aku tak tahu harus percaya atau tidak. sebentar lagi aku akan menikah dengan lelaki pilihan abi. lelaki itu begitu tampan menawan. rambutnya yg selalu di tutupi dengan peci nahdlatul ulama' di tambah dengan baju koko yg begitu elegan begitu pantas di sandangnya. ia juga selalu bisa membuatku merasa yang paling beruntung karna akan memilikinya. malam-malamku tak pernah luput dari nya. begitupun malamnya.
"tala ?"
"talaa!!"
"taaalllaaa!!!"
kata itulah yg selalu setiap malam ia berikan padaku di permulaan chatnya. aku mengenalnya sejak aku berada di pondok peantren pakde yg berdampingan dengan yai abror. abah dari gus al . yg sebentar lagi akan resmi menjadi suamiku. sudah 6 bulan ini aku menjalani ta'aruf dengannya.
jika sudah begitu. bulan sabit dari wajahku tak bisa lagi di bendung. guyonan juga pengajaran ilmu agama tak pernah luput dari perbincanganya. jika sudah belajar dengannya aku merasa manusia yg paling ndak tahu apa-apa. bagaimana tidak,rentetan pertanyaan seputar ilmu alat ia tanyakan padaku dengan bertubi-tubi. bukan karna ia tak mampu. ia ingin melihatku terpojok berdosa karna tak dapat menjawab semua pertanyaannya. namun itu tak membuat aku membencinya. malah aku semakin terpesona dengan kemampuan membaca kitab kuningnya. ia juga seorang penghafal al-quran yg begitu fasih dalam melantunkannya.
namun perjalanan perahu cinta kami terombang ambing di tengah samudra. mengkoyakkan seluruh isi di dalamnya. semua tak semulus yang di bayangkan banyak orang. termasuk kedua orangtuaku.
YOU ARE READING
winantala
Romancetala di buat merasa beruntung oleh gus al atau yang akrab ia sapa "mas al".bagaimana tidak, guyonan hangat juga pengajaran ilmu selalu ia berikan untuk tala. tala begitu beruntung "pernah" mengenalnya. kata "pernah". mengapa pernah. mengapa tidak se...
