Matahari baru saja mengintip di ufuk timur Kota Seoul, namun kediaman rahasia keluarga Park sudah dipenuhi hiruk-pikuk yang kontras dengan ketenangan di luar sana. Aroma kopi dan panggangan roti memenuhi udara, bersaing dengan suara gaduh dari arah ruang tengah.
Lisa menghela napas, mengikat rambutnya asal sembari menatap tumpukan dokumen riset dan jadwal latihan yang berserakan di meja makan. Di depannya, Jay berdiri dengan apron yang membungkus kaus hitamnya, menatap sang istri dengan tatapan tajam namun penuh perhatian.
"Sesibuk apa pun, ingatlah pola makanmu, Lalisa," tegur Jay pelan namun tegas.
Lisa mendengus, memutar bola matanya. "Ayolah, ini masih pagi untuk mendengar omelan sang suami dan aku sedang tidak ingin berdebat."
"Ini bukan omelan, ini fakta. Kau melewatkan makan malam kemarin karena terlalu asyik dengan proyekmu," balas Jay sembari meletakkan sepiring telur orak-arik di depan Lisa.
"Lalu kau pikir kau juga tak sibuk?" tanya balik Lisa, menopang dagu dan menatap Jay menantang, membuat pria itu terdiam sejenak.
Jay menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Aku hanya sedang mengatur jadwal para idol-ku untuk tahun depan, Sayang," ujarnya membela diri setelah terdiam beberapa menit.
"Sama saja. Kau dan anak-anakmu memang satu tipe, Park," gumam Lisa sebelum menyuap telurnya.
Baru saja kalimat itu selesai diucapkan, sumber kegaduhan pun muncul.
Ohyul dan Ryul, si kembar yang mewarisi bakat menari ibunya dan ambisi ayahnya, berlari kejar-kejaran memperebutkan sepatu bola. Di belakang mereka, Woojin yang lebih tenang tampak berusaha memasukkan botol minum ke tasnya, sementara si bungsu Louis merangkak naik ke kursi makan hanya untuk menarik ujung kaos Jay.
"Appa! Ryul menyembunyikan kaus kakiku!" teriak Ohyul.
"Tidak! Ohyul yang memakainya duluan!" balas Ryul tak mau kalah.
Jay memijat pangkal hidungnya, lalu menoleh ke arah Lisa yang kini justru tertawa kecil melihat ekspresi frustrasinya. "Lihat? Mereka benar-benar fotokopi darimu," bisik Jay.
"Oh tidak, gairah kompetitif itu jelas datang dari gen AOMG mu, Jay," sahut Lisa santai.
Meski dunia mengenal mereka sebagai dua bintang besar yang berjalan di jalur berbeda, di dalam rumah ini, mereka hanyalah orang tua dari empat anak laki-laki yang luar biasa aktif. Pernikahan rahasia ini adalah benteng yang mereka bangun dengan rapat. Tidak ada kamera, tidak ada paparazzi, hanya ada Jay yang cerewet soal kesehatan dan Lisa yang mencoba menyeimbangkan karier global dengan peran sebagai ibu.
"Woojin-ah, bantu adikmu memakai sepatu. Ohyul, Ryul, berhenti berteriak atau Appa tidak akan mengizinkan kalian ikut ke studio hari ini," suara Jay seketika membuat suasana hening. Ancaman ke studio adalah yang paling ampuh.
Jay kembali menatap Lisa, kali ini tatapannya melunak. Ia membungkuk, mendaratkan kecupan singkat di dahi istrinya.
"Makanlah yang banyak. Hari ini kau ada latihan panjang, kan? Aku tidak mau melihat berita 'Lisa Blackpink pingsan' karena suaminya lalai memberi makan."
Lisa tersenyum, kali ini tulus. Ia menarik kerah kaos Jay agar pria itu mendekat. "Dan kau, jangan sampai lupa menjemput Louis di preschool. Kalau kau lupa lagi karena sibuk rapat, aku akan memberitahu anak-anak bahwa Appa mereka sebenarnya kalah jago dance dariku."Jay tertawa lepas, suara beratnya memenuhi ruangan.
"Itu tantangan yang berat, Nyonya Park. Tapi demi mereka, aku akan tepat waktu." Di meja makan itu, di antara teriakan empat anak laki-laki dan jadwal dunia yang menanti, mereka menemukan ritme mereka sendiri. Sebuah simfoni kecil yang hanya milik mereka berdua.
Suasana di ruang makan yang tadinya mulai tenang mendadak pecah lagi. Louis, si bungsu yang baru berusia empat tahun, tiba-tiba memanyunkan bibirnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Penyebabnya? Woojin. Anak ketiga itu memang yang paling usil. Dengan gerakan secepat kilat, ia baru saja menukar sereal cokelat kesukaan Louis dengan potongan brokoli kecil yang ia ambil diam-diam dari piring ayahnya.
"Liat, Louis! Serealmu berubah jadi pohon!" seru Woojin sambil tertawa jahil.
"Huaaa! Appaaa! Woojin Hyung nakal!" tangis Louis pecah. Suaranya yang melengking membuat Lisa hampir menjatuhkan cangkir kopinya.
Jay, yang memang punya titik lemah luar biasa pada si bungsu, langsung sigap. Ia mengangkat Louis ke pangkuannya, mengusap punggung kecil itu dengan penuh kasih sayang.
"Woojin, jangan jahili adikmu terus. Lihat, wajahnya sampai merah begitu," tegur Jay, meski matanya tak bisa menyembunyikan binar gemas melihat ekspresi cemberut Louis yang menurutnya sangat lucu. Jay menciumi pipi Louis berkali-kali, membuat tangis anak itu berubah jadi tawa geli.
Ohyul, sebagai kakak tertua yang paling protektif, langsung berdiri dari kursinya. Ia menatap Woojin dengan tajam.
"Woojin-ah, kembalikan serealnya sekarang atau aku akan memberitahu Eomma soal mainan baru yang kau sembunyikan di bawah kasur!"
"Ck, tukang mengadu," gumam Woojin, meski akhirnya ia mengembalikan mangkuk Louis karena takut pada ancaman Ohyul.
Sementara itu, Ryul tetap duduk dengan tenang di sudut meja. Ia seolah memiliki dunianya sendiri. Ryul asyik mengunyah rotinya sambil memakai headphone, sesekali jarinya mengetuk meja mengikuti irama lagu.
Baginya, drama pagi ini hanyalah siaran ulang yang tidak perlu dipusingkan. Selama rotinya tidak diganggu, dunia baik-baik saja. Lisa memijat pelipisnya. Pemandangan di depannya benar-benar menguji kesabaran.
Jay yang terlalu memanjakan Louis sampai-sampai si bungsu jadi sedikit manja. Woojin yang tidak bisa berhenti mencari gara-gara. Ohyul yang terlalu serius menjadi polisi rumah tangga. Dan Ryul yang cueknya minta ampun.
"Bisa satu hari saja kita sarapan tanpa ada drama?" tanya Lisa dengan nada pasrah.
Jay menoleh ke arah Lisa, masih sambil memeluk Louis yang kini sedang menjulurkan lidah ke arah Woojin karena merasa menang dibela sang ayah.
"Ayolah, Sayang, ini yang membuat rumah kita hidup, kan?"
"Hidup sih hidup, tapi kepalaku rasanya mau pecah, Jay Park!" seru Lisa sembari bangkit berdiri. "Ohyul, Ryul, cepat habiskan makanan kalian. Woojin, kalau kau menjahili Louis sekali lagi, Eomma sita konsol gamemu sebulan. Dan Jay, berhenti menciumi Louis terus, dia harus belajar makan sendiri!"
Mendengar perintah sang Ratu, semua langsung terdiam. Ohyul segera duduk tegak, Woojin langsung pura-pura sibuk dengan rotinya, dan Ryul bahkan melepas satu sisi headphonenya untuk menunjukkan ia mendengarkan.
Jay hanya terkekeh pelan sambil mengedipkan sebelah mata pada anak-anaknya. "Dengar itu? Eomma sudah mengeluarkan titah. Ayo gerak!"
Lisa hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah keluarga kecilnya. Meskipun pening, saat ia melihat Jay tertawa bersama keempat jagoannya, ia tahu bahwa kerusuhan inilah yang sebenarnya paling ia rindukan saat ia sedang berada di atas panggung dunia.
KALIAN HARUS SUKA YAH, AKU NGETIK NYA SAMBIL KECINTAAN PLISSS TAPI KALIAN HARUS BANYAK KOMEN YAHHHH
YOU ARE READING
The Parks
FanfictionThe Heartbeat of Hannam-dong Jay Park Lalisa Manoban and Lngshot member DISCLAIMER: PENUH KEHALUAN YANG HAKIKI
