um

46 5 4
                                        


Jaehyun hanya menjalani hidup sebagaimana seharusnya. Tak sedikit yang mencemoohnya kuno, cupu, dan kurang pergaulan. Ia terbiasa menghindari hal-hal yang baginya kurang bermanfaat. Maka, tidak heran, ia dikenal sebagai pria tampan aneh yang tidak memiliki teman. Jujur, ia tidak keberatan dengan semua itu. Justru ia merasa dimudahkan kerena tidak harus berurusan dengan 'orang-orang' menyebalkan, plus, ia juga bisa menyimpan energinya untuk hal yang lebih menyenangkan dibanding untuk bersosialisasi dengan mereka.


Hari baru artinya hari membosankan yang lain bagi Jaehyun. Pergi ke sekolah, menerima pelajaran yang sebenarnya sudah terlalu ia pahami dan bersosialisasi seperlunya.Seperti halnya hari ini, koridor terlihat lebih ramai dibanding biasanya. Terdengar pekik gadis-gadis yang memekakkan telinga. Jaehyun memutar matanya malas. Ada apa gerangan? Entahlah, ia terlalu tidak peduli untuk mencari tau.

"Ada anak baru! Lucu sekali, seperti boneka hidup!"

Itu suara Rose, salah satu primadona sekolah yang menurut Jaehyun sedikit (re:banyak) berisik dan membosankan. Anak baru itu pasti akan menjadi kesayangan banyak orang, terlihat dari antusiasme siswa-siswi dalam menyambutnya pagi ini.

Jaehyun tidak peduli. Hal-hal seperti ini terlalu membuang waktu dan tenaganya, selama tidak mengganggu maka ia akan bersikap bodo amat. Ia menelungkupkan kepalanya di atas meja, komiknya sudah habis dibaca. Satu-satunya yang bisa dia lakukan untuk membunuh waktu adalah mendengarkan sisa playlist melalui earphonenya.

Lantunan bait terakhir dari Jeff Bernat perlahan memudar seiring dengan suara bel yang mengerang jenuh, disusul dengungan dari koridor yang menandakan para murid kalang kabut untuk kembali ke kelas. Jaehyun menegakkan punggungnya sembari meregangkan badan. Tulang punggungnya terasa sedikit nyeri, mungkin nanti malam ia harus kembali melakukan kegiatan workout-nya.

"Hai? Kursi ini kosong? Boleh duduk di sini?"

Jaehyun ingat terakhir kali ia memeriksakan kesehatan matanya terhitung sejak satu bulan lalu, tandanya, kemampuan melihat yang ia miliki masih terhitung baik (tidak mengalami penurunan). Tapi siapa gerangan yang ada di hadapannya? Berparas ayu berbulu mata lentik. Bibirnya sewarna buah peach yang segar, bagai bunga bermekaran di musim semi. Mata cokelat kemerahannya mencuri pandang malu-malu di balik bulu mata yang menggantung.

"Ya. Silakan."


Sosok tercantik yang pernah Jaehyun temui selain ibunya tersebut segera menyamankan diri di kursi kosong yang teronggok di sebelah kursi miliknya. Jaehyun terlalu terpana hingga tak sadar kala si cantik menatapnya lebih berani, menyunggingkan senyum tipis dengan parasnya yang menawan.

"Namaku Taeyong. Kau pasti Jaehyun?"

"Huh?"

Bagaimana ia bisa tahu? Ini mengerikan.

"Itu tertulis jelas di name tag mu."

Jaehyun malu bukan kepalang. Baru kali ini ia merasa orang asing mampu membuatnya kewalahan.

"Okay, Taeyong. Selamat datang. Kurasa kau anak baru di sini."

Tak ada yang mengetahui bahwa Jaehyun baru saja menandatangani perjanjian tak tertulis antara dirinya dengan makhluk mitologi aneh yang tak pernah ia percayai.Juga, selamat datang di kisah menggelikan antara Jeong Jaehyun dan sosok cantik nan misterius yang tidak disangka akan mengisi hari-harinya, Taeyong Lee.

Você leu todos os capítulos publicados.

⏰ Última atualização: Oct 31, 2020 ⏰

Adicione esta história à sua Biblioteca e seja notificado quando novos capítulos chegarem!

Reasons Why My Deskmate is a Vampire (Jaeyong)Histórias para pegar e não largar. Descubra agora