Jaket Jeans

2 0 1
                                        

David berjalan di tengah hujan lebat. Tak peduli hujan yang bisa membuatnya sakit.

Kakinya terus melangkah diatas trotoar jalan yang sepi di tengah malam. Jalannya santai seolah cuaca hari itu adalah cuaca terbaik yang tak boleh dilewatkan. Entah apa yang membuatnya sesantai itu di tengah hujan deras seperti ini.

Ia terus berjalan hingga melihat benda yang membuatnya berhenti. Sebuah jaket.

"Jaket siapa ini?" Ia melihat ke sekeliling dan kembali menatap jaket jeans dihadapannya.

Baginya, ini keberuntungan. David adalah orang yang kurang mampu. Ia ingin seperti teman-temannya yang menggunakan jaket keren, terutama jaket jeans seperti ini.

Tanpa berpikir panjang, ia langsung mengambil jaket di pinggir jalan itu, membawanya pulang seolah itu miliknya.

Dia tak tahu, bahwa yang dilakukannya membawa petaka.

***

"Aku pulang." David sampai apartemen kumuhnya yang ia sewa bersama ibunya.

"Kau basah kuyup, biar ibu keringkan." Carla, ibunya, mengambil handuk dan mencoba mengeringkan tubuh putranya dengan lembut.

"Sudahlah bu! Aku bukan anak kecil lagi!" bentakannya sukses membuat ibunya berhenti mengelap tubuhnya.

"Itu... jaket dari mana itu David?" tanya Ibunya melihat barang yang ada dalam dekapan David

"Ibu tak perlu tahu," ia berjalan cepat menuju kamarnya, masuk sembari membanting pintu.

Linang air mata menghiasi pinggir mata ibunya. Sungguh, tak ada ibu di dunia ini yang ingin memiliki anak yang bersikap seperti David.

Sementara itu, David mencoba jaket itu di kamarnya dengan kondisi badan yang masih basah.

"Wah... pas sekali!" serunya bahagia. Ia menggantung jaket jeans-nya itu, dan mengganti baju basahnya dengan baju yang kering.

Karena sudah larut, ia memutuskan untuk tidur, tak sabar ingin memamerkannya pada teman-temannya esok.

Matanya menutup perlahan, potongan adegan mimpi mulai menghiasi kepalanya.

***

David bangun pagi lalu mandi. Sesudahnya mandi, ia keluar kamar menggunakan jaket jeans yang masih agak basah. Ia tak peduli, ia sudah pikirkan alasan kenapa jaketnya basah jika temannya menanyakan hal itu.

"Oh. Kau sudah bangun, sarapan di rumah ya?"

"Tidak, aku buru-buru. Uang sakunya?" tangannya terulur.

"Ini..." ibu memberikan uang selembar dengan beberapa koin.

Setelah menerima uang sakunya, ia berjalan keluar pintu dan berjalan di trotoar menuju sekolahnya.

Ia berjalan di trotoar beberapa langkah, lalu berhenti di toko roti pinggir jalan langganannya.

"Wah, wah. Jaket baru?" ia Ronn, pelayan toko yang biasa melayani David.

"Begitulah. Oh ya, seperti biasa." timpalnya.

"Siap, teman!" pelayan toko lalu mengambil dua roti isi coklat.

"Ini," David memberikan beberapa uang koinnya dan pergi.

David kembali berjalan sembari memakan rotinya. Roti coklat dengan taburan wijen di atasnya.

15 menit berlalu akhirnya ia sampai di sekolahnya. Ia memasuki pekarangan sekolah, semua mata menatapnya.

"Wah, jaket baru ya?"

"Ya. Walaupun kemarin agak basah karena kehujanan," ucapnya bangga.

David lanjut berjalan dengan temannya menuju kelas.

Sesampainya di kelas ia disambut teman-temannya yang terkagum-kagum melihat jaket milik David.

Kelas penuh dengan pujian teman-temannya yang mengerubunginya seperti lalat.

Sampai akhirnya, David merasa ingin buang air kecil. Ia berkata pada teman-temannya, lalu berlari menuju toilet di ujung lorong kelas. Selain buang air, ia ingin melepas jaketnya yang serasa semakin menyempit.

Ia masuk ke toilet bilik dua dan masuk kedalamnya. Ia rasakan jaketnya semakin mengecil. Dia mencoba melepaskan jaketnya namun tak bisa. Jaket itu tetap memeluk tubuhnya semakin erat.

"To-tolong..." David mencoba mengeluarkan suara. Namun, hasilnya mirip seperti bisikan.

Jaket itu semakin kecil, berukuran layaknya pakaian bayi. Perlahan organ-organ David tertekan, ia rasakan organnya perlahan meledak.

"AAA!" Akhirnya David dapat berteriak seutuhnya. Namun bersamaan dengan akhir hayatnya.

Darah mengalir dari tubuh David. Mengalir deras bagaikan hulu sungai. Tubuhnya hancur, organnya menciut. Hanya kaki, tangan dan kepala yang tersisa. Bagian perut sudah di lumat oleh jaketnya. Jaket itu kembali ke ukurannya semula, tampak darah mulai teresap diantara kain jeans itu.

"David!" beberapa orang mulai mengerubunginya. Semua orang histeris. Beberapa anak memanggil guru. Hari itulah hari yang paling mengerikan bagi semua warga sekolah dalam sejarahnya.

***

Sebulan setelah kejadian itu, beberapa anak lelaki takut ke toilet dimana David meninggal. Itu karena beberapa anak melihat roh David berkeliaran di sekitar toilet.

Polisi masih menyelidiki kasus ini untuk mencari alasan logis yang membuat kematian David.

Sedangkan Ibunya, ia dimasukkan rumah sakit jiwa karena tak bisa menerima kenyataan bahwa putra satu-satunya meninggal dengan cara tragis.

Sementara David, sesuai cerita para anak laki-laki, arwah David berkeliaran disana. Entah itu hanya setan iseng yang menyerupai dirinya, atau rohnya yang tak tenang membuatnya terjebak di alam ini.

Tidak ada yang tahu itu.

Slumber Party | Kumpulan CerpenStories to obsess over. Discover now