Prolog

30 5 2
                                        

Hujan. Hujan yang kulihat hari ini mungkin adalah hujan terakhir untukku. Angin sejuk menerpa diriku yang sedang duduk di tempat tidur. Aku melihat burung-burung berputar kegirangan di langit itu dan pepohonan serta tumbuhan lain menari mengikuti irama angin. Aku tau hidupku sudah tidak lama lagi, tetapi mengapa suasana hatiku saat ini sangat tenang. Semasa hidupku, aku tidak pernah kelelahan karena kondisiku sejak lahir memang buruk.

Malam ini, adalah malam operasiku berlangsung. Setiap malam aku bermimpi menjadi orang lain, mimpi itu cukup nyata dan indah. Aku dapat bebas melakukan apa saja di mimpi itu. Awal aku bermimpi mimpi itu sejak tiga tahun yang lalu. Sekolah? Aku hampir sering keluar masuk sekolah karena kondisiku ini. Keluargaku termasuk keluarga kelas atas dan akhirnya mereka menyekolahkanku dirumah. Mereka menyewa hampir guru-guru terkenal untuk menjadi guruku.

Aku penasaran dengan mimpi yang kulihat hampir berulang kali. Aku mencari informasi soal mimpi yang seperti itu. Aku juga seorang penggemar anime dan manga genre Isekai. Dan aku merasa bahwa itu adalah kehidupanku didunia lain. Dan aku berharap demikian.

“Tok tok tok”

Terdengar suara ketukan dari pintu kamarku, “Permisi Tuan, apa anda sedang tidur?”, terdengar suara yang tidak asing, suara itu adalah suara pelayanku. “Masuklah, aku tidak tidur” jawabku. Pintu pun berderik, seorang pelayan masuk ke kamarku.
Aku baru mengenal pelayan ini sejak setahun yang lalu. Dia menjadi pelayan pribadiku. Dengan baju maidnya, rambut hitam halus dan bola mata yang berwarna merah, dia terlihat sangat cantik. Selisih umurku dengan dia kurasa empat tahun. Aku berusia tujuh belas tahun.

“Ada apa?” tanyaku. Gelagat misteriusnya hari ini sangat aneh. kedua lengannya berada di belakang seperti menyembunyikan sesuatu. “Malam ini....—” gumamnya sambil memasang tatapan suram sambil melihat ke bawah. Hujan sangat deras, gemuruh petir bergema dimana-mana, angin bertiup sangat kencang, ini bagaikan badai yang sangat mengerikan. Siang ini menjadi sangat gelap, mungkin saja Badai menghampiri kota ini.

“Ada apa?” tanyaku lagi. Kemudian dia menatapku dengan raut wajah sedih. Aku mengerti perasaannya. Malam ini akan berlangsung operasi yang tidak mungkin berhasil kepada diriku, dan dia sangat sedih akan hal itu. Sedikit orang yang beruntung yang dapat melewati operasi ini. Dokter-dokter yang pernah menyelamatkan orang dari operasi ini dipanggil untuk mengoperasiku. Dokter-dokter itu berasal dari seluruh penjuru dunia. Yahh.. kurasa itu cukup berlebihan.

“Duar!!!” Suara petir memenuhi ruangan ini. “Apa perlu kututup jendelanya Tuan?” tanyanya. “Tidak usah, aku sangat menikmati saat-saat yang seperti ini, apalagi mungkin ini masa-masa terakhirku”. “Hiks...” Dia langsung memalingkan tatapanya dariku, kedua lengannya tetap berada di belakang. Tetesan air mata melewati pipi mulusnya.

“Apakah aku boleh duduk disebelahmu tuan?” dia mengajukan permintaan. Yah, dengan jarak sedekat itu mungkin aku dapat menghilangkan segala firasat buruk yang melayang di pikiranku. “Boleh, kemarilah”. Diapun berjalan dan duduk di pinggiran tempat tidur sebelah kananku. Didepannya adalah sebuah jendela yang terbuka lebar. Tangan kirinya seperti menyembunyikan sesuatu, tetapi pada saat kulihat bagian belakangnya, disana tidak ada apa-apa. Keheningan menyerang selama lima belas menit, kemudian dia menatap kearahku.

“Tuan, sebelumnya aku minta maaf, sudah setahun sejak kita pertama kali bertemu, tetapi, perpisahan kita sudah hampir didepan mata. Malam ini akan berlangsung operasi yang nyaris tidak mungkin untuk menyelamatkan nyawa anda”, jelasnya. “Ya, aku tau kok perasaanmu, perpisahan memang menyakitkan dan itu terasa sangat cepat, tetapi, dalam setahun kau melayaniku, itu cukup untuk mengisi hari-hari kosongku selama setahun”, balasku.

Dia adalah pelayan yang sangat setia, bahkan, permintaanku yang aneh-aneh mau dikabulkannya. Setidaknya aku sudah pernah merasakannya sebelum aku mati. Kemudian dengan raut wajah yang sedih dia menatapku dan memelukku. Pelukan itu terasa sangat hangat. Mataku terasa panas saat dia memelukku.

“Selama ini, aku menahannya. Menahan perintah yang diberikan kepadaku. Setelah melihatmu, berada disisimu selama ini, aku jatuh cinta kepadamu, namun, aku berpikir bahwa ini adalah saat-saat yang tepat untuk memenuhi tugasku, aku tidak ingin melihatmu tersiksa lebih lama lagi”, ujarnya. “Ehh?— Arrrghh!!!” aku merasakan hangat yang aneh dibagian belakangku. Sakit, itu sakit.

“Perintah yang diberikan kepadaku setahun yang lalu adalah membunuhmu, tetapi setelah melihatmu entah kenapa aku tidak dapat membunuhmu. Kemudian aku berpikir, saat ini adalah saat-saat yang cocok untuk mengakhiri penderitaanmu... tentu saja, setelah kau mati, aku akan ikut mati juga” jelasnya.

Sesak, sakit, mungkin darah telah sampai di tenggorokanku. Hidungku mimisan, darah keluar dari mulutku, suasana hujan badai diluar dengan suara sambaran petirnya sangat cocok dengan saat-saat yang seperti ini. penglihatanku mulai mengabur, mungkin aku akan pergi sekarang. Tetapi, aku masih dapat melihatnya berdiri, kemudian mengambil pisau yang ditancapkannya kepadaku, kemudian mulutnya bergerak, aku tidak dapat mendengar suaranya, penglihatanku mengabur, kemudian aku melihat sosoknya mendekatkan pisau itu ke lehernya dan... aku sepenuhnya telah tiada.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Nov 04, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

The Tales Of ZhenStories to obsess over. Discover now