[11/08]

154 4 0
                                        

Suara derap langkah kaki mengusik tidurnya, padahal bisa dihitung menit sejak dirinya baru saja terlelap. Mau tidak mau, dengan terpaksa sepasang netranya terbuka, disertai dengan decak kesal yang lolos dari bibirnya. Ketukan di pintu dengan pahatan elang itu terus menggema di seluruh kabin kapten, kini memaksanya untuk bangun dan segera melangkahkan kakinya menuju pintu kayu tersebut.

Perkirannya tak salah, seorang pemuda dengan surai rosella tengah berdiri di hadapannya. Bila dilihat dari raut wajah pemuda itu, nampaknya bukan kabar yang menyenangkan. Lagi pula lelaki itu pasti enggan untuk datang ke ruangannya tengah malam begini bila tidak ada keperluan yang mendesak. Jangankan untuk berjalan ke kabin kapten, untuk bertegur sapa dengannya saja tentu dia enggan.

"Ada apa?" tanyanya pada pemuda tinggi yang berdiri di depannya.

"Polaris, Rigel, Epsilon, Capella, Acrux, mereka tidak ada di sini."

Mungkin terdengar aneh, karena sudah menjadi hal yang biasa bila ada yang tiba-tiba lenyap dari kapal, tidak mungkin orang-orang seperti mereka tidak punya lawan. Namun lain bagi sang kapten, karena memori yang ia simpan rapat sejak enam tahun yang lalu, kembali memenuhi isi pikirannya.

Hilang, lenyap, selamanya.

Takut? Tidak.

Seumur hidupnya, ia tidak pernah diajarkan untuk takut, pada siapa pun itu. Kalau ia takut, mungkin ia tidak akan berdiri di sini sekarang.

Lalu, apakah dirinya siap untuk sekali lagi, kehilangan?

Mereka yang lebih dari sekedar 'rekan'.

Mereka, sahabatnya.

Mereka, keluarganya.

Mereka, rumahnya.

Haruskah ia kehilangan rumahnya sekali lagi?

Dalam benaknya, ia menjawab "Tidak".

Itu mimpi buruk, dan ia harus segera keluar dari mimpi buruk itu, sebelum ia kembali terjebak di dalamnya.

Secepatnya.

"Regulus, keluar. Panggil Arietis, kumpulkan seluruh kru kapal. Kita butuh mereka semua," perintahnya, yang dijawab dengan sebuah anggukan.

Keduanya melangkahkan kaki, menjauh dari kabin kapten.

Berusaha mengembalikan keadaan, berusaha menyelamatkan rumah mereka.

Ia sadar, ia tidak bisa berjuang sendiri.

Dan untuk pertama kalinya, ia sadar, bahwa ia tidak sendiri.

Kesalahan bertahun-tahun yang lalu, kesalahan yang dibuat oleh orang tercintanya, tidak akan terulang lagi.

Kali ini, ia tidak akan membiarkan rumahnya direbut, tidak lagi.

ælˈtɛərStories to obsess over. Discover now