[ 𝐏𝐄𝐑𝐇𝐀𝐓𝐈𝐀𝐍: 𝐒𝐞𝐥𝐮𝐫𝐮𝐡 𝐤𝐚𝐫𝐚𝐤𝐭𝐞𝐫 𝐝𝐚𝐧 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐦𝐢𝐥𝐢𝐤 𝐉.𝐊. 𝐑𝐨𝐰𝐥𝐢𝐧𝐠, 𝐩𝐞𝐧𝐮𝐥𝐢𝐬 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐦𝐞𝐦𝐢𝐧𝐣𝐚𝐦 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐚𝐦𝐛𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐫𝐚𝐤𝐭𝐞𝐫 𝐛𝐚𝐫𝐮 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐛𝐮𝐚𝐭𝐧𝐲𝐚. ]
---------------------------- < 3
Aku melangkahkan kakiku menyusuri lorong remang sekolah Hogwarts, lengkap dengan tongkat sihir di tangan. Waktu patroli para prefek sudah hampir habis, namun masih ada saja siswa dan siswi yang berkeliaran keluar, bercumbu di beberapa tempat yang aku ingat betul.
Kembali aku menyusuri anak tangga menuju lantai dasar, namun tubuh seorang laki-laki menghalangi jalanku.
"Menyingkirlah, Malfoy!" Aku menggerakkan kakiku ke kanan, laki-laki bernama Draco Malfoy itu juga melakukan hal yang sama, menggerakkan kakinya untuk menghalangi jalanku. Aku tidak menyerah, aku mencoba mencari setiap celah yang ada namun tubuhnya yang lebih besar dariku terus menghalangi.
"Tenang lah, manis." Draco berjalan mendekat ke arahku, lorong ini terasa semakin gelap dan sepi.
"Aku tidak akan melakukan hal yang jahat." Jelasnya setelah dirinya telah sampai di depan tubuhku, kedua tangannya terangkat di atas kepalanya. kami hanya berjarak beberapa senti sampai aku dapat menghirup aroma yang keluar dari tubuhnya, apel hijau serta parfum mahal yang sering ia pakai.
Aku mencoba mendorong tubuhnya menjauh dari tubuhku, "Aku ingin cepat kembali ke asrama dan beristirahat! Aku tidak punya waktu untuk bermain-main."
Senyum miring terpasang di wajahnya, aku dapat melihatnya dengan jelas meskipun saat ini sangat minim dengan cahaya.
"Apa kau takut?"
"Takut akan apa?" Aku menaikkan salah satu alisku, bingung.
Kaki jenjangnya semakin mendekat dan menghimpit tubuhku dengan dinding yang berada di belakang tubuhku, fuck this wall.
Jari panjangnya membelai brunette panjang dan terus turun hingga mengusap lembut pipiku, "Takut jika seseorang akan memergoki kita, Miss Perfect?"
"Tentu saja tidak! Aku bisa mengatakan bahwa kau memaksaku dan menarikku hingga kita seperti ini." Jawabku ketus dan menatap tajam matanya.
Aku benci melihat seringai itu, terlihat sangat tampan di wajahnya. Tidak, maksudku, lupakan.
Draco terkekeh lembut dan mengangkat daguku, matanya menatap lurus tepat ke bibirku.
"Ohya? Bagaimana jika aku mencium-mu saat ini juga?"
Napasku memburu dengan cepat, "Ku mohon, jangan—"
Telat, semuanya sudah terjadi. Bibirnya sudah mendarat tepat di bibirku, dia menciumku dengan lembut, salah satu tangannya bergerak untuk mengusap tengkukku dan tangan lainnya menarik tubuhku, masuk ke dalam pelukannya.
Dia tidak melakukan hal yang lebih dari itu, hanya ciuman lembut yang diberikan kepadaku hingga ia menjauhkan kepalanya dan menatap mataku lembut.
"Aku merindukanmu, sudah lama kita tidak seperti ini." Kini wajah itu berubah menjadi seperti anjing yang memelas, oh.. baiklah, aku sudah tidak tahan.
Mengalungkan kedua tanganku di lehernya, aku balas menatap lembut tatapan matanya, "Aku sudah mengatakan kalau kita bisa pergi akhir pekan ini." Jawabku menenangkan pacarku.
Pacar?
Ya, kami sudah menjalin hubungan sejak tahun keempat, saat dia menghampiriku, mengajakku untuk datang ke Yulle Ball bersamanya. Awalnya aku menolak karna dia sangat menjengkelkan, namun ternyata semua sifat yang ia berikan kepadaku semata-mata hanya untuk menarik perhatianku.
Kala itu, aku sempat berpikir untuk menerimanya atau tidak, hingga aku membutuhkan waktu beberapa hari untuk memberikannya jawaban. Sempat terlintas dibenakku bahwa dia akan menyerah, namun tidak! Dia malah semakin mendekatkan dirinya kepadaku, meninggalkan teman-temannya saat aku tidak sengaja bertemu dengannya di koridor.
Bahkan saat aku meminta dirinya untuk menghentikan semua ucapan jahatnya kepada teman-teman asramaku, Gryffindor, ia menurutinya. Meskipun tidak seratus persen, namun setidaknya dia sudah berusaha.
Tepat dua minggu setelah acara Yulle Ball, aku mengajaknya keluar untuk berkunjung ke Hogsmeade, sekedar berjalan-jalan ringan dan saat waktu menunjukkan petang, aku menerima ungkapan cintanya. Dia terlihat sangat bahagia, wajah paling bahagia yang pernah aku lihat selama aku bersamanya.
Draco terus mengucapkan terima kasih dan mengungkapkan rasa bahagianya selama memelukku, aku tertawa kecil dan balas memeluknya. Bahkan aku dapat merasakan detak jantungnya yang sangat memburu.
Teman-temanku yang lain awalnya melarang keras hubungan kami, namun aku terus meyakinkan bahwa Draco tidak seburuk yang mereka lihat, dan seiring waktu mereka sudah bisa menerima hubungan kami. Dengan catatan, jika Draco menyakitiku, aku harus mengatakannya pada mereka.
Kembali ke koridor, Draco semakin mengeratkan pelukannya kepadaku, membenamkan wajah menggemaskan itu diantara ceruk leherku, ia bergumam, "Aku tidak bisa menahannya."
Aku mengusap lembut rambut pirangnya, wangi shampoo yang keluar dari rambutnya adalah kesukaanku.
"Aku pun, tapi aku tidak ingin Filch memergoki kita."
Kini wajahnya sudah terangkat, menatap kembali wajahku dan menangkup kedua pipiku, "Bagaimana jika menginap di asrama ku?"
"Lagi?"
"Babe.. Please.." Pintanya.
Aku menghela napas panjang, memikirkan tawarannya. Dia masih setia menatap wajahku, menunggu jawaban yang keluar dari bibirku.
"Baiklah, tapi aku mohon jangan ada lagi yang kesiangan diantara kita. Jangan sampai dasi kita tertukar." Aku mengusap pipinya dengan ibu jariku.
Ia tersenyum dan mengangguk semangat, "Noted, Princess."
YOU ARE READING
Hogwarts Oneshoot Compilation
FanfictionKumpulan oneshoot dari karakter Harry Potter.
