PROLOG

35 0 0
                                        

#SATU_ATAP_BERSAMA_MADUKU

*Prolog*

"Kanda mau menikah lagi?" lirih Aina, bertanya. Ia mencoba menahan sesak yang mulai menyerang.

Lelaki yang menikahi tiga tahun lalu itu meletakkan kedua tangan ke pundaknya. Dengan sedikit menunduk untuk menyejajarkan mereka, ia berkata, "Dinda. Insya Allah, kanda akan berusaha untuk adil. Setelah menikah nanti, cinta kanda tidak akan berkurang sedikit pun untuk Dinda," tukasnya, meyakinkan.

Dalam hati, Aina bertanya-tanya. Mencoba mencari kekurangan dalam diri, yang menyebabkan suaminya ingin mengambil jalan poligamy.

Ia merasa, selama tiga tahun usia pernikahan dan hidup bersama,  hampir tak pernah mempunyai masalah. Aina sudah berusaha untuk menjadi seorang istri salihah, yang bisa menyenangkan hati Faruq. Apa saja yang dititahkan lelaki itu, ia patuhi. Selama itu tidak menyelisihi perintah Allah shubhanahu wata'ala. Pun begitu pula yang dilarang, dihindarinya.

Allah menganugerahi mereka seorang putri yang cantik, sebagai penyejuk hati. Sesuai dengan namanya, Annisa Qurota a'yun, yang kini genap berusia dua tahun.

'Apa aku sudah tidak menarik lagi di matamu, Kanda?' batinnya bertanya-tanya.

Tak dapat dipungkiri. Setelah melahirkan Annisa, ia memang tidak segesit dulu lagi. Masalah penampilan, misalnya. Aina lebih suka memakai abaya rumahan. Menurut ibu satu anak itu, lebih simpel ketika dipakai untuk mengurus rumah. Terutama, saat menemani Annisa yang mulai aktif-aktifnya main di pekarangan rumah.

"Dinda."

Faruq membuyarkan lamunan istrinya. Ia mengangkat dagu yang tertunduk, hingga tatapan mereka bertemu.

"Dinda tak keberatan, kan?"

Fikiran Aina makin berkecamuk. Wanita mana yang sanggup berbagi? Membayangkan sang suami melirik wanita lain saja, hatinya langsung berdenyut, nyeri.

'Ya Allah ... lidah ini terasa kelu untuk menolaknya. Tapi, apa Kanda Faruq terima?' batinnya bergejolak. 'Bagaimana kalau dia malah diam-diam menikah di belakangku?'

Di satu sisi, Aina penasaran dengan wanita yang sudah berhasil merebut hati suaminya itu. Namun, di sisi lain, ia tidak mau menyelisihi syariat yang menghalalkan menikahi lebih dari satu perempuan. Ia yakin, selama suaminya berpegang pada agama, pasti tidak akan ada yang namanya menelantarkan istri pertama. 

"Dinda butuh waktu, Kanda."  Hanya itu yang sanggup ia katakan.

Saat Aina ingin beranjak untuk menenangkan hati, Faruq langsung menangkap tangannya.

"Insya Allah, kanda akan menunggu jawaban dari Dinda, sebelum memutuskan langkah ke depannya. Kanda yakin, Dinda istri yang baik, yang bisa mengerti perasaan suaminya. Kalau begitu, kanda pamit berangkat ke kantor dulu. Nanti, kalau pulang kita bahas lagi."

Bulir bening menetes di sudut mata Aina bersamaan dengan kecupan manis di punggung tangan Faruq. Belum terjadi, tapi sudah merasakan nyeri.

Dengan perasaan campur aduk, Aina melepas kepergian Faruq di ambang pintu. Bibirnya melengkung, tapi hatinya bagai tersayat sembilu.

Airmata runtuh, ketika mobil suaminya telah hilang dari pandangan. Ia terisak seorang diri. Lalu, teringat dengan putri kecil mereka yang masih terlelap. Dengan setengah berlari, Aina masuk ke kamar dan tergugu di samping Annisa. Entah, bagaimana takdir akan membawanya ke depan.

***

Jangan lupa follow akun di aplikasi KBM App Aina_Maritza, ya.
Cerbung ini sudah tamat di sana.

SATU ATAP BERSAMA MADUKUStories to obsess over. Discover now