kayon

51 5 0
                                        

Sura Dira Jayaningrat lebur dining Pangastuti












Juli 1999

Sebuah pendapa di kahyangan tampak ramai penuh dengan para dewa dan Dewi yang menunggu Batara guru , para dewa dan Dewi mengenakan pakaian raja dan ratu Jawa , lengkap dengan mahkota ,suasana disana juga sejuk serta beberapa tumbuhan yang berbuah lebat mengelilingi pebdapa tersebut, beberapa saat kemudian Batara guru datang disusul Batara Narada dan beberapa anak betara guru , sang manikmaya duduk disebuah singgasana dan didepannya sudah ada beberapa dewa yang duduk bersila , suasana yang awalnya ramai berubah menjadi hening semenjak betara guru datang

" Kamajaya , bagaimana penitisan betari pertiwi " ujar betara guru duduk tepat didepan dewa cinta ,betara Kamajaya,
Sang Kamajaya tertunduk lalu memberikan penghormatan kepada pamannya itu

" Sudah , pikulun walaupun betari pertiwi tidak menitis di Jawa Dwipa tapi..."

" Tunggu...tunggu bukankah pemitisan ini berasal dari Jawa Dwipa kenapa sudah berubah sekarang " potong betara narada

" Maaf pikulun Narada penitisan sudah terlanjur terjadi , beberapa hari yang lalu saya datang ke pikulun tunggal dan mengadukan tentang hal ini tapi pikulun tunggal menyuruh untuk tetap melaksanakan kewajiban saya "
Kamajaya semakin tertunduk beberapa dewa agak terkejut mendengar aduan Kamajaya , sedangkan betara guru terdiam dan memandang Kamajaya serius

" , Batara Wisnu dan kala juga sudah menitis begitupun dengan kamaratih tapi...."
Ucapan Kamajaya terpotong ia takut sudah salah menjalankan kewajiban nya yaitu memastikan semua rencana dari Dewata untuk 4 awatara berlangsung lancar , tapi tak lama sang Batara canddra dewa bulan merangkak mendekat sampai tepat disebelah kanan Kamajaya karena mendapati sang adik kebingungan

" Para awatara belum bertemu ,jadi cukup susah untuk menjalankan tugas pikulun"

Sang candra dengan agak lancang menyela pembicaraan kamajya , mendapati sang ayah sedikit tersinggung Batara Indra ikut mendekat tepat di sisi kiri Kamajaya

" Saya mohon maaf pikulun , tapi sepertinya penitisan ini butuh sedikit bantuan dewa " ujar Indra sopan
" Itu benar Adi guru , toh Sanghyang tunggal sudah memaklumi semua ini " tambah betara Narada

"Baiklah , Surya , candra, dan Indra kalian diberi tugas untuk membantu Kamajaya " ujar betara guru

" Ba..baik pikulun " ujar Kamajaya agak terbata bata sedangkan cadra Surya serta Indra hanya menunduk mengerti

" Sambu , bubarkan para dewa ingsun kundur Kedaton " tambah betara guru

" Baik pikulun"

Betara guru berdiri lalu melangkah pergi meninggalkan pendapa dan diikuti Narada serta beberapa dewa yang langsung membubarkan diri , sementara betara Candra , Surya ,Indra , Bayu , yamadipati dan Kamajaya masih tetap duduk bersila , betara candra tahu betul keresahan sang adik dan alasan betara surya diikutkan dalam tugas ini , beberapa saat sebelum nya betara Bayu dan yamadipati dimintai tolong betara candra dan akhirnya tetap tinggal untuk membahas hal ini lebih lanjut

" Kakang Candra ,Surya serta Indra , maafkan adikmu ini karena tak becus mengurus kewajiban nya " ujar Kamajaya penuh penyesalan " sudahlah , lagi pula aku juga cukup bosan hanya menurunkan hujan " jawab Indra sang Surya hanya tersenyum manis melihat adiknya " lalu kita harus bagaimana?" Tanya Batara Surya

" Tenanglah adik dan kakakku sekalian, aku punya rencana karena itu aku mengumpulkan kalian disini , kita akan menyelesaikan ini di Jawa Dwipa ,kita akan membuat awatara kakang Wisnu kembali jatuh cinta pada awatara Batari Pertiwi dan untuk awatara Batara kala kita gunakan cara lain " sang Candra memang cukup cerdik , tak sia sia ia menjadi dewa bulan

NirwanaWhere stories live. Discover now