, mau yang baik ataupun yang jahat itu semua atas izin Nya. Nah sebagaimana manusia bangsa kamipun sama ada jin baik atau manusia suka bilang jin islam katanya dan ada yg jahat atau jin kafir. Kemaren yg ngejar neng Rani itu termasuk dari jin ifrit atau dibilang juga siluman, karena mereka jin yg berupa binatang dan semua jin ifrit itu kafir neng, dia itu bernama Ratu sanca tirta atau lebih di kenal di kalangan manusia namanya hantu lastri atau hantu gosong, karena sering menampakan dengan muka yang tidak jelas dan gosong, dia itu siluman ular, dia kerap mencari mangsa laki laki untuk di jadikan budak birahinya. Tapi untungnya kemaren nenek mendengar kabar dari penghuni alas, bahwa nyi ratu sanca tirta telah binasa di tangan seorang manusia yg luar biasa, kami di kampung ini pun ikut bahagia neng, karena ratu sanca dan anak buahnya itu kerap membuat kehancuran dan malapetaka buat penduduk desa " neneknya ningsih menjelaskan " jadii.... Kampung ini bukan perkampungan manusia nek? Jadi saya masih di alam jin ? Dan nenek juga berarti bangsa jin ? Terus bagaimana aku bisa kembali ke dunia manusia lagi nek ? " racau ku yg benar benar merasa shock. "Tenang neng, nenek jawab satu satu yaa neng, iya neng Rani ada di alam Jin semua penduduk disini adalah bangsa jin tapi Inshaa Alloh kami dari kaum jin yang beriman sama Alloh, kenapa neng Rani bisa berada di alam sini karena neng Rani berada di antara dua alam ini, yaitu alam nyata dan alam ghaib, jadi neng Rani bisa masuk ke kedua alam ini, tapi di alam nyata neng Rani tetap gak bakalan terlihat oleh manusia sampai neng Rani mampu menampakan diri neng, dan untuk itu neng Rani nanti nenek latih untuk sementara neng Rani tinggal di sini aja sama nenek karena neng Rani ini jiwa tanpa Raga, Sepertinya Raga neng tertinggal di dalam gua "ngalepas sukma" waktu neng terjatuh dan pingsan " terang nenek nya ningsih menjelaskan. Aku langsung kaget dan jelas gak mempercayainya " gak mungkin nek!! Aku kemaren hanya pingsan, nenek salah sepertinya " elakku tetap gak percaya" memang sepertinya neng Rani memang belum waktunya belum sampai ke takdirnya neng Rani untuk meninggalkan dunia yang fana tempatnya manusia hidup, tapi memang gua itu tempatnya manusia sakti meraga sukma atau melepas sukma dari raganya untuk bisa memasuki alam lain atau berpindah ke suatu tempat di dunia manusia, nah mungkin karena sebelum neng Rani tak sadarkan diri tubuh neng Rani terhimpit batu dan neng Rani sangat ingin terlepas dari himpitan batu itu, maka tanpa neng Rani sadari jiwanya neng Rani terlepas dari raganya, besok nenek antar ke gua yg berada di balik air terjun itu, kita harus segera lihat kondisi Raganya neng Rani agar bisa segera di selamatkan, karena raga itu seperti cangkang, kalau tidak ada isinya maka akan membusuk dan hancur" kata nenek menjelaskan, aku terduduk lemas, tak percaya itu sudah pasti karena aku tidak merasakan yang namanya sakaratul maut, aku hanya merasa seperti tidur biasa aja, dan ketika bangun pun, aku tidak melihat ada yg aneh bahkan aku pun tidak melihat ada tubuh atau jasadku di dalam gua itu, atau mungkin karena keadaan dalam gua itu gelap sekali yaa, sehingga aku tidak bisa melihat apapun di dalam gua pikir ku, aku jadi bimbang dan sepertinya aku memang harus memastikannya besok. " udah neng gak usah khawatir, semoga tubuh neng Rani bisa bertahan dan tidak mengalami kerusakan yg fatal, sekarang neng Rani istirahat dulu yaa " lanjut nenek nya ningsih, aku jelas gak mungkin dan gak bisa untuk beristirahat, nenek mengajakku ke sebuah kamar " hayuk neng istirahat di sini yaa, cuman punten, kamarnya nggak bagus dan gak bakalan seperti kamar manusia neng" ujar nenek sembari menunjukan ku sebuah ruangan yg gak begitu besar tetapi di dalamnya tertata dengan rapi, mataku berkeliling melihat kamar itu, ranjang nya dari kayu dengan ukiran bunga bunga di sebelah pinggir pinggirnya dan ada ukiran bunga matahari yg besar tepat di tengah tengah ujung atas ranjang, kasurnya mpuk banget pastinya akan nyaman kalau tidur di atasnya, akupun merebahkan diri di kasur empuk itu, coba untuk memejamkan mata namun tetap gak bisa untuk tidur, pikiranku melayang ke beberapa hari kebelakang, "Rioo.... Gw butuh luh yoo, bang Dika jemput Rani bang, Rani takuut berada di sini sendirian... Pah... Maah... Maafin Rani pasti bikin khawatir...." Ratapku dalam diam sendiri dalam ruangan yang asing buatku ini, tak terasa akupun mungkin tertidur sambil berlinang air mata.
YOU ARE READING
Aku Rani
HorrorCerita fiksi ini menceritakan perjalanan Rani di dimensi lain. Rani adalah seorang jiwa tanpa raga, ini adalah kisah ke dua dari seorang pendaki wanita yang mengalami tragedi di gunung, Rani masuk ke dimensi atau alam lain yang berdampingan dengan a...
