"bisa tolong bawa dia kemari ?", junho mengangguk dan mulai membawa satu keranda mayat.
"meninggal karna apa ?", yohan membuka setengah kain yang menutupi seluruh tubuh mayat tersebut.
junho hanya mengangkat bahu nya dan meminta izin untuk pergi kepada yohan.
"bekas cekikan ?", yohan memegang bagian leher mayat yang bernama han seungwoo - seorang pemain film yang sedang naik daun.
"aneh sekali," yohan menutup kain tersebut lagi.
mata nya terlalihkan melihat seorang pria berdiam diri di depan pintu.
"kenapa tidak masuk, mau bertemu untuk terakhir kalinya bukan ?"
pria tersebut hanya diam menatap sendu kepada sosok di depannya.
"jika tidak ingin menemui nya aku akan mengunci pintu ini"
yohan mulai mengambil kunci di kantung celana nya, tak ada gerak - gerik mencurigakan dari pria yang kini berdiri di sebelahnya.
"apa terlihat mencurigakan ?"
yohan mengerutkan keningnya. "apa yang mencurigakan ?"
"kau melihat sesuatu"
"aku memiliki mata jadi aku bisa melihat apapun yang ada di sekeliling ku" ucap yohan santai.
dia anak taekwondo kalo pria itu macam - macam tinggal tendang saja.
"kau harus tutup mulut", pria tersebut mulai mendekat. namun yohan tidak mundur sama sekali, pikiran dia sekarang adalah kalo berani macam - macam tinggal tendang saja.
"tutup mulut atau kau ku bunuh", pisau lipat mulai di keluarkan oleh pria tersebut.
loh kok bawa pisau, kalo gini bisa mati gue - batin yohan
yohan menelan air liur nya susah payah. namun wajah nya masih terlihat tenang.
"bunuh aja, ini di rumah sakit nanti juga ketauan"
"ketauan atau tidak nya adalah urusan belakang, yang penting sekarang kau mati" pria tersebut mulai menancapkan pisau di perut yohan.
darah mulai menetes, pria tersebut menarik pisau nya dan menancapkan nya lagi ke perut yohan. setelah 3 tancapan junho datang dan mulai membawa yohan pergi.
"sakit . . ." rintihan yohan sepanjang jalan tidak ada hentinya.
ya iyalah sakit, tangan gue ke gores piso aja gue nangis.
"gudang ?"
junho meletakkan yohan di dalam gudang dan meninggalkan nya dengan pria yang menusuk yohan tadi.
"bereskan dia lee jinhyuk"
pria yang bernama lee jinhyuk tersenyum. "sudah menjadi tugas ku cha junho"
•
"seorang lelaki di temukan meninggal di sebuah sungai. terdapat 3 tusukan di tubuh mayat tersebut, namun kedua mata korban hilang"
sebuah radio memutarkan isi berita dimana itu sangat seram jika di lihat secara langsung. di bayangkan nya saja dapat membuat kita merinding.
"rumah sakit nya masih jauh kak ?", tanya eunsang yang sedang asik memandang keluar jendela mobil.
"sebentar lagi kita sampai"
eunsang hanya mengangguk mengerti. sebenarnya ia bosan, kenapa harus dia yang di ajak kerumah sakit.
kan eunsang phobia sama darah, dan satu keluarga nya tau itu. tapi tetap saja perintah sang papa untuk mengajaknya kerumah sakit tidak akan bisa di hindari.
"jinwoo bosen ga ?", jinwoo sang adik hanya mengangguk.
eunsang mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna putih, dan di berikan kepada jinwoo.
"hadiah dari kakak", eunsang tersenyum, sedangkan anak yang lebih muda 7 tahun hanya menatap nya heran.
"hadiah ulang tahun kamu, ya emang sih udah telat 3 minggu tapi masih bisakan ?"
"3 minggu itu sama aja sebulan tau !"
eunsang hanya terkekeh dan mengelus lembut surai jinwoo perhatian.
"kita udah sampai, ayo cepet turun kalo ga mau kakak tinggal"
eunsang dan jinwoo segera buru - buru turun, ini tempat asing kalo dia beneran di tinggal bisa jadi gembel mereka.
"kak hangyul, aku juga mau naik kursi itu dong", jinwoo menunjuk antusias kepada satu pasien yang duduk di kursi roda.
hangyul hanya diam, bahkan tidak sama sekali merespon. berhenti untuk melihat saja pun tidak.
"jinwoo minta nya sama papa aja, nanti kita bisa di tinggal sama ka gyul", eunsang mulai menarik paksa tangan jinwoo agar tetap berjalan.
satu pertanyaan tidak ada yang terlewat dari mulut kecil jinwoo. ia sangat antusias saat memasuki rumah sakit.
berbeda sekali sama eunsang, yang tetap merasa tidak ikhlas jika di bawa ke dalam rumah sakit. namun ia dengan senang hati tetap menjawab pertanyaan sang adik.
•
semua berduka, saat melihat pemakaman kim yohan dan sekaligus seorang aktor han seungwoo. mereka berdua sama - sama sedang naik daun.
seungwoo dengan bakat akting nya dan yohan dengan keahlian nya dalam hal taekwondo, namun yohan juga meluangkan waktu untuk membantu rumah sakit sang papa.
sang pelaku yang sedang di cari - cari pun ada di lokasi saat ini, dengan santai mereka datang dengan muka yang di pasang seperti orang kehilangan sahabat terdekat mereka.
"yang sabar ya tuan yuvin", junho menepuk - nepuk pundak yuvin. "pasti mereka tenang di alam sana"
sedangkan jinhyuk sang rekan kerja junho hanya menundukan kepalanya. merasa bersalah, namun akan tetep melajutkan nya.
pemakaman selesai, junho dan jinhyuk pamit untuk pergi kerumah sakit.
"mau berhenti ?", junho memecah keheningan di dalam mobil.
"kita belum sampai jadi tidak perlu berhenti", jinhyuk menatap lurus ke depan, tatapan nya kosong.
ia akan merasa bersalah setelah membunuh namun ia akan merasa senang saat sedang membunuh.
"maksud ku, apa kau mau berhenti dari pekerjaan ini ?"
jinhyuk merotasikan mata nya. sudah sering junho menanyakan hal tersebut, namun pasti jawaban tetap sama.
"jika eunsang yang meminta ku untuk berhenti maka aku akan berhenti"
[ tbc ]
akhirnya ke pub juga hehe , sumpah aku tuh ada niat enggak niat nya gituh pas bikin part ini 😃🔫
lanjut ke part dua tidak ? jangan lupa vote juga ayangie <3
YOU ARE READING
nowhere
Fanfictionx1 ft pdx101 ❝ singkat saja ini hanyalah sebuah cerita biasa ❞ ﹫seventeen december two thousand and twenty
