Setiap orang memiliki nilai kesuksesan yang berbeda. Beberapa mengatakan sukses dinilai dari nominal dan kuantitas harta yang dimiliki. Beberapa juga menilai kesuksesan dinilai dari pencapaian dan keberhasilan dalam meraih mimpi. Ya, setiap orang memang unik. Mereka selalu punya batas dan nilai-nilai yang mereka pegang dengan teguh.
Yang jelas, aku bukan orang yang neko-neko soal kesuksesan. Bagiku sukses adalah sukses. Entah apa pun yang aku cari, aku anggap jika aku mendapatkannya maka aku sukses. Aku haus, aku butuh minum, aku mencari minum, dan aku mendapatkannya. Aku sukses menghilangkan hausku. Aku lelah, aku butuh makanan, aku mencari makan, dan aku mendapatkannya. Aku sukses menghilangkan kelaparanku. Aku butuh uang, aku mencari pekerjaan, aku digaji, dan aku mendapatkannya.
Aku sukses untuk karirku.
Aku hanya menjalani hidup yang aku butuhkan. Memangnya apa lagi yang wanita butuhkan dalam hidup selain harta dan tahta? Aku wanita. Mereka, kaum lelaki, yang seharusnya memperebutkanku. Tapi aku belum membutuhkan itu. Aku hanya ingin memuaskan dahaga akan kekayaan dan harta. Peduli apa soal pria? Mereka semua sama saja!
---
"Mbak Diana, ini ada dokumen dari Pak Feri. Beliau minta dokumen ini diselesaikan lusa ya!"
"Baik, Mbak Fenti. Saya selesaikan segera".
Huft. Dokumen apa lagi ini? Tertulis "LAPORAN PEKERJAAN DAN TOTAL TAGIHAN PROYEK PEMBANGUNAN RUANG LABORATORIUM PT. ALKEMIA JAYA SAINTIA 2020". Sebuah tumpukan kertas terjepit penjepit kertas terjatuh dari dalam amplop coklat. Ya, sudah ku duga. Struk pembelian bahan material. Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panjang.
Aku mengambil gelas dan menyeduh sebungkus kopi instan yang ada di dapur. Adiksiku terhadap kopi sepertinya sudah setinggi adiksi terhadap narkoba atau seks. Aku paham ini buruk. Tapi aku tak bisa mengelak bahwa kopi hitam cukup membantu mataku terjaga. Kadang segelas, kadang dua gelas. Tergantung situasi dan kondisi.
Aku kembali ke dalam ruangan. Pekerjaan yang membosankan. Tapi tidak sebosan ketika kamu melihat temanmu sibuk dalam kesibukan saat kamu hanya termangu dan menopang dagu sambil berharap "kapan aku dapat pekerjaan?".
Setidaknya itu hal yang bisa aku syukuri saat ini.
---
3 jam berlalu.
Matahari sore bersinar jelas menembus kaca ruanganku. Letaknya yang berada di lantai 12 membuat pemandangan kota metropolitan terasa begitu megah dan elegan. Gedung pencakar langit menjulang gagah. Apalagi ketika malam. Cahaya lampu yang berwarna-warni seakan membuatku lupa kalau bintang di langit juga berwarna-warni. Hiruk-pikuk kota metropolitan terasa nyaman jika kamu melihatnya dari ketinggian. Terkadang saat cuaca mendung, kabut tipis menutupi pandanganku. Ruangan kecil berukuran 2,5 x 3 meter ini cukup nyaman bagiku. Ditambah lingkungan kerja yang menyenangkan dan ramah. 2 tahun aku bekerja belum pernah aku temukan kejanggalan dan konflik berarti di kantor ini. PT. ADITAMA JAYA MANDIRI namanya.
Seseorang berlalu di depan ruanganku lalu mundur dan berhenti di depan ruanganku. Sepertinya dia penasaran dan melihat siluetku dari kaca buram yang terpasang di dekat pintu masuk ruanganku. Mungkin dia penasaran kenapa aku masih di kantor hingga jam 5 sore ini.
"Loh, Diana belum pulang?"
"Eh, Pak Rizky! Iya, Pak. Ada pekerjaan tambahan dari Pak Feri".
"Jangan panggil saya "Pak". Panggil saja saya dengan nama saya. Toh, saya dan kamu hanya berbeda 3 tahun. Semua pegawai di sini juga saya bilang tidak perlu memanggil saya "Pak". Kalau pun tetap kekeuh, ya sudah cukup pakai panggilan "bang". Okay?"
"Hehe, iya Bang. Bang Rizky juga belum pulang? Gak dicariin pacarnya?"
"Kamu nyindir nih? Hahahah. Iya, saya harus siapin presentasi untuk besok. Mbak Renita hari ini sakit, jadi terpaksa saya yang harus menyelesaikan presentasinya"
YOU ARE READING
Tangga; Untuk Langit Yang Runtuh
RomanceAku terjatuh ke dalam jurang ketidakpastian. Aku lapar. Aku butuh makan. Tapi aku takut aku akan memuntahkannya. Sejak kematian orang yang ku sayang dan pengkhianatan dari dia yang ku percayai, aku memilih sendiri. Kesendirian menjadi penenang dalam...
